Kau Jatuh Cinta Kawan Dan Kau Cemburu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 January 2016

Tustel yang ku pegang terlepas dari genggamanku, demi melihat sesuatu yang membuat nyeri yang tidak ku pahami menohok tepat di ulu hati. Sore itu aku dan ketiga sahabatku, Rina, Idir, dan Kurnia berniat berplesir ke pantai yang berada di dekat pasar besar taman kayuagung. Sebelum pikiran kalian terpusat kepada pantai yang hendak ku ceritakan, ada baiknya aku jelaskan sedikit tentang pantai yang ku maksud di sini. Tanyakan kepada sepuluh orang tentang pantai, maka jawaban mereka kesepuluhnya tak akan jauh dari, Laut, biru, dan mungkin ada sebagian yang berpikir tentang nyiur. Oleh karena itu sebaiknya kalian singkirkan semua pikiran itu, karena pantai yang ku sebut di sini bukanlah pantai seperti yang ada di dalam pikiran kalian.

Pantai yang ku maksud di sini adalah pinggiran sungai kayuagung yang membelah kota kayuagung menjadi dua, bukan sekehendak hatiku menyebut pinggiran sungai dengan sebutan pantai. Aku hanya mengikuti penyebutan warga sekitar yang diamini oleh pemerintah setempat dengan memasang tugu nama PANTAI di sana, bahkan yang lebih mengherankan lagi ada embel-embel bahasa inggris mengiringi penamaan pinggiran sungai tersebut yaitu LOVE! Ya PANTAI LOVE itulah namanya, jangan tanyakan padaku kenapa namanya seperti itu, aku pun tak tahu. Yang jelas tempat itu adalah tempat rekreasi masyarakat seputaran kayuagung.

Sepanjang pinggiran sungai itu terlihat beberapa muda mudi berjalan bergandeng tangan, berfoto, atau sekedar duduk-duduk di bawah payung batu yang disediakan pemerintah daerah sebagai tempat istirahat. Aku dan ketiga sahabatku agak sedikit berbeda, kami berangkat ke sana dengan tujuan menyusun karya tulis tentang alam yang diberikan guru biologi kelas kami. Adalah Rina, gadis periang namun galak luar biasa itulah yang memberikan ide untuk berfoto di sana. “Sudah sampai tempat wisata kenapa tidak sekalian plesir?” katanya, jadilah kami berempat berfoto di sana dengan bermodalkan tustel pinjaman, dan roll film hasil patungan.

Rina bersender di bawah pohon beringin raksasa yang ada di sana ketika aku sedang mematut-matut lensa tustel demi mendapatkan posisi yang pas untuk memotret Idir dan Kurnia. Luar biasa pose mereka melebarkan tangan di ujung perahu yang tengah bersandar di pinggir sungai. Nyatalah sudah kedua anak ini terlalu banyak menonton VCD film titanic agaknya. Saat itulah tiba-tiba di dalam lubang intip tustel yang ku pegang terlihat Yuana dan Kak Hen sedang asyik tertawa di atas perahu yang akan bersandar, gembira betul nampaknya. Entah kenapa genggamanku pada tustel kehilangan kekuatannya, hampir saja tustel terjatuh kalau saja bukan karena tali tustel yang ku bebatkan di lengan kananku menahan kejatuhannya. Yuana melihatku, lalu melambaikan tangan.

“Di kamu ke sini juga? Sama siapa?” tanyanya sambil turun dari perahu yang sudah selesai bersandar. Aku hanya memonyongkan bibirku ke arah Idir dan Kurnia, untuk menjawab pertanyaan Yuana. “Bertiga saja? Tidak sama pacarnya?” Yuana bertanya sambil tertawa. “huh, pacarku belum diproduksi, masih dalam tahap konstruksi,” jawabku sekenanya, entah kenapa aku agak malas bertemu dengannya sore ini. “berempat, tuh sama Rina juga” sambungku.

“Ah Yuana rupanya, sama Kak Hen juga. Biasalah Na, bisa apa tiga Bujang kampung tak laku ini tanpaku” Rina menyahut sambil mendekat. “lihat saja kelakuan dua bujang di ujung perahu itu, macam beruk tukang panjat kelapa saja tingkahnya.” Rina tertawa riang. “oii, tak laku pun bukan tak laku, tapi tak mau!” tukas Kurnia menyela, tak senang rupanya dia disebut bujang tak laku, Idir tak menyahut hanya memonyongkan bibirnya di belakang Kurnia.

“aii inilah rupanya Rudi yang suka menamaiku liliput itu Na?” Kak Hen tiba-tiba bertanya sambil tertawa, salah tingkah aku dibuatnya. “Ai.. Hanya bercanda Kak, jangan dimasukkan ke hatilah.” aku menjawab sambil senyum garuk kepala. “Haha.. Tak apalah Di, memang benar pula dibanding kau dan Kurnia, kakak ini macam liliput saja rupanya.” Kak Hen menjawab sambil memukul keningnya.

“tinggi bambu Kak Hen, tinggi tapi kosong, murah pula tak laku dijual, pendek pun pendek bonsai, indah rupawan mahal harganya.” Rina menimpali. “Ada-ada saja kau ini Rin, ayolah Kakak pamit dulu, hendak mengantar Yuana pulang, tak enak sudah sore” Kak Hen pamit, Yuana menurut saja, sambil tersenyum pamit pada Rina, tapi mencibirkan bibirnya kepadaku. “Ayolah Kak Hen, kami pun hendak pulang, menuruti kemauan ketiga bujang ini tentu sampai subuh kami di sini tak pulang-pulang” timpal Rina

Aku, Rina, Idir, dan Kurnia kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan kepergian Kak Hen dan Yuana, kami berjalan ke arah pasar kayuagung, di sana kami bisa mendapatkan angkot dengan lebih mudah di pangkalannya. Aku tak seberapa banyak bicara di dalam perjalanan, entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal di hati, menggelayut di pikiran. Seolah ada rasa sakit yang menohok di ulu hati, aku pun tak paham. Malam itu, aku berjalan sambil menenteng gitar di trotoar jalan depan kosan kami. Tujuanku jelas, taman kota.

Malam ini taman kota sepi saja, tak seperti malam minggu yang selalu dipenuhi pasangan muda-mudi, tapi sinar bulan empat belas menerangi sepanjang taman. Aku duduk di sebuah dinding yang dibentukkan lubang di tengahnya berbentuk bulat, di samping dinding berlubang kotak. Ku petik gitar sekenanya. Sebenarnya Idir dan Kurnia mengajakku tadi ke pasar malam, tapi entah kenapa malam ini aku ingin sendiri saja, sehingga ku tolak ajakan mereka. Rina tadi katanya hendak menyelesaikan tugas matematika tadi siang, sehingga tak dapat pula ikut bersama Idir dan Kurnia.

Aku bersenandung pelan diiringi petikan gitar, entah lagu apa yang ku nyanyikan aku pun tak terlalu sadar, pikiranku sedang melayang mengembara ke luar dari jasadku. Ku hela napas dalam-dalam mencoba menghilangkan rasa sakit yang sejak tadi sore menghimpit ulu hatiku. Ada apa sebenarnya denganku saat ini, merasa kehilangan namun tak ada yang hilang saat ku periksa isi kamarku yang tidak seberapa luas itu. Merasa sakit pun saat ku tekan dengan jari tak ada rasa sakit di sana meski saat ku lepaskan jariku terasa nyeri juga. Ah.. Semua ini membingungkanku.

Tiba-tiba tepukan pelan di pundakku menyadarkan lamunanku, rupanya sejak beberapa saat lalu lagu yang ku nyanyikan tak senada dengan gitar yang ku petik. Rina rupanya, gadis itu langsung duduk di tembok berlubang kotak di sampingku. Hening sejenak, tak ada yang bersuara di antara kami berdua, hanya suara jangkrik dan deru sepeda motor yang sesekali melintas di jalan raya yang tak seberapa jauh. Rina memecah keheningan dengan kata-kata yang mengejutkanku.

“Kau jatuh cinta kawan… Dan kau cemburu.”

Cerpen Karangan: Daroel27
Facebook: Eddy Daroel

Cerpen Kau Jatuh Cinta Kawan Dan Kau Cemburu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Inikah Yang Dinamakan Sahabat?

Oleh:
“Sahabat adalah orang yang selalu menemani kita dalam suka maupun duka” adalah kata yang tak asing lagi untuk didengar. Kata tersebut mengingatkanku dengan seseorang yang “memanfaatku dengan sebutan sahabat.”

Mengejar Kita

Oleh:
‘teruslah berlari hingga garis finish. Karena tidak ada yang tahu apa yang ada di akhir. Percayalah, akhir lebih baik daripada berhenti dan menyerah di tengah-tengah.’ Rambutnya terjatuh menutupi sisi

Salahkan Rasa ini?

Oleh:
Selembar foto seorang pemuda, dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya itu kembali mengingatannya tentang sebuah kenangan yang masih belum bisa ia lupakan sampai sekarang. Tentang sebuah kisah asmara yang

Bertempur (Part 2)

Oleh:
Pagi hari telah menjelang, sepeda yang tadi kukayuh telah terparkir, dengan segera kulangkahkan kaki menuju kelas. Duh apa yang terjadi? Gak biasanya ada perasaan deg-degan gini pas berangkat sekolah…

Bahagia itu Sederhana

Oleh:
Perasaan hangat saat merasakan rasa istimewa, melambungkan angan-anganku sejauh-jauhnya hingga tak terjamah lagi oleh mata manusia manapun. Keberanian menyeruak dari hati yang terdalam menepiskan rasa ragu atas perasaan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *