Kado Spesial

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 13 November 2015

Yuhanis Abdullah. Remaja perempuan yang sebulan lalu menginjak 18 tahun. Sweet eighteen!! Kamis minggu lalu menyelesaikan ujian nasional. Rasa melayang di udara ketika ke luar dari ruang kelas yang dilengkapi CCTV itu. Bagaimana tidak? Harus duduk tenang menghadap soalan yang tidak mudah tapi tidak pula susah, sangat berbanding terbalik dari kebiasaan yang tak bisa diam. Apapun hasil ujian nanti, yang terpenting sudah melakukan yang terbaik.

Hari ini minggu. Saatnya untuk bermalas-malasan di tempat tidur tanpa ada seorang pun yang mengganggu. Papa Mama akan tiba dari Bogor nanti siang, so masih ada waktu. Ini adalah ceritaku. Yuhanis Abdullah. Remaja perempuan yang terlahir dari orangtua campuran Indonesia-Malaysia. Ibuku asli Indonesia, dan Ayahku Malaysia. Dan ceritaku ini dimulai dari…

Kring! Kring! Kring! Aku yang masih enak-enakan di tempat tidur dikejutkan dengan bunyi alarm memekakkan telinga. Aku ingat betul, aku tidak menyetel alarm. Lagi pula untuk apa aku menyetel alarm padahal aku ingin tidur sampai siang. Tapi siapa pula yang mengganggu tidurku ini? Kring! Lagi-lagi bunyi alarm dan kedengaran semakin nyaring. Seseorang pasti menaruh benda itu di dekat telingaku. Huh dasar. Aku menutup telinga hingga suara alarm terdengar samar-samar.

Tidak puas mengganggu dengan alarm, seseorang yang jelas sangat menyebalkan itu menyibak selimut yang menutupi tubuhku. Dengan sekuat tenaga dan kesal yang memuncak, aku menarik kembali selimut dan berbaring membelakangi. Orang menyebalkan itu pasti Bibi Asih. Meski pun dia pembantu di rumahku, tapi Bibi sudah ku anggap seperti bibiku sendiri. Bibi memang sering membangunkanku tidur, tapi untuk hari ini seharusnya Bibi tahu aku ingin bermalas-malasan di kamar. Selimutku ditarik lagi, tapi aku menahannya.

“Bi, Anis masih mau tidur. Jangan gangguin dong!” jeritku dari balik selimut doraemon. Bibi tidak menjawab untuk waktu beberapa detik, aku harap Bibi sudah benar ke luar agar aku bisa melanjutkan tidurku dengan tenang, tapi selimutku ditarik lagi. Tidak hanya selimut, tubuhku yang kecil ini juga ditarik-tarik.
“Hoy bangon! Kau kata dah exam, kau boleh tidur sampai siang? Bangoon…”
Suara itu, suara itu, aku dengar dengan jelas suara itu. Suara yang sudah lama aku rindukan, yang selalu memanggil nama lengkapku.

“Yuhanis Abdullah. Bangonlah!! Nak kena simbah air baru kau nak bangon? Aku hitung sampai 5, kalau tak bangon juga, siap lau!!”
1 2 3 4 4,9 , sontak aku bangun dan mendapati lelaki jangkung memakai t-shirt biru dan celana jeans selutut sudah berdiri di samping ranjang tidurku. Lelaki itu memandangku lekat. Aku pun berbalik menatapnya lekat. Jauh daam lubuk hati, aku tak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Mimpikah ini?
“Pandai pun takut,” kata lelaki itu menyindir. Aku masih lagi diam. Kalau mimpi, tak mungkin senyata ini. Terus lelaki di hadapanku ini sekarang siapa? Pipiku cubit perlahan hendak meyakinkan apakah aku sedang bermimpi atau memang ini nyata, dan Ouh, sakit.

“Hoy, kau kire aku ni hantu sampai kau cubit pipi tu? Ke nak aku yang cubit kan?” Tangan lelaki itu meraih pipiku dan dicubitnya kuat. Haaa, dengan gusar aku menepis tangannya. Walhasil wajahku yang baru bangun tidur ini memerah.
“Sakit,” sungutku, bertambah pula kesal ketika lelaki itu malah tertawa setelah mengerjaiku. Dasar, sudah lama tak bertemu, bukannya sayang-sayangan, malah membuatku kesal di pagi buta, aku mengumpat dalam hati. Ups, pagi buta. Aku langaung melihat ke jendela, di luar sudah terang. Jam berapa ini?

“Jam 10 dah ni, dah siang. Kau nak tidur sampai jam berapa lagi? Papa Mama sebentar lagi sampai” kata lelaki itu dengan berkacak pinggang, seolah dia tahu apa yang aku pikirkan.
“Terserah aku dong mau tidur sampai siang” balasku kemudian melompat ke ranjang tidur.
“Eh, kau ni degil ye. Bangonlah” lelaki itu naik ke ranjang tidurku, dia mengguncang-guncang tubuhku juga menggelitikiku. Haih, nyebelin banget nih orang.
“Abaaaang. Jangan ganggu Anis boleh nggak?” jeritku lagi sembari menyeruak dari balik selimut. Tapi ketika bangun, aku tidak mendapati lelaki itu di kamarku. Dimana dia? Aku menoleh ke pintu kamar yang masih tertutup rapat dan aku menguncinya dari dalam. Tidak mungkin seseorang bisa masuk, kecuali Bibi yang memang memegang kunci cadangan setiap ruangan yang ada di rumah.

Tapi yang tadi itu bukan Bibi, aku belum rabun aku juga sadar sepenuhnya tadi. Dia membangunkanku dengan alarm yang nyaring, menarik selimut juga mengguncang tubuhku. Itu jelas lelaki itu. Lelaki yang setiap hari bayangnya hadir di kepalakaku, yang tersenyum di setiap lembaran buku pelajaranku, bahkan wajahnya hadir di kertas ujianku dan selalu dengan senyum itu. Senyum yang mampu bikin jantung berdetak 100 kali kebih cepat, pipi merona dan berbunga bunga seolah di hati ada taman yang dipenuhi dengan bunga bermekaran.

Lalu yang tadi itu? Mimpikah? Tentu saja. Ada suara berbisik di telingaku seperti itu. Aku menunduk lemas, dan mulai menyadari kenyataan, kenyataan bahwa lelaki itu kini sedang berada sangat jauh dariku. So bagaimana mungkin aku sampai melihatnya ada di kamarku bahkan mengganggu tidurku. Aku juga menyadari betapa besar rindu yang aku simpan untuknya, di saat terpisah jauh seperti ini bahkan di saat dia benar benar dekat dariku.

Dengan malas aku bangkit dari ranjang tidur dan pergi ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, aku sudah dengan riang gembira menuruni anak tangga yang membawaku ke lantai bawah. Soundtrack drama Korea I Hear Your Voice ‘Sweet Lalala’ mengalun dari mulutku meski dengan pengucapan lirik yang belepotan. Aku suka lagu itu. Mengingatkan aku dengan Park So Ha yang tinggi dan tampan. Dia adalah pria ketiga yang menarik perhatianku setelah Papa dan Abang Naz.

Oh My God!! Aku berhenti mendadak, juga soundtrack drama koreanya. Bagaimana tidak, tepat di depanku, berdiri seorang lelaki yang datang ke mimpiku tadi, dengan memeluk tubuhnya, mendongak menatapku seolah menanti kedatanganku. Ya Allah, apakah ini masih mimpi? Aku mengerjap mata berulang kali dan sosok itu masih ada tepat beberapa langkah di depanku. Jika ini mimpi, aku harap agar ini cepat berakhir. Semakin lama aku melihatnya, aku tak yakin aku sanggup menyimpan rindu ini. Ya Allah, bantu hambamu ini, pintaku. Aku melewati saja sosok itu dan menuju dapur.

Di dapur, Bibi tengah sibuk menyiapkan makan siang. Ya lah, sebentar lagi Papa Mama akan tiba, pasti mereka lapar setelah beberapa jam perjalanan dari Bogor.
“Masak apa Bi? Serius banget” tanyaku lalu duduk di kursi kecil sembari memperhatikan Bibi yang lihai memasak.
“Mau masak kepiting pedas, sayur sop. Itu Bibi juga sudah buat cake pisang, spesial” Bibi dengan antusias menjawab, tangannya terus saja memotong sayur, wortel, dan kentang. Spesial? Aku jadi penasaran, apa yang spesial seperti kata Bibi. Spesial karena hari ini Papa Mama pulang? Ah, tidak mungkin. Mereka bukan pergi lama, 2 hari saja, jadi tidak mungkin spesial hanya karena itu. Lalu apa yang spesial?

“Memangnya apa yang spesial Bik?” tanyaku.
“Haih, pastilah spesial. Anis tak rasa ada yang spesialkah?” Bibi pula bertanya, aku pun jadi tambah bingung dan penasaran. Memangnya apa sih yang spesial?
“Bi, spesialnya apa?”
“Anis tak bertemu abang di depan?”
“Abang? Abang siapa?”
“Haa, memangnya ada berapa abang yang Anis punya?”

Aku menatap Bibi tajam. Bibi ni kalau bicara yang jelas dong. Abang Naz satu-satunya abang yang aku punya, itu pun bukan abang sebenarnya.
“Abang Naz kamulah sayang, tak jumpa?”
“Maksud Bibi Abang Naz ada di rumah ini?”
“Ya lah. Abang kamu baru tiba dari Bandara. Mungkin dia lagi di kamar, makanya kamu tak jumpa”
Secepat kilat aku melesat ke ruang tengah. Ya Allah, ternyata tadi bukan mimpi, batinku dengan senyum yang sudah pula terkembang.

“Abaaaang..” panggilku pada lelaki yang tak nampak batang hidungnya. Suara langkah kaki dari arah tangga membuatku berbalik dan lelaki itu benar ada di hadapanku sekarang.
“Abang!” jeritku lalu tanpa rasa sungkan aku berhamburan memeluknya. Memeluk lelaki itu erat seakan aku tidak akan melepasnya lagi.
“Eh, lepaslah, rimas” kata lelaki itu, tapi aku tak peduli, aku malah memeluknya semakin erat. Ini berbanding terbalik dari sikapku pada lelaki ini biasanya. Biasanya kami ibarat anjing dan kucing, berkelahi tak berkesudahan. Ada saja yang aku dan Abang Naz buat masalah, hingga menimbulkan pertengkaran.

“Yuhanis Abdullah, dah pekak kau? Tak dengar apa aku cakap?”
Aku langsung melepas pelukanku, dan menatap tajam Abang Naz. Baru aja jumpa, udah ngajak berantem. Emang dasar lelaki ini.
“Gimana abang boleh ada di sini?”
“Kenapa? Kau tak suka aku balik?”
“Ish, ada Anis bilang nggak suka abang pulang? Nggak ada kan?”
“Abis tu, kenapa tadi lewat je, macam tak nampak ada orang di depan ni?”
“Alaah, Anis tadi lagi mimpi, jadi Anis kira abang cuma…” aku tak menyambung kalimatku, ‘Anis kira abang cuma bagian dari mimpi, karena Anis lagi mimpiin abang. Begitu sambungan kalimat yang tak aku ucapkan.
“Cuma apa? Apa?”

Ting! Tong! bunyi bel mengagetkanku. Pikiranku langsung tertuju pada Papa dan Mama. Pasti mereka, batinku, lalu pergi menuju pinti. Abang Naz tampak tersenyum, tapi aku tak bisa menebak senyum apakah itu, senyum sinis atau senyum tulus seperti yang sering aku lihat di buku pelajaran mau pun di mimpiku. Aku membuka pintu dan bersiap teriak ‘selamat datang’ pada Papa Mama, tapi dugaanku salah. Bukan mereka, melainkan seorang pengantar paket dan sebuah kotak besar sudah berdiri di depan pintu.
“Dik, ini ada paket” kata petugas pengantar paket itu.
“Tapi Papa Mama saya nggak ada pak” kataku, Ya lah, yang biasa dapat kiriman paket kan mereka.
“Ini paket untuk Adik. Nama Adik Yuhanis Abdullah kan?” petugas yang ramah itu mentebut namaku, aku pun mengangguk meski ragu.

Siapa pula yang mengirimiku paket. Ulang tahunku sudah sebulan yang lalu, tidak mungkin ini hadiah ulang tahun. Lagi pula hadiah ulang tahun apa sebesar ini? Aku memandang kotak besar dan tinggi di depanku ini. Pengantar paket tadi bersama temannya membantu membawakan kotak besar ke dalam rumah. Sepertinya berat sekali. Kotak ini dihiasi oleh pita pink. Aku semakin penasaran dengan apa yang ada di dalam, dan siapa yang mengirim hadiah besar untukku. Aku memoleh Abang Naz, lelaki itu sepertinya tak peduli dengan kotak itu atau mungkin dia tak tertarik sama sekali. Aku membuka kotak itu dan ouh, aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Bulat mataku memandang noneks berwarna biru yang terkenal dalam film kartun Jepang itu. DORAEMON. Siapa pula yang baik hati mengirimkan boneka ini? Bagaimana dia tau kalau aku suka Doraemon? Lalu dalam rangka apa pula dia mengirimiku boneka ini?

“Suke tak?” tanya Abang Naz
“Haa apa?” tanyaku lagi hendak memastikan apa yang aku dengar tadi.
“Tu lah, ade telinga tak dikorek. Orang cakap pun tak dengar lagi” sindir Abang Naz, membuatku kesal dan manyun. Suka banget dia mengejekku, padahal aku bukannya tuli.
“Selamat ulang tahun Yuhanis Abdullah” kata Abang Naz kemudian. Betapa terkejutnya aku karena hadiah ini dari Abang Naz. Aku langsung memeluk boneka doraemon itu erat, seolah aku memeluk Abang Naz. Bahagia. Ternyata boneka itu darinya. Berarti Abang Naz tidak lupa ulang tahunku, dia bahkan sengaja memberikan kejutan. Bahagianya.
“Thanks abang” ujarku yang dibalas senyum olehnya. Beberapa menit kemudian, pintu rumah dibuka dari luar, wajah Papa dan Mama muncul dari balik pintu.

“Papa Mama!” Aku berlari menghampiri orangtuaku.
“Ye sayang, sayang sehat?”
“Sehat sangat, sangat” jawabku cepat lalu melirik Abang Naz. Tentulah aku sehat. Orang yang paling aku rindukan kini sudah kembali ke rumah.

Aku bisa melihat dia setiap hari, melihat senyumannya, meski ada dia di rumah artinya hidupku tidak akan tenang karena dia akan membuatku kesal sepanjang hari. Tapi aku tak peduli, aku bahagia sekarang, bahagia sekali. Bagiku, Abang Naz adalah kado spesial ulang tahunku. Dia lebih spesial dibanding boneka doraemon pemberiannya yang juga boneka kesukaanku. Abang Naz bagai kado untukku, spesial. Kado Spesial.

Cerpen Karangan: Nurhayatieshabilla
Nurhayatieshabilla, sebelumnya aku pernah mengirim cerpen kesini, “Sorry, I love U” atas nama Nurhayatie. Seorang Mahasiswa yang bermimpi mau jadi penulis, 21 tahun, hobi nulis, baca, nonton, dengar musik plus nyanyi, penyuka drama Korea, Malaysia. Anak Melayu. IG Nurhayatieshabilla, terima kasih.

Cerpen Kado Spesial merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Juliet Dan Romeo

Oleh:
Langit biru terbentang luas di depan mataku. Tapi yang dapat ku lakukan hanyalah melihatnya dari balik kaca jendela. Ingin sekali rasanya aku menatap langit langsung dengan kedua bola mataku.

Adik

Oleh:
“kenapa? apakah mama tidak lagi menyayangi Lina? tidak membutuhkan Lina?” isak gadis itu di balik rerumputan. Lina adalah anak tunggal, umurnya 9 tahun. Ya dia anak tunggal hingga hari

Ruthie (Part 1)

Oleh:
“Ruth!” Langkahku terhenti demi panggilan itu. Tak terlintas sedikit pun di kepalaku tentang siapa yang meneriaki namaku di tengah jalan yang telah sesepi kuburan ini. Angkringan di dekat kampus

Mencintai Dengan Ikhlas

Oleh:
Hari ini tepat tiga belas tahun usia pernikahan kami. Aku sangat bahagia karena selama itu aku dan Mas Rizal suamiku mampu melalui lika-liku rumah tangga yang selalu tidak pasti.

Cinta Yang Terkunci

Oleh:
Pagi yang cerah sudah menyapaku yang tengah tidur nyenyak dan suara kicauan burung yang mulai membangunkanku, aku bangun dengan langkah terkantuk-kantuk dan langsung mandi karena hari ini adalah hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *