Kadang Kala Cinta Itu Sebuah Komedi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 May 2013

Awal pertama jumpa, Lyra di kenalin sama Rio lewat Shanti. Shanti adalah “Mak Comblang” paling top di kelas X. Kien’nya bertebaran di mana-mana, mulai dari satu bangku ke bangku lainnya, satu kelas ke kelas lainnya, satu sekolah ke sekolah lainnya. Kesemua kien’nya itu rata-rata sudah pacaran dengan target masing-masing. Wahh… suatu prestasi yang menakjubkan dari seorang Shanti. Tapi kiennya yang satu ini membuatnya pusing tujuh keliling. Rio, kakak kelas Shanti yang kepincut sama Lyra, teman sebangku Shanti. Seperti biasa, Shanti menelusuri seluk-beluk kenapa Rio bisa kepincut sama Lyra.
“Give me one good reason kak..” saat istirahat pertama di bawah pohon cemara yang rindang.
Rio berpikir panjang sambil menengguk sebotol minuman teh rasa madu.
“Aduh adik, cinta tu ga bisa di ungkapin lewat kata-kata..”
“Yahh… Kalo gitu mana bisa aku nyomblangin kalian…” kata Shanti ketus.
“Gini aja dik, kamu kasi nopenya Lyra ke kakak..” Rio mengeluarkan hpnya, Apple iPhone 4s, mengambil ancang-ancang untuk mencatat nope Lyra. Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan.
“Enak aja, udah aku bilang, give me one good reason..” Shanti beranjak dari tempat itu pas saat bel masuk berbunyi. “Kalo udah punya alasan, message aku di whatsapp kak.. bye..”
Rio melongo, bengong, ga bisa ba bi bu lagi. “Edan kali tu anak satu..”

Sampai di kelas, Shanti langsung menemui Lyra yang tengah duduk manis sambil ketawa-ketiwi bareng Radit dan Dika. Radit yang suka ngeledek Shanti pun langsung cus beraksi.
“Nah loo siapa yang kira” jadi kien mak comblang kita kali ini…” seisi kelas tertawa terbahak-bahak. Kecuali Dika yang sejak SMP menjadi “Secret Lover’nya Shanti.
“Akh.. minggir lo, gue mau ngomong empat mata sama Lyra..” sambil menarik tangan Radit ke bangku Dika. Wow…! Hati Dika pun dag dig dug…
“Hai Shanti…” bisik Dika. Radit yang terkenal memiliki pendengaran tajampun langsung nyolot.
“Heh Dika..! kalo nyapa tuh yang keras kenapa ye? Shanti tuh tuli, makannya cinta lo ga pernah di bales..” suaranya begitu keras, membuat seisi kelas tertuju padanya.
“Hehehe… temen-temen peace…” expresinya Radit tuh kayak orang ketakutan plus… yaa gimana gerak orang pas nyatain damai, gitu deh pokoknya..

Shanti sangat serius berbicara empat mata dengan Lyra. Satu per satu ia jelaskan. Mulai dari biodata Rio yang panjang lebar, sampai menunjukkan foto “Rio yang narsis”.
“Aku ga minat, Shan.” Singkat, jelas, dan padat.
“Yaelah, kan belum liat orangnya, nanti sore dia ngajak hangout tuh, mau ya?”
“Engga bisa, nanti malem aku ada janji sama Radit.”
“Hah..?! si RADIoakTif itu? Udah batalin aja..”
“Ehh.. lo kira lo siapa? Main batalin janji orang aja, gue lagi PDKT nih sama Lyra.” Radit yang tadinya duduk di pojok, merapat ke bangku paling depan. Lalu duduk di samping Lyra.
“Iya kan Ra?”
“Oooh, lo tau kan anak Kepsek sekolah kita?” pertanyaan terampuh, yang satu-satunya di miliki Shanti untuk mematahkan semangat Radit.
“Tau… Rio Dewantara yang sok OK itu, kan?” ga ada raut wajah ketakutan dari Radit. Justru ia semakin mendekatkan diri dengan Lyra.
“Ra, itu ya yang nyari kamu?” suara Radit mulai melemah. Yaiyalah.. di depan Shanti mana mau dia kelihatan takut. Hahaha…
“Aku juga ga tau Dit, ga usah risaulah…” Lyra mengeluarkan hpnya, lalu memutar lagu Peterpan – Semua Tentang Kita. Dan melupakan Shanti yang sedang mempromosikan Rio…

“Malam ini kita ke café biasa yuk?” kata Radit di telepon. Dari jam 2 sampai jam 4 itu jadwal Radit chattingan di YM dengan Lyra. Setelah itu telpon’an. Biasanya ia panjang lebar berbicara di telepon dengan Lyra, tapi kali ini singkat ceritanya. Ada apa ya…
Seperti biasa jam 7, Lyra pergi ke café tempat mereka janjian. Mengenakan dress tanggung warna cream dengan rambut terurai. Tidak di ragukan lagi. Anggunnya..
Meja no. 11 adalah tempat biasa mereka berduaan. Tapi tak ada seorangpun di tempat itu. Kosong melompong. Ya.. harus nunggu deh.
Melirik jam tangannya, “Jam 7 lebih 5 menit, telat 15 menit awas kau..”

Seorang waiter mendekatinya lalu menyodorkan daftar menu. Rasanya tidak asing lagi waiter yang satu ini. Lhoo kok mirip yang di foto ya?.. waiter itu tidak bereaksi apa-apa ketika Lyra menatapnya. Mungkin sudah punya ancang-ancang untuk tidak langsung pingsan.
“Mbak.. jangan bengong aja, pesan makanan dulu dong.. saya lagi magang nihh..” waiter itu senyum-senyum plus agak salting gitu. Nah loo mulai dah gejala-gejala nervousnya keluar.
“Eeeh.. tunggu dulu, kok kayaknya pernah ketemu ya? Tapi di mana?” Lyra tetap mengamati keseluruhan si waiter dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Lhoo kamu kan anak Kepsek itu kan?” ketahuan deh. Tapi si waiter sudah duluan mengantisipasi serangan tebakan dari pelanggannya itu.
“Mbak salah orang, kali..” si waiter itu membantah tegas. Pernyataan itu membuat Lyra kesal, padahal kata Shanti, Rio itu cowo yang jujur. Ya ampun…
“Ooh ya udah, aku ga jadi pesen. Bisa-bisa aku pesen air putih kamu kasih susu lagi.” Ketus banget. Ya itung-itung supaya si waiter mau buka kedok aslinya. Tapi belum berhasil juga. Dan Lyra memilih untuk meninggalkan café. BT sama Radit plus kesel dan penasaran sama waiter yg lagi magang itu. Iyuuwhh…
Saking asiknya tebak-tebak’an dengan si waiter itu, Lyra sampe ga nyadar hpnya penuh. 100 message, 100 missed call. Wow.. marah apa gimana tuh si Radit.

“Lyra, maaf, aku di culik sama Shanti. Waiter yang tadi itu si Rio. Kamu ga di apa-apa’in kan sama waiter itu? Tadi maunya aku mau nembak kamu, tapi semuanya di rusak Shanti. Aku minta maaf udah buat kamu nunggu lama. Aku di sekap di rumah Shanti.” Isi smsnya bikin Lyra marah banget nih. Ia langsung cus menuju rumah Shanti. Di perjalanan, Lyra terus menghubungi Radit tapi selalu di reject.
“Shan, kamu keterlaluan banget!” lalu mengencangkan laju mobilnya. sampai di depan gerbang, Lyra turun. Marah, kesal, campur aduk. Ia tak mendengar suara apapun. Lampu di rumah itupun padam semua.
“Mati lampu, enggak. Sengaja di matiin, kok gak masuk akal ya?” awalnya ia tak ingin masuk. Pasti yang nulis sms itu Shanti. Tapi serasa ada yang memanggilnya dari dalam. “Masuk aja deh, kasian Radit..”
Krieett… Lampu seketika menyala. Hah.. Radit, Dika, Shanti, Rio, dan teman-teman lainnya memberikan surprise party untuknya. Sambil menyanyikan lagu Happy Birthday.
“Aaa, sumpah deh, kalian bikin aku gila!” saking sibuk menelusuri si waiter itu, Lyra lupa kalau hari ini adalah ulang tahunnya.
“Ha ha ha… tiup lilin dulu Ra..”
“Ehh engga, make a wish dulu..”
“Doain supaya gue bisa jadian dan langgeng sama Lyra ya…”
“Aaa.. thanks ya semuanya, sampai repot-repot gini.. Radit makasi ya, ini kue pertamanya buat kamu..” walau masih malu-malu, tapi Lyra udah buat Radit hampir pingsan, ga nyangka kalau cintanya bakal di bales..
“Cieeee…”
“Ehh udah… gue jadi malu nih..”
“Iiihh si Radit salting dia…” seisi rumah menertawakan tingkahnya.
“Dit, bukan cuma aku yang kalian kerjain. Tapi aku juga ngerjain kalian..” katanya di teras belakang rumah. Si Radit bingung plus heran.
“Kok gitu, Ra, by the way soal Rio itu, kamu suka sama dia? Udah sejauh mana kalian kenal?”
“Hmm.. gimana ya? Kamu cemburu ya? Aaa… aku seneng banget..”
“Yahh… serius Ra, masa calon pacarku, udah ada yang punya..” mulai ketus deh kata-kata’nya si Radit.
“Engga, dia tu cuma iseng aja, dia pernah di kerjain sama Shanti, jadi ya… gitu deh..”
“Emang dasar tuh si Shanti..”
Plok…!!! Lyra mendaratkan telapak tangannya ke pipi Radit.
“Aduhh… kok aku ditampar..? sakit…”
“Di sini banyak nyamuknya..” sambil tertawa terbahak-bahak. “Gpp kok.. dia kan kesepian..”
“Iiiaa sih, trus kapan kita jadiannya?”
“Tahun depan, gimana?”
“Sekarang aja ya?”
“Gimana ya..?
“Iyain aja lah… nihh gue bawain obat nyamuk, biar ga nampar-nampar lagi…” Shanti datang saat detik-detik menegangkan. Tapi berkat dia, Lyra dan Radit jadian..

Cerpen Karangan: Triyana Aidayanthi
Facebook: Triyana Aidayanthi
Seorang penulis pemula nan amatiran yang jatuh cinta dengan dunia menulis karena suka menggambar, hehehe aneh kan?
Salam kenal ya sobat..
Boleh dong kritik, saran, dan share pengalamannya
Twitter : @_triyanaa

Cerpen Kadang Kala Cinta Itu Sebuah Komedi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kehadiranmu

Oleh:
Semilir angin menelisik setiap jengkal asa. Meniupkan bumi nan pertiwi, indahnya hari libur tanpa segudang tugas sekolah menghampiri hidupku. Bunga tidur yang setia menemani tidurku, kini benar-benar hadir menghiasi.

Tentang Aku Dan Ibu

Oleh:
Kasih sayangnya adalah hidupku dimana setiap belaiannya adalah kebahagiaanku. Ibu. Dia adalah pelita dalam hidupku, ia penolong hidupku dan dia adalah napasku. Pagi ini aku berangkat ke sekolah seorang

Cinta Kasih

Oleh:
Hai gue helsyah, gue gak pernah nyangka kalau gue bakalan jumpa sama cowok yang super keren. Dia ganteng, baik, dia pinter, dan dia juga taat agama. Kurang apalagi coba,

Teman Tak Berwujud

Oleh:
Mentari pagi menyelinap menembus celah-celah jendela kaca rumahku. Embun-embun masih menempel di dedaunan. Mungkin bagi sebagian anak sedang sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah. Tapi tidak denganku. Kubuka kedua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *