Karma

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 21 August 2017

Bandung, 21 agustus 2104
“kai” teriakku memanggil kai yang tengah fokus memegang sebuah bola basket dan memainkannya, lelaki berbadan tegap dan berkacamata itu pun menoleh ke arahku, kulambaikan tangan ke arahnya seraya tersenyum, menyuruhnya agar berpindah tempat.
“hehe.. maaf ya lama nunggunya, abis tadi lagi seru banget debatnya” ucapku tersenyum lebar, ketika kai berada persis tepat di depanku.
Kai memutar matanya jengah “untung aku gak lumutan di sini”
“kebiasaan nih ni anak, kalo udah masuk dunia debat aja, beh.. yang lain mah lewat” sambungnya memprotes kegiatan estrakulikuler debat bahasa indonesia yang aku ikuti di sekolah tercinta ini.
“apa bedanya sama kamu kalo udah ketemu si oren mantul?” ucapku membalas perkataanya
“emang susah ya ngomong sama orang yang jago debat” ucapnya sinis, kemudian berlalu menuju ke parkiran

Belum lagi sempat kubalas perkataannya, kai memotong “oh iya ann, tadi aku liat ada tiang listrik di samping kamu siapa?, kek nya ganggu banget, ngehalang pemandangan” ucap kai seraya menghidupkan mesin motornya
“hah tiang listrik? Siapa?” tanyaku heran
Kai menghela napas panjang “tadi cowok yang rambutnya item, terus badannya kurus juga tinggi banget kek tiang listrik dan sok asik sama kamu dan anak anak debat yang lain, tapi yang paling aku perhatiin dia suka nyari perhatian kamu dan itu konyol”
“oh ya ampun, maksud kamu kak rick? Hahahaha kirain siapa, eng.. dia baik kok, gak segitunya juga kali” ucapku mulai menggoda kai
“iya, selain baik, dia ganteng juga kan”
“iya dia baik, ganteng, pintar, pikirannya juga bijak, sopan dan ngehargai orang lain banget” ucapku memanasi
Kulirik wajah kai, datar dan tak ada ekspresi di sana
“hayoloh.. hayoloh.. rasain” cibirku dalam hati
“ka.. kamu.. suka ya sama dia” ucap kai, kulirik wajahnya, ia mengalihkan pandangan ke bawah
“menurut kamu?” ucapku bertanya balik
“gak penting juga sih, soalnya aku yakin gak ada yang mau sama nenek lampir” ucapnya santai, sesaat kulihat, ekspresi wajahnya berubah, dengan sekejap ia mampu menjadi sosok yang ceria, seakan tak terjadi apa apa
“ugh.. anak ini, apa susahnya sih bilang cemburu” gerutuku pelan.
Aku mendelik sebal “awas loh nanti kalau aku hilang baru tau rasa”
“aku kemaren udah minta kamu jadi milik aku biar gak ilang, tapi kamunya gak mau, jadi kalau kamu hilang ya sukur deh” ucapnya santai, sembari menyindir peristiwa yang terjadi antara aku dan dirinya.

3 bulan silam, kala itu kai menyatakan perasaanya padaku, kupikir ia hanya bercanda, karena mustahil ia bisa suka padaku, kami sudah bersahabat dari kami kecil atau bahkan sejak aku dan kai masih di dalam kandungan, orangtua dan bahkan buyut kami pun juga bersahabat.
Namun semakin aku menatap matanya, tak ada satu pun jejak main main di sana, yang kulihat hanya mata hitam yang teduh, memancarkan rasa kepedulian dan kehangatan hati.
Aku ingin menerimanya karena kupikir aku juga merasakan hal yang hampir sama dengannya, tapi kala itu lidahku kelu dan terlintas pula pemikiran hubungan persahabatanku dengannya bilamana hubunggan kami berubah renggang, dan kami mulai menjauh karena suatu masalah, oleh karena itu itu aku lebih nyaman begini, dengan status sahabat dekat bersama kai.

“udah yuk naik” ucapnya yang membuyarkan lamunanku
“ann, aku yakin, suatu hari nanti, di tempat rahasia kamu bakal nerima aku” sambungnya ketika motor yang kami naiki perlahan berjalan, menembus hiruk pikuk keramaian
“tempat rahasia?” ulangku
“iya tempat rahasia”
“Tempat rahasia apa?, di mana?, emangnya ada”
“ada kok, dan.. aku namai tempat rahasia itu dengan masa depan”

Bandung, 21 juni 2106
“ka.. kamu beneran mau pergi ya?”
“iya kai, itu impian aku yang terbesar… kuliah di inggris, waw banget kan?”
“ah ia sih, kayaknya aku bakal ngerinduin kamu deh”
“iya, kayaknya aku juga bakal ngerinduin kamu juga, kamu tuh sahabat aku dari kecil, apa apa kita selalu barengan, gak nyangka bakal pisah”
“ha.. ha.. begitu ya? Kayaknya gak bakal berubah ya?”
“maksudnya yang berubah?”
“ann, inget gak, udah 2 tahun loh itu berlalu, jadi.. bagaimana pendapatmu?”
“eh..? ah.. aku.. aku.. ehm kai, aku belum bisa menjawabnya, maaf”
“oh.. ha..ha iya gak papa hati hati ya”
“kamu juga yaa, gak boleh deket deket sama cewek lain, nanti kamu ketularan virus”
“eh..? virus apa..”
“udah pokoknya gak boleh deket deket titik”

“maafin aku kai, aku egois, di satu sisi aku gak bisa nerima kamu, tapi di sisi lain, aku juga gak suka lihat kamu deket sama selain aku, …ma..maaf”

Inggris, 21 juli 2109
“ugh.. capek” ucapku seraya menghepaskan tubuh di kasur apartemenku
“oh iya, tadi dapat surat.. hm dari siapa ya” gumamku merogoh rogoh tas yang sehari hari setia menemaniku
“ahh.. dapat!!”

“hallo ann, apa kabarmu? Ah.. sudah 3 tahun sejak kepergianmu, Aku di sini sehat, tak banyak yang berubah semenjak kau pergi, semuanya berjalan seperti biasa, seakan tak ada yang berubah, dan aku menjalani hidupku seperti biasa, hampir tak ada yang berubah, aku menunggumu ann, entah sampai kapan, tapi aku akan menunggu, oh yaa bagaimana kabarmu? Apa kamu baik baik saja di sana? Pasti menyenangkan, ann, andai kita bisa seperti dulu lagi, berbaring di atas bukit menunggu senja hadir, menikmati keindahannya dan bermain.. cepatlah kembali ya, oh iya ann di sini, ada seseorang yang berhasil mengusikku, dia wanita, ana namanya, lucu ya? Namanya hampir mirip denganmu, namun aku tak mau terlalu dekat dengannya, aku tak mau hatiku berpindah, jadi.. cepatlah kembali ya! perasaanku akan selalu sama, ahh.. aku merindukanmu!
[Terkutuklah rindu yang teruntuk hanya bagimu!]
Salam hangat, kai
Bandung, 21 juli 2109

Jakarta, 21 november 2111
“ah maaf menunggu lama?” ucap seseorang yang menyadarkan ann dari lamunan
“e..eh? kai..? benarkan? Ini kamu” ucap ann, matanya membulat, memandang sosok yang ada di depannya
“ah ann, lama ya? Sudah 5 tahun” kai tersenyum
“i..iya, bagaimana kabarmu?” ucap ann berbasa basi
“aku? Baik.. dan bagaimana denganmu”
“ah.. seperti yang kau lihat, aku baik”
Ann menatap kai lama, ada sesuatu yang memenuhi pikirannya, selama 7 tahun, ia telah memutuskan, ternyata hatinya tak bisa berdusta, kali ini ia tak bisa menahan lebih lama lagi, ia tak mau kehilangan kai, ia sadar, kini hatinya telah jatuh, dan tak ada lagi alasan untuk menhannya lebih lama lagi, ia harus mengunggapkannya.

“kai”
“ann”
Ah.. kai tersenyum “silahkan, kamu duluan”
“e..eh? tidak apa apa, kamu dulu saja”
“aku.. aku ingin menyerahkan ini” kai menyodorkan sebuah kartu berwarna putih bersih
“apa.. apa ini? Undangan? Siapa.. siapa yang?”
“maaf” kai memotong
“aku kalah, aku tak bisa menjaganya, hatiku pindah begitu saja, aku pun tak mengerti mengapa, maafkan aku ann, tak mengapa, kini kau tak perlu terbebani” sambungnya
Ann menggeleng, ia menatap undangan itu, di sana tertulis dua nama, kai dan ana
“ah.. ha.. ha.. kamu.. kenapa.. bi..bisa” ann tertawa hambar, tulangnya seakan diloskan satu persatu
“aku.. aku.. aku” ann kehilangan kata kata, setetes kristal bening menghambur dari matanya
Ann terisak “aku.. ba.. ba-ha-gia” ucapnya
Kai menatap ann “ann, kamu baik baik saja?”
“kenapa.. kai? Ah aku terlambat rupanya.., haha ini balasan yang pantas untukku.., maafkan aku yang membuang waktumu selama hampir tujuh tahun”
“seharusnya aku yang minta maaf”
Ann menggeleng, ia mengelap air matanya

“kamu inget? 7 tahun lalu, kamu bilang suatu saat aku bakal nerima kamu di sebuah tempat rahasia, dan kamu.. namain tempat rahasia itu masa depan, dan ternyata semuanya bener, sekarang, aku nerima kepergian kamu, tenyata kita gak ditakdirkan ya”
Kai membisu..
“kai.. aku kehilangan kamu.. di sebuah tempat rahasia, yang kau namai dengan masa depan”
“tapi tak mengapa, salahku juga, membuatmu menunggu selama itu, 7 tahun bukan waktu yang singkat kai” ann kembali mengelap air matanya
“wajar jika hatimu berpindah, maaf kan aku, aku terlalu bodoh, tak mengapa kai, anggaplah ini hukuman buatku karena keegoisanku”
Ann menarik napas..
“aku.. akan datang, dan kirim salam untuknya ya, aku permisi” ucap ann seraya pergi dari cafe itu, meninggalkannya seorang diri dengan berbagai perasaan yang berkecamuk, masih terngiang perkataan ann tadi
“aku kehilangan kamu, di sebuah tempat rahasia, yang kau namai dengan masa depan”

Cerpen Karangan: Putri Amelia
Blog: putriameliahartono.blogspot.com
halo nama saya putri amelia bisa dipanggil putri atau putmel, seorang pecinta kucing yang lahir tanggal 21 november, maaf kalo ceritanya jelek, dan mohon kritikan dan sarannya ya!

Cerpen Karma merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penantian Bersama Senja

Oleh:
Senja sore ini tampak begitu indah, ditemani nyiuran kelapa yang tengah melambai-lambai di tanah pertiwi, hembusan angin menyejukkan hati, segenap alam ini sungguh tak tertandingi. Deburan ombak itu menyerbu

Tinggal Kenangan

Oleh:
Setelah beberapa bulan yang lalu suatu masalah merenggangkan hubungan indra dengan citralia, kini sampai sekarang mereka tak lagi terlihat dekat. Malah mereka lebih terlihat seperti musuh, jika bertemu atau

Ya

Oleh:
Di sebuah lautan (bukan lautan asmara lho, bukan juga lautan pensil, apalagi lautan luka dalam, sumpah bukan itu), ikan-ikan tampak melompat-lompat gembira. Ada yang lompat indah, lompat jauh, lompat

Teman

Oleh:
Sudah hampir sebulan ini Dina memperhatikan Adi yang sangat ramah itu. Walaupun Adi adalah kakak kelas, perilakunya tak menyebalkan seperti kakak-kakak kelas yang lain. Saat ini Dina duduk di

Bukan Dia Tapi Aku

Oleh:
Hari pertama masuk di kelas dua SMP aku, Rini, dan Naya masuk kelas dengan riang karena sudah hampir dua minggu kami tak bertemu. Ketika pelajaran dimulai masuklah Bu Asti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *