Karena Kamu Innocent

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 5 May 2014

Hari ini mas Adin pulang telat lagi. Sudah hampir jam sebelas malam dia belum sampai rumah. Hal ini terjadi satu minggu termasuk hari ini. Huft. Aku menghembuskan napas. Aku memindah-mindah saluran televisi tanpa ada satu saluran pun yang kunikmati. Setiap sepuluh menit sepanjang malam ini, aku menoleh pintu, berharap mas Adin mengetuk, berharap dia pulang. Suamiku itu akhirnya pulang pukul setengah dua belas, dengan mata kuyu dan wajah lelah. Segaris senyum dia singgungkan untukku. Kemudian dia bergegas mengambil wudlu, sikat gigi dan tidur pulas sampai jam tiga pagi. Satu minggu terus seperti ini membuatku merindukan moment kebersamaan dengannya. Obrolan ringan sebelum tidur dan canda tawa.

Ritual wajib mas Adin adalah mencubit pipiku pada pukul tiga. Setengah mengerang aku terbangun dan mendapati wajahnya yang segar terkena air wudlu tersenyum padaku. Mengajak sholat malam. Selepas berjama’ah subuh denganku, seminggu terakhir ini dia tidur lagi sampai pukul 6. Kemudian sibuk dengan makalah mahasiswanya, koran dan teh hangat yang kuhidangkan.

“Teh-nya manis, mas?” Tanyaku riang, aku berusaha mencuri perhatiannya. Sungguh, aku rindu mengobrol dengannya.

“Yup. Trims.” Jawabnya tanpa menoleh padaku. Tetap sibuk dengan koran yang tengah dibacanya.

“Mau aku gorengkan pisang? Kayanya enak nih anget-anget, langit agak mendung.” Lanjutku. Masih berusaha membuka percakapan.

“Boleh.” Jawabnya singkat dengan seulas senyum. Perkembangan sedikitlah. Dia mau memalingkan sedikit perhatiannya dari koran kepadaku.

Aku segera beranjak ke dapur dan menggoreng pisang. Otakku terus berfikir bagaimana caranya menemukan topik yang menyenangkan untuk berbincang dengan suamiku, minimal sebelum dia berangkat lagi ke kampus. Apa begini ya rasanya jadi istri seorang dosen? Harus dinomer-duakan dengan makalah? Huft. Ayo dong mas, sadar sedikit, aku rindu padamu.

Pantang menyerah, aku berujar ceria “Ini mas, pisang goreng paling enak sedunia!” sambil meletakkan sepiring pisang goreng karamel di hadapannya. Sekali lagi dia cuma berkata, “Trims” tanpa menoleh dari bacaannya. Oh God!

“Sibuk sekali ya.” Keluhku lirih disampingnya.

“Apa Yash?”

“Enggak.” Sangkalku. “Sudah jam setengah delapan, mas. Katamu kamu ngajar jam delapan. Monggo siap-siap.” Aku mengingatkannya. Dan jawabannya sekali lagi, “Trims” sambil beranjak.

Mas Adin berangkat terburu-buru kemudian, dan aku belum sempat mengobrol apapun dengannya. Gemas. Aku pun memutuskan untuk mengungkapkan isi hatiku lewat sms. “Mas, aku pengen ngobrol sama kamu, tapi kayanya kamu nggak pengen. Ya sudahlah” kutekan tombol “send” di handphone.

Sepulang kampus dia duduk menjajariku di depan televisi. “Mau ngobrol apa? Monggo..” katanya ramah. Entah kenapa aku malah jadi malas. Seolah obrolan yang akan berlangsung kemudian adalah obrolan sepihak saja. Kenapa dia tidak bisa menangkap sinyal rinduku sih? Aku diam. Tidak menjawab.

“Mau ngobrol apa, Yash? Istriku?” ulangnya sambil meraih kepalaku dan menyandarkannya ke pundaknya. Beberapa menit kemudian dia sudah memainkan rambutku. Aku cemberut. Masih malas menjawab.

“Nggak jadi. Nggak usah. Toh kamu setengah hati gitu.” Jawabku ketus.

“Hmm.. siapa bilang aku setengah hati… ngobrol aja, gak papa..”

“Moh.” Bantahku jutek.

Jeda beberapa saat. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku tidak habis pikir, kenapa si mas Adin ini tidak berusaha meredam emosiku dengan bercanda. Kenapa dia tidak menggodaku seperti biasanya dan malah kedengaran tidak tahu kalau aku sedang marah padanya?

“I’ve problems today Yash…” Wah, orang ini, di-ngambek-I kok malah curhat? Heran.

“Tadi aku niatnya mau ngasih file ebook sama buku-buku pdf yang kupunya ke perpustakaan kampus. Tapi malah datanya hilang semua. Ternyata komputer kampus bervirus.” Lanjutnya innocent. Dan anehnya, kemudian aku melunak.

“Nggak bisa diceck lagi? Mungkin di komputer lain masih muncul file-nya?” sahutku dengan kalem. Simpatik terhadap masalah yang dia ceritakan.

“udah aku coba, Yash.. nggak ada. Padahal aku nggak ngopy di laptop, cuma ada satu-satunya di hardisk itu..” jelasnya murung dilanjutkan dengan satu desahan panjang. Mas Adin terdengar sangat kecewa dengan hilangnya data-data itu.

“Sabar, nanti kan bisa ngopy lagi ke orang yang punya,”
Dia berubah posisi. Sekarang dia meletakkan kepalanya di pangkuanku.

“Belum ada yang punya data-data itu, Yash.. Semuanya baru aku yang punya, makanya mau aku copy-kan ke komputer perpus,” keluhnya lagi.

“Ada sih, tapi mereka semua di luar kota, agak repot nyarinya.” Mas Adin melanjutkan.

Sekarang giliranku memainkan rambutnya. “Ya udah… Diikhlaskan saja. Siapa tahu bisa balik sendiri.” Aku menggodanya, berusaha menenangkan. Dia tersenyum kecil. Tidak menyahut.

“Kan semua musibah pasti ada hikmahnya..”

“Kalo gini hikmahnya apa yaa?” tanyanya polos.

“Hikmahnya adalah kehidupan baru bagi data-data baru di hardisk kamu, mas. Trus kamu juga harus belajar lebih hati-hati dan konsentrasi, juga harus belajar rela untuk kepemilikan data-data yang sifatnya sementara, trus juga harus belajar sabar dan ikhlas terhadap cobaan..” Jelasku panjang lebar. Mas Adin mendengarkan dengan serius.

“Hmm… tapi aku masih sedih,” adunya. “Apalagi kamu gak jadi ngajak ngobrol.. tadi mau ngobrolin apa to, Yash-ku?” katanya merajuk. Aku tertawa kecil. Hmm… Ternyata curhat-curhatnya tadi itu cara dia untuk melunakkan aku. Unik sekali.

“Aku kan ngambek.. gak mau bilang ah,” kataku manja.

“Ayo dong… udah gedhe nggak boleh ngambekan lho Yash..” Aku mencibir, “biarain.” Bantahku. Mas Adin terus merajuk malam itu, hingga akhirnya kami berbincang panjang. Melepaskan rindu satu minggu yang tertumpuk akibat kesibukannya. Dari kejadian hari itu aku belajar, dalam kehidupan berumah tangga, keterbukaan dan keterus-terangan harus selalu dijaga. Komunikasi yang baik akan menjaga keharmonisan keluarga kecil yang sedang kami bangun. Dan uniknya, justru karena mas Adin innocent, banyak masalah-masalah kecil kami justru terselesaikan dengan damai.

SEKIAN

Cerpen Karangan: aya emsa
Blog: butirbutirembun.blogspot.com
Facebook: anindya aryu emsa

Cerpen Karena Kamu Innocent merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Ada Rumah Yang Tak Akan Hancur

Oleh:
Ia terduduk di sudut kamarnya yang terkunci. Matanya ia pejamkan lekat-lekat, tangannya menutup rapat telinga -mencoba menghalang semua suara gaduh menyentuh syaraf pendengarannya, ia bernapas dengan cepat dan berat-bagai

Jodoh di Tangan Tuhan

Oleh:
Terik matahari yang begitu menenyengat menghiasi hari-hariku di perempatan jalan tempat aku menunggu seseorang yang istimewa. Shiha, begitulah temanku memanggilku. Tepat jam 11.50 seseorang yang aku tunggu muncul di

Miniatur Pembalasan

Oleh:
Baju lusuh penuh keringat dengan aromamu yang khas. Kau berlari tanpa pernah berhenti mengejar tujuan mu. Dengan keegoisanmu dan sedikit pengetahuan mu. Padahal rasa pedih selalu menghantui dan menemanimu

Harapan Untuk Ibu

Oleh:
Fyuh! Nilai, nilai, nilai. Kenapa kau terus membuatku dimarahi orangtuaku? Hasil ulangan MTK-ku yang di bawah 6 membuatku tidak diberi uang saku selama 3 hari. Sudah biasa sebenarnya, tapi

Cinta Untuk Sahabat

Oleh:
Malam begitu sunyi ketika ku berjalan di sisi kota tua itu…yang terasa hanya dingin menyengat jiwa-jiwa yang kesepian… Jalan_jalan itu nampak sepi..Hanya terlihat beberapa kendaraan yang lalu lalang…hmmm…benar-benar malam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *