Kapten, Berjanjilah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 May 2016

Bukan darah, bukan luka tembak, bukan bekas jahitan. Aku tidak takut dengan mereka. Kematian karena kecelakaan tragis, penuh luka tusuk, bahkan tubuh termutilasi. Aku pernah melihat semuanya. Menyaksikan kejadian-kejadian seperti dalam adegan film thriller. Seorang wanita bertangan dingin yang menangani ratusan manusia di ambang kematian. Bahkan para malaikat mendampingiku. Menunggu waktu yang tepat untuk mencabut organ vital khayal pasienku yang malang. Aku tidak takut kematian, aku tidak takut mati. Mereka seolah teman setiaku sepanjang hari. Kematian mondar-mandir di sini. Di tempat aku menghabiskan hampir tiga per empat waktuku dalam sehari. Tanganku adalah alat perantara kuasa sang pencipta.

Seolah takdir mereka tergantung hasil pekerjaanku. Lewat pisau bedah, ruang yang dipenuhi alat-alat steril, dan keyakinan aku dapat menunda aksi malaikat. Namun, satu ketakutan terbesarku adalah ketika waktu kematian tiba untuk beberapa orang khusus. Pertama kali sebagai seseorang yang diyakini bisa menyelamatkan nyawa banyak manusia aku ketakutan. Benar-benar mengerikan hingga kakiku melemas tak sanggup menopang beban tubuhku. Beban kesedihan, kekhawatiran, dan kerinduan. Tanganku membungkam mulutku sendiri agar tidak mengeluarkan jeritan histeris. Walau berteriak pun adalah hal yang wajar dalam keadaan begini. Sesuatu yang nyata yang tidak ingin ku anggap benar ditangkap oleh retina mataku.

Luka tembak seperti yang biasanya aku lihat, bercak darah segar yang tampak familiar lengkap dengan aroma anyirnya. Yang berbeda dan membuatku merinding adalah pemilik mereka. Seorang pria berpakaian formal berjas sedang memejamkan mata dalam damai. Dia terbaring lemah di atas kasur bergerak khas rumah sakit. Aku, tidak, kami menariknya ke luar dari mobil putih pengangkut orang sakit, orang terluka, dan orang mati. Mati? Entah kenapa kata itu jadi terdengar sensitif di indra pendengarku setelah bertemu pria ini dalam keadaan memilukan.

Aku berharap Arga sedang bergurau. Hanya salah satu candaannya untuk menciptakan kejutan setelah pertemuan terakhir kami satu bulan lalu. Ya, nama pria yang sekarang sedang menerima perawatan dasar ini adalah Arga. Setidaknya itu nama yang dia perkenalkan padaku sejak pertemuan awal kami satu tahun lalu. Bukan waktu singkat untuk mengerti tentang seseorang. Kendati begitu, pekerjaannya yang mengikrarkan rahasia sebagai sebuah asas menjadikan sepasang kekasih ini terasa seperti orang asing. Pria yang tampan, bukan pecundang, menyenangkan, dan misterius. Deskripsi Arga di mataku.

“Kau akan pergi? Ke mana? Berapa lama? Dan bisakah kali ini aku tahu apa yang akan kau lakukan? Pekerjaan seperti apa yang mengharuskanmu membatalkan kencan kita untuk kesekian kalinya?” Kami bertatapan lekat. Seperti deja vu. Pertemuan kami, perpisahan kami, dan kencan kami selalu berakhir seakan-akan dia akan pergi jauh selamanya. Perasaan risau selalu muncul dalam momen dan atmosfer serupa. Pekerjaan untuk menjaga keamanan dan pertahanan negara tidak sesederhana kedengarannya. “Aku tidak boleh tahu, kan? Kenapa? Apa aku masih bukan orang yang pantas mengetahuinya?”

“Kita sudah sering membahas ini, Reina. Ini bukan yang pertama kalinya. Kenapa kau selalu meributkan hal yang sama?” Benar, bukan yang pertama aku ingin tahu ke mana Arga akan pergi, apa yang dia lalui selama tidak bersamaku, bagaimana keadaannya. Apa keinginanku adalah hal langka bagi seorang kekasih? Hanya hal-hal kecil dan dasar tapi menjadi rumit karena dia Arga. Seseorang yang mengangkat senjata, melindungi dan menyelamatkan orang lain dari peluru dengan menembakkan peluru, mengumpamakan seragamnya sebagai kain kafan.

Aku tidak bisa untuk tidak mencurahkan amarahku pada pria yang dengan gagah mengenakan seragam kebanggaannya ini. Aku tidak yakin itu kencan, itu hanya waktu senggang saat jam istirahatnya. Arga bisa kapan saja menerima panggilan dari ponsel pintarnya lalu ya begitulah akhir perjumpaan kami. Tidak akan sempurna tanpa percekcokan khas kami. Kami sibuk bekerja dan saat bertemu kami bertengkar. Sungguh hubungan yang dramatis.

“Aku selalu mendebatkan hal yang sama karena kejadiannya selalu sama dengan alasan yang sama. Aku ragu, apa selama ini kita benar-benar menjalin hubungan? Kenapa aku merasa hanya aku yang menjalaninya? Kau tidak bisa mengatakan apa yang ingin aku ketahui, kau berbohong tentang sesuatu yang kau pikir tidak penting untuk aku mengetahui kebenarannya. Asal kau tahu, apa pun itu menjadi penting jika menyangkut dirimu.”

“Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kau khawatir.”
“Jika itu keinginanmu kau telah gagal. Semakin kau membohongiku agar tidak khawatir kau membuatku dua kali lebih khawatir. Jadi berjanjilah untuk tidak berbohong lagi padaku!”

Seorang dokter memasuki ruangan yang sudah dipersiapkan dengan detail untuk Arga. Dokter pengganti yang mengambil alih jadwal bekerjaku. Rekanku menyadari tangan ajaib Dokter Reina tidak akan berhasil bagi pasien satu ini. Aku bahkan tidak sanggup melihat tubuh pasinya yang berlumuran cairan kental berwarna merah. Apa jiwa penyelamatku lumpuh karena pria yang bahkan dengan senang hati meninggalkanku demi tugas negara? Tapi aku? Karena dia aku malah melepas tanggungjawabku sebagai dokternya. Reina, sadarlah! Ruangan ini untukmu mengenakan sarung tangan dan masker. Bukan terisak sesenggukan karena pasienmu.

“Maaf, aku terlambat karena harus pergi ke markas.”
“Di waktu liburmu mereka masih menyuruhmu bekerja?” Tanyaku retorik.
“Tadi itu mendesak, Reina.”
“Dan perintah?” Arga mengangguk.

Terbukti seperti pernyataannya bahwa perintah adalah nyawa seorang prajurit. Dia sudah melakukan sumpah. Seharusnya aku menyadari ini sebelum akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seorang yang dipenuhi rahasia. Sebab dia Arga, maka aku tidak akan memilikinya sendiri. Bangsa dan negara, pemerintah, masyarakat. Arga juga milik mereka. Mereka mempunyai hak menggunakan apa yang menjadi milik mereka. Karena aku hanya prioritas kedua maka aku tak bisa banyak menuntut. “Karena itu perintah maka kau tidak bisa menolaknya. Aku ingin tahu. Jika negara kita memberi perintah untuk meninggalkanku apa kau akan melakukannya? Ah, kau selalu melakukannya.”

“Negara tidak akan memintaku meninggalkan seorang wanita hanya karena dia cantik. Negara kita bukan pencemburu sepertimu.” Cemburu? Jika negaraku adalah seorang wanita mungkin aku akan melabraknya. Aku merasa lucu dengan hidupku sendiri.
“Kau selalu bisa membuat lelucon kapan pun dan di mana pun, Kapten.”
“Karena Reina-ku bukan musuh negara atau ranjau yang bisa dihadapi dengan serius.”

Lidahku kelu, tanganku bergetar memegang pisau bedah, air mataku terserap di masker yang ku kenakan. Dapatkah aku menggoreskan benda ini ke kulit Arga? Aku sudah lima tahun bergulat di ruang operasi tapi kenapa pria yang sedang terpejam bagai bayi ini menggoyahkanku. Apa aku masih sanggup datang ke ruangan penuh aroma antibiotik ini setelah kekasihku mati di depan mataku oleh tanganku sendiri? Masihkah aku merasa baik ketika orang-orang memanggilku dengan menyematkan gelar dokter sebelum namaku?
Arga, jangan buat aku menyesal sudah menuntut ilmu selama enam tahun karena tidak mampu membuatmu tetap hidup!

“Kau hidup.” Kata melegakan itu ke luar dari mulutku sendiri. Aku tidak perlu melepas jas putih yang sudah melekat padaku tujuh tahun terakhir ini karena merasa menyesal. Aku tidak jadi kehilangan harga diriku dan kekasihku. Tidak, mungkin tidak hari ini. Kejadian tadi siang membuktikan bahwa aku seorang dokter yang menakjubkan. Aku bisa menyelesaikan operasi dengan sukses sambil menangisi pasienku.

“Sepertinya tidak. Karena aku sedang melihat bidadari berarti aku sudah di surga.”
“Kau harus menjelaskannya. Kenapa kau bisa terluka? Apa kau berkelahi? Siapa yang menembakmu? Aku tidak peduli jika kau membohongiku lagi. Kau harus memberikan penjelasan agar aku tidak seperti orang bodoh yang tidak tahu apa yang terjadi pada kekasihku.”

Air ini menetes begitu saja, membasahi perban di tangan Arga. Bukan kebohongan yang ingin aku dengar. Tentu saja bukan. Tapi kembali lagi karena dia Arga maka hanya ada dua pilihan. Dia menceritakan apa yang terjadi dalam sebuah dusta atau tidak sama sekali. Jelas aku tidak akan memilihnya bungkam.
“Terima kasih karena sudah menyelamatkanku. Dan maaf sudah membuatmu khawatir.”
“Kau tetap akan selamat meski kau bukan kekasihku. Dan maaf? Kalau kau sangat menyesal, berjanjilah jangan pernah muncul di hadapanku saat tak sadarkan diri apalagi dengan penampilanmu seperti tadi.”

Aku merasa hanya memiliki raga dan hati Arga tapi tidak tentang kehidupannya. Dia menjadi Arga kekasihku saat bersamaku dengan segala ketampanan, kebaikan, dan leluconnya. Namun dia menjadi Kapten yang memimpin sebuah perang, menerima misi, dan hal ekstrim lain saat tidak bersamaku. Kembali menjadi Arga yang misterius. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan saat tidak denganku. Benar-benar tidak tahu. Yang aku ketahui Arga melakukan pekerjaan dengan mempertaruhkan nyawanya. Sangat beruntung bangsa ini memiliki pelindung yang setia seperti dia dan tampan.

“Siapa dia? Apa dia temanmu?” Aku turut bersamanya saat dia menghadiri upacara sakral pemakaman seseorang. Meski diizinkan ikut, aku hanya boleh menetap di mobil. Terkadang aku merasa apa dia sangat peduli padaku atau kehadiranku di sekelilingnya mengusik kegiatannya.
“Dia rekanku dalam beberapa misi sebelum aku menjadi kapten.”
“Jika dia seprofesi denganmu.. jadi.. mungkin bisa juga kau akan..”
“Reina, pikiran buruk akan menjadi benar-benar buruk jika kau terus memikirkannya. Mulai sekarang hanya berpikirlah aku akan selalu kembali kepadamu.”
“Kau sudah berjanji.”
“Itu bukan janji. Tapi sebuah harapan.”
“Maka jadikan itu sebuah janji. Berjanjilah seperti seorang prajurit yang bersumpah tidak akan mengkhianati negaranya. Dengan begitu kau akan selalu kembali padaku, Kapten Arga.”

Pada akhirnya Arga selalu kembali kepadaku. Aku menerima kehadirannya dengan segala situasinya. Arga memang seorang prajurit yang memegang teguh janji sebagai harga dirinya. Namun, aku merutuki kebodohanku dan kenaifanku. Aku hanya memintanya berjanji untuk kembali. Tidak menekankan apakah dalam keadaan hidup atau mati.

TAMAT

Cerpen Karangan: Ennofira
Blog: https://ceritanologi.wordpress.com

Cerpen Kapten, Berjanjilah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seperti Yang Kau Minta

Oleh:
“Aku tahu ku takkan bisa menjadi seperti yang engkau minta. Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba menjadi seperti yang kau minta.” alunan lirik diiringi nada terdengar begitu indah

Rania

Oleh:
Aku masih di sini. Bersama dengan Rania di sudut kantin sekolah. Tampak sekali sekitar kami sudah sepi. Yang memastikan bahwa hampir semua siswa SMA Pramudya Aksara sudah pulang ke

Heart

Oleh:
Cinta… Apa itu cinta? Terakhir kali aku mengenal cinta, yang kudapat hanyalah perih. Bahagia, tidak menurutku cinta yang hadir untukku tidak membahagiakan. Cinta itu hanya membuat luka yang menganga

Tersisa Misteri

Oleh:
Pagi yang baik untuk memulai hari. Temperatur tak biasa mengeriapi kulit membuat tubuhku merasa berbeda. Kini aku berada di telaga Sarangan. Salah satu tempat rekreasi jawa timur yang menyuguhkan

Move

Oleh:
“cek.. cek.. satu dua tiga..” cek sound yang sedang dilakukan oleh Andri dengan band-nya yang tak lama lagi akan tampil dalam sebuah acara apresiasi seni di sekolahku. Terlihat ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Kapten, Berjanjilah”

  1. Koko Kurniawan says:

    Maaf, tapi menurutku jalan ceritanya hampir mirip seperti descendant of the sun. Mungkin Anda terinsipirasi dari drama korea tersebut atau mungkin ada alasan lain. Tapi penyampainnya sangat bagus kok 🙂

  2. na says:

    Cerpen ini hampir sama seperti drama Korea Descendant of the sun

  3. lif says:

    kayak ceritanya dots

  4. GinitriR says:

    MiripBanget Kayak Cerita Dots Drama Korea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *