Jugendliche

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 March 2016

Aku Bintang Farelina, terlahir dalam sebuah keluarga yang cukup bahagia, walau harus hidup jauh dari seorang Ayah. Hidup jauh dari seorang Ayah, bukanlah hal yang mudah. Untung saja, aku hanya hidup jauh dari Ayah, bukan tanpa Ayah. Aku anak kedua dari tiga bersaudara, ketiganya anak perempuan. Ya, aku tak bisa merasakan kasih sayang laki-laki di keluarga, maka dari itu, aku mengatakan bahwa aku terlahir dalam keluarga yang cukup bahagia. Entah mengapa, terkadang, aku ingin menangis jika mengingat sosok Ayah. Sudahlah.

Aku terbangun dari tidur malamku yang cukup lelap, untung saja belum terlambat. “Ma, Bintang mau makan, Ma. Bintang lapar.” kataku manja.
“Iya, tunggu Vina sama Kakak kamu bangun dulu dong, biar sarapannya barengan.” jawab Mama manis.
Setiap sarapan pagi, kursi di meja makan pasti ada saja yang kosong, itu kursi yang biasa diduduki Ayah. Jujur saja, aku sungguh merindukan Ayah.
“Ma, Vina hari ini pulangnya cepat.” Ah, suara Vina menghamburkan khayalanku.

“Vina mau pulang duluan apa nunggu Kak Bintang?”
“Vina mau kerja kelompok dulu sih, Ma. Nunggu Kak Bintang aja deh.”
“Ya udah, Bintang nanti ke mobil harus bareng Vina ya. Mama tunggu di depan.”
Entah kenapa, aku tak menjawab. Sampai Vina menepuk pundakku, baru aku bisa menjawab perkataan Ibuku.
“Oh, iya Ma. kalau masalah itu gampang deh. Aduh, Kak Nasya bangunnya lama banget.”

Aku dan Vina mulai kesal menunggu Kak Nasya bangun. Kami pun bertatapan dan tersenyum jahat. Dengan sigap, kami berlari ke arah kamar Kak Nasya dan menggedor pintu Kak Nasya, ternyata tidak terkunci. “Kak Nasya! Bangun!” teriakku dan Vina. Tiba-tiba saja, pintu kamar Kak Nasya tertutup dan terkunci dari luar. Oh tidak, kami dikerjai Kak Nasya. “Makanya, jangan iseng sama kakak sendiri!” teriak Kak Nasya dari luar pintu kamar sambil tertawa.
“Nasya, buka pintunya. Udah telat nih kalian” teriak Ibu.
“Makanya, jangan iseng sama Adek sendiri!” teriak aku dan Vina dari dalam kamar.

Kami bertiga pun segera menuju meja makan, sarapan bersama dan bersiap-siap, lalu segera berangkat. Aku dan Vina diantar Ibu, sementara Kak Nasya mengendarai mobil sendiri, maklum, sudah waktunya untuk tidak merepotkan orangtua, terkhusus Ibu. Sesampaiku di sekolah, aku dan Vina berjalan turun dari mobil bersamaan, lalu menuju kelas kami masing-masing. Vina masih kelas 10, sementara aku kelas 12. Tapi, Vina lebih bisa menerima keadaan hidup jauh dari Ayah daripada aku.

“Bintang! Tumben datengnya lama banget..”
Entah mengapa, aku merasa ada yang aneh pada diriku, susah sekali untuk menyimak orang yang berbicara padaku.
“Hmm, Sorry nih, Sel. Tadi gue gak tahu lo ngomong apa. Cepet banget sih,”
“Yah, lo kebiasaan den Bin. Udah, intinya gue cuman mau kasih ini.” Misel memberikanku sebuah amplop. Aku merasa ini sungguh tidak penting. Belum sempat aku berkata terima kasih, Misel melanjutkan perkataannya, “Jangan dibuka sekarang. Buka nanti pas istirahat aja.” Aku hanya mengangguk. Aku berpikir, pasti nanti aku akan lupa tentang amplop ini.

Bel tanda memulai pelajaran pun berbunyi. Aku mengikuti pelajaran seperti biasanya. Iya, tidak fokus. Aku tidak bisa menyimak apa yang sedang guru jelaskan. Terkadang, aku susah sekali untuk menyimak dan mengingat. Aku merasa tersiksa dengan kelemahanku. Aku jadi sering ditegur guru, tapi aku tak tahu apa isi dari tegurannya. Sudahlah.
“Bintang!” Sungguh, aku sungguh terkejut. Ada apalagi denganku.
“Iya, Bu?” jawabku penuh rasa takut.
“Kamu menyimak Ibu tidak dari tadi? Cepat kerja di depan…” Belum selesai ia berbicara, bel istirahat pun berbunyi. Terima kasih, bel istirahat! Kau menyelamatkanku!
“Sudahlah. Awas lain kali Ibu lihat kamu tidak menyimak Ibu.” Sudahlah, aku sudah biasa akan teguran guru. Sekarang, aku jadi ingin pulang. Ah.

Aku pun langsung saja berjalan ke luar kelas. Aku ingin makan, ingin mengisi perutku yang telah kosong. “Bintang!” Aduh, itu siapa lagi sih. Aku tak peduli lagi, aku mempercepat langkahku menuju kantin. Tapi, suara itu semakin dekat. Aku jadi merinding. Tiba-tiba saja ada yang menggenggam tanganku. Aku sungguh terkejut, ingin berteriak tapi tak bisa. Saat aku menoleh ke belakang, itu Rivaldo. Astaga! “Valdo! Lo apa-apan sih sumpah! Gue kaget, kalau gue kena penyakit jantung lalu gue pingsan gimana? Lo mau gendong gue lalu menanggung biaya rumah sakitnya? Lo kira nyawa gue semurah itu? Ih, sumpah gue benci banget sama lo!” entah kenapa, aku nggak bisa berhenti ngomong. Emosi banget.

“Udah ngomongnya? Lucu banget ya kalau ngomel-ngomel gak jelas.”
“Mata lo, lucu!” jawabku jutek. “Mau lo apa? Cepetan, gue lapar!”
“Nggak, gue mau nanya doang..” Gue mulai gak nyimak dia ngomong apa. Aduh.
“Apaan? Gue gak tahu ah lo ngomong apa. Gue ke kantin dulu.” aku pun berjalan meninggalkan dia.
Baru saja mau memesan makanan, dia muncul lagi sebelahku. Tidak, dia kenapa sih.
“Lo ngapain di sini?”
“Ya, beli makanlah, mau apa lagi?” jawabnya jutek.

Aku langsung pergi mencari makanan yang lain. Aku menghabiskan waktuku untuk mencari makanan untuk aku makan. Tapi, tak ada yang menarik. Aku pun kembali ke kelas dengan rasa lapar. Baru saja mau duduk di kursiku, aku memastikan kembali apakah ini betul tempatku duduk tadi. Tiba-tiba saja, ada sterofoam yang atasnya bertuliskan ‘untuk Bintang Farelina. Segera buka amplop dari Misel, ya.’ Aduh, ini siapa sih. Tanpa pikir panjang, aku pun membuka sterofoam dan melihat isinya. “Batagor!” Secara tidak sadar, aku berteriak dan langsung melahap habis batagor tersebut.

Bel pulang sekolah berbunyi. Aku harus mencari Vina. Aku harus menemukannya baru boleh masuk ke mobil. Semoga dia tidak merepotkanku. Aku mencarinya ke sekitar lingkungan sekolah. Sungguh, sekolahku ini sangat besar. Aku merasa lelah dan beristirahat sebentar di taman. Aku duduk sambil menutup mata. Saat aku menghirup udara segar di taman, tiba-tiba aku merasa ada yang duduk di sebelahku. Aku pun membuka mata dan melihat ke sampingku, Rivaldo, lagi.

“Lo ngikutin gue ya, Val?! Nyebelin sumpah!”
“Kenapa lo gak nanya gue Adek lo ada di mana? Dia di sana. Pake kacamata lo.”
Astaga, aku lupa menggunakan kacamata. Pantas saja, terlihat kurang jelas. Aku pun langsung berlari ke arah Vina dan mengajaknya pulang.
“Tahu Vina di sini dari siapa?” tanya Vina tiba-tiba.
“Dari itu tuh yang di sana.” Aku menunjuk ke arah tempat duduk yang baru saja aku tinggalkan. Tapi, Rivaldo sudah menghilang. Ah, biarkan saja.
“Gak ada siapa-siapa sih. Dari Kak Valdo ya? Ehem.” Setelah berkata begitu, Vina langsung berlari sambil tertawa mengejekku. Aku pun berlari mengejarnya. Sungguh, adik yang menyebalkan. Kami pun masuk ke mobil dan pulang ke rumah.

Sesampaiku di rumah, aku langsung mengeluarkan semua bukuku dari tas dan aku menemukan sebuah amplop. Aku mencoba mengingatnya. Ini amplop yang tadi Misel berikan untukku. Aku pun membuka amplop tersebut. Wah, ada selembar surat. Aku membuka suratnya dan membacanya dalam hati, “Hai Bintang Farelina. Aduh, maaf ya tulisannya berantakan. Hmm, aku gak berani kasih surat ini langsung, aku yakin kamu pasti gak mau nerima nanti pulang sekolah aku tunggu di taman ya, kalau bisa kamu duluan nyampe deh.. haha setelah ketemu aku, pasti kamu ketemu sama Adik kamu deh. Salam.” Aku membaca sambil berpikir, tapi sulit untuk memecahkan misteri si pengirim surat. Aku pun nggak ambil pusing lagi.

Sudah hari sabtu saja.
“Ma, nanti Vina gak usah dijemput ya. Mau langsung jalan, entar dianter sampai ke rumah kok.” kata Vina.
“Ya udah, butuh uang berapa?” kata Mama.
“Ma! aku butuh 250.000!” teriak Kak Nasya dari kamar.
“Nasya ya! kalau udah masalah uang kenceng banget. Ambil di meja, ya. Mama, Bintang sama Vina berangkat dulu.”

Sesampai di sekolah, aku bertanya pada Vina,
“Vina, nanti jalan sama siapa? Sama cowok ya?”
“Iya nih, Kak. Baru deket kok.”
“Jaga diri ya sama cowok, jangan mau sama cowok yang cuman jadiin cewek sebagai pelarian. Apalagi Vina masih polos.” Aku pun langsung pergi tanpa mendengar jawaban dari adikku.

Aku berjalan dengan santainya ke kelas. Aku ingin segera duduk dan menikmati hari sabtu ini. Aku ingin segera mendengar bel pulang sekolah. Aku segera duduk di tempatku. Saat aku melihat lokerku, aku mendapatkan amplop lagi. Ah, sungguh. Aku jadi penasaran. Aku membukanya dan terdapat selembar surat lagi. “Hai Bintang Farelina. Aduh, maaf ya tulisannya masih berantakan. Hmm, aku gak berani kasih surat ini langsung, aku yakin kamu pasti gak mau nerima maaf kalau aku kelihatan gak gentle atau apa pun itu istirahat nanti aku tunggu di kantin ya, di meja sebelah om batagor kesukaan kamu. Salam.”

Orang aneh. Hari ini kami tidak ada istirahat, yang ada langsung pulang. Apakah si pengirim surat ini sudah gila? Ah, aku tak akan pergi ke kantin hari ini. Menyeramkan.

“Bintang! Vina! Ayo, kalian ada upacara!”

Aku baru tersadar bahwa ini sudah hari senin. Aku pun berlari untuk mandi dan sarapan, hampir terlambat. Aku dan Vina pergi tanpa berpamitan dengan Kak Nasya. Kami tidak mau dihukum. Sesampai di sekolah, kami berlari dengan penuh tekad ke kelas kami masing-masing. Syukurlah, belum terlambat. Baru masuk ke kelas, bel sudah berbunyi dan kami sudah harus berbaris di lapangan untuk mengikuti upacara. Saat upacara berlangsung, aku merasa sangat pusing padahal matahari tidak begitu menyengat. Aku mulai tidak tahu apa yang sedang pembina upacara bahas, dan seketika gelap.

Saat aku terbangun, aku sudah di ruangan aneh, UKS sekolahku. Aku sendirian. Tumben saja, pasien dibiarkan sendirian. Saat aku melihat ke arah kiri, aku melihat sebuah amplop lagi. Aku berharap ini adalah amplop terakhir. Saat aku membukanya terdapat selembar surat lagi. “Hai Bintang Farelina. Aduh maaf ya tulisannya masih aja berantakan. Hari ini, tolong aku. Aku mohon datang ke taman saat jam istirahat. Salam.”

Surat ini sungguh menggangguku. Aku pun memutuskan untuk pergi ke taman saat jam istirahat. Baru saja mau bangkit dari tempat tidur, bel istirahat berbunyi. Ternyata, aku sudah cukup lama di sini. Aku berjalan ke taman sekolah. Aku tak menemukan siapa pun, kecuali Rivaldo. Ah, sungguhkah?

“Bintang, gue cape nulis surat. Gue malu tulisan gue jelek. Haha..” katanya manis. Entah mengapa, ketawanya membuatnya terlihat manis.
“Gue tahu, mungkin lo kaget kalau itu gue. Gue cuman mau bilang aja. Yang pertama, gue yang ngerencanain supaya Vina pulang lama dan dia ada di taman, karena gue tahu lo gabakal nyimak omongan gue kemaren.” Aku bingung, aku tercengang. “Yang kedua, gue emang bego, harusnya gue tulis pas pulang sekolah, tapi gue udah grogi banget.”
Aku gak ngerti.

“Yang ketiga, gue yang tolongin lo waktu lo pingsan. Rencana gue sih, gue mau bilang pas sabtu, tapi gagal. Gue malu. Lalu tadi, gue sembunyi di ruangan anak PMR yang ada di dalam UKS, gue tetep jagain lo, kok. Dan surat yang ada di kiri lo itu, gue tulis pas lo lagi pingsan.”
Aku masih gak ngerti. “Bin, gue mau bilang sesuatu.” Oke, ini bisa fatal.

“Val,.”
“Sabar, Bin. Gue duluan ya. Gue tahu, gue tahu kalau lo emang jaga jarak banget sama cowok. Gue tahu dari Vina.”
“Vina?”
“Iya, lo masih bisa nyimak kan? Pertahanin fokus lo kayak begini, Bin.” katanya sambil menatap mataku.
“Gue tahu, lo emang benci banget sama cowok.”
“Iya, emang.” jawabku jutek.
“Dan gue tahu, kalau lo susah nyimak dan susah ngingat. Tapi gue pengen jadi pelengkap dari kekuarangan lo.”

“Maksud lo apa, Val? Keburu bel. Gue laper.”
“Lo laper? Yok ke kantin makan batagor.”
“Nah, gitu dong.” Kami pun berjalan ke kantin dan duduk di meja sebelah om batagor.
“Oh iya, hari sabtu, gue nungguin lo. Lama banget, sampe jam tiga sore. Tapi lo gak dateng-dateng. Gue pulang.”
“Lo ngapain, Val?”
“Nih batagornya neng, Mas. Baru jadian ya? Cie. Gratis deh buat kalian hari ini.” kata om batagor tiba-tiba.
Aku makin bingung.

“Gue tahu lo lupa kalau misalnya lo emang hidup tanpa Papa. Maafin gue. Gue tahu lo ada masalah sama jaringan otak. Gue tahu semua tentang lo, Bin. Gue juga tahu, kalau selama ini lo yang paling gak bisa terima kepergian bokap lo.” Tiba-tiba aku meneteskan air mata, tapi tak ada rasa amarah sedikit pun. Sungguh, aku bodoh sekali. Kenapa selama ini aku selalu berkhayal. “Gue cuman mau ngerubah jalan hidup lo kedepannya, Bin. Gue mau jadi pelengkap lo. Lo mau gak jadi pelengkap gue?”
“Val, lo ngomong apaan sih?” jawabku bingung. Sungguh, aku sangat bingung.
“Gue emang cowok nekat. Tapi gue nekat kerena gue tahu, lo sebenernya emang pelengkap gue.”
“Apaan sih, Val.”

“Lo mau gak jadi pacar gue? Gue tahu akan semua kelebihan dan kekurangan lo. Gue udah mikir panjang untuk ngomongin ini ke lo.” Aku tersentak. Jujur, aku memang menyimpan perasaan akannya, tapi entah kenapa aku masih menjaga jarak dengan laki-laki semenjak kepergian Ayah.
“Gue bersedia denger jawaban lo, apa pun itu.” Rasanya ingin berteriak sekencang mungkin. Kenapa dia mau perjuangin aku.
“Val, gue gak tahu gimana jelasinnya. Gue emang ada rasa sama lo, tapi gue gak mau lo susah karena gue.”
“Lo bilang gue susah karena lo? Lo salah besar, Bin. Yang ada, gue susah saat gak ada lo. Gak ada yang bisa bikin gue ketawa.”
“Val, gue mau.”

Jangan berhenti berjuang jika memang serius. Jangan berhenti menyayangi, jika memang rasa itu telah tertanam. Suatu saat yang serius akan dipersatukan. Cobalah untuk menerima kekurangannya, di situ dia akan merasa terjaga denganmu.

Cerpen Karangan: Enceladus Inamo
Blog: yolasinamoo.blogspot.com

Cerpen Jugendliche merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Langit Senja Kita

Oleh:
Aku selalu ngak mengerti kenapa aldora selalu melihat ke arah langit sore setiap kami pulang rapat OSIS di sore hari. Tapi aku ngak pernah melewatkan memperhatikannya dengan kegiatannya itu

Pergi Atau Diam

Oleh:
Mungkin satu hal yang membuatku susah lupa denganmu adalah kenangan kecil yang masih tersimpan dalam hati. Lekat dalam dan tertancap tak bisa terlepas dari pandangan. Bicara perihal rasa memang

Semusim Untuk Selamanya

Oleh:
Yaaa… Aku mau nya cuma kamu?? Bukan dia, hanya kamu yang ada dipikiranku saat ini dan mungkin entah sampai kapan. Cuma kamu, bukan Tito yang mamberikan aku sebuah kalung

Inikah Pengorbanan Cinta

Oleh:
Langit malam begitu indah. Di sebuah lubang persegi di atas jendelaku terlihat bintang bertaburan di langit gelap itu. Sungguh indah cahaya bintang itu. Terpikir di benakku, Ibuku mungkin ada

Liliput (Part 2)

Oleh:
“Lili.. haha… kenapa nggak ali aja panggilannya atau Lian gitu. Masa Lili? Kaya nama cewek! Pantes deh kalau waktu itu gue ngira dia bukan cowok. Kira-kira orangnya kaya apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *