Keanehan Aldi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 November 2016

Di pertama Aldi masuk kelas, sifatnya tampak berubah. Tidak seperti biasanya. Dia lebih senang menyendiri. Apalagi saat melihat Rifan, sahabatnya dari kecil. Wajahnya diselimuti kekesalan. Apa yang terjadi dengan Aldi?

Kenangan itu dimulai ketika Aldi duduk di bangku SMP. Saat itu mereka berdua adalah sobat karib, selalu kompak dan kocak. Selain itu, mereka selalu bersama-sama seperti perangko. Bahkan anak-anak sampai menganggap mereka berdua berpacaran, karena begitu dekatnya.

Tetapi seiring berjalannya waktu, semua itu berubah. Disaat mereka menginjak bangku SMA, mereka mulai berjauhan. Tidak seperti dulu lagi. Seakan kekompakan itu berlalu begitu saja. Padahal mereka satu sekolahan. Aldi juga merasa sifat Rifan mulai berubah. Ia selalu jalan berdua dengan Zahra, cewek cantik yang disukainya saat pertama bertemu pada waktu MOS. Selain itu, Rifan juga sering bergabung dengan Riko, murid pindahan yang juga satu sekolah dengan mereka. Pernah disaat pelajaran olahraga usai, biasanya Rifan mengajaknya membeli minuman di kantin. Tapi, sekarang sudah tidak lagi. Ia malah sering mengajak Riko. Pada saat itulah Aldi kesal dan kecewa dengan temannya itu.

Di kelas, Aldi menyendiri di kursinya sambil membaca sebuah novel. Rifan melihatnya dan langsung menghampirinya.
“Eh… sob, tumben enggak keluar?” sapa Rifan sambil menepuk bahunya dan tersenyum.
“Males.” jawab Aldi dengan singkat.
“Emang lo enggak bete di dalem kelas terus? Padahal di luar ada Zahra lho!” kata Rifan yang menggodanya.
“Kalo lo mau ke luar, ya ke luar aja. Ngapain pake ngajak-ngajak gue!” jawab Aldi dengan kesal.
Di dalam hati Rifan kaget dengan sikap Aldi padanya.
“Lo kenapa sih, sob. Abis kesambet apaan kemaren? Jangan-jangan abis kesambet gledek, ya!” ledek Rifan.
Tapi, Aldi tidak tertawa dengan ledekkannya Rifan. Menurutnya itu bukanlah sebuah lelucon, tapi sebuah hinaan. Akhirnya dengan kesal yang tertahan, Aldi hanya diam dan tidak berkata apa-apa.

Tiba-tiba dari luar kelas, Zahra datang dengan terengah-engah menghampiri mereka berdua. Dari raut wajahnya seperti sedang mencari seseorang.
“Ya ampun, gue cariin ternyata lo disini. Oh ya fan, lo dipanggil sama Pak Robert!” kata Zahra.
“Memang ada apa?” tanya Rifan.
“Gue juga enggak tau. Katanya sih, penting. Mending lo langsung ke kantor. Ditunggu Pak Robert disitu!” perintah Zahra.
“Oh ya udah. Kalau begitu gue ke kantor dulu ya, sob!” kata Rifan sambil menepuk bahu Aldi dan meninggalkannya di kelas.
Aldi hanya diam dan tidak menengok dan menoleh pun ke Rifan. Matanya tertuju pada novel yang dibacanya. Ketika Rifan sudah pergi meninggalkannya, Zahra pun juga pamit pada Aldi yang hendak ke luar kelas lagi.
“Kalau begitu, gue ke perpus dulu ya, di. Ada tugas yang belum gue kerjain tadi. Enggak apa-apa kan, kalau gue tinggalin disini?” tanyanya.
“Oh ya, enggak apa-apa kok.” jawab Aldi.

Ketika Zahra baru sampai di pintu kelas, tiba-tiba Aldi memanggil Zahra. Seperti ada suatu hal yang ia sampaikan padanya.
“Zahra!!!” teriak Aldi.
Zahra pun menoleh, “Apa?” jawabnya.
“Enggak, cuma ngetes kuping doang. He he!” ucap Aldi sambil nyengir.
“Ye… kirain ada apa manggil-manggil gue! Ya udah gue duluan ya!” kata Zahra lagi sambil melangkah ke luar kelas.
“Iya!” jawab Aldi.
Akhirnya Aldi pun sendirian lagi. Tiba-tiba rasa penyesalan datang padanya yang telah membuang kesempatan untuk menyatakan perasaan pada Zahra tadi.

Bel pulang sekolah pun tiba. Rifan melihat Aldi yang hendak berjalan pulang dan langsung menghampirinya.
“Aldi!” teriak Rifan.
“Apaan?” jawabnya dengan ketus.
“Pulang bareng gue yuk? Nanti kita main ke rumahnya si Riko. Katanya dia punya permainan games online terbaru lho! Gue udah liat, tapi belum gue mainin. Kayaknya sih keren. Mau gak?” kata Rifan.
“Sori, enggak bisa. Gue ada janji sama sepupu gue mau ngebantuin betulin motornya yang rusak. Jadi enggak bisa, enggak ada waktu. Gue pulang duluan!” kata Aldi sambil melangkah pergi meninggalkan Rifan.
Dari dalam hati, seribu tanda tanya datang dalam benak Rifan. Dia tidak percaya Aldi bisa berubah seperti itu. Karena tidak ada teman yang mau diajaknya, Rifan pun pergi ke rumah Riko sendirian dengan hati kesal.

Keesokan harinya, saat bel istirahat berbunyi Rifan datang mendekati Aldi yang sedang makan di kantin.
“Hei bro, apa kabar lo?” tanya Rifan dan tersenyum.
Dan lagi-lagi Aldi hanya diam dan pura-pura tidak mendengarkan.
“Kenapa sih lo dari kemarin sikap lo aneh banget ke gue? Marah-marah enggak jelas. Kalau ada masalah cerita dong ke gue! Apa jangan-jangan lo lagi dapet ya?” ledek Rifan.
Karena melihat pertanyaan Rifan yang sedang bercanda, dengan terpaksa Aldi menjawabnya.
“Iya, emang kenapa kalo gue lagi dapet?” tanya Aldi dengan sebal.
“Hah… serius lo lagi dapet? Wah.. parah banget! Lo musti ke rumah sakit tuh!” tanya Rifan yang kaget.
“Iya kagak lah. Emang lo pikir gue cewek apa? Otak lo kayaknya mulai miring ya!” kata Aldi dengan kesal.
“Nah terus, kenapa lo marah-marah mulu dari kemaren?” tanya Rifan.
“Enggak kenapa-kenapa.” jawab Aldi singkat.
“Kayaknya lo ngerahasiain sesuatu dari gue ya! Come on, jangan begitu. Perasaan selama ini gue gak pernah ngerahasiain apa-apa dari lo. Kenapa sekarang lo gitu sih? Enggak asik banget!” kata Rifan yang sedikit sebal.
Akhirnya dengan sedikit rasa bersalah Aldi pun berusaha memulai perkataannya.
“Bukan begitu maksud gue. Ya gue ngerasa sifat lo sekarang berubah!” kata Aldi.
“Berubah gimana? Yang ada lo yang berubah!” bentak Rifan kesal.
“Ya menurut gue, lo berubah sejak deket sama Zahra dan Riko!” kata Aldi.
Tiba-tiba Rifan langsung tertawa terbahak-bahak. Seakan perkataan Aldi tadi adalah suatu lelucon yang lucu.
“Oh… jadi sikap lo aneh ke gue cuma cemburu sama gue! Ha…ha…ha, gue gak nyangka ternyata sikap lo masih kayak anak kecil ya, sob?” kata Rifan tertawa.
“Enak aja lo. Mana mungkin gue cemburu!” bentak Aldi.
“Udah ngaku aja. Enggak usah bohong sama gue! Gue tau lo itu cemburu!” kata Rifan.
“Hah… terserah lo deh!” kata Aldi akhirnya.
“Gue rasa lo selama ini salah paham sama gue, Di. Nih gue jelasin, selama ini gue deket sama Zahra cuma sebatas antar saudara doang. Oh ya, gue lupa kasih tau lo kalau Zahra itu saudara sepupu gue. Ya masa, gue pacaran sama saudara sendiri? Nggak mungkin, lah. Kalau soal Riko, gue deket sama dia soalnya minggu besok ada pertandingan sepak bola melawan SMA tetangga sama dia. Karena saking sibuknya latihan, gue jadi lupa sama lo! Maaf ya, sob!” kata Rifan panjang lebar.
Kemudian Aldi pun terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya seakan terkunci dengan pernyataan Rifan padanya. Ternyata selama ini dia salah paham pada Rifan. Rasa bersalah kemudian datang lagi ke hatinya. Sedetik kemudian Aldi pun tersenyum. Wajah kesalnya seakan menghilang.
“Oh…jadi begitu ceritanya. Kalau begitu gue minta maaf juga, ya sob! Gue udah salam paham sama lo. Gue kesel aja lo mulai ngejauhin gue setelah deket sama mereka berdua terus lupa sama gue!” kata Aldi.
“Ya enggak lah! Bagi gue lo itu sahabat paling baik yang pernah gue kenal!” kata Rifan sambil tersenyum.
Aldi pun kembali tersenyum. Entah kenapa perasaan kesal, marah, kecewa itu pergi begitu saja. Seperti abu yang hilang diterpa angin. Dia pun sadar bahwa Rifan lah satu-satunya teman yang mengetahui sikap dan juga perasaannya.

Tiba-tiba Riko datang dengan tergesa-gesa menghampiri mereka berdua.
“Kemana aja lo, fan. Gue cariin, ayo cepet latihan. Pak Robert udah nungguin kita di lapangan!” kata Riko dengan nafas naik turun.
“Eit, tapi tunggu sebentar!” kata Rifan sambil tersenyum misterius.
“Kenapa?” tanya Riko.
Tiba-tiba Rifan memberi setangkai bunga mawar pada Aldi. Aldi pun menerimanya dengan bingung.
“Buat apaan nih? Masa lo kasih bunga ini ke gue! Otak lo bener-bener udah miring kali ya!” kata Aldi.
“Jangan fikir negatif dulu. Bunga ini lo kasih ke Zahra nanti waktu dia ada disini.” Bisik Rifan.
“Hah… lo serius?” tanya Aldi lagi.
“Iya, serius. Tenang semua udah gue atur, tinggal lo yang ungkapin perasaan lo ke dia. Gue tau lo suka sama dia. Jadi gue cuma bisa bantu itu doang. Jadi, good luck ya my friend!” kata Rifan sambil melangkah pergi bersama Riko.
Setelah Rifan pergi, Aldi terus mengingat kata-kata yang diucapkan Rifan padanya. Berarti, selama ini Rifan sudah tau kalau Aldi menyukai Zahra dan berusaha mengatur semua ini untuk menjodohkan Zahra padanya? Tapi, bagaimana Rifan bisa tau kalau Aldi menyukai Zahra?

Aldi pun melakukan perkataan yang diperintahkan Rifan padanya. Ternyata benar, Zahra datang ke kantin dan bertemu dengan Aldi.
“Hai!” sapa Zahra yang mukanya memerah.
“Oh… hai juga! Kenapa lo ada disini, Zar? Kan bentar lagi mau masuk kelas!” tanya Aldi yang mulai gugup.
“Gue ke sini karena disuruh sama Rifan. Katanya dia mau beliin gue mie pangsit, tapi mana? Orangnya malah enggak ada!” kata Zahra dengan sebal.
“Kalau begitu, mau enggak kalau gue yang traktir?” tanya Aldi sambil tersenyum.
“Boleh. Tapi kalau lo enggak keberatan!” kata Zahra sambil nyengir.

Akhirnya Aldi pun mentraktir mie pangsit itu pada Zahra. Zahra menyambutnya dengan senang. Tiba-tiba terlintas di pikiran Aldi perkataan yang disampaikan Rifan padanya.
“Ehm… Zahra, ada sesuatu hal yang mau gue bicarain sama lo!” kata Aldi yang mulai gugup. “Kali ini gue gak boleh gagal!” pikirnya.
“Apa?” jawab Zahra yang sedang makan.
“Ehm… gue… gue mau ngomong sesuatu sama lo!” kata Aldi lagi.
“Ya apa? Kalo penting, langsung ngomong aja!” kata Zahra yang mulai bosan.
“Ehm… ini tentang perasaan gue sama lo! Jadi… selama ini… gue… gue… itu sebenernya suka sama lo!!! Mau enggak kalo lo jadi cewek gue?” kata Aldi dengan memberi bunga mawar itu pada Zahra.
Seluruh anak-anak di kantin pun mendengarnya. Seperti pertunjukkan drama cinta, semua anak-anak pun mengerumuni Aldi dan Zahra di kantin itu. Tiba-tiba ada salah satu anak yang langsung memberi dukungan pada Aldi untuk menerimanya.
“Cie… Aldi baru nyatain cinta sama Zahra!!! Udah terima aja Zahra!” teriak salah satu anak.
Dengan malu-malu, akhirnya Zahra pun menjawabnya.
“Lo apaan sih, di! Ini tuh enggak lucu banget tau?” kata Zahra yang mukanya kembali memerah.
“Udah… Zar, terima aja! Kasian Aldinya!” teriak salah satu anak lagi.
Akhirnya, dengan sedikit malu-malu Zahra pun menjawabnya.
“Oke, kalau lo maksa… gue terpaksa jujur kalau gue juga suka sama lo! Dan gue mau jadi cewek lo!” jawab Zahra dengan tersenyum dan menerima bunga mawar dari Aldi.
“Hah… beneran! Ini serius kan?” tanya Aldi yang tidak percaya.
“Iya, gue serius!” kata Zahra.
Tiba-tiba terdengar semua anak-anak bersorak-sorai.
“Eh… beneran diterima!!! Cie… Aldi punya cewek baru!”
“Jadi… sekarang kita beneran…”
“Iya.” Sambung Zahra tersenyum.

Akhirnya cinta Aldi diterima oleh Zahra. Ternyata Rifan sudah mengatur semua ini untuk Aldi. Dan semua telah berjalan dengan sempurna! Siapa yang tau Aldi dan Rifan bertengkar? Dengan kejadian ini, Aldi semakin merasa bersalah pada Rifan karena sudah salah paham padanya. Tetapi sekarang semua itu berubah 95%!!!

Tak lama kemudian Aldi pun kembali tersenyum. Pertemanan itu sungguh menyenangkan. Walaupun di dalam pertemanan itu ada rasa pahitnya, tapi asalkan teman kita sayang dan peduli pada kita sepenuhnya itu sungguh luar biasa. Dan mulai saat ini ia berjanji tidak akan bersikap seperti itu pada Rifan.

SELESAI

Cerpen Karangan: Hernita Sari Pratiwi
Facebook: Hernita Sari Pratiwi

Cerpen Keanehan Aldi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Peterpan

Oleh:
Hari ini akan menjadi hari yang bahagia untuk Chanyeol, sebuah cincin telah disiapkan untuk melamar sang kekasih. Senyum indahnya terpancar, ketika ia mencoba memakai kedua cincin yang berbeda ukuran

Rania 2

Oleh:
Bukan tanpa alasan aku mau menunggu lama di sini. Berpanas-panas dan disengat matahari. Belum lagi asap kendaraan bermotor yang katanya dapat mengganggu kesehatan. Dan dengan sedikit jengkel, aku masih

The Korean Girl (Part 1)

Oleh:
Andrea Loxia Karagiwa itu namaku. Aku anak kelahiran Seoul, 17 November 1998. Yap, aku gadis remaja berumur 16 tahun. Kamu tahu tempat Seoul? Tentu. Seoul adalah salah satu kota

Hanya Tentang Kau dan Aku

Oleh:
Dikala senja mulai hadir untuk menyapa, kau datang memberi salam lewat pesan Facebook yang baru saja kubuat dua hari yang lalu. Bagiku itu adalah mimpi yang hadir dalam kenyataan.

Cinta Ku Busway

Oleh:
7 bulan jomblo itu rasanya parah-parah banget, kalau setiap malem kaga ada yang ngucapin “selamat malam sayang, semoga mimpi indah ya” dan kalau pagi pun enggak ada yang ngucapin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *