Kamu Adalah Calon Imam Terbaik (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 6 March 2018

Terimakasih mah. Mungkin mamah kini tak lagi ada di hadapanku tapi aku percaya mamah selalu hidup di dalam jiwaku sekalipun aku tak mampu melihatmu lagi. Belaian tanganmu di jiwa ini masih terasa begitu hangat. Peluk eratmu dulu, masih bisa aku rasakan sampai saat ini. Mah, aku merindukanmu. Aku berharap Allah menempatkanmu di tempat yang benar-benar layak untuk mamah. Aku bersyukur selama ini mamah selalu ada buat aku. Mamah selalu ngertiin aku. Mamah is my life. Tunggu aku di istana yang kekal itu ya mah. Aku sayang mamah.

“Key?” ujar seseorang yang membuyarkan renunganku. Aku sesegera mungki menghapus air mata yang membasahi pipiku ini. Akupun melirih ke arah seseorang yang memanggilku itu. Ya itu adalah Rizal. Seorang laki-laki yang mamah pilihkan untukku sebelum mamah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Rizal begitu sempurna di mata perempuan lagi. Selain pintar, wataknya yang baik dan juga tampan serta mengerti agama itulah yang memberinya nilai plus plus.
“Ah iya riz?” jawabku dengan sedikit terkejut
“Pasti kamu mikirin almarhumah tante andin ya?” katanya
“Ah enggak ko riz. Aku cuman lagi diem aja” kataku dengan mengalihkan pandanganku ke depan.

“Kamu kebiasaan deh bohong mulu.” Katanya sembari terus mengemudikan mobil silvernya.
“Iya riz maaf. Sebenernya aku kangen mamah riz. Kangen pelukan mamah, kangen bawelnya mamah, kangen ini itunya mamah. Pokoknya aku kangen mamah riz.” ujarku dengan mata yang penuh air ini. Aku mencoba untuk tak menangis di depan rizal tapi aku tak mampu. Tetesan demi tetesan pun terjun membasahi pipiku. Aku menutup wajaku dengan kedua tanganku. Dan tangisku pun pecah dengan ditemaninya rasa kerinduan pada mamah.

Tiba-tiba Rizal menghentikan laju mobil dan berkata “Key. Aku tau rasanya ditinggalin sama orang yang kita sayangin. Dan kamu harus belajar ikhlas key. Tante andin di sana juga baik baik aja kok.” Katanya dengan penuh kelembutan.
“Ya tapi aku gak setegar kamu Riz. Mungkin kamu mampu menahan kerinduan yang kamu rasakan ke almarhum om Surya. Tapi aku gak bisa Riz. Ditambah lagi kalo di rumah aku sedih liat papah yang kesehariannya pura-pura ceria di depan aku. Padahal papah sering nangisin kepergian mamah di kamarnya. Aku gak sanggup hidup di situasi gini terus Riz.” Ujarku. Tangisku pun semakin meledak. Aku mencoba menenangkan diri ini tapi rasanya begitu sulit untuk itu.

“Key. Maaf aku gak ada niatan kaya gitu.” Katanya dengan nada bersalah.
“Sinih key. Kalo kamu butuh sandaran, aku ada kok buat kamu.” Tambahnya dengan nada yang begitu menyentuh hati sembari memegang pundak kirinya. Entah mengapa aku spontan memiringkan tubuhku dan bersandar di pundaknya. Walaupun jarak antar jok pengemudi dengan tempat duduku sedikit jauh. Aku terdiam meratapi daerah sekitar tempat mobil ini berhenti. Aku mencoba menenangkan diri ini. Dan tiba-tiba Aku ingat akan kata-kata papah semasa aku kecil dulu. Saat kamu sedang sedih ataupun susah kamu harus bertasbih kepada Allah. Katanya. Aku pun mengucap kalimat tasbih dan benar perlahan hatiku semakin tenang. Ditambah ada kehangatan yang Rizal beri pada sandaran ini.

“Key. Kamu masih sama kaya dulu ya. Pas kamu sedih kamu pasti butuh tempat untuk bersandar menenangkan hati kamu.” Kata rizal dengan senyuman manis yang terukir di wajanya. Mendengar hal itu aku bangkit dari sandaran itu dan kembali ke posisi duduk seperti biasanya.
“Riz. Makasih ya udah selalu ada buat aku dari pertama kita dijodohin sampe sekarang. Dan makasih juga atas semua pengertian yang kamu kasih ke aku.” Kataku setelah menghela nafas panjang. Dan akupun kembali tenang lagi.
“Jadi udah siap pulang kan?” Katanya
“Iya siap. Yuk lanjutin”
“Oke” jawabnya yang langsung menjalankan mobil lagi dan menuju ke rumahku. Di perjalanan aku melihat sekeliling jalan yang perlahan seakan bergeser dengan cepat.

“Oh ya key gimana sama orang yang kamu sukain? Masih deket gak?” Ujarnya yang spontan mengagetkanku. Ah ya walaupun Rizal adalah pasangan perjodohanku. Tapi ia sudah aku anggap sebagai sahabatku. Dan ia selalu tak ingin ada rahasia diantara kami. Karena itu ia mengetahui bahwa sebenarnya aku menyukai orang lain.
“Emm soal dia ya? Aku sih masih sama. Hanya mengaguminya dari jauh. Merindukannya dalam mimpi dan menceritakannya dalam do’a.”
“Kamu tipe orang yang setia juga ya.” Ujarnya sembari sedikit tersenyum.
“Uh iya dong. Pasti itumah. Aku kan gak kaya kamu yang baik kesemua orang dan ngasih harapan palsu tanpa kepastian.” Ledekku
“Aku sih gak pernah ada niatan ngasih harapan palsu ke orang-orang. cuman ya gimana ya. Kepastian yang aku punya cuman buat calon istri aku nanti yaitu kamu. Dan itupun kalo ujungnya perjodohan kita terlaksana. hehe.”
Aku meliriknya dengan sedikit heran “aku? Calon istri kamu? Emm gimana ya? Kalo misalkan aku gak mau gimana?”
“Ya simple sih tinggal aku bilang ke mamah terus mamah bilang deh ke papah kamu dan akhirnya perjodohan kita batal. Simple kan?” Katanya dengan sedikit dingin
“Yah riz aku bercanda kali. gak usah dianggap serius juga kali.” Kataku. Dengan melihat kearahnya dengan mimik waja yang merasa bersalah.
“Lagian aku kan udah janji sama kamu. Kalo aku bakalan berusaha buat bisa jalanin perjodohan ini demi mamah sama papah aku. Dan aku bakalan belajar buat selalu ada buat kamu.” Tambahku. Aku memandang jauh kedepan. Dan sejenak keheningan menepi diantara kami.

“Aku beruntung mamah ngejodohin aku sama kamu key. Pantes aja mamah bisa kagum ke kamu.” Katanya sembari tersenyum lebar
“Emang aku kenapa?” Ujarku heran.
“Eh Udah nyampe nih.” katanya yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Uh dasar ngalihin pembicaraan mulu.” Ujarku kesal.
“Key aku mau ketemu om varhan boleh ya?”
“Gak boleh Riz.” Kataku sinis padanya.
“Oh gituh. Oke aku pulang!” Katanya dengan nada seperti orang marah
“Yah gituh aja pundung. Uhh dasar pemarah wlee.” Ledekku sembai turun dari mobil dan beranjak memasuki rumah yang diikuti oleh Rizal.

“Assalamualaikum.” Sapa kami serentak saat memasuki rumah.
“Waalaikumussalam” jawab mbak putri. Mbak putri adalah asisten rumah tangga mamah dan papah sejak aku masih kecil. Dan ia sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri.

“Mbak papah mana?” tanyaku yang berjalan menghampirinya.
“Papah lagi di kamar teh. Nanti juga turun kok.” katanya. Aku pun mencium tangan mbak putri yang diikuti Rizal juga.
“Eh ada mas Rizal juga. Ya udah teteh sama mas Rizalnya duduk di ruang tamu aja ntar mbak panggilin papah ya.” Kata mbak putri yang langsung pergi menuju kamar papah.
“Riz. Duduk dulu aja. Aku mau ke kamar dulu mau ganti baju ntar aku balik lagi ya.” Ujarku.
“Iya key. Sana mandi sekalian. Bau tau ih.”
“Enak aja -, key sih selalu wangi dong” kataku yang beranjak pergi menuju kamar.

Kulangkahkan kaki ini menuju kamarku. Dan aku pun mengganti pakaianku. Setelah selesai aku beranjak pergi menemui Rizal lagi. Dan sesampainya di ruang tamu aku melihat sudah ada papah di sana. Aku menghampiri mereka dan mencium tangan papah.

“Key. Sini duduk. Papah mau ngomong serius sama kalian.”
“Ngomong serius soal apa pah?”
“Soal perjodohan kalian.” kata papah
“Emang kenapa pah sama perjodohannya?” Tanyaku heran
“Papah, almarhumah mamah kamu, tante arum, sama almarhum om Surya dulu udah sepakat mau nikahin kalian pas kalian kuliah.”
“Ya terus pah? Kan aku sama Rizal masih kelas 3 SMA pah.” Tanyaku yang masih brlum mengerti.
“Lulus SMA nanti. Kalian tunangan dulu ya.” Pinta papah
“Tunangan pah? Apa gak kecepetan?” Aku kaget. Lulus SMA nanti aku pengen fokus masuk PTN dulu. Dan aku gak kepikiran kesana. Aku cuman mau jalanin hubungan ini sampai waktu yang tepat.
“Kecepetan gimana?” Tanya papah
“Gini loh om. Key sama Rizal udah sepakat mau fokus ke PTN dulu. Dan kita belum ada pikiran ke sana. Tapi kalo key sama Rizal udah masuk PTN. Rizal siap kok tunangan sama key.” Kata rizal dengan penuh ketenangan.
“Ah iya pah kalo gitu key juga setuju. Please pah. Key mau masuk UI dulu pah biar bisa banggain papah sama almarhumah mamah. Ya pah.” Ujarku yang coba menjelaskan.
“Oke papah setuju. Dan inget ini semua atas persetujuan kalian berdua ya.”
“Iya pah.”
“Iya om.”

“Papah pergi ke kamer dulu ya ada pekerjaan”
“Iya om” kata rizal
Papahpun pergi meninggalkan kami.

“Keyla.”suara itu memulai pembicaraan di antara kami.
“Ah iya Riz?” Tanyaku padanya.
“Apa kamu serius mau ngejalanin perjodohan ini? Apa kamu gak bakalan merjuangin orang yang kamu sukain dari dulu?” Kaya rizal dengan waja yang begitu serius.
“Riz berapa kali aku harus ngomong ke kamu. Kalo aku InshaAllah siap dengan perjodohan ini. Masalah orang yang aku sukain. Aku janji bakalan berusaha semampu aku buat lupain dia.” Ujarku yang mencoba meyakinkanya.
“Kalo kamu udah gak sanggup jalanin perjodohan ini kamu bilang ke aku ya.” Katanya dengan penuh harap
“Oke.” Jawabku singkat.
“Aku pulang dulu ya. Kasian mamah nunggu aku di rumah”
“Oh ya udah. Yuk aku anter sampe depan” kataku yang beranjak dari kursi temoat duduk. Saat aku bangun dan berdiri aku merasa sedikit pusing. Dan tiba-tiba tenaga untuk aku berdiri perlahan sirna entah ke mana.

“Aw” kataku pelan sembari memegang kepalaku. Aku mencoba menahan rasa pusing ini. Rizal yang melihat itu memasang waja penuh keheranan.
“Key. Kamu kenapa?” Tanyanya yang mulai terlihat panik. Ia merangkul tubuhku disaat aku merasa aku akan jatuh. Perlahan tapi pasti penglihatanku mulai samar. Dan lemas tak berdaya. Aku jatuh di dalam rangkulannya.
“Key key bangun key. kamu kenapa?” Tanyanya dengan nada panik. Aku mampu mendengar suaranya yang begitu jelas namun aku tak punya banyak tenaga untuk menjawabnya.

“Riz. Aku pengen ke kamer.” Ujarku dengan sedikit tenaga yang masih tersisa.
“Iya iya key. Mbak mbak putri bantu Rizal mbak. Key pingsan.” teriak Rizal yang masih merangkulku. Dan beberapa detik setelah itu aku benar tak sadarkan diri. Dan saat aku bangun aku melihat keadaan di sekelilingku. Yang tak asing bagiku yaitu kamarku. Aku melihat jam menunjukan set 7 malam. Ah waktunya magrib. Aku terkejut karena aku belum shalat magrib. Aku bangun dari kasurku. Dan ahh..kepalaku masih sedikit pusing rasanya. Aku perlahan menyusuri ruangan tiap ruangan menuju tempat wudhu dengan sisa tenaga yang aku miliki. Setelah sampai aku pun berwudhu. Kusucikan diri ini demi menghadap sang Khaliq. Setelah wudhu aku berjalan menuju kamarku dengan perlahan karena tenaga yang aku miliki tak cukup banyak.

“Key udah bangun?” Suara itu terdengar dari arah belakangku. Aku menoleh ke arahnya dan ternyata itu adalah Rizal. Ia menghampiriku.
“Riz kok kamu jahat gak bangunin aku sih. Kan aku belum shalat magrib loh.” Kata kesal padanya. Aku melanjutkan langkahku menuju kamar.
“Kamu tadi pingsan key. Badan kamu juga tadinya panas loh.” Katanya
“Bentar Riz aku mau shalat dulu ya. Nanti kamu jelasin semuanya ke aku.”
“Iya iya shalat dulu aja.aku izin masuk kamer kamu buat nemenin kamu doang ya. Boleh kan?” Katanya
“Ya terserah kamu aja. Asal jangan ganggu aku shalat aja ya.”
“Iya iya janji gaakan ganggu. Katanya. Rizal pun duduk di kasurku. Dan akupun melaksanakan kewajibanku untuk menunaikan shalat magrib. Kuserahkan diri ini pada sang pemilik raga ini. Setelah selesai aku pun melipat mukenaku dan duduk pula di kasurku.

“Riz ceritain semuanya. Kok aku bisa kaya gini.” pintaku padanya.
“Tadi kamu pingsan key. Jadi aku bawa kamu ke kamer terus badan kamu panas juga jadi dikompres deh sama mbak putri. Papah kamu juga tau soal kondisi kamu sekarang tapi papah kamu lagi ke mesjid dulu shalat berjamaah.” Jelasnya. Aku hanya terdiam dan mencoba mengingat perihal tadi sore.
“Gimana udah baikan?” Ujarnya sembari menyentuh keningku. Seakan ia mengetes apakah suhu badanku tinggi atau rendah.
“Udah baikan kok Riz.”
“Oh syukur deh. Tapi suhu kamu masih panas key. Besok kamu jangan ke sekolah dulu aja ya.”
“Aku gak papa kok riz.” Kataku sembari membaringkan tubuh ini di kasur.
“Key. Aku pulang dulu gak papa kan?” Katanya dengan nada lembut seperti biasanya
“Iya Riz. Makasih ya.”
“Oke. Cepet sembuh ya” katanya sembari pergi meninggalkanku.

Tak lama adzan isya pun berkumandang. Aku pun melaksanakan shalat isya. Dan setelah itu aku langsung tidur. Karena aku merasa kurang fit saat ini.
Waktu berganti. Di sunyi awal pagi ini belum ada secerca cahaya mentari pun yang keluar. Aku mendengar suara merdu itu. Suara yang biasa membangunkan para khalifah muslim untuk menyeru menunaikan kewajibannya yaitu shalat subuh. Tak terkecuali padaku. Aku pun bangun dari tidurku dan bersiap untuk shalat subuh. Rasanya badanku sampai saat ini pun masih belum terasa membaik sedikitpun. Setelah shalat aku menyandarkan tubuhku ke kasur tanpa membuka mukena ini aku merasa begitu lemah saat ini. Untuk bangun pun rasanya begitu sulit.

“Key papah masuk ya.” Suara itu terdengar dari balik pintu.
“Ya pah.” Jawabku dengan nada lesu.
“Key kamu masih sakit ya? Kita ke dokter aja yuk.” ajak papah. Papah seraya membantuku membaringkat tubuhku di kasur ini.
“Gak usah pah. Key cuman sedikit pusing aja jawabku dengan nada lemas. Aku mencoba mengontrol tubuhku. Tapi tetap saja rasa pusing itu masih menggangguku.

“Hari ini kamu jangan sekolah dulu ya. Istirahat di rumah aja. Nanti papah telpon tante Arum buat meriksa kamu ya.” Kata papah. Aku pun hanya terdiam. Dan aku mencoba untuk tidur dan benar saja aku pun tertidur.
Saat aku bangun tak terasa hari sudah siang. Aku merasa sedikit kesepian. Biasanya saat aku sakit mamah selalu ada di sampingku. Mamah selalu menemani tidurku. Tapi kini sosok mamah tinggal kenangan untukku. Aku menghapus air mata yang keluar dari mata ini. Dan tak sengaja tanganku menyentuh sebuah dompet yang ada di kasurku. Aku mencoba mengambilnya dan melihatnya.
“Bukannya ini dompetnya Rizal ya?” Gerutuku dalam hati. Kalo misalnya aku buka boleh gak yah. Aku penasaran ada foto siapa aja di dompetnya. Tapikan gak sopan buka buka barang punya orang. Hmm buka jangan ya. Ah udah ah buka aja toh aku cuman pengen liat fotonya doang. Dan saat aku membuka domoet itu, mataku tertuju pada secarik foto yang menggambarkan seorang perempuan cantik tanpa berjilbab. Aku mencoba mengambil foto itu dan ternyata di belakangnya terselip sebuah lipatan kertas. Aku merasa penasaran akan kertas itu dan aku membukanya.

“Tertulis untukmu nanda. Kamu adalah cinta pertamaku. Kamu yang mengajari aku bahwa menanti adalah salah satu cara untuk sabar. Hingga saat ini pun aku masih menunggumu. Saat kamu kembali padaku maka saat itu pula aku akan sangat bahagia. Dan aku berharap suatu hari nanti saat kamu kembali kepadaku dan kamu mampu memakai hijab. Sebuah kain yang mampu menutupi auratmu. Andai saja kita berjodoh. Pasti itu akan menjadi sebuah kenyataan yang amat teramat indah untukku dan semoga untukmu juga ya. Tapi Sayang saat ini aku terpaksa menerima perjodohan yang mamah aku inginkan. Dan aku tak bisa bersamamu karena itu” isi kertas itu.

Cerpen Karangan: Nita Raspiniah
Facebook: Nita Raspiniah

Cerpen Kamu Adalah Calon Imam Terbaik (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Monyet itu Tulus (Part 2)

Oleh:
Hari demi hari pun kami lalui bersama, tak hanya suka, duka pun juga kami alami bersama. Setiap hubungan pasti ada kendalanya sendiri, sebagaimana dengan hubungan kami ini, kami terkendala

MImpi dan Pilihan

Oleh:
Ada temanku yang bertanya, “jika kamu mengalami kejadian di mana kamu memegang tangan dua orang lelaki yang akan tenggelan ke danau. Yang satu orang yang kamu cintai tapi dia

Dewinata de Coco

Oleh:
Ini malam aku tak lagi sendiri, ada dia di sampingku. Sambil menikmati wedang susu yang dijual di pinggir jalan. Semburat bahagia terlihat dari wajah Rendra, kuteguk sedikit wedang jahe

Special Day

Oleh:
Pagi yang cerah untuk hari yang istimewa. Yap! Hari ini tepat tanggal 23 Desember, Grace dan David akan merayakan hari jadinya yang ke-1 tahun 11 bulan. Grace yang notabene

Kutunggu Lagi Cintamu

Oleh:
“Pangeran! Pangeran! Pangeran!” Di mana-mana kudengar namanya, di setiap langkahku selalu aku dengar namanya, sering kali aku pernasaran akan sosok Pangeran yang kerap orang bicarakan. “iyaa, Pangeran itu orangnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *