Kartika Untuk Andrian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 16 November 2016

Hari ini masih sama dengan hari sebelumnya. Dengan lagit yang masih biru bersih, matahari dan kecerahannya, dan juga ia pun masih terbit dari sebelah timur. Ya tentu hal itu masih sama. Dan akan tetap seperti itu setiap harinya. Tetapi rasanya sejak ia menghilang, bagiku sang mentari pun tak seindah sebelumnya. Tak sehangat sebelumnya. Dan hatiku pun suram muram dan rasanya mendung sejak dia tak ada. Dia yang memberikan matahari di hidupku sekarang tak ada lagi. Mungkin dia ada, tapi di tempat lain. Dia sudah menghilang dari hidupku. Dia yang telah memberikan senyuman sehangat matahari dan telah menghiasi hari di setiap harinya. Dan juga telah membangkitkan semangat diri. Senyumannya pun bagaikan embun yang menyejukkan, dapat menyejukkan hatiku. Tatapannya pun lembut dan dapat membuatku terpaku. Ya, dulu. Itu sudah lama. Lama sekali. Dan sekarang dia sudah menghilang.

Aku begitu kehilangan dirinya. Aku merindukan sosoknya. Rasa sakit yang menyelimuti hati ini selalu muncul saat aku merindukannya. Aku pun merindukannya setiap saat. Apakah dia akan kembali? Entahlah. Tetapi itu selalu menjadi harapanku. Hanya secercah harapan. Mungkin peluang bagiku untuk menemukannya kembali sedikit sekali. Tapi aku tak berhenti berharap. Karena hatiku masih untuknya. Untuk dirinya. Walaupun aku tak pernah memilikinya, bagiku melihatnya setiap hari saja sudah cukup. Kehadirannya saja sudah membuatku bahagia. Hhhh dia yang memberikan senyuman sehangat matahari itu, aku selalu berharap bisa melihatnya lagi. Andai saja waktu bisa kuputar, aku pasti memutarnya ke masa lalu. Aku rindu sekali saat-saat dia masih ada di hidupku, dan sebelum dia menghilang. Jika kutarik ke belakang..

Beberapa tahun lalu
“Hei berhenti!” teriaknya.
Aku pun tetap berjalan. karena kupikir ucapannya tidak ditujukan kepadaku. Lagi pula aku sedang terburu-buru menuju kelas.
“Hei berhenti! Alindia Kartika!”
Sontak aku kaget dan seketika itu pula aku pun menghentikan langkahku. Tak kusangka dia memanggilku, dan dia pun menghampiriku.
“Ini bukumu terjatuh.”
“Oh makasih ya. Bagaimana bisa kau tau namaku?”
“Lah kan udah ketulis di bukunya. Oh iya namaku Andrian Dwiharja dari kelas 7f” katanya sambil memperkenalkan diri.
“Ah gak nanya. Duluan ya, mau ke kelas nih”
Aku pun terburu-buru menuju kelas meninggalkannya yang berdiri mematung disana. Mungkin dia tak menyangka aku berkata seperti itu. Mungkin kesannya aku jutek atau bagaimana lah. Ah aku tak peduli.

“Tika, kok lama banget sih nyampe kelas?” kata Rina, temanku.
“Iya tadi bukunya jatuh. Yang nemuin sih tau tuh namanya Andrian Dwiharja kalo gak salah.”
“Yang bener? Ketemu dimana?” ujar Rina antusias.
“Itu di deket perpus.”
“Tik, kok biasa aja sih udah ketemu si Rian? Dia kan terkenal tau. Udah pinter, ganteng, jago maen basket lagi.”
“Masa? Emang ya?”
“Ih Tika, kemana aja sih? Kita udah 7 bulan sekolah disini, udah mau setaun juga, masa gak tau sih?” ujar Rina keheranan.
“Iya beneran, gak tau Rin.”
“Ah tau ah, Tika mah aneh.”
“Tapi aku kayaknya agak jutek sama dia tadi. Namanya juga lagi buru-buru. Tadi dia ngenalin diri aku malah bilang ke dia: ‘ah gak nanya’ ” ujarku polos.
“Ih Tika. Kamu tuh nyebelin banget sih. Itu mah parah, bukan jutek lagi.” Kata Rina kesal.
“Ah biarin ah”

Seperti biasa aku ke perpus setiap jam istirahat. Ini merupakan salah satu tempat favoritku. Ya, dengan tempat tenang seperti ini aku bisa konsentrasi membaca. Hhhh tapi teman-temanku tak begitu suka membaca. Jadi aku selalu sendirian kalau ke perpus.
Aku pun duduk di pojok kanan. Sendiri. Ya memang biasanya begitu. Kali ini aku membaca sebuah novel misteri. Cukup tebal memang. Tapi aku yakin akan membaca habis buku itu dalam waktu dekat. Tiba-tiba ada yang menghampiriku. Dan tak kusangka orang itu adalah: Rian.
“Eh, ketemu lagi.” Ujarnya
“Oh iya” jawabku cuek. “Tumben disini.”
“Ah enggak kok emang biasa kesini pas istirahat. Sambil merhatiin kamu dari kejauhan.”
“Maksudnya?” ujarku heran.
“Iya, aku tau kok kamu selalu ke perpus. Dan selama ini aku terus merhatiin kamu. Dan akhirnya gara-gara kejadian waktu itu, yang pas bukumu jatuh, aku bisa tau nama kamu. Kamu tuh kalo baca serius banget, kaya punya dunia sendiri. Dan aku suka ngelihatnya.” Lalu ia pun tersenyum. Manis sekali. Dan senyumannya itu sehangat matahari. Membuatku terpesona.
“Oh.” Jawabku singkat. Namun sebenarnya jantungku berdebar. Mungkin aku mulai menyukainya. Tak kusangka sudah lama ia memperhatikanku.
Aku pun melanjutkan membaca tanpa mempedulikan keberadaannya. Dan ia pun ikut membaca tepat di sampingku. Tidak tahukah ia bahwa sebenarnya aku gugup sekarang?
Tetapi tetap saja, ada sebersit kesenangan di hatiku saat ia di sampingku. Ya, aku senang hari ini.
Dan bel pun berbunyi, tanda waktu istirahat sudah selesai. Kami pun berpisah, pergi ke kelas masing-masing.

Seterusnya hingga kini aku tak sendiri lagi karena Rian selalu menemaniku ketika membaca di perpus. Aku senang, dan ini berlangsung sampai kelas 8. Apalagi kami di kelas 8 ini sekelas. Kami selalu berdiskusi tentang banyak hal, tetapi dia menjadi sainganku. Di semester satu memang dia ranking 1 dan aku ranking 2. Tapi selisih nilainya tipis sekali. Cuma beda koma. Aku tak peduli. Yang penting aku bisa belajar dengan baik.

Sekarang sudah semester 2. Tak terasa memang. Sekarang aku fokus belajar untuk mengikuti olimpiade matematika. Aku akan mewakili sekolahku besama Rian. Jadi hampir seharian aku bersamanya. Kami pulang lebih sore dari teman-teman lain untuk mempersiapkan lomba itu. Sering kali kami hanya belajar mandiri tanpa didampingi guru. Jadi kami sering berdua.

Pada suatu hari ia memberikan sesuatu kepadaku.
“Ini” ujarnya sambil memberikan sebuah buku.
“Apa ini? Apa maksudnya ngasih buku ini?”
“Ini diary, tulis aja keseharian Tika disini. Senang, sedih, atau kejadian apapun tulis disini. Mulai sekarang dia menjadi sahabat rahasiamu”
“Kok sahabat rahasia?”
“Iya, kan kalo kamu nulis disitu, nulis rahasia apapun dia gak bakal ngebocorinnya.”
“Oh iya ya, hehe. Makasih ya.”
“Iya sama-sama. Anggep aja hari ini hari ulang tahun kamu. Mulai sekarang hari ini tanggal lahir palsu kamu, ya. Ingat itu.” Ujar Rian serius
“Ah kamu ada-ada aja.”

Sehari sebelum lomba dilaksanakan. Tetapi entah mengapa Rian tak datang ke sekolah. Aku mengkhawatirkannya. Dia tak biasanya tak hadir tanpa alasan. Tiba-tiba ada kabar bahwa Rian pindah ke Amerika karena orangtuanya dipindahkan tugas disana. Sontak aku kaget dan aku tak kuasa menahan air mataku yang sudah membendung. Tetapi aku harus tegar dan tetap semangat. Karena pelaksanaan lomba hanya hitungan jam dan aku harus melaksanakannya walaupun tanpa Rian.

Seminggu kemudian
Pemenang lomba sudah diumumkan dan aku juara 3. Alhamdulillah. Tetapi hatiku sakit karena aku kehilangan Rian. Dan kini seperti dulu, aku selalu sendirian di perpus. Sambil aku mengenang kebersamaan kami dulu. Tak apa lah, walau hatiku sakit tetapi aku harus melanjutkan perjuanganku. Aku harus tetap belajar.
Tetapi hatiku sakit. Sangat sakit. Untuk mengobatinya aku mengarang sebuah puisi dengan derai air mata. Aku pun menulis puisi di buku diary pemberiannya.

Dirimu yang entah kemana
Entah dimana
Dan aku tak tau kapan
Bisa menemukan tatapan lembutmu lagi
Dirimu yang telah
Menjerat hatiku
Dan setelah itu
Kau tinggalkan
Seberkas kenangan
Dan kini
Aku mempunyai seberkas angan
Untuk mendapatkan tatapan itu lagi
Ya, tatapan yang membuatku terpesona
Ya.. hanya seberkas angan
Di dalam kediaman ini
Ditengah kesunyian hati
Dan kegamangan
Untuk menunggumu kembali
Dan jika kau kembali di sisi
Aku ingin mendapatkannya lagi
Ya tatapanmu
Tatapan lembut itu
Yang membuatku merindukanmu

Kini aku sudah menjadi mahasiswi di salah satu universitas negeri ternama. Dan aku masih belum bisa melupakan Rian. Meskipun tanpa pamit dia pergi, tetapi aku masih menyimpannya di hatiku. Selain menyimpannya di hatiku, buku diary itu pun masih ada. Kusimpan dengan rapi di laci meja belajarku. Walau isinya sudah penuh, aku masih menyimpannya dengan baik. Karena itu satu-satunya hadiah kenang-kenangan darinya. Dan sesekali aku membaca buku diary itu, untuk mengobati kerinduanku.

Aku pun pergi menuju kampusku seperti biasa. Tiba-tiba..
“Hei berhenti!”
Aku pun menghentikan langkahku. Dan seseorang menghampiriku.
“Ini bukumu terjatuh” ujarnya.
Aku terpaku untuk beberapa saat. Lalu aku teringat seseorang.
“Ini Rian kan? Andrian Dwiharja?”
“iya bener kok, Alindia Kartika. Maaf ya dulu gak sempet pamit. Aku gak nyangka kita bisa ketemu lagi disini”
“Iya. Udah pindah ke sini lagi? Dari kapan?”
“Dari kelas 12 kok. Tapi aku tetep kuliah disana. Sekarang lagi liburan.”
“Oh”
Untuk beberapa saat kami terdiam. Dia pun menatapku lekat. Lalu dia menghela nafas.
“Hhhh.. Tik, tau gak dari pertama aku ngelihat kamu aku udah suka sama kamu. Maaf dulu aku gak sempet ngungkapin ini, mungkin aku dulu terlalu pengecut. Dan sampe sekarang aku masih suka sama kamu. Selama ini aku gak bisa ngelupain kamu.”
“Sama kok. Aku juga gitu. Aku juga gak bisa ngelupain kamu selama ini. Apalagi senyuman kamu”
“Kalo gitu, mau gak nunggu aku lulus 3 tahun lagi? Lagi pula kita bisa ketemu pas liburan. Aku gak mau kehilangan kesempatan untuk yang kedua kalinya”
Aku pun mengangguk.
“Terima kasih sudah mau menungguku.”

Akhirnya penantianku sudah terjawab. Aku sangat bahagia bisa bertemu dengannya lagi. Tak apa aku menunggu 3 tahun lagi. Dan kini aku bisa melihat senyuman itu lagi. Aku bahagia. Minggu depan dia akan kembali kesana. Dan 3 tahun kemudian, kita akan kembali bersama, seperti dulu.

Cerpen Karangan: Nisa Nurul Asror
Facebook: Nisa Asror

Cerpen Kartika Untuk Andrian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesalahanku Mencintaimu

Oleh:
Dalam ketidaktahuanku akan sesuatu terkadang membuat dia marah atau mengejekku. Aku tau dia lebih tahu dan lebih dari paham dalam hal itu tapi setidaknya pengetahuannya itu tak ia gunakan

Edelweis

Oleh:
Barangkali kau melihatku hanya sekejap mata. Barangkali kau mengenalku hanya semaumu saja. Barangkali kau tak tahu tentangku. Ahh.. barangkali aku yang terlalu mendamba. Mungkin hati masih tertutup awan kelabu.

Unpredictable Unbelievable

Oleh:
Hari itu seperti biasa, Lisa mahasiswi baru itu datang ke kampus membawa kamera yang dikalungkan di lehernya. Apapun yang dirasanya menarik pasti tidak luput dari jepretan kameranya. Dari memotret

Aku

Oleh:
Aku adalah Nisa, seorang gadis yang lemah, aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Ibuku bekerja setiap paginya sebagai penjual kue. Beliau sendiri harus menafkahi aku dan kedua adikku karena

Alasan Untuk Bahagia

Oleh:
Jadi, dia kerja di sini? Tanya seorang laki-laki dalam hatinya sambil memegang kertas kecil bertuliskan alamat sebuah bangunan yang ada di depannya sekarang. Ia tersenyum, lalu melihat kertasnya lagi.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *