Karena Saya Sayang Kamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 26 November 2017

Maria menekan tombol telepon beberapa kali. Terdengar bunyi tut-tut beberapa kali, tapi ia tetap menunggu sambutan dari sana.
“Halo,” terdengar suara perempuan separuh baya.
“Maaf, Tante. Bisa bicara dengan Bayu?”
“Sebentar, ya.”
Hening. Tidak terdengar suara dari seberang.

“Halo.” Akhirnya suara perempuan tadi terdengar kembali.
“Ya.”
“Bayunya tidak ada,” ucapnya, “Ada pesan, Nak?”
“Nggak ada, Tante. Nanti saya telepon lagi, deh.” Diletakkannya gagang telepon ke tempatnya.
Ke mana, ya, dia? Gumamnya.

Seharusnya Bayu berada di sini, di rumahnya. Memang tidak setiap malam Minggu Bayu hadir, tapi kalau ada halangan ia selalu memberitahu. Maria mengambil handphonenya yang tergeletak di samping telepon rumah. Dicarinya nama Bayu dan memijitnya, tetap tidak ada sinyal penerimaan. Handphone Bayu tidak aktif.

Dengan kesal Maria meletakkan telepon selulernya di meja, lalu dibukanya pintu depan dan keluar. Ditariknya kursi teras dan duduk. Jalan di depan rumah lengang sementara bulan penuh tersembunyi dibalik awan dan angin mati.

Kring! Telepon berdering dari dalam rumah. Untuk kedua kalinya telepon kembali berdering. Dengan malas Maria bangkit dan berjalan masuk. Diangkatnya gagang telepon dan, “Halo? Assalamualaikum.”
“Wa alaikum salam,” sambut suara dari seberang, “Maria?”
“Iya. Ada apa, Lis?”
“Ha-pe-nya, kok, nggak diangkat, sih? Aku nggak mengganggu ‘kan?”
“Ya, nggak lah.”
“Bayu nggak datang?”
“Nggak. Kenapa?”
“Gini. Tadi, sewaktu pulang dari Gramedia, aku lihat mobil Bayu parkir di depan hotel di daerah Pasar”
Diam. Keheningan pun merebak.

“Halo! Kamu masih hidup ‘kan?” Suara Lisa menyadarkan Maria, “Kalau kamu masih sayang Bayu, kamu mesti memperhatikan dia, Maria. Soalnya ada isu Bayu ngedrugs. Bayu juga jarang masuk sekolah. Kalau masuk kelas, mukanya kuyu banget. Pokoknya lain dengan Bayu yang dulu.”
Maria tetap diam.
“Sudah dulu, ya,” suara Lisa kembali terdengar, “Assalamualaikum.”
Maria meletakkan gagang telepon. Disandarkan punggungnya ke kursi. Kamu terlambat memberitahukannya, Lis, batinnya.
Terbayang kejadian Kamis lalu.

Sore itu Maria sedang menyiram bunga di halaman depan ketika Bayu datang. Setelah memarkir motornya, Bayu mendekat. “Assalamualaikum.”
“Wa alaikum salam. Sorry, nih, tanggung, Bayu.” Maria memperbaiki selang air yang terlilit. “Bentar, ya.”
Bayu jongkok di dekat Maria.
“Tolong dimatikan airnya, Bayu. Di keran itu, tuh.”
Dengan segera Bayu berdiri dan berjalan menuju keran air yang ditunjuk Maria. Setelah mematikan air, Bayu langsung duduk di kursi teras. Selesai membereskan selang air, Maria pun menyusul Bayu.

“Dari mana?” tanya Maria.
“Rumah.” Tingkah Bayu terlihat aneh dimata Maria.
“Ada apa?”
“Aku lagi bingung.”
“Kenapa?”
“Aku butuh uang.” Bayu tidak berani menatap Maria. “Ibu kos nagih terus.”
“Kiriman bulan ini belum datang?”
Dengan lemah kepala itu menggeleng. “Sudah habis.”
“Ini kan baru pertengahan bulan. Kamu habiskan buat apa?”
Bayu semakin gelisah.
“Jadi benar isu itu, Bayu?”
Bayu hanya diam.
“Bayu!” suara Maria meninggi. “Kamu ‘make’, ya?”
Wajah lusuh itu kian dalam tertunduk.
Maria sedih melihat kondisi teman dekatnya itu. Bayu tampak ringkih.

“Bayu,” panggil Maria pelan. Disentuhnya tangan kurus itu.
Wajah itu terangkat. Tapi, “Kamu nggak perlu tahu urusanku! Sekarang kamu mau memberi pinjaman nggak?”
Maria terkejut mendengar ucapan Bayu. “Saya ‘kan pacar kamu. Saya berhak tahu semua masalahmu. Paham?”
“Kamu ngak mau memberi pinjaman?” semakin sengit kata Bayu.
“Saya ada uang, tapi saya perlu tahu untuk apa?”
“Tadi ‘kan aku sudah ngomong. Uang itu untuk bayar kos!” ucap Bayu setengah teriak. “Cuma seratus lima puluh ribu, kok.”
Maria terdiam melihat Bayu yang emosi. Perlahan sebaris air mengalir di pipi mulusnya.
“Kenapa kamu melakukannya, Bayu?” suara itu bergetar.
“Sumpah! Aku nggak pernah menyentuh barang itu.”
Maria menggelengkan kepalanya. Kristal-kristal itu makin deras menuruni pipi Maria. Bayu gugup melihatnya.
“Maaf…, maafkan aku, Maria,” suara itu pun bergetar.
Maria menghapus air mata yang menggayut di dagunya kemudian menatap Bayu. Menunggu ucapan Bayu selanjutnya.
“Aku memang memakainya.”
Mendengar pengakuan itu, Maria merasa kosong, tapi akhirnya ia tersenyum, “Makasih kamu mau berterus terang.”
Mata kuyu itu terbelalak mendengarnya. Rasanya tidak percaya melihat sikap Maria. “Kamu nggak marah?”
“Kenapa harus marah?” Maria balik bertanya. “Kamu mau ‘kan berhenti menggunakan obat-obatan itu?”
Bayu menghela napas panjang. Diam. Akhirnya, “Aku janji, Maria. Aku janji akan meninggalkan obat-obatan itu. Percayalah.”
“Saya percaya,” sambut Maria, “Tapi, kamu harus buktikan kalau kamu bisa menjaga kepercayaan saya.”
Kepala itu mengangguk.

Tapi sekarang? Maria bingung bagaimana harus bersikap. Dia percaya Lisa tidak akan berbohong karena Lisa teman akrabnya sejak SD. Kebetulan Lisa sekarang satu sekolah dengan Bayu. Bahkan satu kelas.

Bunyi gerenyit pintu gerbang yang dibuka dan suara ban mobil yang menggilas bebatuan menyadarkan Maria. Ia membuka gorden. Mama, Papa, pulang, gumamnya. Maria bangkit dan membuka pintu. Menyambut kedatangan orangtuanya.

Tanpa menimbulkan suara Maria menaruh jeruk yang di bawanya ke meja di samping tempat tidur agar tidak membangunkan Bayu yang tertidur. Ditatapnya wajah pucat itu dan mata Maria pun beriak.
Tubuh di tempat tidur itu bergerak. Matanya membuka. Raut wajah Bayu berubah ketika matanya tertumbuk pada Maria. Lalu, “Kenapa menangis?”
Seraya menghapus air mata yang nyaris meloncat dari matanya, Maria memaksakan tersenyum.
Bayu bangkit dari tidurnya dan berusaha duduk. Setelah itu, “Minta minumnya.”
Maria mengambil gelas yang berada di meja. Dituangkannya air dari teko dan menyodorkannya ke Bayu.
“Thanks.” Bayu menyerahkan kembali gelas.

“Kamu tahu dari siapa aku ada di rumah sakit ini?”
“Kamu jahat nggak mau memberitahu.” Maria tidak menanggapi pertanyaan Bayu.
Bayu meringis. “Aku memang sengaja minta dirahasiakan.”
“Kenapa?”
“Aku malu.”
Maria mengelus tangan yang dipasangi jarum infus itu. “Yang penting kamu nggak apa-apa.”
Keduanya diam. Keheningan menyelinap di ruang VIP itu.

“Oya, makan jeruk, ya?” Maria mengambil jeruk dari meja dan mengupasnya. “Tadi saya yang beli.”
Bibir yang pucat itu terbuka ketika Maria menyodorkan jeruk.
“Manis ‘kan?”
Bayu mengangguk. Lalu, “Sudah, ah. Aku ‘kan belum boleh makan sembarangan.”
Mata Maria melotot. “Kenapa kamu nggak ngomong?”
Bayu tersenyum dan mengerlingkan matanya. Maria bahagia melihatnya. Bayu sudah kembali, katanya dalam hati.

“Maria,” panggil Bayu, “Aku tuh heran sama kamu.”
Kening Maria mengernyit tanda bingung.
“Kamu tahu aku ngedrugs, suka bohong, dan nggak nepati janji, tapi kamu kok nggak marah,” lanjut Bayu, “Apa kesalahanku ini masih dapat dimaafkan?”
Maria tersenyum. “Itulah hebatnya cinta.”
Giliran Bayu yang mengernyitkan keningnya.
“Kata orang bijak, cinta itu tidak rasional,” sambung Maria, “Kenapa saya tidak marah? Karena saya sayang kamu. Itu saja. Lagi pula semua yang kamu lakukan itu hanya satu kekhilafan. Masih bisa diperbaiki ‘kan?”
Bayu mengambil tangan Maria. Menciumnya lembut.

Rasa bahagia menyergap ketika Maria menatap mata Bayu. Di mata kuyu itu Maria melihat sebersit semangat yang dulu pernah hilang. Bayu benar-benar sudah kembali.

Cerpen Karangan: Wangikehidupan

Cerpen Karena Saya Sayang Kamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bagai Bulan Dan Matahari

Oleh:
Banyak orang awam berpendapat jika bulan dan matahari tak akan pernah ditakdirkan untuk bertemu tapi nyatanya argumen itu terpatahkan, bukti nyatanya adalah ketika aku dipertemukan denganmu dalam satu bulatan

Pacarmu Bukan “Ninja”

Oleh:
Siang ini di kelas aku menatap keadaan di luar kelas dari jendela, minggu ini aku mendapat giliran duduk di bangku paling pinggir dekat jendela yang memang berukuran besar dan

Scratch Teens (Part 3)

Oleh:
Tuhan.. apakah aku tak pantas untuk disayangi? Satu-persatu berpaling dari sisi ku Perih hati ini saat harus menerima takdir dari mu Kemana janji mu Rangga? Kau telah mengingkarinya Kini..

Cinta Sesaat In Bali

Oleh:
Bali merupakan saksi dari cerita cintaku. Awal dari ketidakesengajaanku memperhatikannya. Sosok penyemat di hatiku. Ku bisa dapatkan kasih sayang seorang kekasih darinya. Minggu malam 12 mei disini kisahku dimulai.

Cinta Sebatas Patok Tenda

Oleh:
Cinta. Baca cinta dengan titik. Cinta itu sebenarnya tidak bermakna, cinta itu berarti. Betul bukan? Cinta itu sungguh berarti. Sebelumnya aku berpikir bahwa cinta itu hanya fantasi. Setelah menulis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *