Kamu Putri, Bukan! Aku Indira


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 3 May 2013

Kita tak tau kapan kita pergi dan kapan kita kembali lagi ke dunia ini. Satu hal yang membuat Indira sangat betah di dunia ini, ya… Raja. Cowok yang dikenalnya di rumah sakit dulu. Hanya malaikat pencabut nyawa yang mungkin berada di ruang itu saat itu. Namun mujizat itu nyata. Tuhan memberinya satu kesempatan dan mengirimnya Raja untuknya.
“Kamu kuat, Dira.” Bisiknya saat Indira mencoba membuka matanya.
“Aku di sini.” Tambahnya.

Burung-burung pun bernyayi, melihat kau hibur hatiku. Hatiku mekar kembali, terhibur simphony, pasti hidupku kan bahagia. (Once – Simphony Yang Indah).

“Kamu tahu namaku, kamu seperti dekat sekali denganku,” kata Indira saat Raja menemaninya jalan-jalan di taman rumah sakit. Indira tak melihat seseorang sebahagiannya saat itu, di rumah sakit. Raja menghentikan kursi roda yang didorongnya. Lalu ia duduk di hadapan Indira.
“Pakai ini…” ia menunjuk kepalanya, “Insting!”
“Bohong besar! Ceritakan mengapa aku bisa ada di sini?”
“Enggak!!”

Indira terpukau melihat sebuah bangunan bertingkat 3 yang sangat megah ketika turun dari mobil. Seseorang yang sedang merapikan kebun menghentikan kegiatannya lalu menghampirinya, berlari kegirangan.
“Selamat datang kembali di rumah ini, Non Putri.” Katanya dengan nafas terengah-engah.
Siapa Putri? Tak ada seorang gadis pun selain aku di sini. Tapi aku Indira. Batinnya.
“Saya Indira, Buk. Mungkin ibu salah orang.”
“Maafkan saya, Non. Saya baru bekerja di sini.” Ia lupa dengan keadaan majikannya sekarang.
“Tidak usah bingung, tidak usah risau. Enjoy saja.” Hibur tukang kebun itu.

Raja menghampiri Indira yang sedang duduk di sudut taman, melempar batu-batu kecil ke kolam. Membubarkan ikan-ikan yang sedang memadu kasih.
“Kamu ke mana aja?!”
“Menghilang gak jelas ninggalin aku!”
“Aku tersiksa di sini tanpa tau jati diriku!”
“Siapa sebenarnya aku?!”
Raja diam mematung mendengar segala kekesalan Indira terhadapnya.
“Aku minta maaf. Aku pergi untuk urusan mendadak, Dira.” Jelasnya.

Kubagai biola yang tak berdawai, bila tidak engkau lengkapi. Aku mohon agar engkau tinggal di sini. (Kangen Band – Terbang Bersamaku).

Tiba-tiba Indira memeluknya. Melepas semua air mata itu di bahu Raja.
“Jangan pergi lagi, Rajaku. Biarlah selamanya aku tak tahu jati diriku, kalau itu mungkin membuat kita terpisah!”
“Aku janji, Dira. Jangan nangis lagi, ya?”

Mereka menghabiskan waktu di sebuah cafe es krim favorit Raja. Indira sangat nyaman berada di sana. Meski biasanya selalu gelisah berada di tempat yang sering dikunjunginya dulu.
Mencari jati diri dengan berlari mengikuti angin, menyusuri lautan luas, mendaki gunung hingga ke puncak.

“Aku bisa menjadi yang terbaik untukmu, Randy!” teriak Putri.
“Aku bisa lebih dari dia!”
“Put, udah deh. Lo terlalu terobsesi sama Randy si playboy itu.” Vina coba menasehati sahabatnya yang tengah di mabuk asmara Randy. Tangannya yang memegang kartu undangan pertunangan Randy, ia selipkan di sofa.
“Masih pacaran sama lo aja dia berani selingkuh sama Hel..”
“STOP!!” Putri menatap Vina tajam.
“Oke. Terserah lo sekarang. Gue gak mau ikut andil dalam hal konyol ini lagi!” Vina keluar dari kamar Putri. Meninggalkan kartu undangan yang masih terselip di sofa.
“Mau kemana, Vin?” Putri mengikuti langkah Vina menuju lantai bawah.
“Pulang. Dan tolong jangan cari gue lagi!!” teriaknya.
Putri membiarkan mobil jazz Vina menjauh dari halaman rumahnya. Ia menghela nafas panjang untuk perbuatannya tadi terhadap Vina.
“Vin, maafin gue..” ucapnya lirih seraya berjalan menuju kamarnya. Jujur. Putri sangat lelah menghadapi masalah yang sedang dihadapinya. Ia lelah harus selalu berdebat dengan Vina. Lebih lelah lagi berjuang mendapatkan cinta Randy, sang pujaan hati.
“Tapi aku nggak bisa lupain kamu, Ran! Aku terlalu mencintaimu!!” cairan bening membasahi pipinya. Untuk kesekian kalinya ia menangisi yang sebenarnya tak pantas untuk ditangisi. Namun beginilah mereka yang sedang dimabuk cinta!

Seberapa pantaskah kau untuk kutunggu? Cukup indahkan dirimu untuk slalu kunantikan? (Sheila On 7 – Seberapa Pantas).

“Non Putri!!” teriak pengasuhnya saat sedang membersihkan kamar Putri. Ia sangat terkejut melihat sebuah benda yang ia temukan. Putri yang sedang sarapan segera berlarian ke atas menghampirinya.
“Ada apa, Bik?”
Ia menyerahkan apa yang ia temukan itu. Sama seperti dirinya. Putri juga terkejut. Hatinya hancur berkeping-keping melihat nama sang pujaan hati tertera di kartu undangan itu, dengan orang yang sangat dibencinya. Helda.
“Arrgghhh!!!” Putri melempar kartu itu lalu menginjak-nginjaknya. Ia berlari menghampiri mobilnya yang terparkir di depan gerbang. Mobil jazz merah metalik itu melaju kencang ke arah selatan. Menuju rumah Vina. Kemarahan Putri tidak dapat di bendung lagi. Mobilnya melaju kencang di tengah jalan. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan datang sebuah mobil yang baru keluar dari sebuah showroom, membuat Putri terkejut dan terpaksa membanting stir mobilnya.
“Aaaaaaaa!” teriaknya keras saat mobilnya menabrak pembatas jalan. Ia nekad membuka pintu mobil lalu melompat keluar. Berhasil! Ia terguling di semak-semak. Namun mobilnya melesat ke jurang
“Aww..” Putri merasa kepalanya membentur sesuatu. Pusing. Matanya kunang-kunang. Lalu seketika semua gelap gulita.
Mobil yang ditabraknya itu hampir saja menabrak sebuah pohon yang tak jauh dari pembatas jalan. Pemilik mobil itu keluar lalu terkapar di tanah. Warga sekitar lalu mengkerumuni TKP. Kemudian mobil polisi dan ambulan berdatangan.

“Hel.. tunggu!!” teriak seorang laki-laki yang keluar dari mobil. Mengejar seorang perempuan.
“Kamu memang laki-laki brengsek, Randy!!”
“Sayang maafin aku!” pintanya dengan tampang memelas.
Perempuan itu menghela nafas….
PLAK!! Sebuah tamparan manis mendarat di pipi kanan Randy.
“Sayang, kamu….”
PLAK!! Sebuah tamparan lagi mendarat di pipi kiri laki-laki yang sama.
“Kita putus!!” perempuan itu melepas cincin di jari manis kanannya lalu melemparnya ke wajah Randy. Ia lalu meninggalkannya tapi sebelumnya mendaratkan hak sepatunya di kaki Randy. Randy mengerang kesakitan lahir batin melihat Helda menaiki sebuah mobil mewah bersama seorang laki-laki di dalamnya. Kasian.

Ribuan hari aku menunggumu, jutaan lagu tercipta untukmu.. (Sheila On 7 – Itu Aku).

Raja menyematkan sebuah cincin emas putih betahtakan sebuah berlian indah di jari manis Dira. Semua undangan yang hadir turut merasakan kebahagian mereka berdua. Indira dan Raja resmi bertunangan.
“Selamat ya untuk kalian..”
“Aku gak sabar liat kalian di altar nanti..!!”
Malam itu, seusai acara, Raja mengajak Dira menuju suatu tempat yang pasti akan sangat disukai oleh Dira. Mereka berjalan menyusuri dinginnya angin malam, melewati kerumunan jiwa yang tengah asyik menikmati suasana di taman kota.
“Raja… beliin aku jagung bakar, ya?” pintanya.
“Tapi kamu jangan pergi dari sini, ya?”
“Iya, sayang!”

Raja meninggalkan Dira yang duduk di sebuah bangku dekat kolam air mancur di taman itu. Hanya tinggal satu pedagang jagung bakar yang masih berjualan malam itu. Membuat Raja harus mengantri dengan para jiwa lainnya.
“Putri..?” sapa seorang laki-laki. Dira menatapnya lekat-lekat, ternyata itu Randy. Seolah tidak kenal. Dira mengabaikannya begitu saja.
“Kau lupa denganku?” tanya Randy. Dira menghela nafas panjang…
“Tentu.” Jawabnya mantap. “Untuk apa aku mengingat masa laluku yang kelam dengan orang tak berperasaan sepertimu.” Sambungnya.
“Apa maksudmu?” tanyanya lagi.
PLAK!! Dira mendaratkan tamparan dengan sangat bersemangat di pipi kanan laki-laki itu. Lalu Dira berdiri dan meninggalkannya.
“Putri.. aku masih mencintaimu!!” teriakan Randy membuat perhatian jiwa-jiwa yang masih berada di tempat itu tertuju padanya. Tak terkecuali seorang pemuda tampan yang tengah membawa jagung bakar, Raja.
“Kau pasti salah orang!” balas Dira. Raja menghampiri Dira yang tengah menahan-nahan air matanya.
“Jangan berpura-pura kamu, Putri!!” teriaknya lagi sambil tertawa. Persis orang gila.
“Bukan!! Aku Indira!” balas Dira. Dan cairan bening itu membasahi pipinya lagi. Namun berbeda, kali ini air matanya bukan tertuju untuk masa lalunya, melainkan dengan masa depannya, Raja.
“Kamu memang tak mendapatkan apa yang kamu cari, kamu menemukan apa yang kamu butuhkan..” ucap Raja pelan seraya memeluk Indira di hadapan seribu mata, yang membuat iri para jiwa yang menyaksikannya.

Dan diriku bukanlah aku, tanpa kamu tuk memelukku. Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku… (NOAH – Tak Lagi Sama).

Cerpen Karangan: Triyana Aidayanthi
Facebook: Triyana Aidayanthi

Seorang penulis pemula nan amatiran yang jatuh cinta dengan dunia menulis karena suka menggambar, hehehe aneh kan?
Salam kenal ya sobat..
Boleh dong kritik, saran, dan share pengalamannya
Twitter : @_triyanaa

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Cerpen Cinta Sedih Cerpen Patah Hati

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 Responses to “Kamu Putri, Bukan! Aku Indira”

  1. oan wutun says:

    bagus,,, ide yang kreatif… cerita yang menarik dengan bahsa yang lancar.
    semoga kita bisa sama-sama belajar.
    kalau ada waktu tolong baca juga ya,, salah satu cerpenku,, heheheh baru 3 cerpen… minta komentarnya ya,,,,
    hehehehe,,,, sku juga suka nulis tapi bukan karena suka gambar,,,,
    SALAM KENAL,,,

  2. Triyana Aidayanthi says:

    Terima kasih…
    Ya, sipp…
    Hehehe…
    Salam kenal juga..

Leave a Reply