Karan Dan Karina

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 January 2016

Seperti biasa, aku selalu ke taman dekat rumahku tiap sore. Selain untuk mencari ketenangan, ada hal lain yang membuatku tertarik untuk selalu datang ke taman ini. Alasannya karena dia. Dia yang aku kagumi sejak aku melaksanakan MOS beberapa bulan lalu. Dia yang selalu berhasil membuatku tersenyum saat melihatnya. Senyumnya, wajahnya, tingkah lakunya, suaranya, aku menyukai setiap bagian yang ada padanya.

Dia tidak setampan laki-laki yang sering diceritakan dalam novel. Dia laki-laki biasa. Kulitnya tidak begitu putih. Tapi ia memiliki lesung pipi. Tampak manis ketika ia sedang tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya. Ditambah lagi dengan kaca mata yang selalu bertengger pada hidungnya. Dia bukan cowok populer yang diidamkan banyak cewek. Dia hanya murid biasa yang kebetulan bergabung dalam Organisasi Intra Sekolah. Sikapnya yang supel dan ramah, membuat setiap orang yang berada di sekitarnya merasa nyaman.

Awal aku mengenalnya, saat pelaksanaan MOS. Saat itu, para peserta didik baru diharapkan untuk mencari tanda tangan anggota osis sebanyak-banyaknya. Aku dan Izza, teman baruku saat itu, segera mencari kakak-kakak osis yang berkeliaran di sekitar sekolah. Sudah 2 jam, dan akhirnya kami mendapatkan 30 tanda tangan. Lumayanlah, yang penting dapat. Hanya saja kami belum mendapatkan tanda tangan ketua osis kami.

Kebetulan saat itu Kak Eza, ketua osis SMA CARAKA, sedang berada di sekitar kami. Kami pun menghampirinya. Kami harus mengantre terlebih dulu, karena banyak peserta MOS yang ingin mendapatkan tanda tangan Kak Eza. Sambil menunggu antrian, aku melihat ke sekelilingku. Dan tepat di samping kiri Kak Eza, aku melihatnya. Sama halnya dengan Kak Eza, dia juga sedang menandatangani masing-masing kertas yang disodorkan padanya.

Dia ramah sekali. Dengan cuma-cuma dia memberikan tanda tangannya tanpa ada satu pun persyaratan. Berbeda dengan Kak Eza, yang memberikan persyaratan ini itu. Sejak saat itu, mataku tak pernah berhenti melihatnya. Diam-diam aku mencari informasi tentangnya. Dia benar-benar membuatku gila akan sosoknya. Dan aku menyadari bahwa aku telah jatuh padanya.

Kini, aku tengah duduk di salah satu kursi di bawah pohon yang rindang. Semilir angin, membuat rambutku yang tergerai menerpa wajahku. Membuatku harus menyelipkan beberapa anak rambutku ke balik telinga. Jangan ditanya lagi, apa yang sedang ku lakukan sekarang. Sudah pasti, aku sedang memperhatikannya yang tengah duduk sambil memandangi anak-anak kecil di sekitarnya. Aku tidak sekedar memandangnya, tetapi juga melukis wajahnya pada buku gambar yang selalu setia menemaniku. Setiap hari, aku tak pernah bosan melakukan hal ini. Ini sudah menjadi kebiasaanku.

Sejauh ini, dapat ku simpulkan bahwa dia menyukai anak kecil. Maksudku, dia senang menghibur anak kecil. Buktinya sekarang ini. Sekarang dia sedang menghibur bocah kecil yang tengah menangis karena balonnya meletus. Ia berusaha menenangkannya dengan memberinya beberapa biji permen. Entah apa yang dikatakannya, tetapi hal itu mampu membuat bocah kecil tadi berhenti menangis. Aku tersenyum melihat kejadian itu. Hal itu sudah tak jarang lagi bagiku. Aku benar-benar menyukainya.

“Rin, kantin yuk? laper nih gue.” Ajak Dita, teman sebangkuku.
“iya bentar, gue mau beresin buku gue dulu.” Jawabku dan segera merapikan buku yang berserakan di atas meja. Setelah itu, kami berjalan menuju kantin.

“Dit, lo mau pesen apa? Biar gue yang beliin.” Tanyaku pada Dita.
“Nasi goreng sama es teh satu. Nasi gorengnya pedes gak pakai kecap. Btw, Thanks ya.” Jawab Dita.
Aku segera melangkahkan kakiku ke warung Bu Andin. Kebetulan sekali, di samping warung Bu Andin, ada warung Mang Ata yang menjual jus buah. Selesai memesan pesanan Dita, aku melangkahkan kaki ke warung mang Ata.

“Mang, jus mangganya satu.” Ucapku bebarengan dengan seseorang di sebelahku. Sepertinya aku mengenal suara ini. Aku menolehkan kepalaku ke samping kanan. Dan benar saja, aku mendapatinya yang tengah menatap lurus ke depan. Dia, Kak Karan. Cowok yang selama ini aku kagumi dalam diam. Merasa diperhatikan, dia menoleh ke arahku. Dan tersenyum. Duhh, apa mulutnya gak cape ya? Dari tadi senyum mulu. Batinku. Kakiku sudah lemas, jika saja aku tidak berpegangan pada gerobak mang Ata.

“Pesen jus mangga juga ya Dek?” dia bertanya padaku. Apa aku tidak salah dengar? Tidak Karina, dia benar-benar sedang berbicara padamu.
“Hey, kok malah bengong?” Dia mengibaskan tangannya tepat di depan wajahku. Aku mengerjapkan mata sekilas. Lidahku kelu. Otakku mendadak blank dan bingung harus menjawab apa.
“Eh, i-iya Kak.” Jawabku gugup. “Kelas berapa Dek?” Tanyanya lagi. Dia bertanya lagi padaku? Ini nyata, bukan sekedar mimpi.
“Ke-kelas 10 ipa 5, Kak.” Jawabku masih tetap gugup.

“Santai aja kali Dek, jangan gugup gitu. Gue gak gigit kok.” Katanya dengan sambil tertawa ringan.
“Eh, iya Kak, Maaf.” Aku berusaha untuk tidak gugup dan kembali menatap ke depan.
“Ini neng, jusnya.” Ucap mang Ata sambil menyerahkan segelas jus mangga padaku. Aku menyerahkan selembar uang lima ribu, lalu mengucapkan terima kasih.

“Saya duluan ya Kak.” Pamitku pada Kak Karan.
“Iya, hati-hati Ran.” Aku hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum. Sebentar, tadi dia bilang iya hati-hati Ran. Memangnya dia tahu namaku? Mungkin saja dia tak sengaja melihat name tag pada seragamku. Aku melanjutkan langkahku untuk mengambil pesanan Dita dan kembali ke meja di mana Dita berada.

Dia, gadis itu. Namanya Putri Kirana. Hampir sama dengan namaku, Putra Karan. Kirana, gadis yang selalu memenuhi pikiranku. Gadis yang berhasil mencuri perhatianku. Mencuri hatiku. Dia Kirana, gadis cantik dengan rambut panjangnya yang selalu digerai. Hidung mancung dan matanya cokelatnya yang indah. Tak lupa senyumnya yang menenangkan. Tidak hanya cantik, dia juga pintar. Dia sering mewakili sekolahku dalam beberapa lomba.

Awal aku mengenalnya, dimulai saat ia sedang menjalankan MOS. Saat itu ia tampak lucu dengan rambut yang dikuncir dua dan 3 pita berwarna merah muda yang menghiasi rambutnya. Sepertinya ia tampak jengkel saat itu, karena ribet membawa peralatan MOS. Aku hanya terkekeh melihatnya. Sejak saat itu, aku penasaran akan sosoknya. Diam-diam aku mencari informasi tentangnya.

Beberapa hari ini, aku sering melihatnya di taman dekat rumahku. Dan dia selalu membawa buku gambarnya. Untuk apa lagi kalau bukan melukis? Semenjak itu, aku mengetahui satu fakta bahwa dia suka melukis. Aku senang melihat wajah damainya saat sedang asyik melukis. Matanya yang berbinar dan senyumnya yang mengembang saat lukisannya telah selesai. Hal itu membuatku ikut tersenyum. Entah apa yang dilukisnya, tapi aku yakin kalau hasil lukisannya pasti bagus. Betapa aku ingin melihat senyumnya setiap saat.

“Rak, gue ke warung Mang Ata dulu ya, mau beli jus. Lo mau nitip?” Tawarku pada Raka, sahabat karibku, yang kini sedang asyik dengan handphonenya.
“Gak usah deh, gue lagi gak mood makan.” Jawabnya yang masih terfokus pada handphone-nya.
“kayak cewek aja lo, pakai mood-mood-an segala.” Kataku yang dibalas dengan cengirannya. Aku segera melangkahkan kakiku ke warung Mang Ata.

Kebetulan sekali, di situ ada dia. Maksudku Kirana, yang kini sedang berjalan menuju warung Pak Ata. Aku segera mempercepat langkahku. “Mang, jus mangganya satu.” Ucapku bebarengan dengannya. Aku tetap menatap lurus ke depan. Bisa ku lihat dari sudut mataku bahwa ia kini tengah menatapku. Entah apa arti tatapannya. Aku tak tahu. Aku sudah tak sabar menatapnya. Lalu, aku menolehkan kepalaku ke arahnya, dan tersenyum. “Pesen jus mangga juga ya Dek?” Udah tahu, ngapain tanya? Bodoh banget aku ini. Dia tampak terkejut, namun tidak juga membalas pertanyaanku.

Aku mengibaskan tanganku di depan wajahnya. “Hey, kok malah bengong?” Dia mengerjapkan matanya sekilas. Ah, lucu sekali. Aku gemas melihatnya.
“Eh, i iya kak.” Jawabnya gugup. Tambah lucu deh, kalau lagi gugup gitu. Aku menahan tawaku. “Kelas berapa Dek?” Sebenarnya aku sudah mengetahui di mana kelasnya. Tapi itu hanya basa-basi untuk menghilangakan suasana canggung di antara kami.

Dia diam sebentar, lalu menjawab, “Ke-kelas 10 ipa 5, Kak.” Masih sama seperti tadi, dia tetap gugup.
“Santai aja kali dek, gue gak gigit kok.” Aku menambahkan dan terkekeh.
“Iya Kak, maaf.” Baku banget sih bahasanya. Mungkin dia menghormati aku sebagai kakak kelasnya.

“Ini neng, jusnya.” Mang Ata memberikan segelas jus mangga pada Kirana. Lalu Kirana memberikan selembar uang lima ribu dan mengucapkan terima kasih.
“Saya duluan ya Kak.” Pamitnya, masih dengan tersenyum.
“Iya, hati-hati Ran.” Duh, keceplosan. Aku tidak sadar jika tadi aku menyebut namanya. Semoga saja dia tidak berpikir yang tidak-tidak.

Semenjak kejadian di kantin, kejadian di mana aku mengobrol singkat dengan Kak Karan, aku semakin dekat dengannya. Awalnya kami hanya saling bertegur sapa. Namun semakin lama kami semakin dekat. Satu fakta lagi tentangnya, bahwa dia suka bercanda dan ngegombal. Hal itu sukses membuat pipiku memanas dan tertawa. Seperti saat ini contohnya.

“Ran, tahu gak kenapa saat ini mendung?” Aku diam sejenak, pura-pura berpikir.
“mmm, gak tahu Kak. Memangnya kenapa?” Tanyaku balik.
“karena mataharinya ada di hadapanku saat ini.” Jawabnya sambil tersenyum padaku. Sudah ku pastikan bahwa pipiku pasti memerah saat ini.
“ciee, blushing.” Ucap kak Karan diringi senyum jahilnya.
“Apaan sih Kak.” Aku hanya menundukkan wajahku, tak berani menatapnya.

“Ran, aku mau ngomong sama kamu.” Katanya serius. Aku mengadahkan kepalaku dan menatapnya. “Sebenernya, aku… aku sudah lama suka sama kamu. Sejak kamu MOS tepatnya. Aku gak berharap kamu membalas perasaanku. Cukup kamu di sini bersamaku. Aku tahu, kamu gak mungkin suka sama a–” Ku letakkan jari telunjukku di bibirnya. Hal itu sukses membuat ia terdiam. Aku diam sebentar dan menghembuskan napas perlahan.

“Jujur saja Kak, aku juga menyukaimu sejak lama. Aku senang akhirnya perasaanku terbalaskan. Aku hanya ingin satu, tetaplah di sini bersamaku Kak.” Ucapku. Dia tersenyum dan menggenggam tanganku erat. “Aku akan selalu bersamamu, di sampingmu, mendukungmu, dan mengingatkanmu saat kamu salah.” Ucapnya meyakinkanku.
“Thanks Kak.” Aku tersenyum padanya. Dia mengangguk dan tersenyum. “Ya sudah, ayo kita pulang. Sudah sore.” Dia menarik tanganku lembut dan mengantarku pulang.

Cerpen Karangan: Jihan Bobsaid
Facebook: Jihan Bobsaid

Cerpen Karan Dan Karina merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Benci, Tapi Takut

Oleh:
Aku tetap menahan kakiku untuk tetap berdiri di depan pintu kelas. Fikiranku berputar-putar dari itu ke itu saja. Aku merasa gelisah setelah rombongan teman-temanku mengatakan bahwa aku berhasil menjuarai

Jones

Oleh:
Namaku Deon, tubuhku tinggi, memiliki gigi gingsul yang membuat saya lebih menarik dari siapapun. (yaelah PD amat). Aku ganteng, yaap setidaknya aku lebih ganteng dari pemain sepak bola asal

Gara Gara Baju Couple

Oleh:
Aku dan Bastian sudah 1 Tahun menjalani hubungan, tapi hubunganku selalu dipenuhi dengan pertengkaran. Bagaimana Tidak? Selama ini Bastian selalu dekat dengan cewek-cewek cantik yang menurutku populer dibanding diriku

Permen Cokelat Keberuntungan

Oleh:
“Huft.. Akhirnya..!!” kataku dalam hati sambil mengusap keringat yang mengucur deras dari wajahku. “Gimana Ta? lumayan bagus kan?” kata mamaku seraya melihat toko permen yang akan aku buka dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *