Kamu Idolaku


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 10 August 2013

“Terus.. Katanya dia jadi nggak suka aku lagi. Habis, aku kan penasaran hubungannya dengan teman masa kecilnya itu..” Airmata membanjiri pipi Merry.

Dunia ini benar-benar nggak adil. Sahabatku diputusin pacarnya. Walau dia nggak cantik-cantik amat. Dia ramah, baik dan amat menyayangi pacarnya. Tapi pacarnya menyeleweng. Kasihan dia..

“Gimana dong.. aku nggak bisa hidup tanpa dia..!”
“Duh.. Sudahlah, nggak punya pacar nggak berarti bakal mati kan?”
“Mati aja! Aku kan kesepian!” Jawab Merry setengah berteriak.

Aku nggak ngerti ini semua. Ingin mati karena nggak punya pacar.. kok bisa ya?. Bukannya aku nggak berminat pacaran. Tapi aku happy tuh tanpa pacar. Yang lebih penting bagiku…

“Udah habis mba, CD ori-nya memang dijual terbatas. Kalau mau nunggu tiga bulan lagi, itupun kalau masih diproduksi lagi.” Jelas pelayan toko disk-taro.
“Yah.. Ya udah deh, Makasih ya mas..” Kata ku kecewa. Kemudian berjalan ke luar toko dengan langkah yang gontai. Ya, bagiku yang terpenting adalah mendapatkan CD konser idolaku itu. Setelah sekian bulan menunggu, menabung. usaha keras yang sia-sia, cinta yang dikhianati. Dunia ini benar-benar menyebalkan.

“Ada cowok yang mau kenalan sama lo, cie cie cie” kata Gina sambil tersenyum genit.
“Siapa?” Tanyaku singkat dan sedikit tak percaya.
“Pokoknya, anaknya baik.. cakep deh!” Jawab Gina semakin membuatku penasaran.
“Cakep, menurut kamu… pastinya gak lebih cakep dari Fuma kan”
“Fumaaa muluuu! Dia mah idola, gak terjangkau men!” Kali ini kata-kata Gina membuatku sedih.
“Biarin, yang penting gak bikin sakit hati”
“Serius Sel! Dia cakep, ketua osis pula!” Kata Gina sumeringah.
“Ketua osis? Emang ada urusan apa sampai mau kenalan ma gue?” Tanya ku tidak yakin.
“Kemaren pas rapat osis, gue cerita bakat lo yang bisa gambar.. nah kebetulan acara kita butuh orang yang jago gambar”
“Yeee gue kira apaa..”
“Lah mang lo kira dia mau kenalan ama lo karena apa?”
Aku diam. Iya juga, mana mungkin tertarik “suka”. Banyak orang, menyukai orang lain karena tidak memiliki apa yang ada di dalam dirinya.
“Jadi nanti pulang sekolah, lo ikut gue ya..” Sambung Gina.
“Ada bayarannya ngga?” Tanya ku sembari tertawa.
“Kalau nggak mau, putus pertemanan kita!” bilang Gina bercanda. Hahahaha..

Aku nggak suka suasana ini. Ahh.. Rasanya ingin pulang ingin melihat Fuma bernyanyi. Ada sepuluh orang di ruangan ini, tetapi mereka sibuk dengan handphone dan temannya masing-masing ditambah lagi mereka tak mau menyapa. “Gin.. Lama amat sih si ketua osis” Kataku setengah berbisik.
“Sabar ya, eh itu dia orangnya!” Gina beranjak dari kursinya.
“Aldo! Sini sini” Teriak Gina memanggilnya.
Untuk seorang ketua osis, dia memang memiliki kharisma. Dan aku langsung tahu seperempat cewek-cewek disini menyukainya. Kelihatan banget, tipe cowok yang suka tebar pesona. Aku enggak minat sama yang beginian.

“Salsa ya? Gue Aldo” sembari tersenyum dan membetulkan kacamatanya. Tangan kami bercengkrama.
“Iya” jawabku singkat.
“Tenang sa, Aldo jomblo kok” sambung Gina disertai tawa.
Apaan sih Gina!
“Hah?” Wajah si ketua Osis memerah. Jangan ge’er deh. Dibandingin Fuma, Aldo itu nggak ada apa-apanya.

Ketika rapat berlangsung, Aku sendiri tidak begitu mengikuti apa yang dibicarakan.
“Sa, gue dijemput pacar nih.. Lo ga apa-apa naik angkot sendirian?” Bilang Gina begitu rapat selesai.
“Yailah.. Santai aja kali” jawabku sembari membereskan kursi.
“Bareng gue aja” kata orang di belakangku, yang ternyata si ketua osis.

“Lo nggak keberatan kan jadi seksi dekor?” Tanya Aldo begitu di jalan.
“Hah?..”
“Loh.. Tadi lo nggak dengerin raker-nya ya? Hahaha..” Tawa Aldo.
Tidak tahu kenapa rasanya aku sedikit grogi, di mobil Aldo. Aku jadi diam. “Rapatnya ngantukin.. gue tadi nahan nguap berkali-kali” jelas Aldo.
“Hahahaa.. bisa gue bayangin, putri lagi ngebahas konsumsi terus lo nguap”
“Hahahahaa iya tuh putri bawel banget ya”
Ternyata Aldo, orangnya ramah dan asik.
“Setel lagu ya” katanya.
“Boleh..”
Aku terperanjat melihat CD yang dipegang Aldo.
“Itu.. itu Cd Fuma kan!!!”
Aku rasa Aldo kaget mendengar suaraku.
“I.. iya. Lo suka Fuma juga?”
“Suka! Suka bangeeet!”
Pasti Aldo ngangap aku freak setelah ini.
“Ini Cd originalnya.. ya ampuun, gue mati-matian nabung dan nyari ini”
“Mau pinjem?” Diluar dugaan, Aldo malah pengertian banget.
“Boleh?” Tanyaku mengebu-gebu.

Semalam mimpi apa aku?. Cd fuma ada di tanganku. Dan besok aku harus bilang apa sama Gina.

“Boleh, tapi ada syaratnya..”
Aldo memberhentikan mobilnya di jalur kiri. Seperti ada sesuatu yang begitu penting.
“Syarat apa?” Tanyaku.
“Kita pacaran” kata Aldo membuatku tercengang. Hah.
“Kamu mau kan?” Sembari tersenyum dan mengayunkan Cd fuma.
“Iya” tanpa ragu ku jawab. Demi Fuma, apa sih yang enggak aku lakuin.

“Lo Pacaran?!” Teriak Gina. Begitu aku cerita di kelas.
“Wah selamat ya sa!” Kata Merry.
“Hee.. iya makasih mer..”
“Gak salah lo pacaran ma Aldo? Baru kemarin gue kenalin” Gina seakan tak percaya. Ya, aku sendiri tak percaya.
“Mang aneh ya? Ya udah deh gue putusin aja nanti..”
“Kok gitu sih sa, Gina juga emang salah apa salsa pacaran ama Aldo?” Tukas Merry.
“Iya sih.. Cuma kok cepat banget”
Kalau Gina tahu yang sebenarnya, mungkin dia nggak secerewet ini.

“Sa, Aldo nyariin tuh” kata Jacob teman sekelasku.
“Cieee pacar nyariin” “pJ-nya dong sa” ledek beberapa teman di kelas.
Kok jadi begini ya…

“Kita ini baru kenal kan..” Kata ku begitu menemui Aldo di kantin.
“Jadi kalau langsung pacaran denganmu begini.. gimana ya..” Sambungku.
“Nggak masalah kan?” Aldo membetulkan kacamatanya.
“Memang sih biasanya pacaran itu dimulai dengan saling bilang suka, tapi ada juga yang dimulai dengan pikiran, mungkin nanti bisa menyukai dia” bilang Aldo. Kata-katanya sungguh membuatku berpikir dia memang layak jadi ketua osis.
“Jadi nggak masalah gue nggak menyukai lo?”
“Iya, buatku sih nggak masalah”.
Aldo tersenyum sembari menempelkan telapak tangan kanannya di pipi.

Padahal aku tidak minat sama hal beginian. Sekarang kok aku deg-degan ya?. Aneh deh.. tapi bukannya nggak suka sih.. Fuma bagaimana nih.

“Ya, sejak SD sudah suka Fuma” kataku bersemangat.
“Wah. Lama juga ya.. gue sih SMP, dulu ngeband dapat inspirasi dari lagu-lagu Fuma”
Bilang Aldo sembari menyetir.
“Hebat!, gue mah ngga bisa main musik”
“Tapi lo jago gambar kan” Sambung Aldo. “Hee.. iya.”. Rasanya aku tersanjung oleh kata-katanya.
Nanti begitu gambar posterku selesai, pertama kali akan ku perlihatkan ke dia.

Hari-hari ku terasa berbeda. Semenjak ada Aldo. Aku jadi jarang menyetel lagu dan membicarakan Fuma. Sahabatku saja sampai berkata, “udah lupa sama Fuma?”
Begitu kata Gina disela-sela istirahat makan siang.
Aku hampir tesedak “Hah”
“Iya deh salsa ga pernah lagi cerita Fuma” Merry ikutan bertanya.
“Tapi baguslah! Berarti Aldo sukses buat ni anak sembuh dari om-om itu”
“Gin.. kali ini gue gak terima, lo ngatain Fuma begitu”
Aku beranjak dari kursi kayu meninggalkan Gina dan Merry.
Marah. Tentu saja. Fuma memang bukan siapa-siapa aku. Bahkan bertemupun tak pernah. Namun bagiku, Fuma adalah semangatku. Lagu-lagu ciptaannya dan liriknya seperti cerminan diriku.

“Kenapa?” Tanya Aldo melihat aku cemberut di sebelahnya.
“Nggak” kata ku.
Wajah aldo agak kecewa.
“Eh gue mau dong digambarin juga sama lo..” Pinta Aldo tiba-tiba.
“Gambarin apa?”
“Muka gue lah.. masa kodok”
Hahahaha

“Maaf ya sa, gue ngatain idola lo” terlihat wajah Gina menyesal.
“Iya gue maafin, lagian emang bener sih kata lo.. dia om-om”
Hahahaha
“Udah ga marahan nih ceritanya”
“Eh Aldo minta gue ke rumahnya besok”
“Serius? Ciee” Gina.
“Minta digambarin juga sih.. Itu dia yg bikin gue rempong”
“Loh.. kok rempong sih?”
“Iya, gue takutnya dia tanpa pakaian mintanya!”
“Hahahaha kocak lo!”
“Ntar kayak adegan di film titanic gitu” spontan Merry.
Kami tertawa lagi.

“Buka baju lo..”
“Eeeh..”
“Kita pacaran kan?”
“Tapi kan..”
“Lo nggak mau?”
“Gila lo! Ini maksud lo ngajak gue kesini!”

“Sa, bangun.. Udah sampe” Aldo mengguncangkan tubuhku.
Ya ampun aku tertidur dan barusan aku bermimpi nggak banget tentang Aldo.
“Bonyok gue lagi keluar kota”
“HAH!”
“Kenapa?” Tanya Aldo heran.
“Terus di rumah lo ada siapa?” Aku cemas takut seperti mimpiku tadi.
“Tenang aja, gue nggak bakal macem-macem”
Walaupun Aldo udah berkata begitu, aku masih tetap tidak tenang. Diam-diam aku sms ke Gina dan Merry.

Rumah Aldo cukup besar, dan memiliki taman mungil di depannya. perabotanya kelihatan sekali kalau dia memang orang berada.
“Yuk, ke kamar gue..” Ajak Aldo.
“Hah?! Nggak gue di sini aja”
“Hahaha lo lucu banget sih sa, gue nggak mungkin lah macem-macem”
Aku menggeleng, “udah sana”
“Minuman Lo ambil aja di kulkas ya”
Kata Aldo yang kemudian pergi ke lantai atas kamarnya.

“Nih buat lo..”
“Aldo.. Gila ini gede banget!”
“Gue mau kasih lo dari kapan tau, baru sekarang bisa, habis kalau gue bawa ke sekolah gue malu”
“Iya nggak apa-apa.. makasih ya”
Aku baru sadar, Aldo memang benar-benar serius menyukaiku.
“Do.. Gue boleh ge’er gak sih.. ”
“Ya? Ge’er?”
“Iya, lo beneran suka sama gue?”
“Kalau itu sih…”
Aku cemas dengan jawaban Aldo berikutnya.
“Gue suka lo dari sebelum kita kenalan” wajah Aldo memerah. Matanya tidak berani menatap wajahku. Ya ampun, Aldo terlihat manis ketika malu-malu.
“Gue senang kok…” Jawabku.
“Sa, gue suka karena lo mirip Fuma”

Cerpen Karangan: Siska D
Blog: http://pinkrabbit.mywapblog.com/kamu-idolaku.xhtml

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Cerpen Gokil

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply