Keep Black Skin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 July 2016

Siang semakin terang, matahari pun semakin bersemangat memamerkan cahayanya. Semua manusia yang berada di daerah tropis pun akan bertingkah sebagai cacing kepanasan. Terkhususnya anak sekolah. Cuaca panas, perut yang lapar, tenggorokan yang kering, dan mengakibatkan tak ada lagi yang berkonsentrasi belajar. Ya ini tak membuat Mauli gadis cantik dan banyak bicara itu terus gelisah. Lebih baik memilih duduk di koridor kelas.

“Eh kok diluar aja” tanya Lani
“Banyak angin disini” Mauli menjawab dengan singkat sambil tersenyum.
“Oh bagus lu yaa. Ada Rangga rupanya” Lani mencoba melirik ke arah samping kelas mereka.
“Hehe dia keling banget yaa. Senyumnya memang manis, tapi kulit hitamnya itu lo jadi keunikan dia. Memang beneran itam. Bukan coklat” Mauli mencoba menerangkan kepada Lani soal kekasihnya itu.
“Iya. Lu hobi banget sama yang itam-itam gitu ya” Lani kembali memojokkan Mauli. Dan pergi meninggalkan Mauli sendiri. Rangga memang bukan tipenya, tapi entah karena perjuangannya atau kebaikan Rangga yang membuat Mauli menerima Rangga sebagai kekasihnya. Memiliki pacar sebelah kelas itu memang termasuk kenangan dimasa sekolah. Apalagi dimasa SMP seperti Mauli. Sejujurnya Mauli tak begitu suka terhadap Rangga. Hanya saja dia mencoba mempertahankan Rangga dan membuat Rangga tak meninggalkannya karena Rangga selalu setia sebagai ojek Mauli. Dan dia juga memiliki inciran yang telah lama diperhatikannya walau memang Mauli tak mengenal lelaki yang bukan satu sekolahnya itu.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan telah tiba saatnya Mauli dan seangkatannya akan segera mengakhiri masa belajar, dan bermain di SMP. Tak seperti yang lain, siswa-siswi yang berduka sana sini, juga ada yang memilih menghabiskan waktu bersama kekasih.
Namun beda dengan yang lain, Mauli lebih memilih melamunkan sosok lelaki yang dikenalnya sebagai idolanya itu. Mauli selalu berharap agar dapat mengenal dan bahkan dekat dengan lelaki hitam juga manis itu.
“Galau nih karena gak bisa foto sama pacar?” ledek Lani yang tiba-tiba hadir di sebelah Mauli.
“Apaan galau?” tanya Mauli singkat.
“Iyakan. Gak mungkin galau, lu nya aja dari tadi senyum-senyum gak jelas”
“Iya. Walau gue uda gak pacaran lagi sama Rangga. Galaunya karena sampe sekarang gue belum tau nama itu cowok”
“Ya ampun, move on dong dari yang itam-itam. Kalau jodoh nemu juga ntar sama dia”. Mauli hanya bisa tersenyum kembali mendengar kata-kata temannya itu. KITA PASTI JODOH. Ujarnya dalam hati. Lani pun meninggalkan Mauli yang sedang asik melamunkan lelaki incirannya itu.

Pagi yang cerah, membuat kebanyakan orang berbahagia dan bersemangat melakukan aktivitas. Tak sama seperti Mauli yang harus mengerutkan dahi, juga mengecilkan pupil matanya itu, celingak-celinguk, celingak-celinguk, posisi kepala Mauli hanya terarah ke kanan dan kiri memandang satu persatu wajah orang-orang yang tak terlalu baru baginya. Masih sibuk memperhatikan orang-orang sekitarnya, kakak senior panitia Mos memanggil namanya yang sejak tadi bertingkag aneh dalam barisan. Mauli pun hanya menurut dan siap menerima hukuman. Menurutnya hukuman bernyanyi dikeramaian bukan hal yang sakit, meski dengan suara pas-pasan. Dia malah berbahagia berada di depan siswa-siswi lain. Karena sejak tadi, mata lelaki itu hanya tertuju padanya.
YA TUHAN. KAU HADIRKAN DIA. Mauli bersyukur dan semakin berbahagia. Dia malah mengeraskan suaranya.

Tiga hari sudah terlewati masa orientasi siswa itu. Kali ini, Mauli hanya berdoa agar masuk ke kelas yang terbilang lebih unggul. Dan Ya!!
Maulidifa Syarafa!! Panggilan itu mengejutkan Mauli yang telah terpilih ke dalam kelas unggul itu. Dan terkejut memang, karena harus dipertemukan orang-orang yang itu-itu juga yang pernah dilihatnya ketika SMP. Mauli pun tak bingung memilih teman sebangku. Lebih dikejutkan ketika dia semakin melihat jelas lelaki hitam, cuek, dan manis, dan oh, Mauli semakin terpana.
“Ini gue, gue yang suka sama lu. Gue!!”
Bisiknya sendiri sambil melihat ke arah lelaki itu yang tanpa sadar didengar oleh teman lain.
“Oh, itu azhar namanya. Azhar!! broh, Mauli broh Mauli namanya” Darwis mengejutkan lamunan Mauli. Kali ini hanya pipi merah merona yang ada di wajah Mauli ketika melihat Azhar melihat ke arahnya dengan senyum yang terbilang terpaksa.
Lambat laun, Mauli dan Azhar semakin dekat, dekat dan darrr.
“Happy anniv 5 bulan Mauli Azhar. Yee”
Mauli dan Azhar hanya tersenyum melihat reaksi teman-temannya. Keinginan Mauli terwujud. Nyata dan benar nyata. Lelaki itu yang selalu ada untuk Mauli. Walau mereka selalu bersikap tak peduli, tapi sulit dipungkiri, bahwa dua kaum adam dan hawa ini sangat saling mencintai.

Tapi kali ini semua berubah. Mauli hanya bersahabat dengan masa lalu bersama Azhar. Beranjak ke kelas dua dan berlanjut ke kelas tiga, Azhar semakin bersikap dewasa, dia memilih mengakhiri hubungan sederahan itu dengan Mauli.
“Udahla. Move on” Indri mencoba menenangkan Mauli.
“Gak segampang itu. Mengawali cinta itu mudah. Mengakhirinya sulit. Bahkan sangat sulit.” jawab Mauli sambil memegang dan meraba jam di tangannya pemberian Azhar.
“Dia aja gak peduli. Dia juga nyuruh kau jangan dekati dia lagi. Jangan bodoh”
“Udala, biarla aku bersahabat dengan masa lalu. Aku masih mencintainya”
Indri hanya terdiam melihat temannya yang sejak tadi memperhatikan Azhar yang sedang bermain futsal di lapangan sekolah.

Detik berganti menit. Menit pun berganti jam. Pagi ini Mauli kembali tersenyum ketika Azhar kembali padanya. Kembali walau bukan mengulang masa indah seperti dulu, melainkan untuk lebih menjaga Mauli yang masih terlarut dalam cinta nya oleh Azhar. Azhar selalu mencoba ada untuk Mauli, walau Mauli merasa hatinya seperti digantung. Cinta seperti di abaikan. Penantiannya seakan sia-sia. Tapi dia mulai tenang ketika Azhar berkata langsung di hadapan Mauli.
“Jangan terlalu sedih hanya karena cinta, jangan menutup diri hanya karna masa lalu. Aku masih mencintaimu. Tapi ada yang lebih ku fokuskan. Ku biarkan hatimu bercabang. Tapi ku tetap yakin, kaulah pemilik hati ini, walau bukan sekarang ini. Terseyumlah. Aku menyayangimu” Mauli hanya bisa tertunduk dan menangis gengsi terhadap Azhar. Azhar tanpa menunggu respon Mauli, langsung memeluk Mauli dengan erat.
SUATU SAAT AKU KAN BAHAGIA. Hibur Mauli dalam hati yang masih menjatuhkan air mata di pelukan Azhar.

Cerpen Karangan: Isma Hidayati
Facebook: Isma Hidayatii

Cerpen Keep Black Skin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Sahabatku

Oleh:
Mungkin aku tak pernah sadar jika ia telah melepaskan aku, aku tidak berhak lagi untuk memilikinya. Mungkin aku adalah orang yang paling gila di dunia ini, aku dengan berani

Hode (H*mo Detected)

Oleh:
Hari ini gue harus pergi pagi-pagi biasa lah gue udah janjian sama pacar gue yang cantik untuk ngantar dia ke kampus “pagi sayang” “pagi juga sayang” oh rasanya seperti

Sssttt It’s Secret

Oleh:
Catatan-catatan kenangan yang sempat aku coba akhiri, dari perasaan hina yang masih kuusahakan untuk diakhiri, dari ingatan yang sempat terhalang rimbunnya tawa kecil, hingga perasaan membiarkan beriringan dengan langkah

WhAt!?? Alvin n Natasya

Oleh:
kring… bel alarmku berbunyi waktunya bangun n siap2 ke sklh baru q.Perkenalkan nama aq Amanda Natasya Radhitama biasa dipanggil natasya “nat cpetan papa udah nunggu tuh…” Ya ini hari

Semua Itu Karena Cinta

Oleh:
Terkadang kita dibutakan oleh cinta. Bahkan kita rela berkorban demi mendapatkannya. Terlalu mengharapkan orang yang belum tentu mencintai kita itu hanyalah membuang waktu saja. Nama gue Hikmah, siswa kelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *