Katakan Saja Tidak Suka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 May 2017

“Aku sebenarnya… selama ini menyukaimu Ken.” Ujarku sembari menunduk menyembunyikan semburat merah di pipiku. Rasanya aku ingin mati saja sekarang, jantungku tak henti-hentinya berdetak dengan keras. Aku mendongakkan kepalaku memandangnya.
Ia melirikku sekilas, lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah lain. Wajah tampannya sulit diartikan.
Entah kenapa rasanya aku ingin menyumbat kedua telingaku dengan apapun saat ini agar tak mendengar jawaban darinya, maksudku mendengar jawaban yang mungkin saja tak kuinginkan.

Kuberanikan diri masih menatapnya penuh harap. Kulihat ia menghela napas panjang.
“Maafkan aku Ran. Untuk saat ini aku ingin fokus belajar dulu. Belum ingin pacaran.” Jawabnya akhirnya dengan singkat dan dengan nada datar lalu beranjak pergi meninggalkanku duduk sendirian di bangku belakang halaman sekolah ini.
Deg
Kata-kata yang tak kuharapkan malah keluar dengan bebasnya dari mulutnya.
“Iya, tak apa kok.” Ucapku pelan hampir tak terdengar berbicara sendiri, karena orang yang diajak bicara sudah menghilang.

Aku menunduk dengan mata berkaca-kaca yang kapanpun siap untuk menangis.
‘Dasar bodoh’ batinku menghina diriku sendiri.
Tidak
Tak boleh menangis, dia kan bilang ingin belajar, bukan berarti ia tak menyukaiku kan?

Setelah kejadian itu, aku dan Ken tetap bersikap biasa-biasa saja di sekolah seolah tak terjadi apapun. Namun memang, aku sedikit menghindarinya karena mengingat kejadian itu membuatku malu berada di dekatnya.
Tapi
Setelah seminggu kejadian itu berlalu, ada sesuatu hal yang terjadi.

“Ehem, kalian tau gak? Ken dan Arin pacaran lho.”
“Eh? benarkah? Mereka emang cocok sih.”
“Iya, mereka juga sering terlihat bersama dan sangat dekat sih. Jadi tak heran jika mereka jadian.”
“Emang kamu tau dari mana? Mereka juga sering mengerjakan tugas matematika bersama kan. Secara, Arin kan pintar matematika.”
“Iya, aku kan kemarin pergi dengan Arin mengerjakan tugas kelompok, lalu tak sengaja kulihat pesannya dengan Ken. Ternyata Ken nembak dia. Lalu Arin terima deh.”
Satu kelas sedang membicarakan Ken dengan Arin yang jadian ketika aku masuk ke kelas.

Apa benar?
Ah mungkin mereka salah.
Kuharap begitu..
Tapi,

Tiba-tiba saja Ken beserta Arin masuk ke kelas sambil berpegangan tangan. Mereka berdua terlihat bahagia.
Lihat itu, Ken tersenyum dengan tulus sembari menatap Arin. Diikuti dengan Arin yang tersenyum malu-malu.
Mereka lalu duduk dan Ken mengambil dan mendekatkan kursinya pada kursi Arin karena mereka tidak duduk sebangku di kelas.

“Cieeeeeeeee.. selamat ya yang baru jadian. Jangan lupa PJ, PJ nya.” Sorak sorai anak sekelas menggoda mereka.

Aku terdiam di tempatku, terpaku memandang mereka berdua.
Apa ini? Apa ini semacam lelucon?

Dan di sinilah aku sekarang, duduk di bangku halaman belakang sekolah sendirian, biasanya di sebelahku selalu ada Ken. Tapi sekarang dia punya kesibukan baru bersama pacarnya, Arin. Aku bahkan tak tau apa yang sedang kurasakan sekarang, entahlah.. rasanya hampa.
Padahal baru seminggu yang lalu Ken menolakku dengan alasan ingin belajar. Apa di dalam kamusnya, artian belajar berbeda? Aku bahkan ingin tertawa sekarang. Ya, aku sudah benar-benar tertawa, menertawai kebodohanku. Rasanya aku ingin menarik pengungkapan kata-kataku kemarin padanya. Kata-kata pengungkapan yang kususun dengan segenap keberanian dibuangnya begitu saja, seperti membuang kertas ulangan yang mendapat nilai jelek, tak berarti apa-apa.
Kini, aku tertawa dalam tangis, tangisku ternyata pecah sekarang, tidak seperti kemarin aku menahannya, kini yang tersisa hanya senyuman miris dengan hati yang masih terluka akibat goresnya.

“Tunggu Ken!” Teriakku memanggil Ken yang akan segera pulang.
Dia membalikkan tubuhnya berhenti dengan tatapan tak berdosanya
“Mana Arin? Mengapa tak pulang bersama?” Tanyaku berusaha untuk tersenyum sebaik mungkin.
Rasanya susah sekali untuk tersenyum dengan perasaan hancur seperti ini.
“Dia sudah pulang. Ada apa?” Kini ia bertanya
“Selamat ya.” Ujarku sambil meraih tangannya untuk bersalaman.
“Ya. Terimakasih.” Ucapnya sambil tersenyum.
Mungkinkah hatinya sudah hilang?
Tak berdosa sekali..
“Mengapa tak kau katakan saja waktu kau menolakku jika kau tak menyukaiku?” Perkataanku to the point langsung merubah ekspresinya.
Dan lucunya, ekspresinya berubah jadi datar.
“Aku tak ingin menyakitimu.”
Aku tertegun mendengar penuturannya.
Aku tak ingin menyakitimu katanya?
“Apa ini?, kau pikir yang kuungkapkan itu lelucon? Justru seperti inilah yang namanya kau menyakitiku! Kenapa waktu itu tak kau jawab saja dengan berkata jika kau tak menyukaiku? apa susah mengatakan kata-kata itu? Kau malah mencari alasan dengan bilang jika kau ingin belajar dulu dan tak ingin pacaran. Kau seakan menghina perasaanku sekarang! Maaf, kau seharusnya belajar untuk jujur pada dirimu sendiri. Kemarin bilang tak ingin pacaran lalu sekarang malah pacaran dengan yang lain. Jangan jadi munafik, kumohon. Alasanmu benar-benar lucu.” Ucapku panjang lebar lalu mengusap air mataku yang tak berhenti mengalir dari tadi.
“Apa di kamusmu, artian belajar berarti belajar mencintai yang lain?” Tuturku lagi sembari terkekeh pelan sebelum benar-benar beranjak meninggalkannya sendirian di lapangan sekolah.

Jangan menyakitiku dengan alasan lain
Aku tak akan menaruh dendam padamu, kok
Berjanjilah untuk belajar katakan apa adanya…

Cerpen Karangan: Melliaty Yopina Pratika
Facebook: Meliyati

Cerpen Katakan Saja Tidak Suka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Iris (Part 1)

Oleh:
Apa yang akan kalian lakukan, jika seorang wanita berusaha mendekati kalian? Menjauh? Ya, itu mungkin pilihan sebagian besar laki-laki. Termasuk aku. Aku pun tak mengerti mengapa begitu pada awalnya.

Tiga Bulan Lagi

Oleh:
Tik, tik, tik, Suara gemericik hujan, membasahi teras rumahku malam ini, suasananya sangat-sangat dingin membuatku semakin malas untuk makan malam di bawah bersama orangtuaku, dan lebih memilih untuk diam

Manipulasi

Oleh:
Manusia adalah makhluk yang sangat terlatih untuk memanipulasi segala sesuatu. Begitu nyatanya, banyak wanita yang berkompetisi menarik lawan jenisnya dengan manipulasinya. Trik manipulasi itu dengan cara merubah hitam menjadi

Terbelahnya Hati Daku

Oleh:
Saat mentari mulai menampakkan wujudnya, semua makhluk memulai aktifitasnya. Daku yang masih duduk di sekolah negeri Yogyakarta segera bergegas ke sekolah guna menuntut ilmu. Hari demi hari daku lewati

Teristimewa

Oleh:
Semua berawal dari kesalahanku yang terlalu peduli akan setiap detail situasi, hingga pada suatu siang yang terik, aku menempatkan pandang pada sebuah objek spesial di antara objek lainnya. Hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *