July in Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 20 February 2017

Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB dini hari saat aku terbangun dari lelapnya tidur malam ini. Suara penggorengan yang beradu dengan spatula milik abang nasi goreng saat itu yang membuat aku tersadar. Dengan setengah sadar aku mengecek handhphone dan sempet-sempetnya update, gila emang efek dashyat social media jaman sekarang. Selang beberapa menit yang ternyata statusku itu dilihat dan dicomment oleh Edo yang bisa aku pastikan dia belum tidur. Sedetik melihat notification darinya membuat heartbeat ini jadi nggak karuan, aneh, kangen, tapi seketika aku juga tahu kalau ini tidak dibenarkan. Namun ada kepuasaan tersendiri buatku disaat dia mencoba menghubungiku lagi. Sempat hati kecil ini berkata akhirnya dia tidak menghilang. Jawaban atas pertanyaan yang sempat aku lontarkan kepadanya waktu malam itu, “Lo nggak bakal menghindar buat jadi temen gue kan, Do?” pertanyaan yang tiba-tiba keluar begitu saja, mungkin waktu itu aku mengantuk sehingga berbicara ngelantur. Tapi aku tahu persis apa yang aku lontarkan waktu itu. Sempat beberapa saat dia menghilang setelah dia tahu kalau aku udah punya pacar. Rasa ingin mengobrol panjang lebar, bercanda nggak penting, bahkan sampai membahas perasaan kita masing-masing begitu aku rindukan. Bukan. Belum menjadi kita, melainkan aku dan Edo. Karena statusku saat ini itu masih pacar orang. “Tadinya gue pengen menghindar. Tapi nggak tau kenapa gue nggak bisa. Gue nggak peduli may, mau dicap kurang ajar atau apa. Gue nggak bisa ngehentiin perasaan ini ke lo. Hehehe maaf ya bikin lo susah”, pengakuannya yang saat itu hanya kudiamkan.

Tapi entah kenapa perasaan ini muncul begitu saja sejak tiga minggu yang lalu. Perkenalan dengan Edo di Kapten Tendean pada 15 Mei 2016 lalu mengubah jalan cerita. aku dan Edo mulai sering mengobrol di BBM, hingga dia main ke rumah dan akhirnya berani untuk mengajakku ngedate. Dia mampu mengubah jalan pikiranku ini tentang kekuatan yang bernama cinta. Dia yang slengean, suka bercanda, ngeselin, absurd, jujur, gentle, nggak pernah bisa serius, dan simplicity boy. Begitulah penilaianku tentangnya.

Di satu sisi hubungan dengan pacarku, Satria yang bisa dibilang tidak sehat itu membuatku berfikir ulang untuk melangkah lebih jauh lagi. Hubungan seperti burung dalam sangkar ini sudah aku jalani kurang lebih empat tahun. Pertemuan yang dalam satu tahun mungkin bisa dihitung dengan jari karena kita setengah LDR, aku di Bekasi dan dia di Bogor. Terkadang hal sepele yang terus dibesar-besarkan itu membuatku lelah. Kehilangan pikiran logis karena satu nama yaitu, lagi dan lagi adalah cinta. aku tau kalau ini salah, tapi hati dan perasaan ini muncul begitu saja. Mungkin kata maaf dan terimakasih saja tidak cukup untuk mengakhiri segalanya dengan Satria. Hingga kuputuskan untuk berkata apa yang aku rasakan selama ini menjalin hubungan dengannya.

“Ada yang mau aku omongin sama kamu”, pesan singkat yang akhirnya aku kirim. “Kamu mau ngomong apa sayang?”, balasan yang masih tergolong manis ini dia lontarkan. “Mamah sudah tau tentang masalah kuliah kamu. Mamah merasa seeperti dibohongin. Aku putusin buat cerita semuanya ke mamah. Maaf kalau kamu mungkin tidak terima. Tapi aku harus”. Sedikit demi sedikit pembicaraan jujur dengan Satria ini akhirnya dibahas. Hingga aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Serta tidak ada penolakan darinya yang artinya dia menyetujui kalau hubungan ini berakhir begitu saja dan membuatku berfikir, segitu mudahnyakah untuk melepas segala hubungan dan kenangan selama empat tahun ini. Kecewa, pasrah but life must go on. Kembali menjalani hari dan menghadapi kehilangan dengan cara yang berbeda yang tidak akan mungkin sama pada setiap manusia.

Manusia mempunyai caranya masing-masing untuk membenamkan kenangan tentang seseorang. Ada yang pergi ke kedai kopi sekedar menghirup aroma kopi yang bisa membuat orang itu merasa rileks. Ada juga yang justru stalking mantan lewat social media untuk mengobati rasa kangennya. Buatku menonton film horror sambil ngemil di malam hari karena ini adalah puasa terakhir sudah cukup untuk sekedar mengalihkan pikiran sesaat tentang patah hati ini.

Hingga akhirnya saat Idhul fitri tiba, aku sholat sama Rani dan dia tiba-tiba menceritakan sesuatu yang tidak aku duga-duga sebelumnya. “May, semalem Satria BBM gue dia cerita kalau kalian putus dan dia ngejelek-jelekin lo sama gue. Gue nggak abis pikir deh maksudnya mantan lo yang satu itu apaan sih. Buat apa dia ngomongin lo sama gue coba”, celoteh Rani yang keheranan karena sifatnya Satria. “Ya mana gue tau Ran, mungkin supaya lo cerita lagi ke gue atau aahh entahlah gue sendiri aja udah males dengernya. Udahlah nggak usah dibahas, lagi lebaran yang ada nambah dosa baru ngomongin orang”, sedikit kesal aku menanggapi cerita Rani yang itu.

Akhirnya aku tahu satu sifatnya yang tidak bisa dia rubah dari dulu. Indahnya di hari yang suci ini adalah melihat setiap orang saling memaafkan. Memaafkan kesalahan orang lain dan memaafkan diri sendiri atas segala dosa serta perbuatan buruk dimasa lalu. Harus dengan keikhlasan tanpa paksaan untuk menerima semuanya. Namun, hati manusia memiliki batas tertentu yang terkadang pada beberapa orang hanya melafalkan kata maaf itu Cuma di mulut bukan dari hati.

Bunyi BBM tanda pesan masuk terdengar di telinga dan sekian detik langsung terlihat kalau pesan itu dari Edo. Entah mengapa senyum ini langsung mengembang. “May, lebaran ketiga ikut gue pergi sama keluarga ya. Lo harus ikut, karena nyokap gue yang nyuruh. Oke”. “Hah? Lo serius? Nggak salah ini? Emang mau ke mana?”, message yang aku baca itu bikin hati ini kaget setengah mati. “Iya serius kali ini. Udah ikut aja, bisa kan?”, balasnya yang memastikan kalau aku memang diwajibkan untuk ikut. Tanpa mikir panjang aku mengiyakan ajakan ekstrimnya itu membuatku mencoba menerka arti dari semuanya.

Di hari ketiga lebaran Edo menjemputku di rumah dengan motor kesayangannya lalu meminta izin ke orangtuaku untuk ikut pergi dengan keluarganya. Pilihan tempat yang cukup mengasyikkan untuk sekedar menghirup udara segar sesaat, Ragunan menjadi salah satunya. Kesinilah kami pergi, disamping ada anak kecil yang butuh education mengenai hewan-hewan serta ada omanya yang membutuhkan sedikit udara lebih segar. Mengelilingi kebun binatang ini cukup membuat kaki gue pegal berasa mau copot karena sudah lama tidak olahraga.

“Kamu seneng nggak hari ini? Kamu cape ya?”, pertanyaan Edo yang tiba-tiba itu membuat senyuman diawal jawaban yang ingin aku ucapkan. “Cape sih tapi aku eneng banget malah bisa pergi kaya gini bareng keluarga kamu”, kejujuran jawaban yang aku tahu dia juga merasakannya. Terlihat dari senyumannya yang tulus dan menghangatkan. “Kamu nggak berniat nembak aku gitu?”, Edo bertanya yang membuatku hampir keselek ini rasanya jantung berhenti sedetik. Kaget. Entah harus jawab apa. “Ko gitu nanyanya? Kenapa bukan kamu yang nembak?”, heran banget sama anak satu ini. “Kan kamu kalah mainnya, jadi kamu yang nembaklah. Ini lagi pas banget loh momentnya haha”, obrolan yang diiringi tawanya. Seketika rasanya aku pengen banget jitak anak ini di depan mamahnya sekalian kalau perlu. “Nggak mau nembak di sini aah”, balasku dengan nada sedikit meledek. Dengan tampang setengah kesalnya dia menarik tanganku untuk selfie.

Adzan ashar berkumandang dan mereka semua pergi sholat. Cuma ada aku dan Ibunya edo yang tetap tinggal karena kami sedang berhalangan. “May, kamu tau nggak dulu waktu Edo kecil dia itu lucu banget. Takut buat main, dia jagain itu dirinya baik-baik. Sampe turun tangga aja pelan-pelan karena takut jatuh”, perkataan Ibunya yang membuatku sedikit tertawa. Segitunyakah dia waktu kecil. Anak slengean ini ternyata bisa takut juga. “Oiya? Masa sih bu? Padahal sekarang dia hobby banget main yaa haha”, jawabku dengan setengah tertawa. “Iya bener, terus dulu tuh waktu jalan-jalan kaya gini, ada abang mainan lewat depan dia, ibu tau kalau dia pengen. Tapi dia nggak berani bilang sama ibu, akhirnya ibu tawarin ke Edo. Kamu tahu May, apa yang Edo bilang?”, pertanyaan si ibu yang bikin aku jadi penasaran. “Edo malah balik nanya ke ibu. Dia bilang gini, emangnya mamah punya uang? Anak umur 5 tahun punya pertanyaan kaya gitu, May. Ibu aja sampai heran. Akhirnya ibu jawab kalau ibu ada uang, baru Edo mau ibu belikan mainannya”, ibunya yang sedang asyik menceritakan anak laki-lakinya itu terlihat sangat senang. “Waw.. jarang-jarang ya bu ada anak yang sekecil itu bisa ngerti keaadaan”, jawabku dengan pikiran yang berkeliaran tentang Edo memenuhi otakku. Semakin ingin aku mengenalnya lebih jauh lagi.

Tak lama semburat senja menunjukkan jemarinya. Tak terasa memang kalau menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kita sayangi hari terasa begitu cepat. Jalanan Jakarta yang tidak terlalu macet karena sebagian besar penduduknya sedang menjalani tradisi mudik mempercepat perjalanan untuk pulang. Edo tidak langsung mengantarku pulang, dia mengajakku ikut dulu ke rumahnya.

“Maya, ayo kita makan malem bareng dulu. Ini Ibu lagi mau siapin”, wanita separuh baya yang sangat bersahaja ini membuatku terpesona akan keramahannya. “Iya bu, sini biar Maya bantuin”, jawabku sambil meletakkan piring di meja berwarna kuning. Bapak dan Ibunya Edo ini adalah seorang guru, bahkan hampir semua keluarga besarnya berprofesi sebagai guru. Ada yang guru Tk, guru SMP bahkan guru SMA. Ajaib memang dunia ini, kita tidak pernah tahu dengan siapa kita dipertemukan dan untuk apa kita dipertemukan, dengan segala kekuasaan-Nya aku diberi kesempatan untuk mengenal keluarga hangat ini. Berbanding terbalik dengan keluargaku saat ini. Hangatnya keluarga yang aku rindukan sejak lama. Satu jam setelah makan malam itu, aku meminta izin untuk pamit pulang karena sudah agak malam.

Gapura perumahanku sudah terlihat yang artinya sudah sangat dekat aku dengan rumah. “Kita mampir dulu ya beli martabak buat orang rumah kamu”, Edo berkata kepadaku. Setelah dia memesankan martabak telor spesial kesukaan keluarga itu dia kembali duduk di motor. “Kamu beneran nggak mau nembak aku hari ini?”, sesaat pertanyaan itu terucap lagi dari bibirnya. Dari menunduk aku berpaling menatap wajahnya dalam enam puluh detik. Dia balik menatapku dalam-dalam dan tersenyum manis. “Kamu yakin sama aku emang?”, tanyaku untuk memastikan apa dia memang serius atau tidak. Karena patah hati untuk kedua kalinya dalam waktu singkat tidak sebercanda itu. “Kalau aku nggak yakin, aku nggak bakalan ngajak kamu pergi sama keluargaku. Aku nggak bakalan mengulang pertanyaan yang sama dalam satu hari. Dan yang pasti muka aku ini nggak masang tampang serius seperti sekarang”, jawaban yang cukup serius itu memang jarang aku dapatkan. Karena biasanya setiap akhir dari kata-kata di bibirnya selalu diiringri tawa atau senyum jahil. “Aku sayang kamu, kamu mau nggak jadi pacar aku?”, entah setan lewat darimana, tiba-tiba ucapan itu terlontar dari bibirku. Habis ini langsung turun pamor deh gue cuma gara-gara anak satu ini. “Nanti dulu ya aku mau ke indomart mau beli rok*k”, dengan santainya dia menjawab tanpa dosa. Mataku langsung terbelalak saat dia mengucap kalimat itu. Ingin rasanya aku menjewer kupingnya karena sudah mengacuhkan pertanyaan manis itu. Gemes, geregetan, kalau lagi nggak di depan abang martabak udah aku cubit hidungnya yang mancung keterlaluan itu. Setelah lima langkah dia meninggalkanku, punggung jenjang itu mulai berbalik kearahku. Dia berbalik. “Aku mau ko jadi pacar kamu”, pernyataan itu keluar tepat di depan mukaku dengan jemarinya yang sambil mengelus-elus rambutku. Membuatku senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Pernyataan yang mampu mengubah warna pipi ini menjadi merah merona. 8 Juli 2016 di depan abang martabak.

Tuhan punya rencana dan Kuasa tersendiri yang menjadi misteri untuk kita para manusia dengan siapa kita pertemukan dan dijodohkan. Untuk alasan apa kita dipertemukan. Untuk disatukan selamanyakah atau hanya untuk dijadikan pelajaran hidup.

Cerpen Karangan: Maya Afriyati
Facebook: Maya Afriyati
Nama: Maya Afriyati (Maya/Yaya)
Ig: @mayaafri
Twitter: @mayaafri
I’m bachelor degree from psychology.

Cerpen July in Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Mencintainya

Oleh:
Davis mencintainya… Dia sangat yakin dengan hal itu. Pemuda ini bahkan sudah melakukan banyak percobaan konyol hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu benar-benar cinta yang ia rasakan saat

Love You Eiffel

Oleh:
Paris, salah satu kota dari Negara Perancis yang terkenal dengan sebuah menara, yaitu Menara Eiffel. Paris juga bisa disebut kota cinta karena Romantika khas dari Paris. Namaku Kevin, aku

Facebook to Love

Oleh:
“gita, walaupun aku kenal kamu Cuma dari facebook, tapi aku ngerasa kita udah cocok. kalau kita chatting kita selalu nyambung, kamu mau jadi pacar ku?” andi mengirimkan pesan ke

Senja

Oleh:
Felly terdiam di sudut ruangan. Ia hanya bisa menatap keramaian orang yang tengah menari di bawah cahaya lampu yang minim. Matanya yang sayu hanya bisa membantunya berjalan setelah ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *