Kamu Adalah Calon Imam Terbaik (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 6 March 2018

Aku terdiam setelah membaca surat itu. Tiba-tiba aku menangis. Entah karena apa. Aku merasa selama ini kebaikan yang Rizal beri tidaklah tulus untukku. Mungkin ia melakukan itu semua hanya karena ia ingin membahagiakan tante arum,mamahnya. Dan selama ini semua yang ia lakukan untukku dan saat ia bersamaku itu semua hanyalah sebuah keterpaksaan. Ah Rizal maafin aku. Aku gaada niatan buatan ngerusak cinta pertama kamu sama perempuan ini. Maaf karena ada aku di hidup kamu, kamu jadi harus pisah sama cinta pertama kamu.

Tenang key tenang. Aku harus bisa menahan diri. Mending nanti aku tanya langsung ke dia faktanya kaya apa. Kalo dia gak mau dijodohin yaudah gak papa biar perjodohan ini batal aja. Aku gak mau ada keterpaksaan diantar aku sama Rizal. Tak lama aku mendengar bunyi seseorang membuka pintu kamarku dan aku pun langsung membereskan dompet rizal. Aku melihat ke arah pintu dan ternyata itu adalah rizal.

“Gimana key udah baikkan?” Sapanya yang mulai menghampiriku
Mungkin ini saat yang tepat, pikirku. Aku pun mulai bertanya padanya.
“Riz. Aku mau nanya sesuatu boleh?”
“Nanya apa key?”
“Kita kan udah janji gaakan ada rahasia di antara kita. Jadi aku pengen deh kamu nyeritain tentang masa lalu kamu. Kaya dulu aku nyeritain ke kamu tentang semuanya.”
“Tentang masa lalu aku? Di masa lalu aku gak ada apa-apa kok key.”
“Kalo tentang seseorang yang kamu cintai?”
“Emm gak ada tuh.”
“Riz. Gak boleh ada rahasia diantara kita. Itu kata kamu loh.”
“Iya tapi… oke aku bakalan ceritain semuanya. Dulu sebelum aku tau kamu. Aku pernah deket sama seorang perempuan namanua nanda. Dia dulunya temen sekelas aku pas aku kelas XI Ipa 5. Dia adalah cinta pertama buat aku. Dan karena dia aku belajar arti kesabaran dalam menunggu. Aku dulu pernah ngenalin dia ke mamah tapi mamah gak setuju katanya nanda kurang anggun di mata mamah. Dan mamah juga gak suka liat perempuan yang gak berjilbab. Makanya mamah bener-bener ngelarang aku deket lagi sama Nanda. Di mata mamah Nanda itu anak yang nakal dan gak pantes buat aku.” Katanya. Aku pun bangun dari tidurku dan mencoba untuk duduk agar aku mampu menyimak cerita itu.

“Eh bisa gak key?” Katanya sembari membantuku duduk.
“Makasih Riz. Ayo lanjut lagi.”
“Dan pada akhirnya Nanda pun pindah sekolah entah karena apa.” Lanjutnya
“Sekarang kamu masih suka sama nanda?” Tanyaku. Dia hanya terdiam menandakan bahwa jawabannya adalah ya.
“Kenapa kamu gak perjuangin dia Riz. Kamu laki-laki dan kamu berhak menggapai pilihan hidupmu. Berbeda dengan aku yang …”
“Mungkin bilang gitu gampai key tapi aku udah coba dan tetep hasilnya sama. Mamah gak setuju sama nanda.”
“Riz. Kalo kamu emang bener bener sayang sama dia sampe sekarang harusnya kamu tetep perjuangin dia. Percaya deh kalo misalnya kamu bener-bener usaha buat bisa bikin nanda berjilbab pasti tante Arum bakalan setuju deh sama kamu.
“Key please jangan bahas ini lagi.” Katanya seperti biasa penuh kelembutan
“Tapi kan Riz…”
“Key tolong.” Katanya dengan nada yang sedikit menaik. Aku terkejut dengan perubahan nada itu.
“Riz tolong jangan jadikan aku penghalang buat kebahagiaan kamu. Kalo kamu suka sama nanda kamu kejar dia. Aku bakalan support ka…”
“Key bisa gak sih kamu jangan bahas ini lagi?” Katanya dengan nada yang cukup tinggi. Aku merasa tersentak dan entah kenapa aku malah menangis karena ini.
“Oke maaf kalo misalnya aku udah jadi penghalang kebahagiaan kamu. Kalo kamu mau batalin perjodohan ini aku siap.” Kataku yang mencoba menguatkan hati. Rasanya aku begitu sedih dan aku ingin menangis disaat ini. Saat aku tau kebenarannya.
“Key please jangan ngomong gituh.” Katanya dengan nada yang seperti biasa lagi. Ia menatapku dalam dalam dengan penuh kehangatan. Ah rizal, kenapa kamu beri aku tatapan kehangatan itu? Aku gak sanggup liatnya. Sekarang aku terbiasa hidup dengan kehadiran kamu. Dan rasanya sulit buat aku ngelepasin kamu. Entah karena kamu yang sudah aku anggap sebagai sahabat atau mungkin rasa sayang aku mulai tumbuh ke kamu. Ah astagfirullah. Jaga pandangan aku ya Allah, jaga hati ini pula. Aku mencoba mengalihkan pandaganku dari wajanya. Dan tiba tiba tante Arum datang. Aku yang melihat tante Arum langsung menghapus air mataku.

“Assalamualaikum” sapa tante arum
“Waalaikumussalam” jawab aku dan rizal serentak

“Key nangis? Kenapa?” tanya tante Arum yang menghampiri kami.
“Ah enggak kok tante. Mungkin efek dari kurang fit aja ini mah.”
“Oh bisa jadi sih. Gimana udah baikan? Atau masih pusing?” Tanya tante Arum yang mulai memeriksa aku. Disaat yang sama pula rizal hanya melihat ke arahku sedang aku mencoba mengalihkan pandangan darinya.
“Key harus banyakin istirahat ya jangan kecapean sama jangan telat makan. Nanti obatnya tante kasih ke Rizal ya.” Kata tante Arum yang selesai memeriksa
“Ah iya tante.”
“Zal, kamu disini jagain key dulu ya kasian om Farhannya lagi kerja ke kantor dulu.”
“Ah iya mah.” kata rizal yang mengalihkan pandangannya ke tante arum.
“Tante pulang dulu ya. Cepet sembuh sayang” kata tante arum seraya mengecup keningku. Kecupan itu seakan mengingatkanku pada mamah. Dan aku terlena hingga tak sadar aku mengucapkan kata “mamah”.
“Panggil mamah aja key gak papa kok. Kamu boleh anggap tante sebagai mamah kamu kok” katanya sembari memelukku. Aku terharu dan ya pelukan inilah yang selalu aku rindukan. Sudah lama aku tak merasakan pelukan ini lagi.
“Mamah. Key kangen pelukan ini.” Akupun terbawa suasana. Tak lama aku memilih melepas pelukan itu dan tante Arum pun pamitan pulang. Setelah tante Arum pergi keheningan menyapa aku dan Rizal.

Setelah lama hening. Rizal pun memulai pembicaraan di antara kami, “key mending kamu istirahat dulu. Kan kata mamah kamu harus banyak istirahat.” Katanya sembari menyelimuti tubuhku sengan selimut biasa yang sering aku pakai. Aku terdiam tanpa menjawabnya.

Hari pun berlalu. Rizal akhirnya pamit pulang. Dan keesokan harinya aku merasa sudah baikkan. Jadi aku memutuskan untuk pergi ke sekolah. Pagi menyapa. Sinar mentaripun menghiasinya ditemani kicauan burung burung liar di alam bebas sanah. Dan saat aku keluar dari rumah untuk pergi ke sekolah ternyata sudah ada rizal yang menungguku. Aku pun memsuki mobilnya. Dan kami pun berangkat ke sekolah bersama seperti biasanya.

“Udah sembuh beneran nih key?” Tanyanya yang memulai pembicaraan. Seakan ia lupa tentang perdebatan kemarin.
“Ah iya. Alhamdulillah.”
“Key, nanti pulang sekolah anter aku beli kado buat mamah ya?”
“Ah iyaiya riz. Nanti aku usahain.” Kataku yang mencoba bersikap seperti biasanya.

Singkat ceritanya setelah sampai di sekolah dan mengikuti KBM. Akhirnya tiba pula jam pulang sekolah. Dan ternyata Rizal sudah menungguku di parkiran mobilnya. Aku pun menghampirinya.
“Kita beli kado ke mana Riz?” Tanyaku.
“Ya ke mana kek asal dapet aja pokoknya.”
“Oh oke oke. Oh ya ini dompet kamu kemarin kemarin ketinggalan di kamar aku.” Kataku sembari menyodorkan dompet miliknya. Ia hanya terdiam dan terlihat sedikit aneh. Akhirnya ia mengambil dompetnya dan memasuki mobil. Aku pun mengikutinya.

Tiba di sebuah toko sepatu. Aku dan Rizal mencoba mencari sepatu yang cocok untuk tante Arum.
“Eh key. Liat yang itu lucu ya buat mamah.” kata Rizal sembari menunjuk satu sepatu.
“Eh iya ba…”
“Rizal Khaidar Adilah kan?” Kata seorang perempuan yang tiba tiba menghampiri kami dan memotong pembicaraan kami. Aku sekilas mencoba mengingat orang itu. Ah ya ia mirip dengan foto yang ada di dompet Rizal. Ya! Dia mirip nanda.
“Iya bener. Nanda kan?” KataRizal yang terlihat keheranan. Dan tak lama tiba-tiba nanda memeluk Rizal. Aku yang melihat itu pun mengalihlan pandanganku seakan aku pura-pura tak melihatnya. Aku beranjak pergi meninggalkan Rizal. Aku mencoba mencari sepatu lain yang cocok untuk tante Arum. Tapi pikiranku gagal fokus. Aku malah teringat akan mimik waja nanda yang terlihat bahagia saat memeluk Rizal. Mereka terlihat begitu cocok pikirku. Seseorang yang lawan jenis berpelukan dan bahkan ini di tempat umum. Ya Allah ahh mengapa aku malah memikirkan mereka. Toh aku harusnya seneng karena bisa liat Rizal bareng sama orang yang dia cintain. Ah sudahlah lupakan mereka key. Gak ada gunanya mikirin mereka. Tapii apa aku bisa melepaskan sosok Rizal yang selama ini selalu ada untuk aku? Apa aku bisa? Ah yaAllah kenapa aku malah mau nangis. Kenapa? Apa aku sedih karena aku akan kehilangan sosok Rizal? Apa iya?

“Key.” Suara itu mengusik lamunanku. Aku melihatnya itu adalah Rizal. Dan aku melihat nanda pun menggandeng Rizal. Aku melihat itu, hanya saja aku harus kuat dan gak boleh cengeng kataku.
“Ah iya Riz kenapa?”
“Kita pulang yuk. Aku udah dapetin sepatunya.”
“Oh ya udah yuk. Tapi kamu pulang sama nanda kan? Yaudah biar aku naik taksi aja ya.” Ujarku yang mencoba menguatkan hati ini.
“Ah enggak kok nanda mau pulang sendiri. Dia bawa mobil. Mending sekarang kita pulang yuk.”

Akhirnya aku dan Rizal pun menaiki mobil silver milik Rizal. Sedangkan nanda menaiki mobilnya.
Ditengah perjalanan pulang. Aku dan rizalpun saling terdiam seperti kami tak salinh mengenal. Aku pun mencoba mencairkan suasana
“Riz. Nanda cantik ya.” Aku mencoba memancingnya.
“Haha iya key. Dia makin cantik aja tambah imut pula.’ Katanya.
“Coba deh kamu ajak nanda ketemu mamah barangkali sekarang mamah udah setuju Riz.”
“Aku gak mungkin ngelakuin itulah key.”
“Lah kenapa? Kan kamu suka dia. Ya udah perjuangin aja mumpung dia ada disini” kataku dengan nada yang sedikit kesal.

“Key kamu marah ya?”
“Marahnya kenapa?”
“Key nada bicara kamu kok berubah sih. Gak kaya biasanya. Maafin aku ya.”
“Enggak ah sama aja.”
“Key udahlah jangan marah.”
“Aku gak marah”.
“Kamu bohong key.”
“Rizal aku beneran gak marah. Nagapain aku marah?”
“Key aku janji gak akan deket deket lagi sama nanda. Tapi please janga marah.”
“Aku gak marah riz. Berapa kali aku harus ngomong ke kamu kalo aku gak marah.”
“Key udahlah bilang aja kalo kamu marah ke aku kan?.”
“Oke oke aku jujur kesel sama kamu tapi aku gak marah ke kamu. Aku cuman kesel liat kamu pelukan sama dia di tempat umum dan kamu gandengan sama dia. Sedang aku kamu cuekin di sana.”
Rizal terdiam sejenak dan berkata “maafin aku key”.

“Udahlah Rizal. Sekarang mending kamu perjuangin cinta pertama kamu. Aku udah bilang kalo aku gak mau jadi penghalang. Masalah perjodohan biar aku yang ngurus.”
“Kamu panggil aku Rizal? Gak kaya biasanya. Berarti kamu beneran kesel sama aku ya. Key please maafin aku.”
“Maaf buat apa? Toh kamu gak salah. Dia adalah cinta yang berhak kamu perjuangin”
“Tapi key…”
“Udah. Gak ada gunanya juga kita jalanin ini kalo misalnya kamu baikin aku tanpa ketulusan. Toh ketulusan cinta kamu cuman buat dia kan?”
“Key udah cukup jangan dibahas.”
“Gak papa kok riz kalo kamu mau kejar dia. Toh aku bakalan …”
“Key!! Udah cukup. Oke kalo itu mau kamu. Aku bakalan kejar cinta pertama aku.”
Jleb kata kata itu merasuki pikiranku.

“Turunin aku di sini.”
“Tapikan hujan key. Kamu baru aja sembuh.”
“Saat hati kamu dan pikiran kamu memikirkan orang lain sedang kamu lagi sama aku. Itu adalah hal yang paling bikin sakit buat aku. Makasih buat semuanya riz.”
Rizal pun menepikan mobilnya. Di tengah guyuran huja aku jeluar dari mobil dan mencari taksin. Dan saat ini aku merasakan kesedihan yang teramat dalam.

Sesampainya di rumah. Aku kembali sakit lagi. Dan badan aku cukup panas. Papah membawaku ke rumah sakit. Dan di rumah sakit inilah aku diberikan perawatan. Aku merasa begitu lelah hari ini ditambah lagi aku bingung cara bilang tentang pembatalan perjodohan ini. Aku mencoba memejamkan mata dan mencari ketenangan batin. dan.

“Key. Andai kamu tau. Nanda itu cuman masa lalu buat aku. Dan kamu adalah pilihan terbaik mamah untukku. Sekarang orang yang aku sayang itu adalah kamu key. Tulus dalam hati aku.” Suara seorang laki laki yang rasanya seperti suara Rizal. Aku pun membuka mata dan melihat benar saja itu adalah rizal.
“Key kamu bangun? Key maafin aku soal kemarin. Maafin aku ya udah nurunin kamu di tengah hujan. Maafin aku key.”
“Kenapa kamu balik lagi ke aku? Riz cinta kamu itu buat nanda bukan buat aku”
“Mungkin kamu benar. Cinta aku itu bukan buat kamu. Tapi aku menghargai pilihan mamah dan aku bakalan berusaha kaya kamu supaya aku bisa jalanin perjodohan ini. Dan suatu hari nanti bakalan datang hari dimana aku mampu mencintai kamu sepenuhnya. Dan itu adalah setelah kamu halal untukku. Aku ingin cinta aku untukmu itu fitrah dan halal key.”
Aku terharu mendengar hal itu “aamiin. Semoga kita bisa ngejalanin itu Riz demi orangtua kita.”
“Iya iya key. Udah sekarang mending kamu istirahat supaya kamu cepet sembuh ya.”
“iya Riz makasih atas semuanya.” Kataku. Aku pun tertidur dengan ditemani rizal yang duduk di sampingku.

Cerpen Karangan: Nita Raspiniah
Facebook: Nita Raspiniah

Cerpen Kamu Adalah Calon Imam Terbaik (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menjemput Cinta yang Hilang

Oleh:
Kulihat kau tersenyum membawa bunga mawar merah masih sama seperti dulu, kau ciumi dan rasakan harumnya , bunga kecerian dan semangatmu, bunga pelipur lara dan lambang cinta.. Kudengar suara

Berubah

Oleh:
Semenjak hari itu, aku yakin kau tak selamanya terjerembab ke dalam lubang nista yang pernah kau buat dengan sengaja. Kau berusaha melepaskan segala aturan yang mengikat dengan cara berbuat

Senja Di Sudut Kota Jogja

Oleh:
Terdengar suara azan magrib berkumandang, mengajak kita umatnya untuk meluangkan waktu dan mendekatkan diri pada sang pencipta. Kala itu aku berjalan sendiri menyusuri kota jogja, dengan sebuah sarana transportasi

Laura, Bidadari Hidupku

Oleh:
Kriiinggg… tanda bel pulang sudah terdengar oleh semua murid. Sakit. Itulah yang dirasakan siswa SMP kelas 7 bernama George ini. Dari tadi ia hanya menangis karena tidak memiliki teman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Kamu Adalah Calon Imam Terbaik (Part 2)”

  1. dewi juwita says:

    Aku suka banget ma ceritanya. Bikin penasaran d tunggu kelanjutan ceritanya….

  2. Dita sefyah arianti says:

    Sampe nangis aku bacanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *