Kau Yang Terindah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 February 2013

Nama ku Dewi, aku menemukan cinta pertama aku saat duduk di kelas 3 SMP. Mungkin terlalu dini untuk aku mengenali arti sebuah cinta saat masih berumur 14 tahun. Aku menemukan pacarku melalui Hp. Saat itu di Hp ku ada nomor nyasar, dan kisah cinta kami berlanjut. Saat itulah dia yang mengerti semua suasana hati aku.
Namanya Vicky Bagus Pradana.
Sejak kepergian ayahku entah kemana, aku kehilangan sosok seorang ayah. Namun setelah kehadiran Vicky, aku menemukan kembali kasih sayang dari seorang ayah.

Aku dan Vicky semakin akrab. Dia selalu mengantar dan menjemput aku ke sekolah. Tanpa terasa sudah 1 bulan aku mengenal Vicky. Saat aku sedang belajar di kelas tiba-tiba hp ku bergetar ternyata ada sms dari Vicky :
‘’Nanti pulang sekolah aku jemput yah,
Ada yang ingin aku bicarain ama kamu.
Aku pun membalasnya :
Ok..
Tapi jangan lama-lama datangnya…..

Entah apa yang ingin di katakan Vicky padaku, pikiranku melayang-layang memikirkan hal tersebut.
Ketika aku berniat untuk sms Vicky, tapi hp ku bergetar duluan ternyata sms dari Vicky.
Aku sudah sampai….
Aku ada di depan gerbang sekarang
Kamu udah pulang belum ??
Sambil berjalan aku membalas smsnya..
Tunggu yah aku lagi jalan ke gerbang……

Dari kejauhan tampak Vicky sedang duduk di atas motor Kawasaki hitamnya menunggu kedatanganku, akupun mempercepat jalanku.
“Hi, udah lama ya nunggu aku ??” Ucapku setelah sesampai dihadapannya.
“Nggak kok, ayo naik !!” Jawabnya tersenyum manis padaku.
Kami berdua pun pergi ke sebuah danau yang indah.
“Waahh bagus banget pemandangan disini !!” Ucapku berdecak kagum.
“Ini tempat special bagiku, jika aku sedang sumpek biasanya aku kesini dan mengungkapkan semua kegundahan di hatiku”. Vicky menjelaskan.
“Wi, aku mau ngomongin sesuatu sama kamu.” Lanjut Vicky dengan wajah yang serius sambil menggenggam kedua tanganku.
“Aku sayang banget ama kamu, mau kan kamu menjalani hari-hari kamu dengan aku dan temani aku. Kamu mau kan jadi pacar aku ?? Tanya Vicky kepadaku dengan penuh keseriusan dan ketulusan.
Aku hanya terdiam mendengar kata-kata Vicky, ternyata aku dan Vicky menyimpan perasaan yang sama.
“Vick, aku mau kok jadi pacarmu”. Jawabku.
Setelah kejadian itu aku dan Vicky bukan lagi menjadi seorang sahabat melainkan sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Hari-hari ku menjadi terasa begitu indah. Dan aku dapat mengatasi semua masalah yang silih berdatangan karena ada Vicky yang selalu di sisiku dan siap membantuku jika aku membutuhkannya.

Tak terasa hubungan kami sudah menginjak 1 tahun, tahun pertama dapat kita lalui dengan lancar tanpa ada masalah, rasa sayang ini pun menjadi lebih besar padanya. Hari ini Vicky mengajakku untuk merayakan hari jadian kita, tapi sayang aku tidak bisa karena ada eskul yang harus diikuti. Untungnya Vicky dapat mengerti. Seusai dari eskul Vicky menjemputku. Dia pun memulai pembicaraan :
“Yank, bisa nggak besok kamu temenin aku pergi ke pesta ultah temen ku ??” Tanya Vicky sambil mengendarai motornya.
“Yank, maaf ya besok tuh aku nggak bisa karna besok tu ada eskul.” Jawabku.
“Please yank, kan sudah sebulan ini kamu sibuk aja ama eskul kamu , sehari aja temenin aku, habis teman-temanku pada bawa pacar yank !!” Ucap Vicky sambil merengek kepadaku.
‘’Ya liat aja besok, kalau aku dapat ijin dari pembinaku, emang acaranya kapan ??” Tanyaku pada Vicky.
“Pulang sekolah yank, masalahnya dia sahabatku yank, kalau nggak datang aku jadi nggak enak !!” Ucap Vicky dengan perasaan kecewa.
“Iya deh, nanti aku usahain ya yank” Jawabku.
“Janji,yaah ??” Tanya Vicky memastikan.
“Iya” Jawabku.
Tak terasa perjalanan berakhir dan aku pun turun dari motor Vicky.
“Makasih yank.” Ucapku sambil tersenyum manis.
“Iya, nyampe rumah langsung mandi, makan, sholat lalu istirahat deh.” Ucapnya memerhatikan aku.
“Ok deh, hati-hati ya di jalan.” Jawabku.
Vicky pun pergi meninggalkan aku.

Keesokan harinya, setelah jam pelajaran usai aku meminta ijin kepada pembinaku untuk tidak mengikuti eskul hari ini, awalnya sih tidak boleh tapi akhirnya diperbolehkan. Lalu aku memberitahukan kepada Vicky. Dia pun menjemputku dan kami pergi ke sebuah tempat makan. Disana banyak sekali teman Vicky dan aku diperkenalkan dengan teman-temannya. Acara pun dimulai. Waktu istirahat acara kami semua mengobrol-ngobrol.
“Oh ya sambil ngobrol, enaknya sambil ngerokok nih ??” Ucap Andi salah satu teman Vicky sambil mengeluarkan sebungkus rokok.
“Sorry ya, aku bukan perokok !!” Jawab Vicky sambil meminum segelas sirup.
“Ok. Tapi coba dulu lah, kalau kamu nggak ngerokok kamu nggak gaul.” Ucap Andi sambil menyodorkan sebatang rokok kepada Vicky.
“Nggak aku nggak akan mencoba itu. Aku nggak peduli mau dibilang nggak gaul, kuno atau apalah.” Balas Vicky agak berteriak.
Akhirnya acara pun selesai dan Vicky mengantar aku pulang ke rumah.

Kini hubunganku dengan Vicky sudah memasuki tahun ke-2. Kali ini Vicky mengajakku ke tempat yang indah yang tak kalah dengan danau tempat jadian, tapi jarak cukup jauh di sana dia memberikan aku kalung hati yang terdapat nama kami berdua. Namun, tiba-tiba hujan turun karena tidak ada tempat berteduh akhirnya kami mencari tempat. Setengah perjalanan kami menemukan halte.
“Yank, kita berteduh di halte aja, ya?” Ucap Vicky dengan suara menggigil.
Aku dan Vicky berteduh di halte. Vicky melihatku begitu kedinginan lalu ia memberikan jaketnya padaku.
“Yank, pakai nanti kamu sakit gimana?’’ Ujar Vicky.
“Iya” Jawabku padanya.
Tiba-tiba aku terkejut karena ringisan kesakitan dari Vicky.
“Vick, kamu nggak papa kan ?” Ucapku khawatir.
“Nggak papa kok, aku hanya pusing aja kok”. Ucap Vicky sambil mengelus kepalaku.
Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan.
“Yank, kita ke rumahku dulu ya ?? Tanya Vicky padaku
“Ya”.Jawabku.
Sesampai di rumah Vicky, aku disambut oleh keluarganya.
“Kenapa kalian basah kuyup begini??” Tanya Ibu Vicky kepada kami berdua.
“Iya tante tadi kami kehujunan di jalan.” Jawabku sedikit canggung.
“Ya sudah sana kalian berdua ganti baju setelah itu kita makan siang bersama.” Ucap Ibu Vicky begitu ramah.
Aku dan Vicky pun berganti baju. Aku dipinjami baju Kakak Sinta kakaknya Vicky. Vicky adalah anak kedua dari tiga bersaudara, dia mempunyai kakak perempuan dan adik laki-laki.Kakak perempuannya bernama Sinta dan adiknya bernama Fariz. Setelah ganti baju, aku makan bersama dengan keluarga Vicky. Aku merasa sudah mengenal mereka begitu lama,mereka ramah dan baik. Padahal ini pertama kalinya aku mengenal keluarga Vicky. Setengah jam aku bersama dengan keluarganya, namun Vicky tak juga turun dari kamarnya.
“Vicky, kok lama sih, bentar ya Wi tante lihat dulu ke atas.” Ucap Ibu Vicky.
Aku hanya tersenyum, tapi didalam hatiku ada perasaan yang kurang enak.
“Vickynya kemana tante?” Tanyaku bingung.
“Ada kok, tapi kayaknya dia sedikit pusing dan tante suruh dia istirahat, dan tadi Vicky pesan kamu pulangnya diantar supir aja, karena takut nanti mama kamu cariin kamu.” Jawab Ibu Vicky.
“Nggak papa kok, nanti saya naik angkot aja, o..ya tante saya pamit pulang dulu karena hari sudah larut.” Ucapku.
“Kok buru-buru sih?” Tanya Ayah Vicky.
“Iya, om soalnya takut mama nyariin habis tadi belum kasih tau dan terimakasih om, tante, dan semuanya sudah ngerepotin !!” Jawabku sambil berpamitan.
“Nggak kok sayang, malah kami semua senang kami disini”. Ucap Ibu Vicky sambil memelukku.
Akhirnya aku diantar pulang supirnya Vicky. Aku pulang tanpa tahu keadaan Vicky. Selama perjalanan aku sms Vicky tapi tak ada satu sms balasan darinya.

Tak terasa sudah 3 hari, Vicky tak pernah menghubungiku.
“Eh, kenapa dari tadi gue liatin loe bengong aja?” Tanya Icha sahabatku.
“Gue lagi sebel Cha ama Vicky !!” Ucapku dengan wajah cemberut.
“Emang Vicky bikin apa sampe kamu jadi bete gitu?” Tanya Icha lagi.
“Sudah beberapa hari ini Vicky nggak pernah sms dan telpon aku, kalau disms nggk dibalas, di telpon nggk diangkat.” Jelasku.
“Kok bisa, mungkin kamu bikin salah/dia punya cewek lain !!” Ucap Icha meledekku.
“Ihh…jahat banget sih loe.” Ucapku kesal.
“Hehehehehhehe…… makanya ceritain asal muasalnya dong.” Ucap Icha.
Akhirnya aku menceritakan semua yang sedang terjadi diantara kami dan Icha menyarankan aku untuk berkujung ke rumah Vicky sehabis pulang sekolah.
Seusai pelajaran aku dan Icha pergi ke rumah Vicky, tapi kami tak mendapatkan hasil apapun. Sesampai di rumah tak ada seorang pun di rumah. Rumahnya terlihat kosong dan sepi.
“Udahlah mungkin mereka lagi pergi, nanti kita datang lain kali aja.” Ucap Icha menghiburku.
“Iya, kalau mereka pergi datang lagi, kalau mereka pindah gimana ?” Ucapku kecewa.
“Nggak mungkin, Vicky kan sayang ama kamu jadi dia nggak akan ninggalin kamu !!” Ucap Icha menyakinkanku.
“Kalau dia sayang kenapa dia giniin gue Cha ??” Lirihku.
Icha hanya terdiam, tak mampu menjawab pertanyaanku itu.

Kini 3 minggu aku lalui tanpa kehadiran Vicky di sisiku. Tetapi aku mulai terbiasa tanpanya.
Aku dan Icha keluar dari gerbang sekolah. Dan kulihat sosok lelaki seperti Vicky, tapi aku masih ragu. Aku alihkan pandanganku seolah aku tak melihatnya.
“Wi, itu Vicky !!” Ucap Icha terkejut.
“Nggak sekarang Vicky nggak ada di dalam hidup gue !!” Ucapku tanpa menoleh kearah Icha.
“Beneran Wi , itu Vicky !!” Ucap Icha menyakinkan.
Tapi aku terus berjalan hingga melewati Vicky.
“Wi…..!! Panggil Vicky”. Namun aku terus berjalan dan mempercepat jalanku.
Dan akhirnya Vicky meraih tanganku.
“Kamu kenapa sih ?’’ Tanya Vicky.
‘’Lepasin aku !!” Ucapku sambil melepaskan genggaman tangan Vicky.
“Aku lepasin tapi kamu dengerin penjelasanku dulu !!” Ujar Vicky.
“Nggak ada yang perlu di jelasin !!” Bentakku sambil meneteskan air mata.
“Wi, mending kamu dengerin penjelasannya biar masalahnya bisa selesai dengan baik.” Saran Icha.
“Sana naik, selesaiin masalahnya dengan baik” Lanjut Icha.
Aku pun mengikuti kata-kata Icha dan Vicky melajukan motornya menuju danau pertama kali kita jadian. Disana Vicky menjelaskan semuanya.
“Aku tau kamu marah ama aku. Aku menghilang dalam hidupmu, bukan karna aku ingin ninggalin kamu, tapi ada satu hal yang bisa aku katakan ama kamu yang nggak bisa aku jelasin.” Ucapnya.
“Kenapa nggak bisa di jelasin, apakah serumit itu kamu nggak bisa jelasin ama aku”. Jawabku kesal.
“Ok, aku akan jelasin semuanya. Beberapa hari ini mama mengajakku ke Surabaya. Mama bertengkar hebat ama kakak. Dan mama menyita hp kami berdua karna mama nggak mau ada yang tau keberadaan kami.’’ Jelas Vicky padaku.
Aku pun menerima alasan itu.
“Terus sekarang udah terselesaikan.” Ucapku.
“Masalah udah terselesaikan dengan baik, Jadi kamu maukan maafin aku?? Tanya Vicky dengan wajah memelas.
Aku hanya menganggukkan kepala.
“Aku sayang sama kamu.” Ucap Vicky sambil memelukku.
“Janji ya kamu nggak akan ninggalin aku lagi”. Ucapku sambil meneteskan air mata.
“Aku janji” Jawab Vicky.
Hari kelulusan sekolah pun datang, aku dan Vicky lulus dengan hasil yang memuaskan. Vicky memutuskan untuk masuk salah satu SMA terfavorit di Semarang, sedangkan aku lebih memilih masuk di salah satu SMK dan mengambil jurusan computer dan ini malah membuat kami semakin dekat walau jarang bertemu.

Memasuki tahun ke-4, entah mengapa Vicky menjadi lebih jauh dari aku. Vicky tak sesering lagi berada di sampingku. Aku sering mendengar bahwa Vicky jatuh sakit dan sesekali aku menjenguknya.

Hingga suatu hari Vicky mengajakku jalan-jalan. Dari pagi sampai malam aku pergi bersamanya dan dia mengantarku pulang.
“Wi, ada satu hal yang ingin aku sampaikan untukmu !!” Ucap Vicky dengan wajah yang serius.
“Apa yang ingin kamu sampaikan yank??” Jawabku bingung melihat wajah Vicky seris.
“Mungkin ini menyakitkan untukmu tapi aku harus bilang ama kamu, aku rasa hubungan kita cukup sampai disini.” Ucap Vicky.
Aku hanya tercengang dengan kata-kata Vicky,” Kenapa.. apa aku buat salah sehingga kamu mutusin aku?” Lirihku
“Kamu nggak salah apa-apa, tapi aku rasa aku sudah nggak nyaman ama kamu dan aku harap kamu bisa terima semua ini.” Jawab Vicky sambil meninggalkanku.
Aku hanya terdiam dan meneteskan air mata. Dia sama sekali tak sms ataupun menelponku. Setiap aku telpon atau sms tak ada satupun yang dia gubris.
Setelah kejadian itu rasa sayang dan cinta berubah menjadi rasa benci.
Hari-hari aku lalui tanpa bersemangat, semua begitu berbeda sekarang Vicky tak ada disampingku lagi hanya rasa sakit yang kini tertinggal didalam hati. Butuh waktu lama untuk melupakannya, dan kini aku sudah dapat menerima kenyataan dan berusaha untuk melupakannya.

Sore itu hpku bordering, dan aku lihat ternyata itu nomor yang tak ku kenali, aku pun mengangkatnya.
“Halo, ini siapa ?” Tanyaku.
“Bener ini Dewi !!” Jawab orang itu.
“Iya benar ini siapa ?” Jawabku.
“Ini Kak Sinta Wi !!” Lirihnya.
“Ada apa Kak ??” Tanyaku padanya
“Bisa nggak kamu ke rumah sakit sekarang !!” Ucapnya.
“Emang siapa yang sakit Kak ??” Tanyaku lagi.
“Udah nanti kamu juga tahu dan ajak Icha juga ya !! Jawab Kak Sinta sambil memberikan alamat rumah sakit.
Tanpa membuang waktu lagi aku pergi dan tak lupa aku ajak Icha bersamaku.
Sesampai di rumah sakit kami langsung menanyakan ruangan yang kami tuju. Ternyata kami tiba didepan ruangan ICU. Hati merasa khawatir dan cemas.
“Dewi.” Panggil Kak Sinta dan Ibu Vicky.
“Kakak,tante.” Jawabku sambil menghampiri mereka bersama Icha.
“Gimana kabarmu?” Tanya Ibu Vicky.
“Baik, tante Vicky dimana ?” Tanyaku.
Ibu Vicky langsung meneteskan air mata dan Kak Sinta menenangkan.
Aku dan Icha hanya terdiam dan bingung,
“Apa yang sebenarnya terjadi, kok tante nangis ?” Tanyaku penasaran.
“Wi, kamu adalah wanita pertama yang di perkenalkan Vicky kepada kami dan kamu juga yang pertama kali mengenalkan dia apa itu Cinta. Semenjak mengenalmu dia berubah. Dia menjadi anak yang yang baik terlihat dari cinta tulusnya itu. Sebenarnya dia ninggalin kamu untuk berobat. Dia nggak mau kamu tahu soal penyakitnya karena takut nanti kamu khawatir padanya dan dia lebih baik berbohong padamu.”Jelas Ibu Vicky.
“Tante, emang Vicky sakit apa ?” Tanyaku.
“Dia terkena kanker otak dan dokter mengatakan penyakit telah memasuki stadium 4.” Lirih ibu Vicky.
Aku pun tak kuasa mendengar jawaban itu. Air mataku mengalir deras, tak menyangka orang yang aku sayangi menderita seperti ini. Ibu Vicky lalu mendekapku erat.
“Sabar ya sayang, tante juga bisa ngerasain perasaanmu sekarang ini. Kita sama-sama nggak ingin Vicky pergi. Tapi jika ini kehendak Tuhan kita hanya bisa pasrah dan sekarang kamu masuk sana pasti Vicky senang kamu bisa datang.” Ucapnya sambil menghapus air mataku.
Aku dan Icha masuk ke ruang ICU. Aku tak kuasa melihat orang yang aku sayangi terbaring tak berdaya dengan selang dan kabel-kabel di tubunya. Air mataku mengalir kembali tapi Icha menguatkanku.
“Yank, bangun donk jangan tidur terus, sekarang aku ada di sini !!” Lirihku.
“Iya, Vick bangun dong, Dewi sudah ada disini. Dari beberapa bulan ini dia pengen ketemu ama kamu, makanya dia datang.” Ucap Icha sambil menitihkan airmata.
Aku tak mampu berkata-kata dan aku genggam tangannya. Melihat kondisiku Icha mengajakku keluar.
“Vick, istirahat yang banyaknya, aku dan Dewi tunggu di luar.” Ucap Icha sambil merangkulku keluar.
Aku berat meninggalkan Vicky tapi aku harus segera pulang karena mamaku sudah khawatir padaku. Akhirnya aku dan Icha berpamitan pulang.
Sesampai di rumah aku tidak bisa tidur. Aku sms kak Sinta untuk megetahui keadaan Vicky.
‘Kak kalau ada perkembangan tentang Vicky sms aku yah…..’
Kak Sinta membalas :
‘Iya adekku tersayang’
‘Kamu istirahat saja, jangan terlalu mikirin Vicky, nanti kamu sakit’
‘Selamat istirahat ya…’
‘Have a nice dream’
Aku pun terlelap dalam tidurku.

Esok paginya, aku bergegas untuk pergi sekolah. Sesudah sarapan aku melihat hpku ternyata ada 40 panggilan tak terjawab dari Kak Sinta. Aku pun berpamitan. Selama perjalanan aku menghubungi Kak Sinta tapi tak ada respon darinya.
Jam istirahat aku menemui pembinaku untuk meminta ijin agar aku dapat menjenguk Vicky.
Bel pulang sekolah berbunyi dan hpku juga berdering. Aku melihat ternyata dari Kak Sinta, lalu aku mengangkatnya.
“Halo, ada apa,Kak.’’ Ucapku.
“Kamu bisa nggak sekarang ke rumah sakit, kamu sudah pulang sekolahkan ?’’ Jawab Kak Sinta sambil menangis.
“Iya, emang ada apa Kak ?” Tanyaku lagi penasaran.
“Udah kamu kesini aja, cepetan.” Jawabnya.

Tanpa membuang waktu lagi aku mempercepat langkahku walau sebenarnya aku tak sanggup namun aku harus kuat. Aku melihat Kak Sinta dan Ibunya Vicky mereka menyuruhku masuk ke dalam ruangan Icu. Aku pun memasuki ruang ICU. Sekali lagi aku meneteskan air mata, kulihat tubuh yang terbujur tak berdaya dan tak bisa menahan lagi penyakitnya. Aku mendekati Vicky sambil menggenggam tangannya.
“Vick, saatnya kamu bangun, kamu sudah terlalu lama tidur. Aku kangen sama kamu. Kamu harus janjinya untuk bangun dan terus melawan penyakitmu.’’ Lirihku.
Seketika tangan Vicky menggengam tanganku, aku terkejut melihat reaksi yang di berikan Vicky, dia mengedipkan matanya. Lalu aku memanggil suster dan dokter. Mereka langsung menanganinya, tanpa menyuruhku keluar dari ruangan. Aku hanya dapat memanggil namanya dan memberikan semangat . Dan akhirnya dokter menyatakan bahwa dia telah di panggil oleh Sang pencipta, ku tak kuasa melihat tubuh itu sudah kaku. Terdengar jeritan tangis dari Ibu dan Kaka Sinta. Tubuh Vicky di tutupi kain putih, ketika aku melihat hal itu tubuhku terbujur lemas dan tak sadarkan diri. Entah apa yang aku alami tapi aku sudah berada di kamarku. Aku berharap ini semua hanya mimpi, tapi ternyata kenyataan. Ku lihat Icha menggunakan busana hitam-hitam.
“Sabar yah, mungkin ini jalan terbaik untuk Vicky.” Ucap Icha sambil memelukku.
“Lalu Vicky sekarang dimana?” Tanyaku lemas.
“Dia sudah dimakamin, sebenarnya mau nunggu kamu tapi kamu nggak sadar-sadar.” Jawab Icha sambil menangis.
Aku terpukul mendengar jawaban itu. Begitu berat rasanya kenyataan yang harus aku terima, seakan Tuhan tidak adil akan diriku mengapa Vicky yang harus pergi bukan aku saja.

Dan akhirnya aku bisa menerima semua kenyataan ini, kenyataan bahwa Vicky telah pergi dan takkan kembali lagi dalam kehidupanku. Tak luput Icha slalu menguatkanku. Malam ini aku putuskan untuk mengemasi semua barang-barang pemberian Vicky kepadaku. Besok siang aku akan kembalikan semuanya pada keluarganya. Aku tak ingin larut dalam kesedihan ini terus-menerus.

Siang ini aku ke rumah Vicky dengan membawa semua barang-barang Vicky dan membawakan es krim. Ketika aku sampai di depan pintu rumahnya ku dapati Fariz sedang bermain seorang diri.
“Kakak.’’ Sapa Fariz padaku.
“Hi, gimana kabarmu, ni kakak ada bawaain kamu sesuatu.” Ucapku sambil memberikan es krim yang ku bawa.
“Baik,Kakak. Makasih ya.” Ucapnya gembira.
“Adek, mama ada.”Tanyaku sambil mengusap kepalanya.
Belum sempat Fariz menjawab Kakak Sinta keluar dari dalam rumah.
“Dewi, gimana kabarmu dan sudah lama kamu nggak berkunjung.”? Ucap Kak Sinta sambil memelukku.
“Baik Kak, habis banyak tugas sekolah.” Jawabku.
“Ayo, masuk dulu.” Ajak Kak Sinta.
“Nggak usah, saya kesini Cuma mau balikin ini.” Kataku sambil memberikan kotak Pada Kak Sinta.
“Kenapa di kembalikan.” Tanya Kak Sinta setelah melihat isi kotak tersebut.
“Aku rasa aku nggak bisa menyimpan ini semua, maaf ya Kak aku nggak bisa lama-lama disini, aku permisi dulu.” Ucapku meninggalkan rumah Vicky.

Semenjak kejadiaan itu aku tak pernah lagi berkunjung ke Rumah Vicky. Namun bagiku hal terindah adalah ketika aku sempat mengenal dan memiliki Vicky, walau hanya sementara. Banyak hal yang aku temukan dari Vicky, aku menemukan arti sebuah kasih sayang, menghargai dan indahnya dicintai.
Selamat Jalan Cinta Pertamaku, Aku yakin sekarang kau bahagia di sana dan kelak kisah kita kan abadi di sana.

====================SELESAI==================

Cerpen Karangan: Rahmawati Dewi
Facebook: Rahma Dewi
Sekolah: SMA Negeri 01 Manokwari

Cerpen Kau Yang Terindah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Cinta

Oleh:
Setelah lulus SMA aku baru sadar aku mencintai sahabat ku sendiri, bahkan telingaku pun sering mendengar curhatan tentang dia dan pacarnya, ragaku tersenyum tapi hatiku menangis bahkan rasa sesak

Kisah Caci

Oleh:
Cacian itu saya terima dalam hati. Mengalir deras dalam ingatan dan memposisikannya sebagai hal terpenting yang tak boleh terlupakan. Tak ada dendam, dan tak ada balasan caci. hanya kebisuan

Mawar Putih Untuk Thalita

Oleh:
Seperti biasa, setiap pagi keluarga ini berkumpul, sarapan bersama di meja makan. Mama tiba-tiba mengatakan sesuatu kepada Thalita, “besok ada yang bertambah umur satu tahun nih.” Thalita hanya tersenyum.

Di Tebing Itu Aku Mengerti

Oleh:
Hmmm, burung-burung berkicau merdu. Pohon kelapa nyiur melambai. Angin sore berhembus lembut. Matahari tinggal tiga per empat saja. Yang seperempat sudah terlelap di peraduannya. Menambah syahdu suasana senja. Bunga

Salahku

Oleh:
Aku Ayana, seorang siswi di sebuah SMA Negeri di Bandar Lampung. Hari ini adalah hari pertama aku memijakan kaki di kelas ini, 2 a. Kata teman-temanku, aku orang nya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *