Just For You Dika

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 17 June 2013

Gini deh nasibnya “seorang jomblo”, hhhmmm.. sudah sendirian tak ada teman yang di ajak ngobrol pula. Membosankan. Ku pandangi handphoneku, tak ada sms apalagi telfon.
“Enaknya ngapain ya?”
Akhirnya kuputuskan untuk sms semua kontak yang ada di hp, sms terkirim tinggal nunggu balasan, pikirku. Selang beberapa waktu tak ada tanda-tanda kehidupan, maksudnya tak ada balasan sms satupun.
“Hhhh.. ya sudah lah” kataku sedikit putus asa.

Handphoneku bergetar saat aku sudah tidur-baru sebentar sih – ternyata ada sms masuk. Perlahan kubuka sms itu dan kubaca,
“Ada apa, Ka?” ternyata smsnya Dika.
“Nggak ada apa-apa kok Dik, cuma nyari temen ngobrol aja” jawabku
“Ooh.. maaf lama balesnya, soalnya hpku tadi ketinggalan di rumah”
“Nggak papa Dik, aku ngerti kok. Kamu habis malmingan kan? Hehee” tebakku
Beberapa menit kemudian dia membalas smsku.
“Ya gitu deh, hehee”
Aku tak membalas smsnya, mataku sudah tak kuat menahan rasa kantuk ini.

Keesokan harinya,
“Piket ya ka?” tanya ibu dari arah dapur
“Iya bu, kanza berangkat dulu ya” tak lupa aku cium tangan ibu
“Ya, hati-hati.
Buru-buru ku nyalakan sepeda motor maticku. Sebenarnya ini masih pagi, tapi berhubung tiap hari Senin aku piket jadi ya begini jadinya. Ku lihat spion sebelum menyeberang,
“Dika” gumamku
“Ka, duluan ya” sapanya
“Ok”.

Kuceritakan sedikit tentang Dika. Dika itu teman SMPku, kami baru kenal saat kami kelas 9, anaknya pendiam nggak terlalu banyak tingkah, tapi asyik kalau di ajak ngobrol. Aku dan dia sekarang beda SMA, jadi jarang ketemu. Dia juga sudah punya pacar, harus jaga jarak kalau nggak nanti pacarnya ngambek lagi.
Aku memang sudah biasa sms Dika kalau nggak ada temen, dia selalu ada. Tapi aku takut ganggu dia sama pacarnya. Dia bilang sih nggak papa, tapi kan aku yang nggak enak. Hhh.. nggak papa kali ya, kan cuma temen. Pikirku.

Beberapa hari ini aku tidak smsan sama Dika, ngapain sering-sering ntar malah di bilang perusak hubungan orang. Repotkan.
Jam 20.00 WIB, hpku bergetar. “Dika, tumben sms duluan”
“Ka, ada waktu nggak? Mau cerita something nih”
“Ada dik, cerita aja”
“Eemm, nggak jadi deh. Hehee”
“Lho kenapa?”
“Nggak enak mau cerita ini”
“Nyantai aja lagi” balasku
Lalu dia mulai menceritakan masalahnya, yang ternyata masalah dia sama pacarnya. Aku memberi sedikit solusi, setidaknya aku membantu kawanku yang satu ini.
“Ok, makasih ya Ka”
“Siap” jawabku
Lagi galau rupanya, cinta emang gitu. Ada seneng, sedih, campur-campur lah. Bikin puyeng aja.

“Duhh, telat telat” aku panik, secara ini hari sudah jam 06.45 WIB. Gara-gara ngerjain tugas yang pada numpuk, alhasil telat deh. Aku langsung berangkat, tak mempedulikan ibu yang berteriak dibelakangku.
“Udah bu aku berangkat dulu” pamitku.
Jarang-jarang aku telat kayak gini, mudah-mudahan gurunya belum masuk, harapku. “Ka, cepetan. Gurunya udah mau masuk tuh” teriak salah seorang temanku dari arah kelas.
“Ya, bentar” aku segera berlari dan untunglah aku masuk kelas lebih awal dari guru.

Hari ini jam ke 3-6 kosong, katanya sih ada rapat guru gitu. Kelasku jadi nggak karuan. Sudah kebiasaan turun temurun nih, kalau jam kosong gini pasti kelas jadi kayak pasar.
Tiba-tiba hpku bergetar, nggak biasanya jam sekolah gini ada yang sms.
“Jam kosong ya Ka?” ternyata Dika yang sms
“Iya nih, kelasmu juga?” tanyaku
“Iya, ada rapat. Kosong deh”
“Ooh, sama dong”

Detik pun berganti menit, Dika belum membalas smsku. “Sibuk mungkin” gumamku.
Aku melanjutkan bercerita ria dengan teman-temanku. Mereka semua pada ngomongin UN, bikin merinding aja sih.
“Habis ini mau lanjut kemana Ka?” tanya Nanda, teman sebangkuku
“Nggak tau” jawabku singkat
“Ooh” balasnya
Jam 19.00 WIB, besok nggak ada tugas santai bentar nggak papa kan. Itung-itung refreshing otak biar adem dikit.
Hpku bergetar. Dika lagi.
“Hai” sapanya
“Hai juga dik” balasku
“Lagi apa?”
“Liat tv nih, kamu?”
“Sama”
“Ooh ya, gimana masalah kamu, udah beres?” tanyaku
“Ya, gitu lahh” jawabnya
“Sorry, aku nanyain masalah itu” jadi ngerasa nggak enak
“Alahh, nggak papa yang lalu biarlah berlalu” jawabnya. Tapi aku tetap merasa tak enak padanya. Aku tau dari balasan smsnya, kalau masalah Dika itu rumit.
“Terus gimana?” rasa penasaran ini tak bisa hilang.
“Eemm, tak tertolong, hehee” jawabnya. Nyawa kali nggak tertolong, batinku. Berarti dia udah putus. Aku ngerti.
Sejak saat itu kami sering sms, ya ngisi kekosongan mungkin ya.

“Boleh daftar dong? Hehee” katanya lewat sms
“Boleh, boleh” jawabku. Aku kaget saat Dika menanyakan hal itu aku nganggep dia cuma bercanda.
“Antrian nomer berapa nih?” tanyanya lagi
“Pertama kok” balasku
“Aku serius lho” lanjut Dika
“Ooh ya? Jawabku tak percaya
“Iya lahh, sebenarnya sejak SMP aku suka sama kamu. Tapi waktu itu kan kamu masih sama yang dulu jadi aku nggak berani ngungkapinnya. Lalu kelas 1 SMA aku mau nembak kamu, eehh kamunya sama yang itu, gak jadi lagi. Terus aku sama dia, ya udah nggak ada kesempatan deh. Baru sekarang aku berani ngomong gini. Gimana Ka?” dia mencoba meyakinkanku kalau dia serius.
“Gimana apanya nih?” jawabku pura-pura nggak tau
“Mau nggak jadi eehhmm, pacarku?”
Dika nembak aku, haduhh gimana nih? Mesti jawab apa?
“Eemm, gimana ya. Kalau sekarang aku masih nggak bisa. Aku mau fokus ke sekolah dulu Dik” aku coba menjelaskan padanya
“Iya nggak papa Ka, aku tunggu deh”
“Hahaa” jawabku
Nah, sejak itulah kami berdua semakin dekat, di bilang pacar sih jelas bukan. Di bilang bukan pacar tapi kayak pacar, bingung kan. Ikutin ajalah ceritanya.

1 bulan…
2 bulan…
3 bulan…
Kami lewati hari-hari, sampai kami lulus SMA pun masih berhubungan baik. Ternyata Dika benar-benar serius, pikirku.
“Besok jadi kan?” tanyanya lewat sms
“Jadi kok” balasku
Besok kami ada janji, aku sama Dika mau ke pameran buku gitu. Belum jadi pacar betulan, tapi kayak pacar yaa.

Setibanya di tempat pameran, aku bertemu dengan orang tuanya Dika. Aku malu plus nggak enak juga sebenernya. Walaupun kami nggak ngobrol tapi tetep ngerasa nggak enak.
“Habis ini mau lanjut kemana?” tanyanya
“Kamu kemana?” aku tanya balik
“Di tanya kok malah nanya. Aku ke Surabaya, kalau nggak di Surabaya ya di Malang” jelasnya
“Ooh, jauh ya. Aku masih nggak tau mau kemana” jawabku
“Apapun yang kamu pilih pasti aku dukung kok, Ka”
“Eehh, sok sweet deh, hehee” jawabku sambil tertawa
“Sekali-sekali kan nggak papa” jawabnya dengan senyum tipis
“Terus gimana nih? Aku nagih jawaban kamu yang waktu itu” tiba-tiba saja Dika nanyain hal itu lagi.
“Ya, coba kita jalanin aja, gimana?”
“Jadi diterima nih?” tanyanya polos
“Heem”
Aku sama Dika resmi jadi pacar deh. Akhirnya jadi juga kan.

“Kapan berangkat ke Malangnya?” tanyaku pada Dika
“Minggu depan, doain lancar ya”
“Iya, bakal sepi dong sendirian disini?” jawabku sedih
“Kan aku masih ada, jadi nggak bakal sepi deh. Tenang wae?” jawabnya mencoba menghibur.
Tapi tetep sepi pasti nggak enak. Kamu ntar bakalan sibuk sama tugas-tugas kamu. Terus aku ngapain, kamu mahasiswa, aku apa? Hhh…

Sejak Dika masuk kuliah, kegiatannya banyak banget belum tugas-tugasnya. Mau sms nggak enak, takut malah gangguin nggak sms juga nggak enak.
“Tungguin aja deh” gumamku
Jam 20.00 WIB Dika belum juga sms.
Jam 21.00 WIB masih belum juga. Aku mengambil inisiatif sms dulu. Sms aja lahh.
“Lagi sibuk ya?” tanyaku via sms tentunya.
10 menit…
20 menit…
30 menit…
60 menit…
“Hhhh.. up to you lahh. Kayaknya sibuk banget tuh orang, bales sms aja sampai nggak sempet” aku mulai uring-uringan sendiri.

Ya, aku tau dia emang sibuk. Tapi seenggaknya dia ngasih kabar atau apalah. Memang nggak ada waktu banget ya. Harusnya kan dia bilang kalau lagi ngerjain tugas terus nggak bisa sms lama-lama, masa sms gitu aja susah. Kalau kayak gini kan jadi nggak jelas.
Kurasa hpku bergetar, kubuka mata.
“Jam berapa nih? Siapa sih sms jam segini?”
“Dika” aku mengucek mataku. Lalu kubaca smsnya.
“Udah tidur ya Ka? tadi masih ada acara di kampus” katanya
“Terserah” ucapku dalam hati. Ganggu aja.
Aku tak membalas smsnya.

Aku terus menguap, gara-gara Dika sms kemarin jadi nggak bisa tidur. Untung hari ini libur kerja – saat ini aku udah kerja – jadi kan bisa santai.

“Minta maaf aja nggak” kataku.
Biar nggak stress, kunyalakan televisi. Tak sengaja ku lihat ada iklan jadwal pertandingan sepak bola. Klub sepak bola favoritnya main juga hari ini.
“Sudah pasti liat dia, bakal dikacangin dah”
Udah jadi kebiasaan kalau ada acara favoritnya tayang, Dika nggak bisa di ganggu. Dia nggak mau kelewatan sedetikpun. Sama halnya kalau dia sudah ngumpul sama temen-temennya bakal lupa deh sama aku. Ya, aku tau. Aku memang bukan orang yang penting-penting banget buat dia.
“Sadar dong, Ka” kata – kata itu kutujukan untuk diriku sendiri.
Ya, aku harus menyadari itu, jangan berharap terlalu tinggi ntar jatuhnya sakit. Tapi aku terus aja ngarepin yang mustahil. Susah kalau kayak gini. Pernah saat itu, dia ngumpul sama temen-temennya. Aku nunggu balasan sms darinya, cukup lama. Pas aku sms lagi, ternyata jawabnya “maaf, aku lupa”. Hahhh, jawaban yang mengecewakan.

“Besok aku pulang, ketemuan yuk” katanya – sms –
“Ayo” jawabku.
Besoknya.
Sudah jam segini kok belum dateng sih, nggak ada kabar lagi. Jangan-jangan…
Tiba-tiba hpku bergetar.
“Ka” ternyata Dika sms
“Apa?”
“Kayaknya nggak jadi deh, motornya lagi di pakai”
“Hhh, gini lagi” jawabku kecewa.
“Iya maaf Ka”
Lagi.. lagi.. dan lagi. Mengecewakan. Maunya apa sih, selalu aja gini. Memang nggak bilang kalau mau keluar, sudah siap-siap dari tadi juga. Eehh, yang ditungguin kayak…
“Hhhfff” ku tarik nafasku dalam.

Ini yang aku nggak suka dari Dika, ngebatalin janji gitu aja. Nggak mikir perasaanku gimana apa.
“Nggak jadi keluar? Tanya ibu
“Nggak tau” jawabku ketus. Ibu cuma menggelengkan kepala.
Aku masuk kamar, rasanya kecewa banget. Kok jadi sedih gini ya, aku nangis. Entahlah kenapa juga harus nangis. Lebay nggak sih masalah gini aja pakek nangis segala. Untuk sekian kalinya air mataku menetes lagi.
“Duhh, nggak usah nangis dong. Cengeng tau, gitu aja nangis”
Aku mengusap air mataku, tapi tiap kali aku ingat dia pasti nangis lagi. Sebelumnya aku nggak pernah kayak gini, rasaku terlalu dalam. Bahkan sempat aku berpikir jangan-jangan cuma aku yang punya perasaan kayak gini.
Aku ingin dia selalu ada untukku, tapi aku sadar itu nggak mungkin. Dia punya dunianya sendiri.
Aku ingin menjadi orang pertama yang tau keadaannya gimana, apa yang dia lakuin, dimana dia, sama siapa dia sekarang.
Apakah cinta ini akan bertahan atau bakal berakhir gitu aja. Aku nggak tau. Kalau semua berakhir gimana sama persahabatan ini. Persahabatan yang sudah dari dulu ada bahkan sebelum cinta hadir untuk aku dan Dika, apa cinta ini akan mengakhirinya juga? Entahlah. Aku berharap itu semua nggak terjadi, karena aku masih ingin bersamanya lebih lama dan cintanya membuat aku yang nggak sempurna menjadi orang yang sempurna.

Semua akan indah pada waktunya
Believe it.

Cerpen Karangan: Ajeng Eka Pratiwi
Facebook: Ajeng Eka Pratiwi

Cerpen Just For You Dika merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Post it

Oleh:
‘Pratiwi, I miss you! I hope, you come back to me!’ “Billy! Lo yang naruh beginian kan di jok depan motor gue?!,” tuduh Felly saat mereka tengah bergurau dengan

Bagian Kota Bagian Dirimu

Oleh:
Aku melihatmu di tengah hujan. Namun, kau berlalu begitu cepat. Aku menoleh, mencari dirimu, berharap melihat rambutmu yang hitam kecokelatan di bawah tudung jaket biru itu, namun kau telah

Album Kenangan Masa SMP

Oleh:
Hari ini aku teringat dengan teman bangku smpku, kemudian aku mengambil buku album kenangan dan aku membuka satu persatu halamannya. “Padahal baru kemaren aku masuk smp dan sekarang udah

Dulu, Bukan Sekarang

Oleh:
Di kesunyian malam yang kurasa. Ingatan tentang sosoknya kembali nyata. Kuingat saat dia dan aku masih bersama, dalam satu rasa. Entah sebagai apa dia anggap diri ini, dan aku

Sepucuk Surat Berbalut Rindu

Oleh:
Jangan kamu sebut ini sebagai surat cinta hanya karena aku menggoreskannya dalam secarik kertas putih tak bernyawa. Sebutlah ini sebagai curahan hati dan kamu menjadi tempat curhatku. (catatan kecil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *