Karena Tuhan Tak Sedang Bermain Dadu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 28 August 2012

Ruangan ini begitu pengap. Sirkulasi udara di sini sepertinya amat tak teratur. Tak ada celah bagi cahaya yang hendak masuk, kecuali jendela tua itu. Dan sayangnya, derikan jangkrik menandakan waktu sudah petang. Aku tak berharap banyak pada matahari yang sudah berkemas pulang ke peraduannya.

Kuputuskan untuk kembali ke kamar dan mengambil senter. Semoga ini cukup membantu. Aku tengah mencari sesuatu yang tak kutau itu apa. Aku hanya sedang merasa rindu dengan ibuku. Itu satu- satunya alasan yang kupunya.

Dengan penerangan seadanya, aku mulai melucuti almari tua di sudut gudang. Berantakan tak keruan. Banyak kenangan- kenangan masa kecilku dimusiumkan di sini. Ada juga tanda bukti pembayaran premi asuransi, tagihan listrik dan dokumen- dokumen yang tak terawat sepeninggal ibuku. Entahlah, itu masih berguna atau tidak. Aku tak begitu mempedulikannya, apalagi bapakku.

Diantara benda- benda tak bernama itu, pandanganku mengarah pada buku bersampul tebal, sepertinya album foto. Segera aku menyelamatkannya. Sementara tangan kananku tetap memegang senter kuat- kuat. Tak tahan dengan bauran debu yang memenuhi ruangan berukuran 3x 4 tersebut, aku memutusakan untuk segera keluar dan menutupnya kembali rapat- rapat. Persis seperti cara Bapak mengubur memori sewaktu kami masih hidup bersama. Utuh.

Aku merasa agak aneh malam ini. Mataku sulit terpejam. Padahal malam sudah begitu larut. Harusnya aku bisa beristirahat lebih awal lantaran besok pagi aku musti kembali ke Jogja. Kulirik album yang “kucuri” dari gudang petang tadi. Halaman depannya sudah sangat lusuh dan berlapis debu. Kubuka lembar pertama, hasil jepretan momen pernikahan bapak ibuku. Ketika kuperhatikan betul, rona wajah keduaya sungguh memancarkan kebahagiaan yang tak terkira. Tak pernah, setelah tragedi yang merenggut nyawa ibu, bapak tampak segembira itu.

Aku seperti terjebak dalam memori masa lalu dan terus menikmatinya. Di halaman- halaman selanjutnya, kujumpai rupa perangaiku semasa SMA. Sedikit mirip tetapi berbeda. Aku lebih condong memaknainya secara psikologis. Iya, keadaan psikis-ku sewaktu remaja dulu sangatlah berlawanan dengan apa adanya aku sekarang. Lima tahun lalu, aku memasuki fase- fase paling bahagia semasa hidupku (sejauh yang kujalani). Hidup dengan belaian kasih sayang dari orang tuaku.
Agaknya ada kepingan dari ingatanku yang tertinggal, lebih tepatnya kutinggalkan. Sebab mau tak mau, aku harus melakukannya.

###

Kusebut dia Dika,
Sore itu panas teramat menyengat. Ingin sekali rasanya aku bersama temanku segera menyelinap masuk ke kamp asrama dan melepaskan semua atribut wajib dari sekolah. Pun dengan segala hal yang menyesaki kapasitas otakku. Tak tau kenapa, setiap masuk kelas eksak, aku justru merasa semakin bebal saja.

“Raya…kamu nggak makan? Ayo ke kantin”, teriak Delia dari teras kamar. Ajakannya yang begitu antusias menandakan seberapa dalam rasa lapar yang ditahannya.
“ Bentar Del…suruh diam dulu cacingmu itu. Protes juga ada masanya”.
“Sudahlah mbok bray, aku tak sedang minat berdebat. Biar jadi urusan di belakang meja nanti”.
“Haha, oke,,yuk mari berburu mangsa..!”, sahutku menggoda Delia.
Kami bergegas menuju kantin asrama yang jaraknya berkisar antara 15 sampai 20 meter dari kamp. Dari tadi kusebut “kamp” sebab bangunan yang berdiri di atas sepetak tanah itu dipenuhi oleh sekian banyak orang yang terbilang overload.
“Kelihatannya kita kurang beruntung Ray. Antrian di depan sudah kelewat panjang.” keluh Delia sambil menunjukkan tekukan di wajahnya.
“Sabar aja, ntar juga kelar sendiri. Ini kan udah jadi ritual wajib kita Del. Makan antri, mandi juga antri. Masih syukur untuk bernafas, kita tak diminta antri….”
Kultum dariku berakhir magak, Delia ternyata tak ada di dekatku. Ah, rupanya sedari tadi aku menggumam sendiri. Dari sudut pandang lain, mungkin aku terlihat seperti “setengah gila”.
“Ray..lihat deh, almamater kita disebut di Jawa Pos. Dia senior di asrama putra, bukan?”, suara Delia membuatku kaget. Dia muncul tiba- tiba dari balik koding (koran dinding).
“Mana Del? Jawa Pos itu beda kelas sama majalah sekolah. Jangan asal kamu.”
“Mahardika, SMA Cakrawala, Semarang. Ada yang salah dengan saya?”
Delia berlalu begitu saja. Sedang pandanganku masih tertuju pada rubrik gagasan yang menjadi sasaran mata kami setiap hari.

###

Pagi- pagi sekali aku sudah menyambut gerbang asrama, memelas pada penjaga agar diberi kelonggaran untuk bergerak di balik tembok kokoh yang membentengi peredaranku. Ya, memang begitulah cara bertahan di sini. Agaknya, aku sudah lebih mengerti bagaimana aturan main di kamp, saat memasuki tahun keduaku.

Setelah mengantongi izin dari satpam, aku bergegas menuju warnet, membuka akun gmail, dan mengirim pesan untuk seseorang. Meski aku tak berharap banyak akan jawabannya nanti. Karena tindakanku kali ini bisa dibilang mendekati “bunuh diri”.

Selain aku dan Tuhan, tak ada yang lebih tahu perihal kegilaanku. Aku sendiri tak mengerti dari mana dorongan ini berasal. Yang jelas, ini bukan kesalahan. Karna gila tidak salah.

###

Sepekan pasca kirim email, kucoba mengecek inbox-ku. Ada beberapa email masuk. Dan yang paling mengejutkan datang dari akun dika_jogja(at)yahoo.com.

Ternyata usahaku tak sia- sia. Kemauan berguruku yang terungkap lewat pesan kemarin, mendapat respon positif dari Dika. Meski di akhir rangkaian petuahnya, ada ucapan yang membuatku tergelitik.

“Walah, kok masih ada istilah senior- yunior to? Mbok yo jangan membuat strata sosial sendiri. Kita di sini sama berseragamnya.”
###

Delia tertawa lepas mendengar ceritaku, yang kata orang lebih dari sekedar konyol. Jelas, aku tak tau banyak perihal Dika. Kecuali referensi dari gosip lintas asrama dan tentuya addres email yang kucuri dari koran tempo hari. Tapi setidaknya aku punya alasan untuk mendekatkan diri dengannya. Aku dengan kebiasaanku. Aku dengan cita- citaku. Menulis.

Bertukar pesan via email lama- kelamaan menjadi candu bagiku. Selalu saja ada keinginan untuk membuatnya memberitahu tentang apa saja yang ingin kutahui. Anehnya di antara kami tak pernah terbesit niat untuk sama- sama menampakkan diri. Hingga pada saat yang telah ditentukan, Dika harus angkat koper dan kembali ke tanah kelahirannya, Jogja, bersamaan dengan habisnya masa kontrak dia dengan bangku SMA.

Keadaaan yang demikian memaksa kami mencari jalan lain. Memikirkan bagaimana cara kerja otak agar lebih terkesan adil terhadap kinerja perasaan. Hingga pada akhirnya aku dan Dika sepakat untuk bertemu secara gerilya.

Tatap muka antara kami tak berlangsung lama. Dika hanya berusaha menyelamatku dari sanksi asrama. Begitupun aku. Aku tak mau namanya disebut- sebut dalam daftar siswa bermasalah. Terlebih karna hampir semua pihak dari asrama, putra maupun putri, mengenal baik siapa Mahardika dan juga orang tuanya.

Dika dengan segala keanehannya mohon pamit padaku. Dia memberiku berlembar- lembar hasil print out yang memuat kumpulan email kami dari awal hingga up date-an terakhir. Halaman paling belakang justru tampak lain dari yang lain, karna berupa tulisan tangan.

“Memang posisilah yang menyebabkan kesamaan antara ada dan tiadanya aku di sini. Tapi jangan surut untuk meyakini, aku akan selalu ada dimanapun kau mau. Tak usah khawatir kau, orang- orang di luar sana tak cukup punya kekuatan untuk melewatkanmu, melewatkan kesempatan bertemu sapa dengan yang teraneh dalam hidupku. Kurasa menanti kesempatan itu, tak kurang lamanya dari menunggu ekor komet Halley mengangkasa, yang bahkan memejamkan mata beberapa detik saja, dapat mengubur kesempatan itu.”

Aku tak pernah mengalami ini sebelumnya. Merasa kehilangan atas sesuatu yang bukan menjadi hakku, baik secara yuridis maupun fakta. Tanpa aba- aba, hujan turun perlahan. Seolah merangkulku, namun juga mengabaikanku.

###

Delapan bulan kemudian,
Hari- hari berlalu tak terasa. Kepergian Dika bukan lagi bencana besar bagiku. Terlebih keberadaanku di sini membuatku lupa waktu. Kesibukan- kesibukan yang tercipta dengan sendirinya, termasuk persiapan siswa kelas XII dalam menghadapi UN, membantuku melipat bilangan tahun menjadi hitungan bulan.

Begitupun selanjutnya, sampai UN terlewatkan, aku masih merasa datar- datar saja. Lain ketika aku dihadapkan pada masalah yang satu ini. Bapak tiba- tiba memintaku pulang ke Purwokerto. Jarang- jarang beliau menghubungiku lewat telephone asrama, kecuali jika ada hal yang benar- benar penting atau mendesak.

Dibantu Delia dan teman sekamarku, aku mengemasi barang- barang yang kurawat betul di asrama selama hampir tiga tahun. Sembari menghemat tenaga dan waktu, pikirku. Karena selalu ada kemungkinan berganda atas “diam”nya bapakku. Jika memang aku diharuskan menetap di rumah setelah kepulanganku, kuputuskan untuk menyusulkan paketan barang lewat pos. Delia pun menyanggupi untuk menguruskannya.

Ini tentang Ibu,
Sesampainya di rumah, aku dikagetkan oleh kerumunan orang. Segera ku masuk dengan perasaan carut marut. Entah apa maksudnya ini.
Tepat di hadapanku, jasad ibu sudah terbujur kaku. Ibu meninggal dalam kecelakaan bus. Habis sudah kata- kataku. Tangis pun meledak. Hanya dekapan tulus bapak yang mampu menahan sakitku. Samar- samar kudengar suara Ibu.

Dia hanya berbisik, “Nak, Ibu tahu. Kamu lebih kuat dari ini. ”
Sejurus kemudian, suasana berubah tenang. Aku yakin, Ibu kembali dalam damai.

###

Keseharianku di rumah terasa membosankan. Tiap hari selalu mengalami hal yang sama. Selalu melakukan kegiatan yang sama sebangun pagi sampai malamnya. Bapak pun berubah murung sepeninggal Ibu.
Setelah pengumuman ujian nasional turun, ku putuskan untuk mengikuti tes SNMPTN. Dan singkat kata, aku diterima di salah satu PTN di Jogja.

Tak kukira, kota pelajar ini menjadi tempat bertemunya kembali, aku dan Dika. Kami berada di bawah atap yang sama, bahkan dihimpit dengan tembok yang sama pula. Persis seperti dulu. Bedanya, tak ada lagi aturan. Tak ada lagi sanksi- sanksi.

Kami berjalan beriringan, sama halnya dengan orang- orang lain. Punya mimpi, sekaligus serangkaian usaha untuk meraihnya. Kini aku menjadi pendatang baru di fakultas Hukum. Sedangkan Dika sudah merasa nyaman dengan ranah sains yang genap setahun digelutinya.

Enam bulan pertama, seperti harapanku, kuliah dan segala hal yang menyangkut keberlangsungan hidupku di Jogja berjalan lancar tanpa adanya hambatan yang berarti. Kehadiran Dika di sela- sela padat- lengang waktuku juga memberi makna tersendiri. Bagaimana pun, dialah yang berhasil mendorongku dari diam. Itulah definisi “orang hebat” menurutku.

Meski aku sudah terbiasa dengan Dika, tetap saja ada perasaan canggung ketika aku harus berhadapan dengannya. Terkadang aku berpikir, aku tak pantas. Pandangan orang- orang terhadap trah keluarganya seolah menciptakan jarak yang tak kutau seberapa jauhnya.

“Ka…, aku takut. Aku takut terlumat oleh ketakutan yang kuciptakan sendiri.”
“Seharusnya aku bisa menghilangkan kekhawatiranmu sejak dulu Ray, tapi aku tak pernah berhasil melakukannya. Aku tak bisa menutupinya lagi. Perasaan bersalahku saat aku berpura- pura tak mempedulikanmu di depan orang lain. Ingin rasanya aku memulai semua dari awal. Aku ingin hidup normal. Menjadi orang biasa yang tak berkelakuan serba luar biasa.”
“Maaf Ka, semestinya aku tak menyeretmu dalam masalah klasik macam ini. Dulu aku terlalu berani, padahal nyata- nyata aku tak sekuat itu. Aku ceroboh bermain api. Jika aku tak pernah ada…”, aku tak bisa menyembunyikan kekalutanku. Aku menangis sejadinya. Dika tak berucap apapun, dia hanya membenamkan wajahku dalam pelukannya. Mencoba menguatkanku. Mungkin juga hatinya.

Selepas kejadian itu, Dika menghilang. Satelit pun tak bisa melacak keberadaannya saat semua perangkat komunikasi yang dia miliki dinonaktifkan begitu saja. Kata teman dekatnya, ada kemungkinan Dika dipindah delegasikan oleh ayahnya untuk melanjutkan kuliah di Singapura. Barangkali untuk menjembatani keberangkatannya ke Harvard suatu saat nanti. Itulah mimpi yang pernah ia sebut di hadapanku.

###

“Nak, sudah subuh…ayo bangun. Jadi berangkat ke Jogja to?”, suara Bapak membuat kedua mataku terbuka. Album semalam ternyata masih ada di dekatku. Rupanya aku tertidur hingga pagi. Sejenak kuamati lagi foto kami sekeluarga. Ibu masih saja tersenyum.

Pukul tujuh pagi, seperti yang telah dijanjikan. Viko menungguku di beranda rumah. Ia tampak akrab sekali dengan bapak. Sudah enam bulan ini kami menjalin hubungan dekat. Sebab usia akademisku yang sudah mencapai klimaks di tataran strata satu, bapak sama sekali tak keberatan. Justru setelah mengenal outcome Kehutanan itu, kulihat Bapak seperti mendapatkan semangatnya kembali.

Keduanya sama- sama memiliki ketertarikan pada alam. Alam yang menjadi muara dimana kami dipertemukan. Sekaligus sebagai saksi bagaimana manusia berakhir dan bermula.

-SELESAI-

Profil Penulis:
LULU Devi Rahmawati, lahir di lereng Gunung Slamet, Purwokerto, 09 Desember 1991. Setelah lulus dari sekolah menengah pertama, dia melanjutkan pengembaraannya hingga akhirnya mendarat di ujung pesisir utara. Tiga tahun “nyantri” di Pati merupakan pengalaman tak terlupakan baginya. Dari sanalah ia mulai menggeluti dunia kepenulisan.

Aktif di jajaran redaksi majalah sekolah “Raudlatina” (2008-2009) membutnya keranjingan menulis. Sayang, untuk sampai ke tahap publikasi ke media luar, Lulu masih merasa kurang modal. Selain alasan skill yang dirasa kurang medok, keberanian yang masih timbul- tenggelam pun menjadi kendala utama.

Selepas dinyatakan purna dari dunia putih abu- abu, ia berbalik arah membidik kota Jogja. Sembari menikmati perjalanannya di kancah Keuangan Islam (semester 4) UIN Sunan Kalijaga, ia terus mengasah semangat menulisnya. Hasil goresan tintanya, pertama kali dimuat di media Minggu Pagi tahun 2012. Masalah finansial kerap menjadi formula tambahan untuk memicu ide- idenya.

Kini, Lulu sedang getol mencari penghidupan. Apapun yang bisa menghasilkan pemasukan tambahan, selama itu halalan thayyiban, ia coba mengusahakannya. Berbisnis pulsa dan makanan ringan sudah ia lakoni. Menjadi pekerja bebas- tak terikat adalah profesi yang ia idam- idamkan, lebih khusus lagi, menjadi penulis yang produktif. Amin…

Cerpen Karena Tuhan Tak Sedang Bermain Dadu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Bukan Untukku

Oleh:
Aku Ve, Veronica Angela. Seorang siswi populer di sekolahku, terkenal karena kecantikan dan kepintaranku. Aku seorang yang ceria, terbuka, dan suka keramaian. Malam itu hujan lebat, aku memutuskan diam

I Hate Because I Love You

Oleh:
Suatu pagi yang cerah di SMA ternama di Jakarta. Hallo, namaku Almeira Nadya Putri, panggil aja aku Nadya. Aku punya sahabat yang namanya Bella Gionniva, Bella nama panggilannya. Aku

Janda Perawan

Oleh:
Cerita ini berawal dari cerita kisah percintaan guru les komputerku, sebut saja dia adalah kak Padil, Kisahnya sangat unik dan menarik bagi aku bahkan kami semua yang mengikut pembelajaran

My Doctor is My Love

Oleh:
Namaku Belva Erly Christyna, aku memang gadis tunarungu, tapi kebahagiaan yang ku dapat begitu indah dan bertambah indah setelah aku bertemu dengannya, Deva Jonathan, seseorang yang membuatku dapat mendengar

Anehnya…

Oleh:
Satu, dua, tiga. Ah ya, tepat tiga tahun lalu namamu menjadi peran utama dalam drama cintaku. Juga tiga tahun sebelum tiga tahun lalu kau satu-satunya makhluk pencipta tawaku atau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *