Jurus Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 3 October 2020

Pandu seorang pemanah ulung. Tembakannya selalu tepat sasaran. Belum ada seorang pemanahpun yang melampoi skornya setiap perlombaan. Berbagi medali kejuaran dari tingkat lokal maupun regional terpajang rapi di kamarnya.

Tapi kemonceran pestasinya berbanding terbalik dengan kisah asamaranya. Tujuh kali nembak cewek tujuh kali ditolak. Pandu bukan pria yang jelek. Dia cukup tampan, berbadan tegap berdada bidang. Lengan-lengannya kekar berotot. Mestinya begitu mudah untuk menarik gadis-gadis untuk jatuh hati kepadanya. Tapi entahlah …

Sore itu selesai latihan memanah, Pandu merebahkan badannya di rerumputan, dipayungi rindangnya pohon beringin tua di pojok lapangan. Angin sore berhembus perlahan. mengayunkan dedaunan. Semilirnya menenggelam Pandu dalam lamunan. Pandu sedang jatuh cinta kepada Ria Susanti anak kelas 2 SMA Mpu Tantular. Gadis Cantik berkulit kuning, berhidung mancung. Rambutnya lurus hitam memanjang di bawah pundaknya. Betisnya jenjang sedikit berbulu halus. Gadis berbibir basah itu sedikit montok. Membayangkan Ria Susanti, Pandu klepek-klepek dibuatnya.

Sepasang tupai bercengkerama di dahan beringin tua, sambil kejar-kejaran melompat ke sana ke mari. Seteleh berhenti sejenak kedua tupai itu secara bersamaan memuncratkan kencingnya di kepala Pandu. Sumpah serapah Pandu mengomel tiada henti. Air kencing yang asem itu telak membasahi wajahnya. Sudah tahu air kencing dicium dan dijilat pula.

Melihat kejadian itu Jarot yang baru datang menghampir tertawa gelak-gelak, terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Mendengar itu pandu menumpahkan sumpah serapahnya kepada Jarot.

“Hai kampret gunung Muria, gara-gara lu gua sial hari ini”. Setiap dia mengomel selalu menyebutku Kampret Gunung Muria.
“Hai … Kadal Buntung Lereng Sindoro Sumbing. Lu sering sial, nembak cewek tujuh kali meleset. Lu sono mandi kembang tujuh rupa campur kencing tupai, biar laku”. Aku tertawa gelak-gelak. Aku sering meledeknya dengan sebutan Kadal Buntung Lereng Sindoro Sumbing, Kawanku ini berasal dari Temanggung sedang aku berasal dari Pati di lereng utara Gunung Muria. Kami berdua adalah sahabat karib, saling menolong, saling meledek, saling mengumpat satu sama lain sudah biasa. Sejatinya aku sedih melihat temanku ini selalu gagal menundukkan hati gadis pujaanya. Ini adalah untuk kedelapan kalinya dia menembak cewek. Kalau gagal apa kata kecebong sawah. Dia bisa ngorek delapan hari delapan malam tanpa henti.

Selesai ketawa gelak-gelak, aku duduk di sampingnya, kukeluarkan sebungkus rokok dan dan 2 kaleng softdrink. Aku sodorkan satu kaleng buatnya. Kuteguk habis, dan kalengnya aku lemparkan ke atas. Secepat kilat pandu meraih busur dan anak panahnya. Satu anak penah melesat menembus kaleng yang melayang di udara. Hanya orang yang terlatih yang mampu melakukan ini. Itulah bukti kehebatan sahabatku ini.

“Bagaimana dengan Ria, apakah sudah ada sinyal harapan?” tanyaku sambil menyalakan sebatang rokok.
“Masih gelap, jangankan membalas suratku, salamkupun tidak pernah didengar”. Dia menjawab sambil meneguk minuman.
“Bro, kalau cara normal gagal, gimana kalau kau gunakan cara lain?”. Saranku.
“Maksud lu gue ke dukun?” Gua ngakak terbahak-bahak mendengar jawaban Pandu.
“Iya ke dukun beranak dan dukun sunat”. Jawabku seenak udelku.
“Terus, gue mesti culik dia?”
“Wakakakakakkaka” aku tertawa terpingkal-pingal melihat bloonnya sahabatku ini.
“Mang lu mau bercinta di balik jeruji besi beralaskan lantai semen?” Aku ledek dia.

Ketepuk pundaknya sambil membisikkan trik yang harus Pandu lakukan. Dia manggut-manggut tanda mengerti.
“Gunakan jurus, tetesan air mampu melubangi batu yang keras”. Pesanku

Berbagai pendekatan telah dicoba untuk menembus tembok cinta Ria Susanti. Mulai mulai menitip salam, mengirim surat, mengirimkan tanda mata, semuanya gagal. Kali ini Pandu tidak ingin gagal.

Malam Minggu bulan purnama bersinar terang. Awan tipis tak mampu mebendung cahayanya. Di depan halaman sekolah Mpu Tantular yang tidak terlalu luas. Anak-anak belajar menari Capat Cipit Banyumasan. Salah satu diantaranya Ria Susanti. Gadis cantik itu mengenakan celana selutut dan Tshirt warna merah jambu ketat. Selendang kuning diikat di pingganya. Ria tampak seksi, apalagi saat lenggak-lenggok mengikuti irama tarian. Aha sepasang mata Sang Pemanah lima belas menit tanpa berkedip. Jangan-jangan dia juga menahan nafasnya selama itu.

Tak lama berselang, latihan menari bubar. Anak-anak bergegas kembali ke asrama, Ria berjalan berdua dengan Indri. Pandu mengikuti dari belakang, setelah berhasil menyejajari, secepat kilat Pandu menyium pipi Ria, kemudian kabur langkah seribu. Ria ngomel tidak karuan. Dia merasa malu. Malu karena untuk pertama kalinya pipinya dicium cowok dengan cara dicolong. Salah sendiri ada cowok ganteng tulus mencintainya, dicuekin kaya patung kuda.

Selembar surat bersampul biru dengan gambar dua daun waru bertautan, dikirim Pandu kepada Ria. Pandu meminta maaf atas kelakuannya malam tadi. Pandu menyatakan bahwa dia tulus ingin mendapat cinta Ria. Seperti biasa setelah membaca surat itu, Ria menaruhnya di kolong meja belajarnya. Ria tak pernah membalasnya.

Berselang beberapa hari, pandu mendapatkan kesempatan untuk mengulangi aksinya. Disaat Ria berjalan ke kantin bersama Indri, Secepat anak panah yang melesat dari busurnya. Dia mengecup pipi Ria dan kabur. Hal ini dilakukan berulangkali.

Setelah aksi yang ke tujuh, Ria menyerah. Dia mau berdamai dengan Pandu. Ria mulai berpikir bahwa apa yang dilakukan pandu karena kegigihan untuk mendapatkan cintanya. Kalau Pandu sakit hati karena cintanya tidak berbalas. Tentu Pandu melakukan tindakan tidak sekedar mencuri cium. Dari situ Ria mulai berpikir untuk membuka pintu Cintanya. Dia mengirim surat untuk pertama kalinya kepada Pandu. Isi surat itu Ria mengajak ketemu Pandu di taman pinggiran Irigasi.

Matahari tampak sitinggi tombak, bergerak pelahan menuju peraduannya. Air irigasi mengalir tanpa riak. Burung-burung emprit terbang setelah orang-orangan sawah digoyang-goyang anak pak tani. Di taman pinggir irigasi berbagai bunga tertanam rapi. Menambah romantis suasana senja itu. Pandu menata jantungnya agar tidak berdetak kencang. Di depannya Ria Susanti duduk di atas bangku bambu. Ria mengenakan celana jeans biru kaos ketat kuning sangat serasi dengan bandoo kuning yang dikenakan untuk menjaga kerapian rambutnya yang hitam memanjang. Bibirnya nampak basah dipoles tipis dengan lipstick merah jambu. Sungguh, kecantikan Ria seperti bidadari yang tertinggal di bumi.

“Ria, maafkan aku selama ini selalu iseng, jahil, bahkan berbuat kurang ajar kepadamu. Berbagai cara kucoba untuk memetik cintamu. Cuma pelet dari mbah dukun saja yang belum aku coba”.
“Idiiih…, mas Pandu mau dukunin saya yah?” Ria membalas.
“Habis kamu hampir bikin saya SEGIHATI”
“Apaan SEGIHATI?” Tanya Ria
“Setengah Gila Hampir Mati”. Jawab Pandu seenak jidatnya. Ria ngakak geli sambil mencubit Pandu.

Pandu berdiri melangkah menuju mawar merah yang baru lepas dari kuncupnya, dia memetiknya. Panduk berlutut di hadapan Ria, memandang dengan getaran cinta yang hampir meledak dari jantungnya.
“Ria, aku berjanji untuk tidak menyolong pipimu, izinkan aku untuk mencuri cintamu. Apakau Ria mau jadi pacarku?” Pandu cemas, pikirannya berkecamuk. Takut menerima penolakan ke delapan kalinya. Dua kali lagi akan menyamai rekor medali emasnya.

Ria tidak berkata sepatahpun. Tepat Matahari memasuki peraduannya. Ria menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Tanda Ria menerima cinta Pandu. Panduk meloncat kegirangan. Dia berteriak.
“Hai burung-burung emprit, aku sekarang sudah punya pacar”.
“Hai kadal Buntung Lereng Sindoro Sumbing, mana ada hari mulai gelap ada burung emprit. Yang ada burung Kadal Buntung. Awas terbang sebelum sayapnya tumbuh”. Pandu tahu itu adalah suara Kampret Gunung Muria. Pandu tidak mempedulikannya. Dia memeluk Ria dengan penuh cinta tulus suci. Malam itu Dewa Panahan telah menemukan sasaran tembaknya.

Cerpen Karangan: Anan Sukanan
Facebook: facebook.com/skennanda

Cerpen Jurus Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Not Goodbye (Part 5)

Oleh:
“Rafa… Aku dapat telepon dari rumah kalau Dera pingsan!” jelas Aisyah “Pingsan?!” sahut Rafa panik. “Kalau begitu kita balik sekarang!” “Iya…! Tunggu dulu Bukannya tadi dia di jemput sama

Seekor Makhluk Sebuah Desa

Oleh:
Pada suatu hari Law (karakter utama) mendapat kabar dari kepala desa Viva tentang seekor makhluk misterius yang menghuni danau di desa tersebut, makhluk tersebut selalu memakan korban setiap malamnya,

HTS (Hubungan Tanpa Status)

Oleh:
“Bagaimana rasanya, Put?” Tanya Tari menatapku. “Coba kau rasakan sendiri, biar tahu” kujawab menatapnya dengan senyum. Tari mengerutkan keningnya “Aku tidak mau, itu pasti rasanya sakit”. Aku terdiam dan

Salah Sangka Dengan Guling

Oleh:
Di saat larutnya malam, Lava membangunkan Kak Nita dikarenakan Lava ingin ke kamar mandi. Kamar mandi di rumah Nita dan Lava terletak di antara taman dan gudang. Jadi mau

Diam Diam Suka

Oleh:
Amy adalah seorang anak yang baru masuk SMA. Awalnya dia merasa sedikit canggung, tapi dalam hati kecilnya dia selalu berkata bisa. Amy, adalah seorang cewek yang periang tetapi saat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *