Karenamu Aku Tahu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 August 2017

Aku terbangun di kelas yang cukup ramai. “Daa..” panggilku lirih.
Alda menoleh. “Kirana, udah bangun kamu? Eh tau nggak sih kamu tuh tadi tidur dari jam-nya Pak Budi, untung nggak ketahuan.”
“Kenapa nggak dibangunin?” Aku memaksa diri untuk bangkit. Kepalaku terasa berat. “Ugh,”
“Ya nggak bisa, kamu pikir aku nggak usaha bangunin? Udah sampai aku apa-apain kamu nggak bangun juga,” kesal Alda.
“Iya deh maaf,” ucapku. “Ayo ke kantin.” ajakku kemudian.
Aku tahu ini jam istirahat karena semua murid menikmati jajanannya dengan lahap di dalam kelas. Banyak pula di luar yang pacaran, eh! Bikin iri.

Alda menatapku seperti tak yakin dengan keadaanku. Dia berdecak sebentar lalu, “Oke baiklah.”
Duduk di kursi paling pojok sangat menyenangkan bagiku dan Alda. Ini merupakan moment tenang untuk menghayati semilir angin dan yang pasti… mie ramen kesukaanku.
Segelas big cola tak henti-hentinya aku seruput, bagiku istirahat di kantin adalah nuansa paling romantis yang pernah aku jumpai. Eh! Kok romantis?

“Cewek,” Sebuah suara mengejutkanku. Aku sempat menoleh, saat itu juga aku langsung tersedak ramenku.
“Uhuk.. uhukk.. ekhm. Uhukk,” Aku terbatuk-batuk dan hendak meraih big cola-ku, tapi sayang minuman kesukaanku yang hanya dia yang bisa menolongku sekarang sudah habis. Lebih tepatnya tinggal satu tetes.
Ya Tuhan, ini perbuatan siapa?! Aku menahan diri agar tak lagi terbatuk. Namun sia-sia.
“Aduh, tunggu sebentar Kak!” Suara tadi lagi-lagi membuyarkan kepanikanku. Sosok itu langsung berlari ke dapur kantin dan membuatkanku teh panas. Sialan, bikin malu aja!
Mau tak mau, aku harus meneguk sampai habis teh manis panas yang ia buatkan. Tenggorokanku rasanya sudah ringan, tenang, dan suaraku sudah teratur.

“Ekhm, eh Da! Ngapain kamu tadi nggak nolongin aku? Malah asyik main HP?” tanyaku sebal.
“Eh– Aku? Itu diaa..” Alda belum sempat melanjutkan kalimatnya, sosok itu telah memotong terlebih dahulu.
“Kenapa harus Kak Alda? Kalau yang bikin tersedakmu itu aku, ya udah aku aja yang tanggung jawab.” kata sosok itu, ah sok bijak banget. Siapa sih dia?
Belakangan ini aku sering terganggu olehnya, setiap kali bertemu dia sok caper, sebenarnya apa sih mau dia?
Orangnya cukup tinggi, aku mungkin cuma sebahunya, rambutnya hitam mengkilat, ada jambul ayamnya dikit, kadang-kadang jambulnya berubah jadi poni kuda. Kulitnya putih, dia memiliki bola mata coklat terang, bibirnya segar, hidungnya semancung pinochio, dan satu lagi, dia itu… adik kelasku.

“Kamu siapa?” tanyaku ketus. Parah banget, sekarang banyak yang ngelihatin aku.
“Ini saat yang kutunggu-tunggu Kak, kamu tanya… namaku.” katanya santai. Kenapa nggak punya malu seperti itu sama kakak kelas?
Dia membenahi kerah bajunya. “Namaku, Azka Devano Putra. Boleh dipanggil Azka, Devan, atau…”
“Stop!” seruku. Aku bisa saja melempar garpu di tanganku ini tepat ke mulutnya yang sedang menganga itu. Jijay!
“Kamu tahu kan aku siapa? Aku kakak kelasmu, dihormati bisa nggak?” tanyaku kesal.
Azka atau Devan itu kini malah duduk di sampingku. “Maaf ya Kak,” Dia menatap mataku. Sialan, ini maksudnya apa sih?!
Aku benar-benar ingin cepat pergi dari tempat terkutuk ini. Tempat ini bukan lagi yang dulu selalu ku nomor satukan, sekarang terganggu gara-gara makhluk di sampingku ini.
“Oke Azka, pergi sekarang atau aku nggak mau lihat kamu lagi?” Bagus Kirana! Pertanyaan sekaligus pernyataan pedas yang sudah gatal ingin aku lontarkan dari tadi.
“Kak Kirana Aqilla Titania ya? Aku kenal kamu kok Kak. Nggak usah kenalan balik juga nggak apa-apa. Sampai jumpa,” ucapnya beranjak dan melambaikan tangannya kepadaku saat sudah mulai menjauh.

Kini bola mataku langsung tertuju tajam pada Alda. “Alda! Aku mau tanya!”
Dia hanya menunduk sambil menghabiskan kuah sisa baksonya. “Apa Ran?” tanyanya, mukanya nampak pasrah.
“Kenapa tadi diem aja sih? Terus yang habisin minumanku siapa? Tega banget ya…” Bertubi-tubi pertanyaan aku lontarkan.
“Kamu nggak tahu Ran, tadi dia udah kasih kode ke aku biar nggak ambilin minum, terus big cola-mu langsung Azka habisin. Maafin aku ya Ran..” ujarnya. Tampangnya memelas, aku ini sebenarnya orang tidak tega-an. “Eh, tapi dia itu baik loh Ran. Adik kelas-adik kelas banyak yang ngincer, temen seangkatan kita, bahkan kakak kelas juga Ran.” Bodo amat. Perilakunya yang ngeselin kayak gitu bisa-bisanya banyak yang naksir?
“Iya mereka kan lihat cuma dari penampilan. Gimana kalau udah tahu sifatnya yang sama sekali nggak punya malu itu. Haha, bakal dijauhin dia sama mereka.” kataku sambil terbahak ringan.
“Nggak Ran. Semua orang udah tahu dan semua juga nggak ada yang berubah. Semua sama aja. Tetep suka,”

Suka sama Azka? Wajar, pengamen aja banyak yang menyukai, apalagi dia yang notabene sebagai murid SMA. Tapi kalau sampai ngefans? Kayaknya orang-orang macam itu harus dibawa ke psikiater, apa bagusnya? Semua yang dia pamerkan selama ini cuma fisiknya. Bakat atau prestasi? Aku belum lihat apa-apa.

“Kirana?” Sebuah suara memanggilku.
Suara yang tidak asing bagiku…
Suara yang dulu selalu temani setiap langkahku…
Suara yang mungkin, sekarang ini sudah bukan lagi bagian dari semua hal yang selalu ada dalam hidupku…
Aku masih bisa menghirup aroma parfumnya yang tetap saja masih sama..
RAKA?!

Aku menoleh dengan cepat. “I–yaa?” balasku gugup.
“Kamu sekolah di mana sekarang?” tanya dia. Sosok itu, ya.. Dia benar-benar Raka!
“SMA Patriot 5. Memangnya kenapa?” Ah bodoh, seharusnya aku sok kaget kenapa dia bisa di sini.
“Nggak apa-apa, ngomong-ngomong itu sekolahnya Mira ya.. Kenal nggak?” tanya dia lagi.
Mira?
“Mira Afista?”
Raka tersentak. “Benar,” jawabnya yakin.
Mira adalah adik kelasku yang bisa dibilang manis, imut, dan populer. Memangnya dia siapanya Raka? Pacarnya? Oh, bukan. Mungkin adik sepupu atau…
“Punya akun sosmednya?” tanya Raka. Pertanyaannya menjawab semua tanda tanya di pikiranku. Raka menanyakan aku sosmed Mira, berarti mereka baru kenal atau… Mira adalah orang yang disukai Raka.
Aku menggeleng pelan. “Dia cuma adik kelas, nggak akrab kok. Kenapa? Suka ya?”
Pipi Raka memerah. “Nggak. Bay the way, aku mau pindah ke sekolahmu minggu depan. Sampai jumpa, Kirana!” ujarnya lalu berlalu begitu saja, seperti angin.

Raka, Mira, sekolahku, pindah….
Sudah, cukup hentikan! Itu artinya Raka akan satu sekolah denganku, tidak peduli dia mengincar Mira, yang terpenting aku masih bisa melihatnya setiap hari. Raka Pramudito Nirakfa.
Mantan kekasih tercinta yang tak pernah dan tak akan bisa aku lupakan, aku suka semua tentangnya, mulai dari penampilannya, hobbynya, gaya bicaranya, dan cara dia membuatku nyaman. Aku suka Raka, kemarin, sekarang, dan akan begitu sampai seterusnya.

Sampai di rumah, aku terus memikirkan Raka. Mantan, oh tidak bukan! Sampai sekarang, dia masih kuanggap sebagai… Pacar.
Drrrttt… Drrrtttt…
“Halo?” tanyaku.
“Kak, aku Azka. Aku— Tuuttt.. Tuutttt..” Jangan tanya kenapa aku sekejam ini? Yah, aku muak dengan Azka. Aku langsung mematikan telepon darinya tanpa meminta persetujuan dari hati kecilku yang kadang tidak tega-an.

Sebuah pesan singkat masuk.
Tidak Diketahui: “Kak.. Aku Azka, aku cuma mau ngajak Kakak jalan malam ini. Ada waktu nggak?”
Me: “Nggak.”
Tidak Diketahui: “Aku mohon Kak, ada sesuatu penting yang mau aku omongin. Di depan sekolah tunggu aku. Please Kak,”
Me: “Ya.”
Oke, maafkan aku. Aku benar-benar nggak tega kalau lihat orang memohon-mohon kayak gini. Aku harus menurutinya, oke. Menyenangkan orang lain dapat pahala kok.

Dengan sweater ungu dari Raka yang selalu kupakai setiap keluar, aku berjalan menapaki trotoar basah akibat hujan. Dan sampailah di depan gerbang sekolah yang Azka maksud. Jarak rumah dengan sekolahku tidaklah jauh.
“Kak!” panggil Azka, suara deru motornya semakin mendekat. Dia membuka kaca helmnya. “Ayo naik,”
Aku menaiki di boncengan dan motor itu melaju juga dengan kecepatan sedang.
Ia memarkirkan motor di sebuah restoran gaya Jawa.
Disinilah aku sekarang, di restoran yang sama sekali aku belum pernah memasukinya. Azka merapatkan jaketnya, lalu ia mengusap wajah dengan kedua tangannya. Tiba-tiba ia melihatku dan tertawa ketika aku memperhatikan cara dia menghilangkan dingin.

“Mau pesan apa?” tanya Azka.
“Ini khas Jawa? Es teh ada kan pasti. Sama mie ramen,” kataku.
Ia mencentang makanan yang akan dipesan lalu diberikan kepada waitress.

“Ngomong-ngomong Kakak suka banget ya sama mie ramen?” tanyanya.
Aku memalingkan muka. Kami hanya berhadapan dan aku tidak betah harus melihat mukanya lebih lama. “Iya,” jawabku singkat.
“Kak maafin aku ya.. Aku cuma pengen kenal sama Kakak, kalau boleh tahu, kegiatan favoritmu apa?”
Hm, wajar tanya-tanya. Tapi kenapa aku semakin muak saja? Aku ingin malam ini berlalu dengan cepat. Ingat ya Azka, aku mau menerima ajakanmu kan cuma karena kasihan.
“Menulis artikel, baca novel,” jawabku lagi-lagi dengan singkat. Oh ya, ini kesempatanku untuk mengetahui apakah dia punya hobby yang unik atau prestasi yang membanggakan. “Kamu?” tanyaku akhirnya.
“Aku lebih suka basket. Tapi, Ayahku nggak mengizinkan, aku pernah patah tulang makanya dia nggak izinkan lagi. Dan sekarang aku fokus bidang musik sama sastra Kak. Lusa mau lomba band antar sekolah. Mau lihat?” Antara dia bertanya, menawarkan, atau menyarankan aku tidak bisa membedakan.
“Nggak minat.” jawabku singkat. “Lain kali aja ya, ngomong-ngomong kalau sastra kamu pernah berprestasi apa?” tanyaku to the point.
Pesanan datang. Lalu kami menikmatinya dengan lahap.
Sejenak aku tidak menemukan sosok Azka yang nggak punya malu, kalau face to face aku dan dia, kayaknya anak ini bisa lebih sopan.

“Aku sih dapat juara 1 lomba baca puisi Nasional setahun yang lalu waktu SMP. Terus novelku Kilau Matamu juga udah terbit Maret lalu Kak. Baca dong,” kata Azka.
Apa? Kilau Matamu kan novel favoritku. Aduh, kenapa nggak pernah lihat siapa pengarangnya ih? Aku cuma pinjam di perpustakaan sekolah. Konyol!
“Eh– Iyaa.. Kapan-kapan aku baca,” Sekarang kenapa aku jadi mulai halus sama makhluk sialan di depanku? Mana aku yang tadi siang ngomel-ngomel kepadanya? Ah.

Aku bingung. Harus melakukan apa, kecuali tetap dan terus melahap mie ramen di meja ini. Aku mengedarkan pandangan sejenak. Tap! Aku kenal. Aku kenal itu. Tapi… Siapa? Terlalu jauh dari jangkauan mata, aku menyipitkan mata. RAKA!
“Raka!” teriakku kencang. Namun, jaraknya benar-benar jauh. Aku sempat malu dilihat Azka dan orang-orang yang di sekitarku. Jangan pedulikan! Aku harus mengejar Raka. Aku tidak betah terbebani tentang Mira, aku akan menyatakan perasaanku pada Raka bahwa aku masih mencintainya. Aku harus! Apapun jawabannya, yang penting aku lega.
Aku berlari keluar, sepertinya Azka juga mengejarku. Persetan! Pokoknya Raka!

Yeah, aku berhasil menggapai Raka.
“Rakaa??!” seruku. Terlihat cewek manis di sampingnya, itu Mira.
“Ada apa Kirana?” tanya Raka yang nampak kebingungan. Jelaslah, kemarin ketemu saja baik-baik saja kenapa ini terlalu over?
Aku melirik ke arah Mira, tampangnya nampak sebal. Aku sengaja juga akan membuatnya menjauh dari Raka kesayanganku, “Ra-Rakaa.. Sebenarnya… Sebenarnyaa aku masih sayang sama kamu! Aku nggak mau kehilangan kamu Raka. Hiks,” Akhirnya. Keluar juga kalimat itu. Tapi kenapa? Kenapa aku melakukan hal sebodoh ini?
“Maksudnya apa Ran? Kamu tahu kan sekarang kita udah putus. Kamu minta apa lagi sama aku?” nadanya yang lembut, yang selalu hadir di mimpiku kini bisa kudengar lagi. Ya Tuhan.
“A-aku minta… kita… kayak dulu lagi…” jawabku terbata-bata.
“Maaf Ran aku nggak bisa, aku udah kecewa sama kamu yang nggak pernah hargain aku, kamu terlalu cuek, dan yah seperti yang kamu tahu sekarang. Mira adalah pacarku.” jelas Raka.
Penjelasannya cukup padat, dan sempurna! Bagus, sekarang aku menangis terisak di pinggir jalan tanpa tahu harus bagaimana. Raka dan Mira sudah berlalu. Mungkin aku sampah?

Tiinnn.. Tiiinnnn…
Ciiiiiiitttttttt. Brakk!!!
Sayup-sayup terdengar. “Kak.. Kak Kirana bangun Kak! Bangu…”
GELAP.

“Sayang.. Kamu udah siap?” tanya Raka. Aku mengangguk, ini adalah hari ulang tahun Raka sekaligus Raka mau merayakan happy anive hubungan kita yang ke 15 bulan.
Aku memakai gaun hijau lumut menarik pemberian Raka.
“I love you putri kesayangan,” ucap Raka.
“I love you to pangeran sejatiku,” balasku tak kalah gombalnya.

Kami memasuki ruang tengah rumah Raka yang menjadi tempat utama pesta ulang tahun ini. Teman-temannya sudah berkumpul meriah di situ.
“Selamat siang semuanya,” sapa Raka.
“Siang..” balas semua yang hadir. Aku sangat bahagia bisa berada di samping Raka saat ini.

“Kalian pasti kenal Aqilla kan?”
Semua hadirin bingung. Siapakah Aqilla?
“Oh sudah jelas Kirana!” celetuk Bayu, teman sekelasku yang juga hadir.
Semua malah bertepuk tangan. Aku tambah tersipu.
“Ya, jadi hari ini hari ulang tahunku yang ke 17 bertepatan dengan anniversary ke 15 bulan hubunganku dengan Kirana. Iya kan sayang?”
Aku mengangguk gembira.
Pesta berjalan meriah dan lancar, aku senang bisa kenal Raka.

Suasana terik mengundang haus, aku berjalan ke gerbang sekolah dengan lesu.
“Kirana!” panggil Raka. Dia sudah stand by di gerbang depan menjemputku.
Aku berjalan ria ke arah Raka.. Tapi semua tiba-tiba gelap.
Mataku terbuka. Ada Raka, Raka, Raka, Raka dan Raka lagi.
“Ra–Rakaa?!” Aku berusaha menggapai tangannya. Tapi yang terjadi adalah wujud Raka menjadi sosok Alda. Aku mencoba menyentuh tangan Raka yang asli di samping Alda, tapi sosok itu berubah menjadi Azka. Mata pedasku mencoba aku kerjapkan untuk melihat hal yang nyata. Yang di sana di mataku sekarang adalah Alda, Azka, Raka, Mira, dan satu sosok yang tak kukenal.

“Hei Kirana.. kamu udah sadar?” tanya Alda.
“Kak Kirana, kamu nggak apa-apa?” tanya Azka memastikan.
Sosok yang tak kukenal menghampiriku, “Maaf ya Mbak.”
Dapat kusimpulkan bapak-bapak itu yang menabrakku.
“Ini.. bukan salah bapak!” seruku tiba-tiba. “Tapi, salah dia!” Telunjukku menuding ke arah Raka.
“Aku minta maaf Ran, aku bakal bayar semua biaya rumah sakitmu dan tanggungan Bapak itu,” kata Raka.

Raka tetaplah Raka yang dulu. Dia yang berani bertanggung jawab meski bukan sepenuhnya ia yang salah. Kenapa kamu melakukannya, Raka? Sebenarnya kamu kembali denganku saja semua sudah akan normal. Aku tidak pernah menuntut macam-macam.
Sudahlah. Aku benar-benat penat.

Hoahm. Nikmatnya jika setiap hari libur seperti ini, kelas tiga sedang menjalani ujian praktek dan kelas satu dan dua diliburkan.
Kondisiku masih buruk, otakku mengalami pendarahan, kata dokter sedikit lagi aku bisa amnesia. Bahkan aku menginginkan itu. Aku ingin amnesia dan melupakan semua tentang Raka. Sudah! Aku nggak mau lagi mengorek tentangnya. Rasa ini berangsur pergi, hari ini kunyatakan aku move on, meskipun belum sepenuhnya. Hehe.

“Selamat pagi Kak.” Suara itu kini tak asing lagi untukku. Azka Devano Putra. Aku mulai bisa menerima Azka di kehidupanku. Dia yang menemaniku ketika aku sakit. Aku mulai nyaman dan menyayanginya.
“Pagi juga Azka, nggak usah pakai Kak,” ujarku.
Azka meringis kesenangan. “Hehehe, oke Kirana.”
Dia sengaja datang untuk membawakanku makanan kesukaanku, mie ramen.
Mungkin selama ini aku yang kurang bersyukur, ada Azka di sampingku. Sekarang, aku benar-benar bersyukur.

Nb: Jangan Pernah Menyia-nyiakan Orang yang Rela Berjuang dan Menghabiskan Waktunya Untukmu. Yang Lalu Biarlah Berlalu, Coba Sambutlah Hal yg Baru ~

Cerpen Karangan: Iffah Afkarin
Blog: iffahafkarin.mywapblog.com
Penulis awam yang belum tahu bagaimana cara tersenyum lepas menikmati karya.
Cek dan follow instagram @iffah.afkarin
Pin BBM D6555F92
Dan kunjungi blog http://iffahafkarin.blogspot.com
Terimakasih

Cerpen Karenamu Aku Tahu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aditya, Kau Matahariku

Oleh:
“Andre..” entah mengapa hatiku selalu tergetar ketika aku mendengar nama itu terucap. 5 tahun sudah aku melalui hari dengan segala obsesiku tentang dia. Dia yang selalu menghantui mimpiku sejak

Akhiri Saja

Oleh:
“Maaf ya Raf, gue gak bisa. Ini terlalu cepat buat gue. Gue gak mau semuanya buru-buru. Masih ada banyak waktu…” Damn! Denger dia ngomong kayak gitu, berarti dia nolak

For My Girlfriend

Oleh:
“Tasya bangun ayo cepet mandi Tasya bangun Tasya”. Terdengar Kak Anggi membangunkan Tasya dari depan pintu kamar Tasya. “Iya kak sabar aku baru bangun mau mandi dulu” jawab Tasya.

Luka

Oleh:
Luka hati, banyak orang mengartikan sebagai rasa sakit yang terkadang begitu menyentuh syaraf di otak bahkan hati itu sendiri, entah formula apa yang terdapat pada luka hati karena tidak

Hayati

Oleh:
Sang raja pagi mulai muncul dari tempat persembunyiannya, embun bertebaran membasahi daun-daun hijau, burung-burung mulai berterbangan, dan suara ayam jago pun terdengar. Muncul sesosok wanita tua di persimpangan jalan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *