Kau Ingat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 17 March 2016

Setiap hari ada sebuah bayangan dari mataku yang begitu jelas, bahkan bayang itu tersenyum, sebuah bayangan dari seseorang laki-laki yang selalu aku perhatikan. Dia… Laki-laki yang telah menjebakku dalam pesonanya, memiliki wajah yang tampan dan sering menjadi pusat perhatian, apakah karena itu mataku tidak pernah lepas dari bayangannya? Mungkin tidak, karena dia pernah menolongku.

Rutinitas yang sekarang aku jalani adalah belajar, mahasiswi tingkat dua yang masih harus berkutat dengan banyaknya tugas yang dosen berikan setiap harinya. Melelahkan memang, tapi inilah yang harus aku jalani. Hari ini matahari memang belum menunjukkan cahaya panasnya, sebab awan yang menutupi matahari untuk tidak memperlihatkan cahayanya. Aku bersama dengan temanku duduk dan menikmati makanan di kantin kampus, tidak ada yang spesial hanya makanan ringan dan minuman dingin.

“Yu… Tugas yang diberikan oleh dosen sudah selesai belum?” aku sedikit menoleh pada sumber suara, Hani. Teman yang sangat dekat denganku yang setiap harinya selalu menanyakan tugas sudah selesai atau belum. “Sudah, kenapa? Ingin menyontek lagi?” ejekku, ya.. Tidak bisa dipungkiri saking dekatnya ia selalu saja menyontek tugasku, dan bodohnya aku selalu mengizinkan. Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecut.

“Ah… kau memang paling perhatian padaku,” Hani mulai merapatkan tubuhnya dan tangannya mulai menggelayut manja di tanganku, dan aku hanya bisa menggelengkan kepala, sebab jika permintaan Hani tidak dituruti maka ia akan menangis sejadi-jadinya detik itu juga. Ku berikan tugasku padanya, kemudian aku berdiri untuk pergi dari kantin yang ramai oleh mahasiswa-mahasiswi.

“Mau ke mana? Perpustakaan lagi?” Hani menoleh dan bertanya seolah tahu ke mana aku akan pergi, Hani sangat tahu bagaimana sifat dan kebiasaanku, namun Hani tidak pernah tahu alasan sebenarnya aku selalu pergi ke perpustakaan, yang Hani tahu aku hanya belajar dan membaca buku di sana dan karena itu Hani tidak pernah ingin pergi ke perpustakaan, walaupun hanya mencari buku, karena menurutnya di perpustakaan terdapat orang-orang aneh yang hanya membaca dan dilarang untuk berbicara apalagi tertawa, aneh bukan?

“Iya, jadi jangan mencariku lagi oke..” jariku membentuk hurup o untuk membuatanya mengerti, dan Hani sangat mengerti itu, aku mulai berjalan kembali ke tempat tujuan. Perpustakaan, tempat yang paling aku sukai selain kelas, karena dia selalu berada di perpustakaan untuk sekedar membaca ataupun mencari referensi untuk tugasnya. Dia.. Dion, laki-laki yang mampu membuatku gila, hanya untuk memikirkannya saja aku selalu tertawa ataupun senyum sendiri. Aku mulai memperhatikan Dion saat berada di bangku SMA, saat itu aku melihatnya sedang membaca buku, saat itu dia begitu bercahaya mengalahkan cahaya yang ada, dan semenjak itu, aku selalu memperhatikannya sampai saat ini.

Di perpustakaan hanya terlihat beberapa mahasiswa-mahasiswi yang jumlahnya saja bisa dihitung dengan jari. Aku mulai mencari buku untuk menunjang perkuliahan nanti siang, sebuah buku tentang adaministrasi dan sebuah novel yang berjudul ‘Secret’, buku yang menceritakan tentang cinta terpendam seorang wanita pada laki-laki meski wanita tersebut tahu bahwa ia tidak mungkin memilikinya. Miris memang, buku tersebut persis dengan apa yang sedang aku rasakan, sebuah bintang yang tidak mungkin aku gapai. Dalam novel tersebut, aku menyimpan surat cinta dan beberapa tulisan lainnya di sana, tulisanku hanya sebagian dari perasaan yang ingin aku ungkapkan padanya.

Aku mencari tempat duduk yang nyaman untuk membaca, namun pandanganku terhenti tatkala aku menemukan sebuah pemandangan yang sangat aku rindukan berada tepat di depanku. “Tampan dan manis,” pikirku, hanya duduk dan memandangnya, begitu menyenangkan hanya melihatnya dalam jarak 10 meter. Setiap hari dia tetap sama, tidak ada yang berubah sedikit pun, caranya membaca, menulis, bahkan berpikir. Senyumku seketika hilang ketika seorang wanita datang dan menghalangi pemandangan indahku.

“Akh, kenapa wanita itu duduk di sana, jadi tidak kelihatan kan,” sedikit mengomel untuk mengeluarkan kekesalanku, wanita itu Rara, wanita yang menempel seperti lem pada Dion, Rara adalah lalat bagiku, di mana pun Dion berada, pasti ada Rara di sana, akh.. Ya ampun melihatnya saja aku ingin mencakarnya.
“Sedang mengerjakan tugas dari dosen Yuli?” aku bisa mendengarnya, suaranya begitu dibuat-buat, Dion tersenyum, dia tersenyum hanya pada teman yang ia kenal, sedangkan padaku dia tidak pernah tersenyum, padahal kita teman satu kelas dulu, apa dia tidak mengenalku? Atau dia tidak pernah manganggapku? Menyedihkan memang, tapi kenapa aku masih menyukainya? Pertanyaan yang tidak bisa aku jawab.

“Ya, seperti yang kau lihat.” Dion hanya menanggapinya sekilas dan lanjut lagi berkutat dengan dunianya, seolah tidak ingin diacuhkan, Rara sedikit mencondongkan badannya mendekati Dion, “Mau ku bantu?”
“Tidak usah, ini juga hampir selesai,” Dion tidak menoleh, dan Rara hanya menganggukkan kepala lalu memundurkan badannya kembali ke posisi semula. Bagus Dion, jangan terima bantuan apa pun darinya. Sebuah getar menginterupsikanku untuk berhenti menjadi presenter acaraku sendiri, Hani menelepon aku menekan tombol hijau lalu menggesernya.

“Ya ni, ada apa?”
“…..”
“Apa? Oke, aku segera ke sana,”

Aku menutup telepon sesuatu yang lebih penting memaksaku meninggalkan Dion dan Rara yang masih duduk di perpustakaan, meskipun berat tapi yang satu ini lebih penting bagiku, aku gerasak-gerusuk (apaan gerasak-gerusuk?) seperti orang yang dikejar hantu, membuat kursi yang aku duduki menimulkan decitan sampai semua orang yang ada di perpustakaan memperhatikanku dan menyuruhku untuk tenang, namun semua itu tidak aku hiaraukan, kedua buku tersebut aku bawa dan bermaksud untuk meminjamnya, namun karena saking terburu-burunya, aku tersandung dan buku yang ku bawa terjatuh tepat di hadapan Dion.

Aku menoleh dan sedikit memberikan senyum sebagai tanda permintaa maaf, Dion tidak tersenyum hanya menoleh sekilas. Akh.. Biarlah, walaupun dia tidak membalas senyumku tapi setidaknya, dia menatapku. Aku berdiri dan meninggalkan perpustakaan dengan sesekali menggigit bibir bawah. “Akh.. Kenapa harus jatuh di depannya segala sih,” malu, itu yang aku rasakan saat itu. Dia datang lagi, perempuan yang selama ini diam-diam memperhatikanku, perempuan yang telah memberikan senyum di wajahku, perempuan yang selama ini aku kenal, namun dia tidak mengenalku, bahkan untuk menyapa pun tidak sama sekali.

Dia Ayu, atau nama panjangnya Ayu Nindia. Wanita yang sebaya denganku, sekolah di SMA yang sama dan universitas yang sama. Begitu lucu memang, wanita yang sejak kecil bermain denganku, bahkan aku selalu mengikutinya, tidak mengingat dengan baik siapa aku, dan sekarang dia selalu memperhatikanku. Dulu dia pernah menyelamatkanku ketika aku masih kecil, saat itu, aku berjalan sendirian di sore hari, melewati gang-gang yang sepi dan sedikit gelap, tidak ada jalan pintas ataupun jalan lain untuk sampai ke rumah, hanya jalan ini saja yang harus aku lewati.

Awalnya memang terlihat aman, namun saat tikungan kedua, ada tiga orang laki-laki yang berjalan berlawanan arah denganku, mereka terlihat menyeramkan bahkan bisa dibilang mereka seperti preman dengan tato di kedua lengan mereka. Mereka tersenyum dan saling merilik satu sama lain, semakin dekat, kini hanya tinggal berjarak 2 meter, aku tidak tahu harus berbuat apa, hanya menunduk dan jalan terus, “Hei kalian,” saat ketakutan melanda, suara khas cempreng anak perempuan terdengar begitu jelas, aku berhenti dan menoleh memperhatikan apa yang akan anak perempuan itu lakukan, dia tidak hanya sendiri, di belakangnya warga sudah bersiap untuk menyerbu, dan tanpa aba-aba preman tersebut lari dan disusul oleh warga yang mengejar mereka.

Anak perempuan itu berkacak pinggang dan tersenyum dengan begitu bangganya. Sejak kejadian itu aku mulai mengikutinya ke mana pun ia pergi dan kami bermain bersama setiap hari, namun aku harus pindah ke luar kota karena pekerjaan ayahku yang mengharuskan pindah. Dan sampai saat itu kami tidak pernah bertemu, sampai aku melihatnya di SMA. Saat ini pukul 10 pagi, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan mengerjakan tugas yang kemarin dosen berikan. Apa dia akan datang? Pikiranku melayang memikirkannya, biasanya dia akan datang untuk mencari buku dan setelah itu memperhatikanku dari jauh.

Setelah satu jam, dia datang kemudian duduk dan mulai memperhatikanku dengan buku yang hanya disimpan. Aku tidak melirik ataupun tersenyum padanya, terlalu jahat memang, tapi aku hanya ingin dia memperhatikanku. Rara tiba-tiba datang dan duduk di depanku, bertanya tentang apa yang sedang aku kerjakan saat ini, dan aku hanya menjawab seadanya, tersenyum, hanya itu yang harus aku lakukan, agar Rara berhenti bertanya. Namun Ayu tiba-tiba berdiri dan pergi dengan terburu-buru.

Ia sampai menubruk meja dan buku yang ia bawa jatuh di depanku, hanya diam dan fokus kembali pada tugasku, dalam hati aku begitu berontak ingin menolong. Tugas telah selesai ku kerjakan, tinggal membereskan buku yang sedikit berserakan, Rara sedari tadi sudah pergi entah ke mana. Tanpa sengaja sebuah surat dengan warna biru aku temukan di bawah meja, surat itu bertuliskan ‘untuk Doni’. “Untukku?” karena penasaran, aku membukanya, surat cinta?

“Maaf karena tanpa izin aku menulis ini. Sejak awal, aku menyukaimu. Dari matamu, kepribadianmu sampai caramu membaca buku. Entah kenapa hanya melihatmu membaca buku, aku begitu menyukaimu. Indah dan begitu sulit untuk dilupakan. Meski kau tidak pernah menoleh sedikit pun. Aku akan menunggu. Aku akan menunggu sampai kau melihat dan merasakan apa yang aku rasakan. I love you. Ayu Nindia.”

Aku berlari, mencarinya dengan berlari, mulai dari kelas, hingga taman. Namun aku tidak menemukannya, hingga sebuah suara yang sama menuntunku menemukannya, tanpa pikir panjang aku langsung menghampirinya.

“Hei.” dengan napas yang masih memburu, aku mulai bicara. Dia menoleh, begitu matanya beradu dengan mataku, matanya langsung membulat.
“Apa kau yang menulis surat ini untukku?” matanya berkedi-kedip, antara senang atau kaget aku tidak tahu.
“I.. Iya,” begitu terbata-bata apa dia gugup?
“Baiklah, ayo kita pacaran.” aku menghembuskan napasku, dia begitu kaget mendengar ucapanku. Aku sangat bahagia saat itu juga, senyum langsung mengembang dari bibirku, dan tanpa sadar aku memeluknya, sekali hanya sekali. Meskipun tanpa reaksi darinya tapi aku yakin seiring berjalannya waktu, dia akan tahu bahwa aku selalu bersamanya sejak dulu sampai sekarang.

Cerpen Karangan: Ayu Yasri
Facebook: Syamsi Ayu

Cerpen Kau Ingat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyum Sang Senja

Oleh:
“Aku mencintaimu, Gaza. Bukan karena tampangmu, tapi keluhuran budimu. Mungkin kau berpikir aku sama seperti gadis yang sering mengejarmu itu. Hinadina. Tapi aku tidak seperti mereka, aku tulus.” Kata

I Found You, Ciderella

Oleh:
“Nih!,” ucap Leo kepada Arka dengan menyerahkan selembar kertas. “Apaan?,” tanya Arka mendongkakkan kepalanya dengan menerima kertas yang di bawa oleh Felly. “Lu bakalan jadi ketua dalam penyelenggaraan hari

Anang Si Blontang

Oleh:
Siang ini warung pak Mistad sangat ramai, si “pawang” sekolah ini rupanya sedang kebanjiran rejeki. Sejak Kantin sekolah direnovasi, warung ini jadi idola anak-anak. Bu Mistad kewalahan meladeni para

Di Mabuk Cinta

Oleh:
“Hufht.. Bagaimana caranya memberitahu dia kalau aku menyukainya,” Kataku dalam hati di depan kaca sambil menggigit bibirku. “Kalau tidak ku katakan, aku tidak bisa memendam terlalu lama.” Hatiku terus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *