Kata Kata Bintang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 10 October 2017

Apakah kau pernah merasakan?
Saat kau ingin berteriak tapi kau tau tak seorang pun di dunia ini kan mendengar…
Saat kau ingin bercerita tapi kau tau rasanya seperti tertahan di ujung bibir…
Jika memang pernah, itu lah yang sampai saat ini aku rasakan.

Hari yang melelahkan tentunya, dengan segala tekanan yang ada di sekitarku, dan seakan tekanan itu dapat membuatku terperosok ke dalam bumi sekian meter dalamnya. Angin berhembus pelan melewatiku, memainkan setiap inci rambut hitamku, andai saja aku seperti angin, tentu aku akan bebas berkelana melintasi bumi ini. Tapi aku tau andaianku pun layaknya angin, mustahil untuk aku raih.

Tak terasa 10 menit berjalan aku sudah sampai di istana kecilku, sebuah rumah milik orangtuaku tentunya, dan aku salah satu penghuni di dalamnya. Kubuka pintu itu perlahan, terdengar suara berderit yang cukup halus dari benda tersebut serta sebuah sapaan hangat yang datang dari malaikat tanpa sayapku, “Sudah lama ibu nunggu kamu Ra, gimana sekolahmu? Baik kah?”. Kulempar senyuman termanis milikku dan dengan semangat kuanggukkan kepalaku ke atas dan ke bawah. Kau tau apa yang membuatku paling merasa bahagia? Yaitu saat dengan indah malaikat tanpa sayapku meraihku dalam pelukannya, begitu manis dan begitu indah, damai. “Kalau gitu, Ara ganti baju dulu ya, habis itu kita makan siang, ibu udah masak makanan yang paling enak”. Tak urung juga kuanggukkan kepalaku untuk yang kedua kalinya.

Sore yang hangat tak lengkap rasanya jika aku tak pergi ke tempat yang biasa aku datangi, tempat dimana aku selalu menghabiskan soreku yang begitu sunyi. Kuayunkan kakiku menuju bangku yang biasanya menemaniku, yang setia memberikan cerita walau dalam diam. Tunggu, sepertinya aku melihat seseorang yang sudah menempati bangku milikku itu, tidak secara sah tetapi bagaimanapun juga bangku itu lah yang setiap sore menemaniku menghabiskan waktu. Ah ingin rasanya aku mengata-ngatai seseorang yang berani-beraninya mengambil tempatku itu, tapi aku tau aku tak bisa. Aku putuskan untuk pergi saja, tetapi… “Hey kamu, mau ke mana?”. Dengan bingung, kubalikkan badanku, dan kulihat ia berlari kecil menghampiriku. “Hai, namaku Bintang, oh ya aku sudah lama lho memperhatikanmu, dan baru hari ini aku berani menyapamu. Ngomong-ngomong nama kamu siapa?” Ah siapa sebenarnya dia, jujur sekali dia, tak pernah kutemui seseorang blak-blakan seperti itu. “Hei, kenapa diam saja, aku Bintang, kalau kamu?” Perlahan kutuliskan sebuah kata di atas tanah di dekatku, “MUTIARA”. Selesai menuliskan namaku, kuputuskan untuk pergi dari taman tersebut, dan samar-samar kudengar dia mengatakan sesuatu, “Nama yang indah, seindah pemilik nama tersebut…”

Sudah seminggu aku tak pergi ke taman itu, rasanya rindu sekali akan setiap detail taman yang sudah sejak lama menjadi tempatku menghabiskan soreku. Dengan hati yang mantap, sore ini aku putuskan untuk pergi ke taman, dan sejujurnya aku berharap aku tidak bertemu dengan laki-laki yang menurutku sangat blak-blakan dan bisa kukatakan tidak tahu malu itu. Ternyata harapan kadang tak sesuai kenyataan, kulihat ia seperti sudah lama menunggu dan saat aku tiba ia langsung menghampiri dan tersenyum kepadaku. “Hay Ra, lama gak lihat kamu, lagi banyak tugas sekolah ya?”. Kuanggukkan kepalaku dengan berat, aku memang tak biasa berbohong, tapi berbohong demi kebaikan tentunya boleh-boleh saja kan? “Oh ya, ini ada hadiah untukmu Ra, aku harap kamu senang ya dengan pemberianku ini”, kubuka kertas warna-warni yang membungkus hadiah itu, dalam sekejap bungkusan itu memperlihatkan isinya berupa sebuah buku dengan sampul bintang-bintang kecil yang menurutku sangat indah. Ada surat terselip di hadiah itu, “Jika kamu tak bisa menyampaikan isi hatimu dengan suara, bukankah dengan tulisan kamu bisa lebih bebas mengungkapkan perasaanmu. Bintang”. Aku tertegun, entah bagaimana ia bisa mengehui kondisiku, dan sejujurnya aku cukup terkesan dengan apa yang telah ia lakukan kepadaku. “Tak perlu heran Ra, jika aku sudah serius, informasi apa sih yang tidak aku tahu?”, setelah mengatakan itu ia tersenyum, dan apakah kalian tahu? Senyum itu, senyum yang nantinya dapat membuat hidupku yang gelap menjadi lebih berwarna, seperti bintang di pelukan sang malam.

Hari berganti hari, tak terasa sudah satu bulan aku mengenal Bintang. Dari dirinya aku belajar bagaimana mengekspresikan segala rasa yang ada dalam diriku ke dalam sebuah buku. Dengan dirinya pula lah aku melewati hari-hari indah yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Dimulai dengan perkenalan yang bisa dibilang tidak terduga menjadi sebuah hal terindah yang pernah kualami. “Kayaknya Ara sekarang lebih ceria ya?”, aku hanya bisa membalas pertanyaan malaikat tanpa sayapku dengan senyuman paling manis yang ku miliki. “Ibu seneng lihat Ara lebih ceria sekarang, lebih bersinar gitu rasanya kalau dilihat-lihat”, ah ibuku ini memang orang yang paling bisa membuatku tersanjung hanya dengan kata-kata sederhananya. Kucium kedua pipi milik malaikat tanpa sayapku itu, dan di dalam hatiku katakan aku sangat mencintainya, sangat.

Saat sore hari, sama seperti sore-sore sebelumnya, aku menemui dirinya di tempat biasa kami berjumpa, di taman tentunya. Dari tingkahnya aku tau bahwa ia sedang gelisah, entah hal apa yang mampu membuatnya segelisah itu.

Beberapa menit berlalu dan hanya kesunyian yang ada di antara kami berdua, ah kenapa aku harus merasakan sensasi itu lagi, sensasi saat aku merasa sendiri, sunyi. “Ra, besok aku harus balik ke Jogja, karena libur kuliahku sudah berakhir”. Apa-apaan ini, kenapa selama ini aku tidak tahu bahwa ia kuliah di Jogja, ah salahku juga aku tidak menanyakan hal itu kepadanya. Lantas kalau ia balik ke Jogja, siapa lagi yang akan menemaniku di hari-hariku berikutnya. Seperti bisa membaca pikiranku ia berkata, “Tak perlu takut Ra, walaupun aku di Jogja kamu masih bisa kok kirim pesan ke aku, percayalah”.

Diraihnya tanganku, ia memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru di atas telapak tanganku. “Untuk kamu, supaya kamu selalu ingat aku, kamu jangan sedih ya, aku janji aku bakal balik kok Ra”. Ku atap kotak di tanganku itu, dan entah ada sesuatu hal yang dapat meyakinkan diriku bahwa aku mampu untuk melewati hari-hari berikutnya. Kuberikan sebuah senyuman kepada Bintang, sebuah senyuman yang mengatakan aku akan baik-baik saja. “Syukurlah Ra, kalau gitu aku pamit dulu, sayonara Mutiara”. Kutatap punggung tegak yang mulai menjauh dariku, punggung milik seseorang yang sudah satu bulan ini memberikan warna-warna indah di dalam hidupku.

Sesampainya di rumah kubuka kotak pemberian Bintang tersebut, dan ternyata isinya adalah sebuah kalung berliontinkan sebuah bintang. Ada surat terselip di dalam kotak itu,

Dear Mutiara,
Kuberikan kalung berliontinkan bintang agar kau selau mengingatku sebagai seseorang yang pernah hadir menghiasi hari-harimu.
Ra, kamulah juara satu sedunia di hatiku..
Tanpa kata, hanya dengan cara sederhanamu mampu mengubah hal-hal yang biasa menjadi begitu mempesona…
Begitu anggun..
Begitu indah….
Dan, begitu berarti di hidupku…

Bintang

Ah, begitu indah kata-katanya itu, begitu mendayu, bukankah begitu kawan?

Cerpen Karangan: Wikan Kurniawati
Facebook: Wikan Kurniawati
Nama: Wikan Kurniawati
Nama panggilan: Wikan, Weekend
TTL: Yogyakarta, 19 Agustus 1997

Cerpen Kata Kata Bintang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Milik Kita

Oleh:
“anak muda jaman sekarang itu hanya mengandalkan cinta” sahut bunda dari ruang tamu dengan nada rendah. Itulah cara bunda mengingatkanku setiap diri ini ingin merasakan cinta pada lawan jenis.

Between You

Oleh:
Hampir dua jam. Aku duduk di bangku taman segi panjang yang hanya terbuat dari semen di samping pohon Akasia. Menunggu. Berharap seseorang yang ku puja itu datang menemuiku disini,

Kehilangan Rini

Oleh:
“Ini bukan salahku.” “Sudah jelas itu salah kamu, Wil. Ingat, kamu orang terakhir yang bertemu Rini. Setelah itu dia hilang entah ke mana, bak ditelan bumi.” “Iya bener tuh.”

Kita Bersatu Dalam Perbedaan

Oleh:
Namanya adalah Fahri Rahman, dia adalah salah satu siswa yang jenius, tampan, pintar menggambar, dan berbakat, tetapi sayangnya dia dijauhi oleh teman-temannya karena dia adalah seorang kidal alias dia

Perpisahan Tanda Pertemuan

Oleh:
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. aku pun tak tahu, mengapa harus ada perpisahan dikehidupan ini. sampai akhirnya aku tahu. disetiap perpisahan juga ada pertemuan. tetapi ada juga perpisahan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *