Kakak Misteri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 April 2017

Saat bel tanda istirahat berbunyi, aku langsung merapikan bukuku ke dalam tas. Tiba-tiba aku mendengar ada seseorang memanggilku dari luar,
“Nardo…”
Aku menoleh ke luar dan ternyata itu dia, pujaan hatiku, yang setiap malam aku renungkan, yang setiap saat aku rindukan, panggil aja namanya Natasya, nama yang sering kusebut-sebut, nama yang sangat indah saat aku membayangkan betapa cantik dirinya. Aku langsung menemuinya ke luar kelas, lalu dia tiba-tiba memberiku kertas putih.
“Bacalah!” pintanya.
Aku pun mulai membuka kertas itu dan membacanya.
“Aku ingin kita putus” Cuma itu kata-kata yang tertulis, namun membuat nyawaku seakan-akan melayang, aku sakit di dalam, aku berharap ini hanya mimpi, tapi ini bukan mimpi, melainkan sebuah kenyataan.

Dia masih berdiri di depanku dan memandangi wajahku yang mulai memerah, aku gugup dan berkata lirih,
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-napa. Aku hanya ingin itu.” Jawabnya.
“Tapi… apa alasannya?” Tanyaku. Namun, kali ini ia tak menjawab pertanyaanku melainkan berlalu dari hadapanku. Aku masih berdiri ternganga di tempat itu setelah ia pergi meninggalkanku.

Beberapa saat kemudian, aku pun melangkahkan kakiku menuju kelas lagi dan duduk di bangkuku. Aku masih terdiam dengan pandangan lurus ke depan.
“Nardo… kenapa bro?” Tanya seseorang mengagetkanku.
“Ka kamu siapa?” Jawabku tanpa menoleh.
“Eh.. lu kenapa sih? Ini gua Aliando.” Katanya mengarahkan wajahnya ke depan wajahku yang membuatku terkejut dan sadar dari lamunanku.
“Aliando? Gila lu bro…” jawabku saat aku tau ternyata ia adalah sahabatku Dio, dia memang sering ngaku-ngaku dirinya mirip Aliando, terutama sama cewek. Padahal nggak ada mirip-miripnya sama Aliando.
“Kenapa bro?” Tanya Dio lagi.
“Gua ama Natasya putus bro.” jawabku memasang wajah sedih padanya.
“Itu aja dipikirin, noh masih banyak cewek yang lebih cantik daripada dia.” Ungkap Dio.
“Iya, tapi kan beda sama dia bro.” Ucapku berharap Dio akan mengerti sakit yang aku rasakan.
“Gua mah dari dulu tu nggak setuju lu pacaran sama tuh cewek, karena gua tau dia punya cowok selain lu bro. Sebenarnya sih dari dulu gua mau bilang ke elu, tapi gua takut lu marah dan bilang gua perusak hubungan orang.” Jelas Dio padaku.
Aku berpikir sejenak, menganalisa perkataannya. Cowok selain aku? Siapa? Aku benar-benar tak menyangka dia seperti itu. Tapi, kubuang jauh-jauh rasa penasaranku karena jika aku tau dengan siapa dia pacaran, aku bakalan tambah sakit hati, jadi aku tak usah kepo.
“Oh ya? Ya ya udah, gua juga nggak terlalu kepikiran dia.” Ucapanku membuat Dio mengerutkan keningnya tanda heran, tapi aku hanya tersenyum padanya. Sebenarnya sangat sulit pura-pura senang saat di dalam benar-benar sakit, tapi aku berusaha agar bisa tegar.

Pulang sekolah aku menuju ke parkiran dan mengambil sepedaku. Tapi sepertinya aku masih kepikiran dengan Natasya.
“Kira-kira siapa pacarnya selain aku?” Pertanyaan itu selalu mengganggu pikiranku.
Tanpa aku sadari sepedaku menabrak seseorang di gerbang sekolah. Semua teman-teman menoleh padaku, membuatku sangat merasa bersalah. Ternyata yang kutabrak itu kakak kelasku, namanya Sari, teman-temanku pernah bilang kalau Kak Sari suka padaku, sudah lama ia mengincar-incarku, tapi aku cuekin aja, soalnya aku sama sekali tak punya perasaan apa-apa padanya, orangnya lugu, memakai kaca mata dan selalu memegang buku.
“Maaf Kak.” Kataku saat ia mengambil buku-bukunya yang berserakan. Lalu, ia menoleh dan tersenyum padaku. Senyum itu tak semanis senyum Natasya, aku pun tak menyukainya dan aku putuskan saja untuk meninggalkannya tanpa membalas senyum darinya. Aku mengayuh sepedaku untuk pulang ke rumah dengan pikiran kacau yang teramat sangat.
Setiba di rumah aku terduduk melamun, tak pernah menyangka Natasya setega itu padaku, cinta benar-benar telah mengganggu pikiranku.

Beberapa hari setelah aku putus dengan Natasya, aku melalui hari-hariku yang tak berwarna. Walau demikian, aku tak mau lengah dalam belajar, aku tidak akan membiarkan nilai-nilaiku hancur karena cinta.

Malam itu, saat aku tengah asyik mengerjakan tugas sekolahku, tiba-tiba hpku bergetar menandakan sms masuk. Sudah lama rasanya tak ada sms masuk ke hpku setelah aku putus dengan Natasya dan itu membuatku sangat berharap sms itu dari Natasya. Tapi, aku salah, aku tak mengenal nomor pengirimnya.
“Malam Nardo.. saat ini aku tau kamu sedang belajar kan? Rajin-rajin belajar ya agar nanti kamu bisa meraih impian-impianmu.. aku suka kamu”
Aku terheran membaca sms itu, dia suka padaku? Tapi aku tak tau siapa dia. Aku pun membalas dan menanyakan siapa dirinya. Namun ia tak mau menjawab, ia hanya bilang bahwa ia adalah orang yang mencintaiku. Lalu, ia meneleponku dan tentu saja langsung kuangkat. Saat mendengar suaranya, aku tertarik berbincang-bincang dengannya. Suaranya yang lembut menggetarkan jiwa, dia juga baik dan sangat peduli padaku.

Sebulan aku dekat dengannya, aku sudah merasa nyaman. Dia sudah aku anggap kakakku yang paling baik karena dia sering memanggilku dengan panggilan adikku tersayang, yang sering menanyakan kabarku meski hanya lewat pesan singkat. Tapi aku sangat penasaran siapa dirinya. Menurutku dia pasti cantik, secantik hatinya. Setiap kali ku bertanya namanya, ia selalu mengalihkan pembicaraannya. Walau tak pernah bertemu, tapi aku sudah memendam rasa pada dirinya. Meskipun ia pernah bilang bahwa ia pengagum rahasiaku, tapi aku belum sanggup mengutarakan isi hatiku padanya. Aku ingin dia tetap jadi kakakku karena saat ia jadi pacarku, mungkin saja sewaktu-waktu akan putus dan aku akan kehilangan dirinya.

Sore ini, aku sudah janjian dengan teman-temanku untuk bermain sepak bola di lapangan. Aku pun bersiap untuk pergi ke sana. Aku mendengar suara Dio yang sedari tadi berteriak di ruang tamu.
“Woi bro… masih lama? Lama banget lu mandinya.” Teriaknya.
“Cepat dong!” sambungnya lagi.
“Sebentar, tinggal makai parfum nih.” Jawabku.
“Yaelah.. ke lapangan pake parfum segala. Lu kira pergi kencan apa?” kata Dio yang sepertinya sudah mulai bosan menunggu.
“Iya iya.” Jawabku dan mulai menuruni tangga.

Aku dan Dio pun pergi ke lapangan bejalan kaki. Namun, saat di jalan tiba-tiba hpku bergetar dan saat kulihat, ternyata pesan kakak itu,
“Nardo, kakak sudah letakkan sesuatu di depan pintu rumahmu.”
Melihat pesan itu, aku langsung berbalik untuk pulang ke rumah. Dio yang heran melihatku bertanya,
“Kenapa pulang lagi bro?”
“Maaf bro, kayaknya gua nggak jadi main hari ini, ada urusan mendadak.” Jawabku.
Aku mulai berlari menuju rumah karena tak sanggup menahan rasa penasaranku,
“Kira-kira apa yang diletakkan kakak itu di depan rumahku? Apa itu bom? Tak mungkin, kakak itu sangat baik, mana mungkin ia akan mencelakaiku.” Pikirku.

Setelah sampai di depan rumah, aku melihat sebuah kotak yang berbungkus kertas warna biru. Aku pun langsung mengambil dan membukanya. Setelah kubuka, ternyata isinya adalah mie goreng yang berbungkus kotak plastik, di bawahnya aku menemukan tulisan,
“Adikku sayang, selamat mencicipi masakan kakak ya.”
Tulisan itu sangat indah terukir, entah bagaimana caranya ia mengukir tulisan itu. Tanpa pikir panjang aku mulai melahap mie goreng itu.
“Wah… enak banget mie gorengnya.” Gumamku saat merasakan sedapnya masakan kakak itu, hingga secepat kilat mie goreng itu habis ku lahap.

Sejak saat itu, kakak itu sering meletakkan sesuatu di depan rumahku, entah kadang isinya mie goreng, nasi goreng, kue bolu, goring pisang, dan masakan-masakan lainnya. Sepertinya kakak ini pintar masak karena setiap masakannya sangat enak. Tapi anehnya, saat ia meletakkan itu di depan rumahku, selalu saja saat aku tidak ada di rumah, entah bagaimana caranya ia mengetahuinya. Aku bingung, sepertinya perasaanku semakin dalam padanya.

Saat itu dia meneleponku, aku pun mengutarakan perasaanku padanya walau agak sedikit gugup dan alangkah bahagianya aku saat cintaku benar-benar diterimanya. Sekarang aku dan dia berpacaran. Tapi, aku masih belum tau siapa namanya. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Namun, saat aku mengatakan itu ia selalu menolak. Hingga suatu hari disaat aku meneleponnya, aku mendengar temannya berkata,
“Besok kita ke sini lagi ya, masih banyak buku yang ingin kubaca.”
Lalu kakak itu menjawab,
“Iya, tapi jam berapa?”
“Jam empat sore.” Jawab temannya.
“Wah.. ini kesempatanku untuk bertemu dengannya, besok sore pasti ia akan membaca buku di perpustakaan.” Pikirku.

Keesokan harinya, disaat pulang sekolah aku tak sabaran ingin ke perpustakaan. Tapi menunggu waktu terasa sangat lama. Aku terus memandangi jam dinding yang saat ini masih menunjukkan jam tiga sore.
“Sejam lagi, lama banget sih.” Keluhku.
Aku terus menunggu, menunggu, dan menunggu waktu. Hingga akhirnya jam dinding itu pun telah menunjukkan jam empat sore. Aku pun menaiki sepedaku dan bergegas ke perpustakaan.

Setiba di sana aku tidak melihat tanda-tanda kehadirannya. Lalu, aku masuk ke dalam perpustakaan itu, di dalam aku melihat empat orang anak kecil yang sedang membaca buku dan seorang petugas perpustakaan.
“Di mana dia?” Tanyaku dalam hati.
Aku terus mencari, siapa tahu masih ada orang lain. Benar saja, di sudut perpustakaan itu ada dua orang anak perempuan yang sedang membaca buku berhadapan. Yang satu menghadapku dan yang satu lagi membelakangiku. Aku mengenal yang satu itu.
“Itu kan Kak Cici, kakak kelasku.” Ucapku dalam hati.
Aku sempat berpikir kalau Kak Cicilah orangnya. Yang kuanggap kakakku sekaligus kekasihku. Tiba-tiba Kak Cici melihatku,
“Nardo…” Ucapnya.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Tapi setelah kupikir-pikir suara Kak Cici sangat berbeda dengan kakak itu.
“Jika bukan Kak Cici, terus siapa lagi?” Tanyaku dalam hati.
“Ada apa Ci?” Tanya temannya yang ada di depannya itu.
“Suara itu, iya suara itu, itu suara kekasihku.”
Aku sangat penasaran, aku ingin melihatnya, aku ingin memandanginya, siapakah kekasihku itu? Dari belakang aku melihat seorang gadis dengan memakai jilbab warna biru, tak jelas siapa dirinya.

Aku lalu memberanikan diri untuk mencari tahu, untuk menjawab rasa penasaranku selama ini. Lalu, saat aku mendekat… ternyata itu dia, ternyata kakak itu dia, ternyata kekasihku itu dia, iya… dia yang selama ini menemani hari-hariku setelah Natasya pergi meninggalkanku, dan alangkah kagetnya aku saat aku tau ternyata ia adalah Kak Sari. Kakak yang selama ini tak pernah aku hiraukan kehadirannya, yang selalu aku acuhkan, ternyata dialah kekasihku.

End

Cerpen Karangan: Mei Defrita Ratna Sari
Facebook: Dhea Meidefrita Ratna Sari
Nama: Mei Defrita Ratna Sari
Panggilan: Dhea

Cerpen Kakak Misteri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Evangelistas (Part 1)

Oleh:
Adakah hal yang begitu kau sukai di dunia ini? Beberapa orang menjawab memasak, membaca, atau menyulam wol di musim dingin. Semua orang memiliki hobi masing-masing. Aku mencintai petualangan. Mulai

Ternyata Kamu

Oleh:
Aku pun termenung mengingat semua itu. Oh tuhan… sungguh benar-benar membuatku tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Semua yang ku ingat tentangnya itu benar-benar kejadian yang konyol, gila bahkan membuat

My Name Is Angel Part 3

Oleh:
Angel telah berada di depan ruang Kepala Sekolah. Sebelum masuk, Angel mengetuk pintu terlebih dahulu, walaupun pintu tersebut tidak tertutup, tapi tidak sopan rasanya jika tidak mengetuk pintu. Kepala

Kau Tlah Ubah Duniaku

Oleh:
Disuatu pagi, seperti biasa. Padahal matahari sudah bersinar terang benderang. Namun wajah Bella masih saja ditutup oleh sebuah selimut tebal. “Bel, Bel! Ayo bangun… Udah siang lho!” Kata Mamanya

Kesah Awalnya Kaitu (Part 1)

Oleh:
Di bawah pohon beringin, aku duduk bersembunyi dari sinar matahari yang nampaknya sedang on fire hari ini. Sebatang rok*k ku hisap pelan-pelan sambil menikmati suasana di bawah daun-daun yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *