Kata Maaf Terakhir


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 3 April 2014

Dua sahabat karib, Karin dan Gina sedang berjalan menuju kelas mereka saat seorang cowok tiba-tiba menabrak mereka dari belakang.
BRUKK!!!!
“Aduh!” teriak Karin dan Gina bersamaan.
Mereka berdua terjatuh karena cowok tadi.
“Eh, maaf. Gue nggak sengaja,” kata cowok itu.
Karin yang kesal langsung berdiri dan menatap tajam ke arah cowok itu. Ia hendak memarahinya.
“Heh, lo kalau jalan lihat-lihat dong! Pake mata! Jangan nabrak orang sembarangan!” omel Karin.
“Iya. Gue tau gue salah. Gue tadi buru-buru. Gue kira udah telat.”
“Alaaahhh, alasan lo aja tuh.”
Gina yang baru saja berdiri dan sedang membersihkan roknya hanya diam saja mendengar sahabatnya mengomeli orang yang baru saja menabrak mereka. Saat mengangkat wajahnya dan melihat cowok yang tadi menabrak mereka, ia terpaku. Sepertinya ia pernah kenal dengan cowok itu.

Gina mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu dengan cowok itu. Hingga akhirnya ia mengingat satu nama.
“Randy!” kata Gina setengah terkejut juga senang.
Si cowok yang ternyata bernama Randy itu terkejut mendengar Gina memanggil namanya. Ia memperhatikan wajah Gina dengan seksama kemudian tersenyum.
“Gina.”
“Wah, udah lama banget kita nggak ketemu. Gimana kabar lo?”
“Baik. Lo sendiri gimana?”
“Gue juga baik.”
“Gin, lo kenal sama dia?” tanya Karin menyela.
“Iya. Dia teman gue, tapi kita udah lama banget nggak ketemu,” jelas Gina.
“Oh.”
“Eh, Randy kenalkan ini Karin. Dia sahabatku,” Gina memperkenalkan Karin pada Randy.
“Randy,” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Karin.”

Hari demi hari berlalu. Gina menyadari perubahan tingkah laku Karin. Ia memperhatikan gerak-gerik Karin yang sepertinya menaruh hati pada Randy. Apalagi sejak kejadian itu Karin dan Randy menjadi bertambah dekat. Kini Gina dan Karin tak lagi jalan berdua karena ada Randy.

Akhirnya Karin mencurahkan isi hatinya pada Gina. Sebagai seorang sahabat, Gina tentunya mendukung keinginan Karin. Tak hanya Karin, Randy pun curhat pada Gina dan mengatakan hal yang sama dengan Karin. Ternyata mereka punya perasaan yang sama. Gina hanya tersenyum pada Randy dan mengucapkan dua kata, “Kejar dia.”

Begitulah, Gina membantu Karin dan Randy memupuk cintanya. Semuanya berjalan dengan lancar. Cinta dan persahabatan.
Namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Suatu hari saat mereka bertiga sedang duduk di taman sekolah, tiba-tiba Gina merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya. Ia segera mengambil tisu dari saku dan mengusap hidungnya. Gina sangat terkejut melihat cairan yang ada di tisu. Darah. Gina terpaku menatap tisu yang dipenuhi darah yang terus menetes dari hidungnya.

Karin dan Randy yang menyadari kediaman Gina pun segera menoleh ke arahnya. Mereka pun terkejut melihat Gina. Tak ada satu pun yang bersuara. Mereka bertiga hanya saling menatap. Beberapa detik kemudian Gina jatuh pingsan.

Perlahan-lahan Gina membuka matanya. samar-samar ia melihat empat orang berdiri mengelilinginya. Perlahan-lahan penglihatannya mulai jelas. Keempat orang itu adalah ayah, ibu, dan kedua sahabatnya. Gina hanya tersenyum melihat mereka.
“Aku di mana? Tempat apa ini?” tanya Gina dengan suara lirih.
“Sayang, kamu lagi di rumah sakit. Karin bilang tadi pagi kamu pingsan di sekolah,” jawab ibunya.
“Aku sakit apa, bu?”
Ibunya tak segera menjawab. Ia menengok ke ayah Gina.
“Kata dokter kamu cuma kecapekan saja kok. Sekarang yang penting kamu istirahat saja, jangan sering panas-panasan,” jelas ayahnya.
“Oh, aku kira sakit parah.”
“Nak, kita keluar dulu yah. Kamu istirahat saja. Nggak usah pikirkan macam-macam,” pamit ibu Gina.

Mereka berempat pun keluar dari kamar tempat Gina dirawat. Setelah agak jauh dari ruangan Gina, ibunya pun berpesan pada Karin dan Randy.
“Nak, tolong jangan kasih tau Gina tentang penyakitnya. Tante khawatir nanti dia syok kalau dia tau penyakitnya berbahaya.”
“Iya, tante. Tapi, memangnya nggak apa-apa kalau misalnya nanti nggak sengaja dia tau? Bisa-bisa dia tambah syok trus marah sama kita,” tutur Karin khawatir.
“Itu urusan nanti. Kita bisa kasih tau Gina kalau dia sudah keluar dari rumah sakit. Pokoknya sekarang yang penting kalian berdua jangan bilang apa-apa ke Gina.”
“Oke, tante. Kalau gitu kita pamit, ya. Udah sore, nih.”
“Iya. Hati-hati, ya.”

Karin dan Randy tak pernah membicarakan penyakit Gina. Mereka selalu berusaha untuk tidak memberitahukan Gina mengenai penyakit yang dideritanya. Mereka berdua selalu bersama menjaga Gina. Namun, rupanya tak selamanya semua hal berjalan tanpa ada kesalahpahaman. Seperti yang terjadi di antara mereka bertiga.

Suatu siang, Gina dan Randy sedang duduk di bangku taman sekolah. Mereka sedang menunggu Karin.
“Ran, lo bener-bener sayang sama Karin?”
“Iya, Gin. Gue sayang banget sama dia.”
“Kalau gitu, lo jangan pernah buat dia kecewa. Jaga dia, ya.”
Tiba-tiba Gina pingsan. Ia jatuh tersandar di bahu Randy. Rupanya dari kejauhan Karin melihat kejadian itu. Ia menyangka Randy berselingkuh dengan Gina. Karin berlari sambil menahan air matanya yang membendung.
“Gin, Gina! Gina!” Randy panik melihat Gina pingsan dan segera membawanya ke UKS. Sementara itu, Karin yang salah paham dengan apa yang dilihatnya tadi merasa sangat kecewa dengan Gina, juga dengan Randy.

“Karin!” teriak Gina dari dalam kelas. Namun Karin terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan Gina.
Gina yang heran dengan sikap Karin mencoba untuk berpikir positif. Mungkin Karin sedang tidak ingin diganggu. Gina mencoba untuk berbicara dengan Karin saat Karin sedang duduk termenung di kantin.
“Karin, lo kenapa? Kalau lo lagi ada masalah, cerita aja ke gue. Mungkin aja gue bisa bantu,” ujar Gina.
“Nggak. Gue nggak apa-apa,” jawab Karin dingin.
“Lo kok gitu, sih? Perasaan dari tadi lo menghindar dari gue. Emangnya ada apa? Gue nggak ngerti, deh.”
“Eh, Gin. Lo nggak usah pura-pura nggak tau deh. Lo tega banget khianatin sahabat lo sendiri! Terus, sekarang lo pura-pura nggak tau apa-apa. Nggak ngerasa bersalah lo?” bentak Karin.
“Karin, serius deh. Gue bener-bener nggak ngerti omongan lo. Apa maksud lo dengan bilang kalau gue ngekhianatin sahabat gue?”
“Alaaahh… udah deh, ngaku aja! Nggak usah bohong deh lo! Lo selingkuh sama Randy, kan? Emang lo berdua cocok jadi teman. Sama-sama pengkhianat!”
PLAKKK!!!
“Eh, lo kalau ngomong kira-kira dong! Jangan sembarangan nuduh gue! Emangnya lo punya bukti kalau gue beneran selingkuh sama Randy?”
“Iya. Gue lihat dengan jelas waktu itu lo berduaan di taman sekolah. Mesra banget, dan gue juga ngelihat lo nyandar di bahu Randy.”
“Lo dengar, ya. Gue nggak pernah selingkuh sama Randy, apalagi sampe berduaan di taman sekolah. Sekali lagi lo nuduh gue, gue nggak akan segan-segan nampar lo kayak tadi. Bahkan mungkin bisa aja persahabatan kita berakhir.”
Gina langsung pergi setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Ia meninggalkan Karin yang menahan perih akibat tamparan Gina di pipinya. Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian di kantin, Karin pun beranjak pergi. Ia memutuskan untuk menyendiri di taman sekolah.

Saat sedang termenung sambil mengusap-usap pipinya yang masih terasa perih, Randy datang menghampirinya. Seperti halnya Gina, Randy pun tak tahu apa-apa soal tuduhan Karin mengenai dirinya yang berselingkuh dengan Gina.
“Rin, lo ngapain merenung di sini? Lagi ada masalah, ya? Cerita aja sama gue, mungkin aja gue bisa bantu.”
“…”
“Rin, lo kenapa sih? Ditanya kok nggak jawab, sih?”
“Eh, lo juga nggak usah pura-pura nggak tau apa-apa, deh. Gue udah muak lihat pembohong dan pengkhianat kayak lo!”
“Rin, maksud lo apa sih? Sumpah, gue bener-bener nggak ngerti. Please, lo jelasin baik-baik kalau lo lagi ada masalah sama gue. Jangan langsung marah-marah kayak gini, dong. Gue nggak tau apa-apa dan sekarang gue jadi bingung sama sikap lo.”
“Ternyata lo emang sama dengan teman lo itu. Sama-sama pembohong. Udah jelas-jelas ketahuan salah, masih juga nyangkal. Lo mau gue ngejelasin alasan kenapa gue marah? Lo dengar, ya. Dengar baik-baik. Beberapa hari yang lalu gue ngelihat lo sama Gina berduaan di taman sekolah. Lo selingkuh sama Gina, kan? Iya, kan? Ngaku aja, deh. Gue nggak suka sama pembohong.”
“Hah? Apa lo bilang? Gue selingkuh sama Gina? Yang bener aja dong. Gue nggak mungkin selingkuh sama cewek manapun. Karena yang gue sayang itu cuma lo aja, Rin. Sumpah, waktu itu kita lagi nungguin lo. Tapi tiba-tiba aja Gina pingsan, dia mimisan.”
“Halaaahhh… gue nggak percaya. Lo tau nggak, gimana rasanya dikhianatin? Sakit banget, Ran. Dan gue nggak mau jadi cewek bodoh yang termakan kata-kata gombal dari cowok kayak lo. Mulai detik ini, kita udah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Kita putus!”
Karin langsung pergi meninggalkan Randy yang diliputi kebingungan setelah menyatakan bahwa hubungan mereka berakhir.

Sore hari setelah pulang dari sekolah, Gina langsung mengurung diri di kamarnya. Ketika ia sedang berbaring di tempat tidurnya, handphone-nya bergetar pelan menandakan ada SMS masuk. Ia segera mengambilnya dan membaca pesan yang ternyata dikirim oleh Randy.

“Gin, bsok pagi gw tnggu d kantin.
Ad yg mw gw bcrain, ttg Karin.”

Gina langsung membalasnya.

“Jgn pagi, deh. Pas jam istrhat aja.
Lo tw kan gw sring telat k skul.”

Tak lama kemudian, balasan SMS dari Randy muncul.

“Oke deh. Trsrah lo aja.
Pkoknya bsok gw tunggu d kantin.”

Gina tak lagi membalas SMS Randy. Ia melanjutkan lamunannya. Tentu saja yang ada di pikirannya saat ini adalah kejadian di sekolah tadi pagi. Pertengkarannya dengan Karin, sahabatnya. Ia tak tahu bagaimana harus menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi. Sulit untuk meredakan emosi sahabatnya itu. Maklumlah, Karin memang gampang marah, dan butuh waktu lama untuk meredakan amarahnya.
Merasa tak bisa mendapatkan penyelesaian terbaik untuk masalahnya, Gina pun memutuskan untuk membahasnya dengan Randy. Ia pun kembali mengambil handphone-nya dan mengirim SMS ke Randy.

“Ran, bcranya skrg aja yah… lwat sms.
Gw dri td mikirin kjadian td pagi.
Gw udah brusha bwt nyari solusi terbaik.
Tp kyknya gw nggak bsa menyelesaikan ini sndri.
Gw btuh lo bwt mnjlaskn smwnya k karin.”

Gina sejenak memejamkan mata sambil menunggu SMS balasan dari Randy. Pikirannya tak bisa lepas dari pertengkarannya dengan Karin. Tiba-tiba ia merasa pusing, dan sejenak kemudian Gina telah tak sadarkan diri. SMS dari Randy terabaikan.

Randy menunggu Gina dengan gelisah di kantin sekolah. Ia sudah tak sabar untuk membahas kesalahpahaman yang menyebabkan keretakan hubungannya dengan Karin dan goyahnya persahabatan Gina dengan Karin. Namun, setelah sekian lama Gina tak kunjung datang. Akhirnya Randy memutuskan untuk mendatangi kelas Gina. Sayangnya ia pun tak menemukan Gina di kelasnya. Tak mungkin ia bertanya pada Karin, karena Karin masih marah padanya. Akhirnya ia bertanya pada ketua kelas, dan mendapat kabar bahwa Gina tak masuk sekolah karena sakit.

Sepulang sekolah Randy mendatangi rumah Gina. Dari pembantu di rumah Gina, ia mendapat informasi rumah sakit tempat Gina dirawat. Karena rumah sakit itu tak terlalu jauh dari rumah Gina, Randy pun langsung menuju ke sana. Ia langsung menuju ke ruangan Gina setelah bertanya pada resepsionis rumah sakit.

Sementara itu, Karin sedang duduk di teras rumahnya ketika tiba-tiba handphone-nya bergetar pelan menandakan ada SMS yang masuk. Karin mengecek hpnya dan mendapati nama Randy sebagai pengirim pesan tersebut.
“Mau ngapain lagi sih?” gerutunya. Karin membuka dan membaca pesan singkat dari Randy dengan setengah hati.

“keadaan gina prah, gw hrap lo
bsa k rmh skit skrg. Gw lg d rs
dkat rmh Gina. Plis, it’s for your
best friend…”

Karin merasakan matanya panas saat membaca pesan dari Randy. Perlahan air matanya mengalir membasahi pipinya. Segera ia berlari ke kamarnya untuk menganti pakaian. Kemudian ia berangkat ke rumah sakit yang disebutkan oleh Randy menggunakan sepeda motornya.

Setibanya di rumah sakit, Karin langsung mencari Randy. Ia mendapati Randy yang sedang duduk di depan ruangan tempat Gina dirawat.
“Randy!” teriak Karin begitu melihat Randy.
Randy menoleh ke arah Karin dan langsung berdiri. Raut wajahnya menyiratkan kecemasan.
“Ran, Gina di mana?” tanya Karin tak sabar.
“Di dalam.”
“Ortunya juga udah datang, kan?”
“Iya, mereka juga lagi di dalam.”

Tak berapa lama berselang, orangtua Gina keluar dari dalam ruangan Gina. Wajah mereka pun tampak sangat cemas.
“Tante, gimana keadaan Gina?” tanya Karin pada ibu Gina.
“Parah, Rin. Dia membutuhkan donor sumsum tulang belakang. Tapi sampai sekarang pihak rumah sakit belum bisa mendapatkannya. Karena nggak gampang mencari orang yang mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Sekarang kita cuma bisa pasrah. Saat ini hanya keajaiban Tuhan yang dapat menyelamatkan Gina,” jelas ibu Gina.
“Dokternya di mana, tante?” tanya Karin lagi.
“Itu, di ruangan yang ada di ujung koridor ini.”

Karin segera berlari ke ruangan yang ditunjukkan oleh ibu Gina. Ia hendak menemui dokter yang merawat Gina dan mengajukan diri untuk menjadi pendonor. Karin langsung masuk setelah mengetuk pintu. Ia mendapati seorang dokter yang agak tua sedang membaca sebuah buku tebal.
“Permisi, Dok.”
“Oh, ya. Silakan duduk. Ada yang bisa saya bantu?”
Karin duduk di kursi yang berada depan meja dokter itu.
“Begini, dok. Saya mau mengajukan diri untuk menjadi pendonor.”
“Apakah adik mau mendonorkan darah?”
“Bukan, dok. Saya mau mendonorkan sumsum tulang belakang untuk teman saya yang menderita kanker darah. Namanya Gina Ariana Pramesti.”
“Begini, dik. Donor sumsum tulang belakang itu resikonya besar.”
“Saya tau, Dok. Tapi ini demi sahabat saya.”
“Baiklah. Tapi kita harus melakukan tes terlebih dulu untuk mencocokkan.”
“Secepatnya, Dok. Kalau bisa sekarang saja.”
“Baiklah.”

Setelah operasi pendonoran…
Dokter yang menangani operasi pendonoran sumsum tulang belakang untuk Gina keluar dari ruang operasi. Di luar ruangan, kedua orangtua Gina beserta Randy menunggu dengan cemas. Tak berapa lama kedua orangtua Karin datang.
“Bagaimana, Dok? Apakah operasinya berhasil?” tanya ibu Gina tak sabar.
“Operasinya berjalan lancar.”
Nampak kebahagiaan di wajah orang-orang itu.
“Tapi…” raut wajah dokter berubah. Begitupun orangtua Gina dan Karin, dan juga Randy. “Karin tak dapat diselamatkan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan berkehendak lain,” jelas dokter.
Seketika ibu Karin menangis. Hari ini, tanggal 25 Oktober 2011. Tepat di hari ulang tahun Karin yang ke-17, ia pergi untuk selamanya.
“Orangtua Gina yang mana, ya?”
“Saya. Saya ibunya.”
“Ini, bu. Sebelum operasi Karin menitipkan sepucuk surat untuk Gina,” kata dokter seraya menyerahkan sepucuk surat.

Tiga hari setelah operasi, barulah keadaan Gina pulih. Tetapi ia belum diperbolehkan pulang. Saat ini Randy sedang menemaninya. Hal yang pertama kali Gina tanyakan saat ia tersadar membuat Randy gugup. Tak sanggup menjawabnya.

“Karin di mana? Dia masih marah, ya?”
“Nggak. Dia udah nggak marah, kok. Kamu tenang aja, ya,” kata Randy menghibur.

Sedih sekali rasanya. Ingin Randy menangis saat itu juga. Tapi ia harus tetap tegar. Ia tak boleh sedih di depan Gina. Ini belum saatnya Gina tau hal yang sebenarnya.

Beberapa hari kemudian, Gina sudah diperbolehkan pulang. Seperi saat di rumah sakit, yang ia tanyakan adalah Karin. Tentu saja orang tuanya dan juga Randy yang ikut menemani merasa bingung. Haruskah Gina mengetahuinya sekarang? Mereka bertiga saling bertatapan. Kemudian akhirnnya Randy mengangguk. Mereka pun masuk ke mobil dan pergi ke suatu tempat.

“Ran, kita mau ke mana?” tanya Gina pada Randy yang duduk di sebelahnya.
“Ke tempat Karin,” jawab Randy singkat.
Beberapa menit kemudian mereka memasuki area pemakaman. Tentu saja Gina kebingungan. Prasangka buruk meliputinya.
“Pa, kok kita ke sini sih?”
“…”

Mereka turun dari mobil dan menuju ke sebuah makam. Kelihatannya masih baru. Tanahnya masih berwarna coklat lembab dan masih diselimuti taburang bunga. Begitu melihat nama yang terukir di batu nisan, Gina jatuh terduduk di samping makan itu. Ia menangis. Sedih.

Karina Trias Dewanti
Lahir: 25 Oktober 1994
Wafat: 25 Oktober 2011

Randy mendekati Gina dan memberikan sepucuk surat. Gina membukanya, tangisnya semakin menjadi saat ia membaca isi surat itu.

Dear Gina,
Saat lo baca surat ini tentunya gw udah nggak ada. Gw harap lo nggak lagi nangis di samping makam gw. Karna pastinya gw bakal sedih banget. Gin, sorry ya. Gw udah marah sama lo. Maaf karna gw udah bikin lo susah. :)
Lo tw gak? Gw selalu berharap bisa melakukan suatu hal yang berguna buat orang yang gw sayang di hari ultah gw. Dan akhirnya keinginan gw terkabul. Semoga lo bahagia dan sehat selalu. Jangan sakit lagi, ya. Gw akan selalu ada di dekat lo. Di hati lo. Dan buat gw ini adalah ultah terindah di hidup gw.
Jaga Randy, ya. Maaf… :)
Your bestfriend,
Karin

“Kenapa, Rin? Kenapa harus lo yang pergi? Kenapa harus lo yang berkorban buat gue? Kenapa harus di hari ulang tahun lo? Kenapa?”
Randy yang melihat kesedihan itu mendekati Gina dan mengusap pundaknya. Randy berusaha untuk menenangkan Gina.
“Udahlah, Gin. Ikhlasin kepergian Karin. Dia pasti nggak mau lihat lo sedih kayak gini,” bujuk Randy.
“Tapi kenapa dia harus pergi secepat ini? Kenapa harus di hari ulang tahunnya? Gue bahkan nggak ngasih ucapan selama buat dia.”

Sore itu langit sedang mendung. Semendung hati Gina. Beberapa saat kemudian, gerimis mulai turun. Mereka pun beranjak dari makam Karin, kecuali Gina.
“Karin, maafin gue. Karena gue sakit, lo jadi repot. Bahkan lo ngerelain nyawa lo demi gue. Tapi, lo harus bahagia karena gue akan menjaga apa yang udah lo kasih ke gue. Gue janji nggak akan sakit lagi. Happy birthday, Karin. Maaf, gue nggak bisa ngasih apa-apa buat lo.”

End

Cerpen Karangan: Ryanti Maharani
Blog: rizkyyaniarputri.blogspot.com
Facebook: Rizky Yaniar Putri Ma’arif

Ryanti Maharani adalah nama pena yang digunakan oleh Rizky Yaniar Putri Ma’arif ketika sedang tenggelam dalam dunia fiksinya. Gadis kelahiran 17 tahun yang lalu ini sangat mencintai dunia sastra dan mengidolakan Andrea Hirata. Beberapa karyanya dapat dilihat di blog pribadi gadis yang biasa disapa Kiky ini.
kunjungi:
rizkyyaniar.blogspot.com
atau:
Rizky Yaniar Putri Ma’arif (Facebook)

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Cerpen Pengorbanan Cerpen Persahabatan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One Response to “Kata Maaf Terakhir”

  1. septyyolanda says:

    TERHARU GUE ,,,AMPE SEGINI NYA:’)

Leave a Reply