Kapal Yang Tak Pernah Berlabuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 28 February 2022

“Kita hanyalah sepasang manusia yang terjebak dalam kapal yang tak akan pernah berlabuh,”

Hari itu hujan turun dengan derasnya. Tak lagi memberi aba-aba seperti biasa. Padahal, ramalan cuaca mengatakan bahwa langit akan cerah hingga nanti malam. Gerombolan orang-orang terlihat basah-basahan. Mereka tidak mempedulikan deras hujan yang membasahi. Beberapa terlihat mulai mencari ojek payung.

Kinaya. Perempuan yang baru saja merasakan nikmatnya semester 5 dalam dunia perkuliahan, sedang bersandar sendirian di pinggiran bangunan kota. Perempuan itu lebih memilih untuk tetap menunggu hujan reda, ketimbang berlarian mengikuti jejak teman-teman kelasnya.

Tipe penyendiri.

Sesekali ia melirik kearah lingkaran jam di pergelangan tangannya. Rasa khawatir mulai menghantui. Kalau ia tetap berdiri disini, pasti ia akan tiba di rumah malam hari. Tapi, hujan masih saja menjatuhkan dirinya.

“Kinaya?”
Perempuan itu tersentak. Ada yang memanggilnya. Teman sekelas kah?
“Kinaya, kenapa sendirian disini?”
“Eeh, aku menunggu hujan reda,” jawabnya. Ternyata salah satu kenalannya di kampus.
“Mau barengan? Kebetulan rumah kita searah,” tawar laki-laki itu. Namanya Afdan. Mahasiswa dari kelas sebelah. Namun ia begitu senang jika harus berhubungan dengan Kinaya.
Entahlah. Mungkin karena rasa suka? Atau Afdan memang humble terhadap perempuan.
“Memangnya tidak apa-apa?” tanya Kinaya ragu. Ia bukan tipikal perempuan yang langsung semangat Ketika ada laki-laki menawarkan sesuatu.
Afdan tersenyum, “Tidak apa-apa. Ayo, nanti kita malah melewatkan makan malam,”
Ah, benar juga.
Dan Kinaya pun ikut masuk kedalam payung yang dipegang erat oleh Afdan. Jauh di benua lain, ada laki-laki yang tengah menunggu kabar dari Kinaya.

– kapal yang tak pernah berlabuh –

“Sudah makan belum?”
“Sudah kok, ma. Baru saja selesai makan. Mama sudah makan?”
“Jangan ditanya, Mama akan makan tanpa diingatkan oleh kamu. Kamu seharusnya khawatir dengan dirimu sendiri. Kuliah jauh dari orangtua. Memangnya kamu tidak homesick disana?”
Kinaya tertawa mendengar pertanyaan dari Ibunya. Sudah 2,5 tahun lamanya Kinaya menetap di Austria, namun baru kali ini ia mendengar sang Ibu begitu cemas dengan keadaannya. Padahal dalam setahun ia akan Kembali ke Indonesia untuk sekedar melepas rindu.

“Mama lucu, deh. Homesick terjadi kalau aku baru pindah kesini. Ini kan akunya sudah 2,5 tahun disini—By the way, kak Sarah apa kabar?”
Kinaya tahu, agak berat untuk melakukan long distance relationship dengan orangtuanya. Terlebih lagi Ibunya termasuk salah satu wanita yang susah sekali untuk melepaskan sesuatu. Seperti contoh saat pertama kali Kinaya mendapatkan beasiswa di Universitas Graz yang saat ini menjadi tempatnya untuk menuntut ilmu. Sang Ibu dengan bersikeras tidak mau melepaskan kepergian Kinaya.
Namun berkat Ayah dan juga kak Sarah, Kinaya dilepaskan dengan penuh kesedihan. Dan Kinaya lega akan hal itu.

“Kakakmu baik sekali disini. Makin gemuk semenjak lahiran. Disana masih jam 5, ya? Disini sudah jam 10an. Beginilah resiko kalau sedang ldr dengan anak Mama,”
Kinaya tersenyum tipis. Pasti Ibunya sedang menemani Ayah yang tengah mengurusi dokumen-dokumen kantor. Ibu memang tipikal wanita yang tidak mau meninggalkan siapapun. Termasuk tinggal tidur si Ayah.

“Baguslah, Ma. Lagipula kan memang seperti itu kalau sudah lahiran—Ma, aku matikan dulu ya panggilannya. Titip salam sama Papa dan Kakak. Aku sayang kalian,”
“Mama lebih sayang sama kamu. Tidurmu jangan terlalu malam,”
Panggilan diputuskan.

Kinaya menoleh kearah jam alarm diatas nakas miliknya. Sudah jam 17.10 pm. Seharusnya teman sekamarnya sudah menyelesaikan kelasnya karena sebentar lagi malam akan tiba. Rasa-rasanya ia ingin Kembali merebahkan tubuh, namun ia belum menyiapkan makan malam.

Aku harus pergi. Lebih baik kamu lupakan aku.
Kinaya menghela nafasnya dengan berat. Kalimat itu mendadak terputar didalam otaknya. Andai saja waktu itu ia tidak mendownload aplikasi dating online yang disarankan oleh teman sekelasnya, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi.
Lagipula ia dan laki-laki itu hanya berteman, bukan? Kenapa jadi sesulit ini.

Kinaya ingat, pertama kali mereka bertemu saat ia sedang jenuh-jenuhnya dengan tugas kuliah. Ia memutuskan untuk membuka aplikasi yang sudah lama didownload dalam ponselnya. Ia tidak berfikir kemana-mana, hanya berfikir akan mendapatkan teman baru dari negara yang lain.
Dan hal itu terjadi.

Namanya Javier Latafart. Negara asal adalah Turki namun menetap di Izmir, karena ia sedang menempuh Pendidikan militer disana. Katanya satu tahun lagi pendidikannya akan selesai. Kinaya tak menyangka jika hubungannya dan Javier akan berlanjut ke aplikasi Instagram.

Ia dan Javier saling bertukar kabar hampir setiap hari, bahkan laki-laki itu akan menyempatkan dirinya untuk menelepon Kinaya. Barulah ia percaya kalau laki-laki itu memang tengah mengabdikan dirinya pada sang negara. Meskipun jarak waktu yang menghalangi mereka, Javier sama sekali tidak goyah.

Apakah Javier menyukai Kinaya?
Sepertinya ya. Laki-laki itu pernah mengutarakan perasaannya namun Kinaya menolak karena ia tahu mereka berada di sisi dunia yang berbeda. Kinaya juga tahu jika Javier tidak sepenuhnya serius dengannya. Walaupun jauh di lubuk hatinya paling dalam, ia berharap laki-laki itu tulus dengannya. Bukan sekedar gombalan.

Javier: Jika saja aku sudah menyelesaikan pendidikanku, pasti aku akan segera melamarmu. Membawamu untuk tinggal disini bersamaku.
Kinaya hanya bisa tersenyum. Apa yang harus ia lakukan? Meng-iyakan permintaan laki-laki itu? Kinaya tidak sebodoh itu.

Hampir 2 minggu lamanya ia memberi kabar kepada Javier, setelah itu semuanya mendadak semu. Kinaya tahu, Javier akan meninggalkannya karena tugas negara lebih penting ketimbang dirinya. Dan itu benar.
Javier pergi. Dan Kinaya tidak mengharapkan apapun lagi dari laki-laki itu. Ia lebih memilih untuk fokus dengan pendidikannya dan juga karir yang ia bangun selama satu tahun penuh ini.

“Kinaya, aku pulang!”
Kinaya menoleh, sosok Lucy yang menjadi teman satu apartemennya sedang tersenyum ceria diambang pintu. Perempuan itu berasal dari Latvia, dan memutuskan untuk melanjutkan Pendidikan disini. Beruntung mereka saling menemukan satu sama lain.

“Bawa apa?” tanya Kinaya.
“Aku membawa bawang bombay dan beberapa sayuran lainnya. Malam ini kita makan spaghetti saja ya,”
Kinaya mengangguk lantas meraih plastik yang tergantung di tangan Lucy. Baginya Lucy adalah saudara perempuan terbaik. Begitu juga dengan Lucy. Mereka saling menjaga satu sama lain. Saling mencintai. Itulah alasan mengapa Kinaya berfikir untuk tidak memiliki pasangan.
Padahal Lucy selalu merengek dan mengajak Kinaya untuk berkencan dengan teman sekelas Lucy. Tetap saja, Kinaya menolak.

‘ting’
“Kinaya, ponselmu berbunyi,” teriak Lucy.

Kinaya yang saat ini berkutat didapur, tidak mengubris teriakan Lucy. Padahal ia tahu, Lucy bisa saja membuka ponsel miliknya karena perempuan itu tahu password bahkan isi dari ponsel tersebut. Kenapa masih saja harus berteriak?

Lucy menggerutu pelan. Perempuan itu dengan segera membuka ponsel milik Kinaya dan melihat siapa yang mengirim pesan kepada saudara perempuannya itu?
Ia penasaran.

……: Kinayaaaa?

Lucy terdiam. Dengan cekatan perempuan itu membuka profil dari pengirim pesan untuk memastikan sesuatu yang sebenarnya tidak harus dipastikan. Seketika tubuhnya kaku. Apa yang terjadi?

“Ada apa? Siapa yang mengirimkan pesan kepadaku?” tanya Kinaya. Ia tidak langsung meraih ponselnya dari tangan Lucy. Ia lebih memilih untuk menuangkan air ke dalam gelas milik mereka.
“Kinaya?”
Kinaya berdeham.
“Dia Kembali,”
Dan dunia Kinaya seolah runtuh saat itu juga.

-kapal yang tak pernah berlabuh-

Satu tahun sebelumnya.
“Aku harus pergi. Kali ini aku tidak akan Kembali kepadamu. Kamu berusahalah untuk melupakanku,”
“Tugas negara lagi? Kamu tahu kalau aku akan menunggumu jika kamu memintanya,” saat itu suara Kinaya sudah hampir serak. Ia menangis. Sungguh. Bukan karena menyukai laki-laki itu. Tapi karena ia lelah dipermainkan seperti ini.
“Jangan menungguku. Aku tidak akan Kembali,”

…..: Aku sudah menyelesaikan pendidikanku.
…..: err, apa kabarmu?
Pesan itu masuk tanpa dibalas oleh Kinaya. Bagaimana mungkin laki-laki itu kembali setelah satu tahun lamanya ia menghilang. Bahkan disaat ia sudah menghapus ingatan tentang laki-laki itu dengan amat sangat bersih.

“Kinaya, kamu boleh membalas pesan itu. Bukan berarti kamu masih mempunyai perasaan terhadap dia,” Lucy mengusap pelan pundak Kinaya.
Kinaya menoleh, “Aku tidak akan jatuh lagi kepadanya, bukan?”
Lucy tersenyum, “Tidak akan. Tidak akan pernah, Kinaya,”

Lucy benar. Membalas pesan bukan berarti kita masih menyimpan rasa terhadap orang itu. Lagi pula mungkin Javier hanya ingin bersilaturahmi atau sekedar mengingat, makanya ia memilih untuk mengirim pesan kepada Kinaya. Atau bisa jadi ia mengirim pesan keseluruh kontak wanita di aplikasi Instagramnya.
Tidak ada yang tahu, bukan?

Me: Hai, aku terkejut karena kamu mengirimkan pesan kepadaku. Kabarku baik-baik saja. Sangat baik.
……: Ah, syukurlah. Aku senang mendengarnya.
Me: Kamu masih saja mengingatku?
Kinaya ingin menangis namun sebisa mungkin ia menahan airmata itu. Untuk apa ia menjatuhkan airmata itu kepada laki-laki yang bahkan tidak pernah ia temui selama ini.

….: Tentu saja. Selama satu tahun ini aku fokus dengan pendidikanku. Kufikir kamu akan mengabariku atau sekedar bertanya kabarku.
…..: Ternyata tidak. Aku begitu merindukanmu.

“Dia merindukanku, Lucy,”
“Hal yang wajar karena selama ini kalian tidak pernah saling bertukar kabar,”

Me: Ya, aku juga merindukanmu.
…..: Aku senang. Kamu merindukanku.

“Jadi bagaimana, Lucy?” Kinaya menoleh kearah Lucy dengan mata yang berkaca-kaca. Ia sangat ingin menangis
Lucy menghela nafasnya dengan berat, “Kinaya menyukainya, bukan?”
Kinaya menggeleng.
“Kenapa Kinaya malah menggeleng? Bukankah—”
Aku dan dia berada dalam kapal yang sama—
“Aku tidak menyukainya, Lucy,”
tujuan yang sama. Bahkan saling bertukar cerita. Namun—
“Kinaya baik-baik saja?” Lucy tampak begitu cemas Ketika melihat Kinaya menundukkan kepalanya. Kinaya tahu apa yang akan ia lakukan.
Meskipun sebenarnya ini adalah hal yang begitu sulit.

Me: Kamu tahu kalau kita tidak bisa bersatu?
….: Kenapa begitu? Aku masih menyukaimu.
Me: Dari awal kita bertemu bahkan saat kita saling bertukar kabar, kamu selalu mengatakan kalau kita tidak cocok. Aku melupakanmu karena kamu yang memintanya, Javier.
….: Itu salahku. Aku hanya takut kehilanganmu.
Me: Dan kamu sudah kehilanganku sejak pertama kali kamu meninggalkanku.

kapal kami tak akan pernah berlabuh. Sampai kapan pun.

Aku dan dia mungkin berada di dalam kapal yang sama. Dengan tujuan yang sama. Bahkan saling bertukar cerita. Namun, kapal kami tak akan pernah berlabuh.

– Nurul faizah azile

Cerpen Karangan: Nurul Faizah Azile
Blog / Facebook: Nurul Faizah
Nurul faizah Azile hanyalah seorang gadis biasa yang suka menuangkan seluruh isi kehidupannya dalam bentuk tulisan.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 28 Februari 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Kapal Yang Tak Pernah Berlabuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Putri Salju

Oleh:
dear diary.. setiap ku toreh kisah ku dalam lembar diary ini, itu artinya masa hidupku tak lagi panjang, semakin banyak lembaran yang terisi maka semakin habislah lembaran yang kosong

Cinta Tanpa Batas

Oleh:
Siang ini matahari menampakkan cahayanya sangat terang sekali, begitu menyengat hingga tubuh ini yang tidak memakai jaket, terasa sangat menyengat bahkan membakar sampai kulit paling dalam. Aku tidak tahan

Mister M. A

Oleh:
“Tidak selamanya yang berawalkan dengan kata benci berakhir dengan kebencian dan tidak pula yang berawalkan dengan kata cinta berakhir dengan kebahagiaan…” Pagi ini Rere mengawali harinya penuh dengan keceriaan

Kurengkuh Pelangi Dalam Pelukanku

Oleh:
Pelangi Senja. Biasa dipanggil Pelangi. Cewek cantik yang ditaksir berat sama Donny, cowok populer nan keren di SMA Bina Bangsa. Dan dengan sangat kebetulan, Pelangi juga menyukai Donny. “Pagi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *