Kalian (Dika, Novi) Part 1

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 March 2017

“Dika!!!” suara itu sangat jelas terdengar… Dia menyebut namaku… Kudengar itu dari belakangku, kutolehkan kepalaku ke belakang… Dan kulihat itu adalah dia, ya… Dia..
Namanya novi… Dia…
“Lo ngerok*k terus, gue bilangin abang lo nanti!!”
“Bilangin aja, abang gue juga ngizinin kok, dia gak bakalan marah, malahan elu yang nanti digoda sama abang gue”
“Tapi lo harus tau kalo merok*k itu gak baik bagi kesehatan, lo gak pernah baca artikel ya?!” ya novi itu sangat cerewek, suka komentar apa aja yang menurut dia jelek, ataupun bagus, tapi dia perempuan yang baik, dan perhatian… Tapi teman teman bilang itu gak benar, tapi bagiku dia perhatian. Apa aku salah menilai dia ya?
“Udah!!! Berisik tau” kusela pembicaraannya, dari tadi dia aja yang bicara. Dan siang ini aku sedang merencanakan sesuatu untuk novi, ini hal yang gak bakalan pernah dia duga, aku mau kenalin dia sama teman akrabku sewaktu smp. Dan aku coba jodohin aja… “Ada yang naksir sama elo tuh”
“Hah?! Siapa yang naksir gue, kalo dia teman lo, gue ogah banget, kan semua teman lo kan buaya semua” anak yang enggak sopan ya yang seperti ini, suka menilai teman teman aku gak baik lagi, tapi novi benar juga.
“Jangan asal ngomong lo, yang ini bukan teman satu sekolah, nov”
“Trus temen apa?”
“Teman gue waktu smp dulu… Dia lagi nungguin elo di sana tuh” sambil aku menunjuk ke arah pohon di pinggir jalan, dan di sana sedang berdiri seorang lelaki, dia temanku, pastinya.
“Siapa sih… Ah gue males ah, dia pake kacamata lagi, yang kayak gitu bukan tipe gue dik”
“Yah, elo gak tau aja dia itu kayak gimana orangnya, lebih baik lo kenalan aja dulu, trus jalanin, trus jadian, simpel kan?”
“Dimana simpelnya coba, gue males!!! Pokoknya gue males kalo lo jodohin gue sama temen lo itu”
“Susah ya ngomong sama orang payah!”
“Apa maksudnya kata kata lo tadi… Lo ngatain gue” kayanya novi mulai marah
“Lo gak bakalan ngerti maksud gue” aku langsung melangkahkan kakiku dan berjalan menghampiri temanku di seberang jalan
“Eh! Lo mau kemana toge…” dia panggil aku toge, yah… Dia biasa memanggilku dengan sebutan aneh… Tapi gak apalah.
“Tunggu bentar di situ! Jangan kemana mana, gue mau ngomong sama temen gue… Gue mau bilangin kalo lo gak mau sama dia”
Aku bicara dengan temanku, yang bernama wahyu, yang kayanya memang sudah jatuh cinta beneran sama novi

Setelah ku selesai bicara dengan wahyu aku segera bergegas kembali menghampiri novi.
“Gimana?” tanya novi, serasa dia ingin di beri jawaban yang memang dia inginkan.
“Udah beres kok” jawabku dengan santai.
Dan tiba tiba seseorang menghampiri kami dengan motor sportnya… Dia berhenti di depan kami dan mulai melepas helm yang ia kenakan…
“Kata dika, kamu mau aku ajak jalan, nov!?” kata wahyu, iya, laki laki yang terlihat culun itu sebenarnya laki laki yang gagah dan macho, aku saja kalah saing dengannya, tapi kenapa dia bisa suka sama novi ya? Mungkin aja dia lagi… Ah sudahlah. Wahyu sangat berbeda jika kacamata dan gaya rambutnya diubah.
“Si-”
“Dia mau kok, yu” kusela kata kata novi yang hampir keluar dari mulutnya itu.
“Udah cepetan naik, nov” perintahku ke novi, dia seperti terlihat kikuk di depan wahyu… Entah apa yang merasuki novi, tapi tumben dia langsung nurut…
Mereka berdua pun pergi, entah kemana mereka mau pergi. Yang jelas aku harapkan mereka bisa benar benar pacaran.

“Siapa dik? Kok dia boncengin novi? Gak kaya biasanya? Apa novi punya pacar? Tapi novi bilang ke gue kalo dia kagak punya pacar, tuh” ini nih! Yang satu ini juga sama cerewetnya seperti novi, tapi dia juga cantik, gak kalah cantik dari novi. Namanya dina… Nama panjang lupa!!! Pokoknya namanya dina.
“Kita pulang aja yuk, na!” kupotong semua pertanyaan dina yang beruntun itu, aku lagi males menjawab.
“Eh, tapi dik. Elo belum jawab pertanyaan gue tadi…”
“gak penting, gue mau makan gorengan, lo mau ikut gak, na?”
“Boleh juga, gue juga udah lama gak makan gorengan”. Sahut dina.
Asyik!!! Akhirnya dia mau diajak pulang sama sama, sebenarnya rumah kami bertiga berdekatan, dan juga dekat dengan sekolah. Dan juga aku berhasil menghidar dari pertanyaan beruntunnya itu tadi, syukur deh!

Hari semakin sore, dan kami masih mengenakan baju seragam sekolah. Kami kekenyangan setelah makan banyak gorengan tadi. Lalu aku dan dina berjalan santai dan sambil bercerita tapi di sore itu kayanya suasananya lagi baper sehingga dina bertanya hal yang sebenarnya gak bakalan keluar dari mulut cerewetnya itu.

“Kalo lo suka sama novi kenapa gak langsung bilang aja, dik?!” tuh kan kata katanya benar benar seperti petir langsung menyambar tanpa ada peringatan berarti.
“Eh, sembarangan!!!”
“Yang suka sama novi tuh siapa sih?!” aku menyangkalnya.
“Lo bego atau pura pura bego sih!! Perlu gue ajarin cara membaca isi hati diri sendiri ya!! Atau lo benar benar gak peduli tentang perasaan lo kelawan jenis lo, seperti perasaan lo ke novi, dikaaa!!!”
Wow!!! Ini beneran dina yang aku kenal, sekarang dia jadi peramal atau paranormal nih, kok aku gak tau arti keduanya yaaa…
Dina hari ini benar benar membuatku bungkam, dia seakan telah tau apa yang aku rasa, dia… Seperti meletakkankku di ujung tebing… Dan hanya tinggal mendorongku dan aku akan jatuh… Dan disaat aku telah jatuh maka aku takkan bisa membuka mataku lagi…
“Malah senyum, jelaskan dong ke gue apa yang lo rasain soal novi!”
“Emm… Kayanya lo pengen tau banget ya?” sedikit kusentil pipi manis si dina.
“Yeee… Malah nanya lagi, ya iyalah! Kalo gue udah nanya kaya gini berarti gue emang udah penasaran banget”
“Huh… Gue ogah bilang apa apa, gue mending gak usah ngomong deh, entar jadi ribet urusannya”
“Pelit lo ya sama gue sampe gak mau ngomong… Ya udahlah… Kalo novi gak deket lagi sama lo nanti jangan tanyain apa apa ke gue, awas lo!!!”
Sejenak langkahku terhenti dan penglihatanku memudar dan pikiranku terarahkan ke novi dan dadaku terasa tertusuk dari dalam mengenai hati. Seakan yang dina bilang memang jadi kenyataan dan seakan semua itu terjadi sekarang.
“Hahahaha” aku tertawa menutupi perasaanku yang sebenarnya hahahaha…
“Bodo amat lo mau ketawa, tapi jangan nyesel ya!!”
“Tenang aja! Gue tetap akan dekat sama novi dan lo gak usah khawatirin gue na”
“Ya baguslah kalo gitu dik. Ya udah gue duluan yaaa”
“Iyaaa” aku tersenyum.
Dina langsung berjalan menuju arah rumahnya, di persimpangan jalan kami berdua berpisah dan berjalan masing masing kini. Aku benar benar gak mau terlalu berlebihan tentang perasaanku, aku hanya ingin melihatnya senang sekarang. Iya, hanya itu kan.

Langkahku semakin mendekati rumah dan sesaat seseorang memanggil namaku lagi, dan ini masih suara yang sama. Kulihat dua orang yang berboncengan dan salah satunya manggilku, aku tidak akan salah dengar karena pendengaranku cukup peka di umurku yang masih muda. Kulihat seseorang turun dari sepeda motor dan bilang “Terimakasih, wahyu” dan orang itu berlari mendekatiku perlahan. Dan tiba tiba nyerocos aja gak ada tanda tanda mau toleransi.
“Lo gila ya!!!”
“Kalo lo suka sama gue, lo gak bakalan nyuruh gue jalan sama cowok lain berduaan!!!”
“Kalo lo senang ngeliat gue senang bukan kaya gini caranya, dik”
“Lo gak pernah peka ya!! Kok lo gak pernah bilang apa apa? Apa gue yang salah mengira? Kenapa lo diem aja? Ngom-”
Aku menahan bibir manisnya untuk berucap lebih banyak dengan tanganku dan wajahku mendekat ke arah wajahnya seraya melapas tanganku yang menahan bibirnya tadi dan aku berkata
“Gue cuma dika, bukan seseorang yang termasuk tipe elo, gue nyadar, gue tau diri, gue juga gak mau kita pacaran karena alasan “Kita udah lama kenal””
“Gue… Emang suka sama elo, nov! Tapi gue ya gue, lo pasti tau, gue kan suka minder kalo deket sama lo”
“Lo itu kan cewek cantik terus banyak yang mau sama lo di sekolahan”
“Gue ngerasa, gue gak pantas aja deket sama lo, gue lebih milih ngeliat lo senang dari pada diri gue sendiri, nov”
“Lo itu cewek yang selalu bisa ngebuat gue seneng, tapi… Kadang kadang juga sih” sekilas kualihkan wajahku dari hadapannya dan melihat ke arah lain seiring tersenyum. Dan kukembalikan pandanganku padanya lagi dan perlahan bibirnya ingin berucap.
“Kok elo, dik, bisa tau diri gini sih sama gue?” tanya novi kepadaku.
“Memangnya kenapa?”
“Yang gue tau lo gak bakalan kaya gini sama cewek lain, yang gue tau lo itu emang suka mainin cewek” aku suka mainin cewek kah? Sejak kapan? (gak nyadar diri dikanya)
“Itu… Karena gue gak bisa mainin perasaan cewek yang gue suka”
“Jadi ini yang ngebuat lo perhatian banget sama gue, dik?” aku hanya mengangguk “Gue baru nyadar, dik” eh apa yang tadi aku dengar, novi bilang…
“Eh tunggu tunggu!! Lo baru nyadar” tanya gue bingung, jadi dia baru nyadar saudara sekalian.
“Iya”
“Gue kira lo udah tau sejak lama”
“Enggak! Gue aja baru tau tadi”
“Jadi lo baru aja tau?!”
“Iya lah, wahyu yang bilang tadi”
“Apaaa!!!” aku seperti ditusuk dari belakang oleh wahyu, kampret banget si wahyu, bisa bisanya dia bilang hal segenting ini sama novi saat mereka berduaan, ternyata wahyu lebih pintar dari kacamatanya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Yoga Andika Pradana
Facebook: Yoga Andika Pradana
Nama: yoga andika pradana
Biasa di panggil dengan Yoga gak lebih dan bisa kurang
Orang yang humoris tapi ngeselin omongannya juga kasar dan memang aneh sedikit gila gak bisa berenang dan aku tinggal di Banjarmasin.
Mau lihat tentang aku silahkan follow aja IG aku @yogaandikapradana
JALANI, NIKAMATI, DAN SYUKURI
Salak YGNV….

Cerpen Kalian (Dika, Novi) Part 1 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berawal dari OSIS

Oleh:
Kriiing, alarm berwarna biru muda berbentuk doraemon langsung membangunkanku. Namaku sasa aku merupakan anak tunggal di keluargaku, dan keluargaku termasuk keluarga yang berada. Hari ini hari pertama aku bersekolah

Gaul (Part 1)

Oleh:
Wajah Aris memerah karena tegang, dan bukan hanya karena cuaca di luar yang sangat terik. Dia rasa penampilannya sudah sesuai, dia tak lagi memakai celana sobeknya saat ini. Dia

Kotak Cokelat

Oleh:
“Sakit?” Aku menggeleng. Menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Rio lalu melanjutkan mengoleskan betadine pada lututku yang lecet. “Aww!” Aku langsung menepis tangan Rio dari sana. “Pelan-pelan.” Rio tertawa. Manis sekali.

Tetap Kuat Bersamamu

Oleh:
Hari pertamaku di SMA Elang Satria sebagai seorang murid pindahan terasa sangat ringan, karena hari pertama di sini aku bertemu dengan bu shita yang akan menjadi wali kelasku di

Antara Kita

Oleh:
Dalam sebuah keterasingan aku berjalan kaku. Aku tak ingin menoleh sedikitpun ke belakang. Aku ingin terus menatap masa depan. Tapi di depan sana banyak sekali tikungan. Sebenarnya dalam hati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *