Keajaiban Bunga Mawar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 20 July 2013

Sore ini aku duduk termenung di senja hari yang berada tepat di depan mataku. Aku teringat masa lalu, ya masa lalu ku yang indah. Yang mengubah semua hidupku. Ya, masa lalu yang manis, dan. AJAIB.

“haaa… Pangeran, kapan kau sadar akan hadirku disini? Kapan? Ahh, mungkin hanya dalam mimpiku saja” Gumamku, dikejauhan ku perhatikan seseorang yang sedang membaca satu buah buku tebal yang sudah pasti buku yang berhubungan tentang matematika. pelajaran kesukaannya.
Ketika sedang asyik aku bergumam sambil memperhatikannya dari jauh, tiba-tiba ia bangun dari tempatnya dan berjalan menuju kearahku. Aku agak terkejut. Kulihat dia semakin dekat dengan tempatku berada. Apakah dia mendengar gumamanku? Apakah dia menyadari akan kehadiranku? Akupun refleks menutup mukaku dengan sebuah buku yang ada digenggamanku.
Aku melihat dia lewat di depanku.
Haaaa.. Ternyata itu hanya aku saja yang terlalu PD.
Rasa kecewa agak tersirat dihatiku. Semenjak aku masuk ke SMP aku sudah mulai menyukainya. Dia seorang laki-laki yang tampan, baik, juga termasuk siswa terbaik di sekolah. Kegiatannya di sekolahpun tidak sedikit, wakil ketua osis, ketua salah satu ekstrakulikuler di sekolah, dan juga ketua kelas di kelasnya. Namanya Erick Vidrianta Tarigan. Seseorang yang kusukai semenjak masa-masa MOPDB.
Dia adalah seseorang yang menjadi sebuah cinta pertamaku. Ya, cinta pertamaku.

Aku sudah benar-benar menyimpan perasaan padanya. Hingga suatu waktu aku divonis menderita penyakit leukimia, yang kutahu penyakit ini selalu berujung kematian. Aku terus bertahan, aku adalah seseorang yang tak ingin menyerah secepat itu hanya karena penyakit seperti ini.
Entah takdir atau apa, setelah aku divonis punya penyakit ini aku malah bisa dekat dengannya.
Aku sudah berkenalan lebih jauh dengannya, bertukar nomor telepon bahkan sekarang kami bisa disebut sebagai sahabat.

“Vidri, bisakah kau mengajari aku tentang matematika lagi? Miss. Plita terlalu cepat mengajarnya kadang aku telat mencatat. Adakah waktu luang?” tanyaku suatu hari, sekitar hampir seminggu setelah aku divonis. Walaupun aku dan Vidri sudah berstatus sebagai sahabat, Vidri belum sama sekali mengetahui tentang penyakit parahku itu.
“eh? Boleh, aku juga ada tugas mengerjakan tentang komputer nih, kau mau kan membantuku? Kapan ya? Besok di taman belakang sekolah gimana?” usul Vidri. Dia terlihat tersenyum santai. Padahal kau tau? Jantungku sudah bekerja terlalu cepat.

Esoknya, adalah hari sabtu, kebetulan aku sedang tidak ada acara apapun. Begitupula dengan Vidri. Di rumah aku mempersiapkan diri, aku memakai baju terusan hitam di bawah lutut dengan hiasan titik-titik putih, dengan pita di pinggang, memakai sebuah sepatu sneakers warna merah, dan syal pemberian nenek berwarna senada dengan sepatuku. Ditambah dengan jam tangan hitam. Dan sebagai hiasan terakhir aku memakai bando berbulu putih di kepalaku. Dan, aku siap berangkat.

Aku berjalan dengan perasaan yang tentu saja deg-deg-an. Jantungku tak bisa melambat.
Sesampainya aku disana, kulihat Vidri sudah stay, di tempat yang kami janjikan. Di bawah pohon rambutan.
“kau sudah sampai?” tanyaku pada Vidri.
“ah, tidak baru saja sampai juga kok.” kata Vidri.
“oh, ya sudah, mau belajar apa dulu? Mau matematika atau tik dulu?” tanya Vidri.
“bagaimana kalau kita berdua belajar bersama, nah, nanti kalau ada yang tidak mengerti saling tanya saja, bagaimana?” usulku.
“Ide bagus” senyum Vidri. Lagi-lagi aku terkejut, melihat senyumnya sedekat itu, membuatku terhenyak, ini adalah moment yang jarang terjadi.
“oh, i..iya ayo mu..mulai..” kataku tergugup.

Sesuai aba-aba kami berdua memulai pekerjaan masing-masing. Tenggelam dalam kesibukan diri sendiri. Hingga akhirnya aku bertanya salah satu rumus yang kuakui memang sangat tidak aku pahami.
“Vidri, rumus soal yang ini maksudnya gimana?” tanyaku agak ragu, karena kulihat Vidri memang sangat tenggelam di depan layar Notebook.
“ah, yang itu? Caranya gampang jadi cari dulu panjang sisinya baru dikalikan dengan lebar sisi, nah pasti ketemu deh rumusnya.” jelasnya menyingkirkan layar Notebook dari hadapannya.
“oh, iya iya sebentar aku cari rumus nanti kamu cek bener atau enggaknya ya?” jawabku.
“okey, eh ra kalau cara masukin musik ke power point terus jadi background gimana?” sekarang gantian dia yang bertanya.
“ah, itu tinggal klik menu insert, lalu masukin lagu apa, nah, abis itu ke format, nah setting jadi background deh,” aku menjelaskan secara rinci.
“oh, oke thanks,” jawabnya.

Saat pulang aku melihat sebuah taman berisikan berbagai macam bunga, aku tertarik melihat satu bunga apa lagi selain mawar?
“vidri lihat deh, disini ada mawar. Selain warnanya yang menarik, wanginya harum” kataku antusias pada Vidri.
“ah, ya kau sangat menyukainya kah?” Vidri terlihat heran melihatku begitu antusias pada setangkai bunga berduri ini.
“ya aku sangat menyukainya karena mawar, adalah salah satu kekuatanku.” aku menjelaskan menutup mata dan tersenyum.
Setelah melihat kesana-sini aku dan Vidripun menlanjutkan perjalanan pulang.

Setelah itu, keakraban kami makin terlihat saja. Dan perasaanku semakin dalam. Aku tak tau, apakah dia juga merasakan hal yang sama? Entahlah. Sampai saat ini, aku belum berani mengungkapkan perasaanku ini. Hingga akhirnya aku benar benar divonis oleh dokter akan meninggal satu bulan lagi.
Ada rasa sakit perih meiris hatiku. Aku hampir saja putus asa. Tapi, seseorang membuatku bertahan melewati hari-hariku selama sebulan. Seperti biasa aku bisa melewati hari-hariku selama sebulan ini dengan Vidri tentunya.

5 hari menjelang hari terakhirku. Aku bertekad mengungkapkan semua perasaanku padanya.
“Vidri, mungkin setelah hari ini aku tak akan ada lagi disampingmu berdua seperti ini. Maka dari itu aku ingin mengucapkan sesuatu hal padamu.” kataku membuka pembicaraan.
“apa maksudmu, seperti ingin pergi jauh saja, kau mau kemana ha? Kau tak boleh pergi meninggalkanku, nanti siapa yang membantuku mengerjakan soal-soal TIK itu?” katanya dengan nada sedikit bercanda.
“hahaha,” aku tertawa dengan mengeluarkan sedikit airmataku. Dia menoleh ke arahku dan terlihat dari raut wajahnya jelas sekali kalau dia itu sedang khawatir.
“ra? Kau kenapa? Kok nangis? Aku salah ngomong ya?” tanyanya.
“ah, tidak kok, aku hanya kelilipan debu tadi hehe, bolehkah aku mengungkapkan apa yang ingin ku katakan sebelum aku pergi?” aku memeletkan lidah seakan aku sedang bercanda padahal, ini adalah percakapan yang serius.
“haha, kau ini memang apa yang ingin kau ungkapkan?” tawanya kecil terdengar rendah. Sesuai dengan suara yang seharusnya dengan laki-laki umur kelas 8 sekarang.
“sebenarnya, aku sudah lama menyukaimu…” aku mulai mengungkapkan semua perasaanku.
“hei, leluconkah ini?” Vidri terlihat sangat tidak percaya.
“kau tak percaya?” tanyaku membuatnya salah tingkah.
“bu..b..bukannya aku tak percaya, aku hanya heran seorang Nisrina Azzahra Kurniawan menyukaiku?” katanya fasih menyebutkan namaku dengan lengkap dan jelas.
“salahkah?” tanyaku.
Vidri terdiam bahkan tak berkutik.
“hahaha, tak apa jika kau tak percaya. Aku sudah jujur denganmu saja aku sudah lega.” kataku, itu hanya mulutku yang berbicara. Padahal dalam hatiku, aku menangis. Entah kenapa.

Detik demi detik berlalu, hari demi hari terlewati, dan akhirnya besok adalah hari untukku pergi, aku sudah berada di ruang ICU dengan kakak kesayanganku Icha. Dialah yang merawatku sampai aku selama aku berada di rumah sakit.
“kakak” panggilku lirih dengan suara yang memang dikeluarkan dengan segenap kekuatan.
“iya, kenapa ra?” tanya ka Icha padaku.
“ini adalah hari terakhirku di dunia, tapi kau ingatkan tentang Vidri? Orang yang sangat aku cintai itu?” aku mengingatkan ka Icha tentang Vidri.
“ya aku ingat kenapa? Aku ingin berbicara padanya?” Icha.
“tidak, jangan, dia belum tau tentang penyakit leukimiaku ini. Aku tak ingin dia bersahabat denganku hanya karena kasihan padaku. Haaa.. Ka, tau gak? Aku sayang banget sama dia, apa mungkin ada keajaiban aku akan bertahan lagi? Tapi, kurasa itu hanya mimpiku” senyumku mulai terlihat tak bersinar.
“stt sudahlah, aku yakin Tuhan punya rencana indah dibalik semua ini. Aku yakin, ya aku yakin karena kau adalah adik terbaik yang pernah aku miliki. Kau adalah adik polos yang baru mengerti cinta kemarin.” kata kak Icha membuatku tak tega meninggalkannya secepat ini.
“tapi, ka, iya aku baru mengenal cinta, tahun kemarin, ketika seseorang bernama Erick Vidrianta Tarigan datang ke kehidupanku. Dia begitu bersinar di mataku entah apa yang membuatnya menarik. Tapi sayang, aku terlalu cepat akan meninggalkannya.” air mataku mulai menetes ketika semua memori yang lalu terputar tanpa ku sadari.
“ah, Vidri sangat berharga bagimu ya?” kak Icha mengelus rambutku lambat laun, menyisir rambutku dengan jemari lentiknya. Dan mengusap air mataku dengan punggung tangannya yang halus.
“iya ka, sangat, dia orang kedua yang berharga bagiku setelah keluargaku. Hehehe, ka, aku ini bodoh ya? Masa aku mencintai orang yang sudah pasti mencintai orang lain?” aku terkekeh menahan air mata lagi.
“hei, tak pernah ada yang salah dalam hal mencintai, cinta itu perasaan, dan perasaan itu tak pernah salah, coba kau cek dari dalam hatimu yang terdalam, aku tau kau sangat ingin bersama vidri kan?” sorot mata yang ingin tau itu melirik tajam ke arahku.
“ha.. Aku memang tak bisa membohongi kakakku ini ya?” aku berkata.
“hehehe, oh iya bisa pinjam handphone-mu sebentar?” tanyanya, aku mengagguk dan memberikan handphone hitam kesayanganku padanya.
Setelah handphone-ku sudah ada digenggamnya dia seperti membuka kontak nama dan mencari salah satu nama, dan ketika ia terlihat sudah menemukan nama yang ia cari, dia cepat meng-copy -paste ke handphonenya, dan mengembalikan handphoneku dan dia sendiri keluar ruangan dan sepertinya menelepon seseorang.
Setelah sekitar 8-10 menit lebih dia menelepon seseorang akhirnya dia kembali dengan wajah, senang.
“sekitar 20 menit lagi, kau akan mendapat hadiah dariku, memang tak seberapa tapi, kuharap kau menyukainya.” setelah berkata seperti itu ka Icha mengerlingkan salah satu matanya yang indah.
“eh? Apa deh?” kataku heran.
Yang ditanya hanya diam dan terkikik mencurigakan.

Tepat setelah 20 menit berlalu, ada seseorang yang membuka pintu kamarku dengan tergesa-gesa. Aku menoleh dengan tersentak.
Kufikir dia adalah dokter yang selalu memeriksa kondisiku setiap jamnya ternyata…
“fuah, apa aku terlambat? Ara, kau baik-baik saja?” orang itu mendekati kasurku dan menggenggam tanganku. Lagi-lagi raut wajah yang khawatir. Entah apa perasaanku sekarang, haruskah aku senang? Karena orang ini mengkhawatirkanku, atau aku harus bersedih karena orang ini sudah mengetahui penyakitku?
Ya, orang ini adalah Vidri. Dia datang membawa satu tas agak besar.
“kok, kamu tau aku ada disini?” kataku.
Vidri menjelaskans semuanya.
Aku hanya mengehela nafas. Vidri-pun menginap menemaniku.

Esoknya, aku kembali terbangun, paginya Vidri mendekatiku dan berkata. “Ara, aku juga ingin jujur boleh?” kata Vidri, aku hanya menjawab dengan mengangguk.
“sebenarnya aku juga menaruh perasaanku padamu, sejak lama, bahkan sebelum kau mengenalku. Aku sudah tau dimana kamu tinggal. Aku tau ini adalah pengakuan terbodoh, karena aku tau kau akan pergi, tapi, bisakah kau bertahan demi diriku? Aku mencintaimu ra, sangat.” Vidri menggenggam tanganku matanya berbinar, menahan air mata.
“terima kasih, sudah mebalas cintaku, tapi maaf, aku sudah bertahan sejauh ini, aku tak tau sampai kapan aku bisa bertahan.” aku tersenyum tapi, entah mengapa pipiku malah terasa basah.
Aku berbicara dengan mulai terbata.

Saat itu, ku fikir aku sudah tidak ada di dunia ini. Tapi, takdirku berkata lain. Aku hanya mengalami koma selama seminggu dan kau tau? Siapa yang memberiku keajaiban untuk kembali membuka mata? Ya, sekuntum mawar merah, dan seorang yang menjadi cinta pertamaku. Vidri.

Sekarang, aku dan dia resmi bertunangan. Penyakit leukimia-ku pun ternyata bisa sembuh, walau terkadang aku masih merasakan efek samping pengobatan. Dan kejadian itu adalah kejadian 8 tahun lalu. ya, 8 tahun lalu…

Aku selalu tersenyum ketika mengingat semua itu. Tersenyum dan tersenyum, dan sekarang di setiap sudut kamarku, aku menaruh sekotak bunga mawar yang di atas sekotak bunga itu terlihat foto ku dengan pangeran mawar sedang tersenyum manis. ya pangeran itu, adalah Vidri.

Cerpen Karangan: Nisrina Azzahra Kurniawan
Facebook: https://www.facebook.com/Nisrinazzahra

Cerpen Keajaiban Bunga Mawar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karenamu Aku Tahu

Oleh:
Aku terbangun di kelas yang cukup ramai. “Daa..” panggilku lirih. Alda menoleh. “Kirana, udah bangun kamu? Eh tau nggak sih kamu tuh tadi tidur dari jam-nya Pak Budi, untung

Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 4)

Oleh:
Di hari terakhirnya dia liburan, sebelum esoknya pulang kembali ke Purwokerto, Dewi kunjungi Telaga Pucung. Sebuah telaga berair jernih tak jauh dari Curug Cipendok. Di telaga itu dia berniat

Cinta Jarak Jauh

Oleh:
Aku melangkahkan kakiku ke ruang makan. Seperti biasanya setelah selesai mandi kami harus berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Aku terdiri dari dua orang, aku -Raina- dan kakak laki-lakiku

Kisah Dari Desa

Oleh:
Ketika cahaya pagi mulai masuk melewati tirai kamarku aku segera terbangun untuk berolahraga, karena hari ini adalah hari pertama libur panjang. “Pagi nesha, mau olahraga ya?” tanya mama padaku.

Ketentuan Sang Pencipta

Oleh:
“ibu kok nangis !” sapa Rizal yang melihat butiran embun di pipi sang ibunda. “ada apa bu ?” lanjutnya sambil mendekati ibunda yang duduk di dekat telepon. “apa ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *