Kau Tak Boleh Mencintaiku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 September 2017

Jenika terus memandangi sebingkai foto yang terletak di atas meja belajarnya. Tak henti-hentinya dia memandang foto itu. “Kau curang, kau juga kampungan menjerat hati tanpa mengikatnya” katanya mengalihkan pandangannya dari foto itu. Dia teringat rasa itu, rasa yang menjeratnya. Gadis tomboy itu juga teringat satu hal yang membuatnya meneteskan air mata. Kemudian ia kembali menatap foto itu dalam-dalam, lalu membawa foto itu dalam genggamannya. Lamunan singkatnya tadi ternyata membuatnya berfikir untuk membakar foto itu. Hitungan detik, foto itu telah hangus terbakar di sudut ruang kamarnya.

Hari berganti hari. Nampaknya otak jenika telah bersih, tak ada nama seorang gugun lagi di otaknya. Cinta yang membara padam begitu saja, karena waktu dan keadaan. Dia berfikir tak ada yang perlu dikenang tentang pemuda tampan itu. Hatinya telah damai dan tentram tak terganggu oleh lamunan bodohnya seperti beberapa waktu yang lalu. Bila usaha sebelumnya gagal, kali ini tidak. dia telah terbebas dari jeratan tak terlihat itu.

Gugun, pemuda itu sedang bingung dengan sebuah pembicaraan. Dia terjerat dengan apapun yang ibunya katakan, hingga sulit untuk membantahnya. Ia tak membantah dengan nada tinggi, semuanya pasti ia jawab dengan “ya bu”. Satu-satunya orang yang bisa membantunya adalah jenika. Bila mengingat itu, ia pun berfikir kalau peluangnya sangat kecil.

Dalam kamar yang terlihat rapi, jenika terlihat sedang menggoreskan cat air pada dinding-dindingnya. Ia membentuk tanda “X” dengan beragam warna dan ukuran. Apa maksud semua itu? Maksudnya agar dia selalu ingat kalau seorang gugun adalah parasit yang tak perlu diingat. Ia hanya berharap pemuda itu tak pernah datang atau mendekati hidupnya suatu hari nanti, ia tak ingin jatuh ke lubang yang sama. Hari-harinya sudah kembali berwarna tanpa berfikir tentang gugun.

Gugun sedang menunggu sesorang di koridor depan kelas. ia rela tak pergi ke kantin demi untuk menunggu orang itu. Kemudian tak lama jenika keluar dari kelasnya. Gugun lalu berdiri menyadari seseorang yang ia tunggu terlihat. Namun apa yang difikirkan gugun ternyata salah, ia fikir jenika keluar kelas karena akan menemuinya. “Hai gun, tadi aku udah bilang ke jenika, tapi akunya diabaikan dianya ga jawab” ucap seorang gadis yang berjalan menghampiri gugun yang akan melangkah. “Oh begitu, iya tak apa-apa makasih tina” jawab gugun. Terlihat raut wajah kecewa pada wajah tampannya.

Raut kemenangan tergambar di wajah jenika. “Aku menang!” Ucapnya pelan dalam jeda ketika memakan roti. Ia terus tersenyum mengingat perkataan tina padanya ketika ia akan keluar kelas.

“Sudah belajar bersama temanmu itu gun?” Tanya ibu gugun yang sedang duduk manis menatap layar televisi. “Hmm sudah bu” jawab gugun yang duduk di sebelah ibunya. “Syukurlah ibu senang mendengarnya” ibu gugun terlihat sangat senang ketika anaknya berkata demikian. Layar televisi yang begitu besar tak membuat gugun terfokus pada layar itu. Ia tetap berfikir tentang jenika, cara agar ia mau menjadi guru lesnya. “Aku harus minta maaf” ucap gugun kemudian yang membuat ibu gugun menengok ke arah anaknya. “Ehh tidak bu” lanjut gugun yang tersenyum malu.

“Aku telah benci” teriak jenika dari dalam kamar. Ia membaringkan tubuhnya kasar ke kasur empuknya. Perih dan lukanya sedikit telah berkurang dan pudar karena bahagianya hari ini.

“Kenapa wanita sulit memaafkan ya?” Gugun bertanya, tapi entah pada siapa ia bertanya. Ia tak menjawab pertanyaan bodohnya itu. Ia tahu benar, karena mungkin sikapnya dulu membekas sejati dalam hati jenika. Kembali ia teringat pada perkataan ibunya, kalau ia harus belajar matematika bersama jenika. Kalau saja dia tak berkata kalau telah belajar bersama jenika, mungkin ia tak harus belajar sungguhan dengan gadis itu. “Kok bisa ya?” Pertanyaan macam apa? Dia bertanya pada dirinya sendiri-lagi. Kenapa bisa kebetulan dia harus belajar dengan wanita yang sama sekali tak ia sukai.

“Seperti itulah rasanya!!!” sebuah pena tergores pada kertas kosong. Jenika begitu puas, karena sudah beberapa hari gugun meminta maaf padanya. Sampai rela menunggunya pulang. Ia tak sejahat yang difikirkan, ia baik namun karena rasa sakitnya dulu, ia jadi seperti itu. Semua yang telah terjadi, membuatnya membenci pada sosok pemuda yang bernama “gugun”. Bila saja gugun dulu tak menunjukan kalau ia tak menyukai jenika, mungkin ia tak akan membenci pemuda itu. Hatinya pun sedikitnya merasa kasihan walau ia terus berkata “puas” ketika gugun terus menerus meminta maaf. Tapi bila bayangan dulu itu hadir, rasa kasihan itu tersingkirkan dengan rasa dendam yang tak seharusnya. Ia terlanjur benci pada sosok yang menjerat hari-harinya beberapa bulan yang lalu.

“Aku sudah lelah je, terserah padamu bila tak ingin memaafkan. Terserah pula jika tak mau membantuku untuk sekedar bantu memahami matematika” kata gugun pada jenika yang terlihat sibuk menulis. Gadis itu hanya mengangguk-angguk, terlihat menghiraukan gugun yang sedang berbicara. Lalu gugun pun pergi begitu saja setelah perkataan terkhirnya “pikirkan saja dulu je, aku akan menanyakannya lagi besok”. sepeninggal gugun, jenika menyembunyikan wajahnya dalam kedua tangan yang ia lipat. Perkataan gugun kali ini menyingkirkan rasa benci dan dendam begitu saja.

“Benarkah?” Tanya gugun dengan antusias. Jenika hanya mengangguk, namun kali ini ia tersenyum walau hanya tersenyum tipis. Sekarang wajah cantiknya makin terlihat cantik. “Terimakasih” lanjut gugun yang juga tersenyum, namun dengan ketulusan yang menyertainya. “Ya” jawab jenika yang kali ini membuka suara. “Jadi kapan aku belajar bersamamu?” Tanya gugun penuh hati-hati, sedikit menekankan pada pengucapan kata “belajar”. “Besok, pulang sekolah di rumahku titik. Jangan datang terlambat dan tak perlu bertanya lagi” jawab jenika lalu diakhiri dengan senyum tipisnya..

Jenika berjalan cepat menuju rumahnya. Dia suka momen sewaktu di sekolah, ketika ia mulai menghilangkan rasa benci Dan dendamnya. Menutup lembaran kertas, Dan melupakannya. Dia memang gadis Yang baik, seperti sebelumnya lagi. Akhirnya dia menemukan dirinya lagi, tanpa kebencian Dan rasa dendam. Dia segera membuka buku paket matematika lalu mempelajarinya perlahan. Dia sungguh telah konsisten akan mengajarkan gugun pelajaran matematika.

Perahu kertas gugun buat dengan banyak tulisan sebelum Ia melipatnya. “Jenika” Dia banyak menulis kata itu pada kertas yang awalnya kosong. Di antara milyaran manusia gadis itu merupakan salah satu gadis Yang baik bagi gugun. Dia sangat berterimakasih pada gadis Yang pernah tergores hatinya beberapa bulan Lalu. Tak Ada beban yang menumpuk lagi sekarang, gugun telah bebas mempertanggungjawabkan apa yang pernah ia katakan pada ibunya.

Jenika pulang begitu terburu-buru, Ia takut gugun telah menunggu di rumahnya. Tak Ada cinta, Dia memang seperti itu selalu bersemangat melakukan kebaikan. Tak butuh lebih dari 10 menit, Ia sampai di rumahnya. Hidup lebih bahagia tanpa benci Dan dendam, fikir Jenika. Dia bersyukur bisa menyingkirkan kedua rasa itu. Akhirnya Dia tak lagi merindukan dirinya yang dulu. Benar saja, walau Dia telah berjalan lebih cepat gugun telah menunggu di teras rumahnya. “Hmm maaf ya, lama nunggu?” Tanya jenika yang duduk disebelah gugun. “Tidak” jawab gugun menampakkan senyuman.

Gugun hanya minta Jenika mengajarkannya dalam satu minggu saja, berarti 7 pertemuan. 5 pertemuan telah Ia lewati begitu mudah, Ia sudah jauh lebih pintar memainkan angka. Jenika membawa gugun pada kenyamanan yang tak pernah gugun sangka. Begitu mudahnya menarik perhatian gugun untuk merasakan rasa itu. Tutur kata yang baik, perlakuan baiknya, cantiknya Dan kecerdasannya membuat gugun mulai menyukai Jenika.

“Gun, maaf kalau saya menyinggung perasaanmu. 5 pertemuan sudah kita lalui dengan mudah, dan insyaallah membuatmu faham dengan pelajaran matematika. Sekali lagi maaf, aku tak ingin mendengar satu kata dari mulutmu tentang Cinta atau semacamnya. Jangan pernah mencintaiku, Jangan pernah menyukaiku, bila itu terjadi aku tak akan membantumu lagi juga tak akan pernah ingin jadi temanmu. Tak perlu membalas pesan ini, abaikan saja. Ingat selalu ini gun” sebuah surat terselip di buku paket gugun membuat pemuda itu sibuk membaca kata demi kata yang membuat gugun kecewa entah pada dirinya atau masalalunya.

Gugun termenung, tatapannya hanya pada sosok wanita Yang tengah berlari di lapang basket. Jenika, bagai senja yang hanya hadir sekejap. Dia hanya mencintai Jenika diam-diam, cinta yang karena 7 hari itu. Itu karena surat yang Jenika tulis kalau dia tak boleh mencintai gadis itu.

“Maaf gun, aku takut terperangkap lagi dan aku tak mau kau terperangkap ke lubang yang sama sepertiku, itulah mengapa kau tak boleh mencintaiku” ucap Jenika dalam hatinya menyadari kalau gugun memperhatikannya.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany

Cerpen Kau Tak Boleh Mencintaiku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


PSPH (Part 4)

Oleh:
Dari kemaren, cowok ini rada-rada pedekate sama aku. Oke, sebenarnya sih si Vinsen ini lumayan keren dan kata teman-temanku, baik yang di kelas IPS maupun IPA, dia keren, ganteng,

Ada Mei Di Bulan Juni

Oleh:
Senin pagi di awal bulan juni, ku mulai perjalanan menuju sekolah yang berada di desa tetangga. Namaku Kara Febrian, aku duduk di bangku kelas 3 SMA. Seperti biasa aku

Jodoh Pasti Bertemu (Part 2)

Oleh:
“Gam kita besok jadi kan latihan?” “Yoi besok kita latihan,” Wati yang ikutan masuk ke dalam pembicaraan sedangkan gue yang duduk manis karena rasanya tegang banget kayak lagi ikutan

Musuh Berujung Cinta

Oleh:
Kriingg… Kring… Kring.. Aku langsung mematikan alarmnya karena aku gak betah mendengar bunyi alarm. Aku bangun dan menuju kamar mandi, tiba tiba hp ku bunyi, sarah meneleponku, “Ren lo

Cinta Yang Salah

Oleh:
Cinta sejati?, apa itu cinta sejati? apakah cinta sejati itu benar benar ada? Aku tak mempercayai lagi yang namanya cinta sejati setelah aku dikhianati oleh seseorang yang sangat aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *