Kartini Selanjutnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Budaya, Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 30 January 2019

Aku tahu, jika sikapku ini akan mendapatkan pertentangan yang sengit, ketidaksetujuan yang lebih mendominasi. Tapi aku akan tetap melakukannya, meski seluruh dunia menentangku aku hanya perlu sebuah keyakinan besar yang tidak akan tergoyahkan oleh siapapun. ‘Bismillah’ Bisik hatiku.

“Lakukanlah nak.. Ini demi kebaikanmu.” Datu Martha, wanita tua yang paling dihormati di dukuh ini menatapku dengan mata sayunya, namun nada yang ia gunakan adalah nada diktator, seperti biasanya.

Bibirku masih terkunci, menunduk sembari menggenggam erat rok hitam polos yang kugunakan. Menunggu kalimat perintah yang dibungkus dengan irama lembut selanjutnya.

“Benar apa yang dikatakan datu nak Kartini, engkau harus menyetujuinya.” Bi Arti yang menjadi orang kedua mencoba membujukku. Aku menghela napas pelan, menguatkan tanganku yang bergetar.

“Maafkan saya, saya tidak bisa melakukannya. saya ingin memilih jalan hidup sendiri.” Detak jantungku berpacu mengiringi setiap kata yang kuucap.

Gendang telingaku mendengar dengan jelas dengusan kasar dari Datu Martha dan guratan tak percaya dari para orang tua, tetapi hal tersebut tidak akan menggentarkan keyakinanku.

“Engkau ingin membuat keluarga besar kita malu hah.” Teriak Datu Martha sembari berdiri cepat, sontak para orang tua juga ikut berdiri. Tinggal diriku yang duduk bersimpuh, menjadi objek tatapan ketidaksetujuan. Aku bagai seorang tahanan yang tengah menunggu vonis dijatuhkan.

Dari ekor mataku, aku melihat ibu yang menatapku nanar, antara sedih dan bahagia. Ya, beliau adalah satu-satunya orang yang mendukung keputusanku. “Datu… akankah kita perlu memikirkan ini semua, Kartini masih belia ia ingin mewujudkan mimpinya.” Ucap ibuku dengan pandangan memohon pada Datu Martha yang masih menyala-nyala.

Bukannya mereda, perkataan ibuku seolah menyiram bensin pada Datu Martha, wanita itu menunjukku dan ibu secara bergantian. “Saya tidak peduli Kartini masih belia atau tidak, Lamaran ini sudah kuterima. Untuk apa melanjutkan pendidikan jika akhirnya engkau akan menjadi wanita yang berumah tangga. Ini sudah menjadi takdir Kartini, keluarga Bapak Rahman orang yang termahsyur hidup engkau akan terjamin dengannya.”

Amarah tak mampu kutekan lagi, aku tidak bisa membiarkan budaya dengan pemikiran kolot ini terus berlanjut. Segera kuberdiri, menatap Datu Martha tanpa rasa takut, ‘Engkau tengah membela kebenaran’ Bisikku.

“Wahai datu, saya ingin memilih jalan sendiri, saya tidak ingin menikah dengan orang tua yang sepatutnya saya panggil ‘bapak’ itu-”
“TUTUP MULUT KARTINI.” Teriak Datu menyela kalimatku,
“Tidak Datu, ini memang faktanya, kekayaan dan kekuasaan tidak akan menjamin hidup saya nantinya. Wanita memang akan berumah tangga datu, tapi bukan berarti kita hanya diam. Kita juga punya hak yang sama. Saya ingin melanjutkan pendidikan agar kebodohan ini tidak semakin mengakar.”
“Apakah dengan pendidikan engkau akan kaya.?”
“Menimba ilmu bukan untuk harta datu, tapi untuk mengubah pola pikir kita yang selama ini mentok, budaya pernikahan dini ini harus dihentikan datu.”

Kulihat dada Datu Martha naik turun, menatapku dengan amarah yang membludak. “Berani sekali engkau ingin menghentikan budaya kita yang telah turun temurun ini Kartini.” Ucap Datu Martha sembari menggemelatukkan giginya. Kulihat ibu ingin menghampiriku, namun aku memberinya instruksi agar tetap di sana.

“Budaya seperti ini merugikan wanita datu, mereka punya hak yang sama. Masa remaja seharusnya dilakukan untuk bersenang-senang, bukan terperangkap dalam perjodohan yang tidak diinginkan. Hak kita dan para lelaki itu sama, wanita juga ingin bebas. Apa datu tidak kasian pada cucu datu yang telah datu nikahkan dan berakhir pada perceraian, perselingkuhan dan kekerasaan. Ini tidak benar datu.”

Hazelku menatap burung-burung yang tengah sibuk mengepakkan sayapnya, berputar kesana kemari. Menikmati kebebasan, tanpa ada sangkar yang menghalanginya.

Aku menarik napas berkali-kali, memantapkan hatiku. Kini aku berada di tempat yang jauh dari rumah. Meninggakkan masa kekangan yang sering kualami. Bermodalkan restu dan do’a dari ibu, aku meninggalkan semuanya demi cita-cita dan mimpiku selama ini.

“Kartini kudengar di kelas kita akan ada dosen baru.” Nadya, teman baruku yang berasal dari Jakarta, membuyarkan lamunanku.
Aku hanya tersenyum kecil, tidak seantusias Nadya yang kini sibuk berdandan. Seperti mahasiswi lainnya karena kabarnya dosen kali ini adalah orang yang muda dan tampan. Namun aku tidak peduli.

Aktivitas mahasiswi yang sibuk berdandan kini terhenti kala suara ketukan khas sepatu menggema, suara yang bising kini tergantikan dengan keheningan. Menanti siapakah gerangan yang akan muncul di balik pintu besar berwarna kecoklatan itu.

“Selamat siang semuanya, perkenalkan saya Fahrizal Haikal, dosen baru di sini.” Aku yang sedari tadi sibuk mencoret-coret buku coklat tua pemberian ibu terhenti karena Nadya yang terus menyenggol lengan kiriku, lalu mengedikan dagunya. Mengisyaratkan agar mataku menoleh ke depan.

Degg

Aku terpaku saat mataku berserobok dengan mata elang di depanku. Entah perasaan macam apa yang baru saja kualami saat ini. Aku seolah kehilangan cara untuk bernapas, jantungku yang memompa dengan kecepatan tak biasa. Jangan-jangan…

Cerpen Karangan: Daisy
Facebook: facebook.com/.daisycho

Cerpen Kartini Selanjutnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dady The Best

Oleh:
Namaku Sanji, aku anak tertua dan termuda ayahku, sebut saja anak semata wayang. Aku tinggal bersama ayah, ayah yang sedari kecil merawatku sampai aku sebesar ini. Sekarang aku duduk

Malaikat Pun Menangis Ayah

Oleh:
Sang fajar mulai bangun dari peraduannya, kicauan burung pun mulai terdengar saling bersahutan. Para ayam jantan sudah mulai bertengger dan berkokok dengan suara nyaring mereka untuk menandakan bahwa hari

Teddy Bear

Oleh:
Pagi yang membosankan bagi Milli. Ia harus pergi ke tempat laundry untuk mengambil boneka Tedy Bear miliknya yang membosankan. Entah mengapa ia sangat membenci boneka itu. “Huh, andaikan hari

Keinginan dan Permintaan

Oleh:
“Kak… Aku ingin main bola!” rengek Rino, adikku. Aku menatapnya pilu, dulu ia sangat senang bermain bola. Sekarang, ia hanya dapat duduk di kursi rodanya. Kakinya lumpuh, dan ia

Makannya Kecil Kecil Jangan Pacaran

Oleh:
Mia dan adi adalah kelas 6. Mereka masih sekitar umur 13-14. Adit selalu memperhatikan mereka berdua. Dia berpikir “mia dan adi masih kelas 3, kecil-kecil sudah pacaran….” waktu jam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *