Kehilanganmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 March 2014

Air mataku menetes ketika ku dengar kabar itu, aku nggak pernah menyangka dia akan pergi secepat itu meninggalkanku, pergi untuk selamanya. Pergi dengan tanpa kata, hanya dengan senyum simpul dalam mimpi. Aku menyesal pernah membuat luka di dalam hatinya.

Jum’at Pagi sekitar pertengahan bulan Februari di tahun 2009.
Tidak seperti biasanya pagi ini aku bangun terlambat, ku lihat jam di mejaku ternyata sudah pukul 06.15 WIB. Hadeeeh, aku telat bangun nih! batinku dalam hati. Segera ku bergegas mandi. Ku siapkan segala keperluanku (meskipun dengan tergesa-gesa), aku harap nggak ada yang ketinggalan, agar kejadian kemarin tidak terulang lagi, aku dimarahi guru habis-habisan gara-gara buku kerjaku ketinggalan, padahal semalaman aku ngerjain tugasku itu.

“Buk Nina berangkat dulu ya!”
“Lho, kamu nggak sarapan dulu Nina?”
“Nggak usah buk Nina udah telat, nanti aja Nina beli maemnya di kantin sekolah.” Sambil mencium tangan ibuku aku berlari-lari keluar.
“Hmmmm, anak muda pasti begitu, pasti sulit kalau disuruh sarapan”. Kudengar suara ibuku samar-samar bersamaan dengan ayunan sepedaku yang semakin jauh.

Di sekolah (salah satu sekolah swasta di kotaku).
Pintu gerbang sekolah hampir tertutup, untungnya sepedaku lebih dulu melaju masuk area sekolah. Kuparkir sepedaku, dengan nafas terengah-engah aku berlari menuju kelas, sahabatku Hayu telah menunggu di depan kelas, dia melambaikan tangan tangan sambil tersenyum ke arahku.
“Tumben Nin telat,” Kata Hayu.
“Iya nih, bangunku kesiangan tadi, o ya tumben juga guru kita kok belum datang, padahal kan biasanya bel bunyi gurunya langsung masuk.”
“Tak tahulah aku,” Goda Hayu sambil berbicara dengan dialek Batak, padahal aslinya dia dari Jawa.
Aku hanya tersenyum mendengar celotehan sahabatku itu, “Udahlah ayo masuk.” Aku dan dia memang sudah tiga tahun ini bersahabat dan aku berharap kami tetap bersahabat walau sudah jadi kakek nenek (lebay ya).

Beberapa menit menunggu guruku pun masuk ke kelas, seperti biasanya pelajaran yang paling dibenci oleh hampir seluruh murid dimulai (apalagi kalau bukan pelajaran matematika). Ku amati satu per satu teman sekelasku, bermacam-macam ekspresi dari wajah mereka ku temukan, ada yang serius (sampai-sampai ada lalat di wajah pun nggak kerasa), ada yang menguap (karena saking ngantuknya), ada yang pura-pura serius padahal pikirannya melayang jauh entah kemana, dan Hayu sahabatku dia hampir-hampir aja ndlosor di meja karena ketiduran, ada-ada saja ulah teman-temanku ini, aku hanya bisa senyum memandangi wajah mereka semua. Memang matematika ini pelajaran yang sangat membosankan.

Nggak terasa setelah memandangi wajah mereka satu persatu aku teringat akan mimpiku semalam, mimpi yang membuat aku bangun kesiangan.
“Mimpi apa ya aku semalam?” Batinku dalam hati.
Setelah beberapa menit kucoba untuk mengingat, akhirnya aku mengingatnya, aku bermimpi bertemu dengan Wico, ya aku bertemu Wico semalam (yah walaupun hanya dalam mimpi), dia hanya tersenyum, tanpa ada kata, tanpa ada ucap, hanya senyum. Wico adalah laki-laki yang dulu pernah singgah di dalam hatiku, tapi itu dulu, sudah lama aku dan dia tidak berbincang, jangankan berbincang bertemu pun tidak. Tapi kali ini dia hadir dalam mimpiku, tanpa aku menduganya. “Ada apa ya dengan dia?,” pikirku. Pikiranku melayang jauh, teringat saat-saat indah bersama dia. Huft, semua itu hanya kenangan.

“Nina, Nina mana tugasmu?” Kata-kata guruku itu membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya buk maaf.”
“Mana tugasmu? Pasti kamu nggak mengerjakan ya? Dari tadi ibu perhatiin kamu melamun terus. Sekali lagi kamu ulangi hal ini ibu nggak akan ijinkan kamu mengikuti pelajaran ibu, denger kamu.”
“I i iya buk maafkan Nina, Nina mengerjakan kok, ini udah selesai tugasnya, Nina janji nggak akan ngulangi lagi.”
“Baiklah kali ini ibu maafin kamu, tapi awas ya kalau kamu ulangi lagi.”
“Iya buk Nina janji.”
“Tuh kan, kena lagi deh, kemarin gara-gara buku ketinggalan, sekarang gara-gara melamun, Nina Nina apa sih yang kamu pikirkan, fokus donk, fokus,” Batinku dalam hati.

Suara bel terdengar nyaring, tanda waktu istirahat dimulai, guru pelajaranku mengakhiri pelajarannya.
“Eh Nin, ngapain sih kamu tadi, kok sampai dimarahin guru begitu?” Tanya Hayu padaku.
“Entahlah Hay, aku juga nggak tahu,” jawabku datar. Kembali aku teringat pada mimpiku semalam.
“Yudahlah ke kantin yuk Nin”.
Aku diam nggak menjawab.
“Nina ke kantin yuk”.
Lagi-lagi aku diam nggak menjawab.
“Hellooo Nina ke kantin yuk, kamu ini kenapa sih, dari tadi pagi kamu tuh aneh banget deh, nggak seperti biasanya, udah berangkatnya telat, di kelas melamun mulu.”
“Owh Owh i i iya iya ke kantin, hehe, maaf ya?”
“Huft, kalau kamu ada masalah cerita donk ke aku, nanti sebisa mungkin aku bantuin kamu.”
“Iya Hayu makasih, tapi aku nggak ada masalah apa-apa.”

Di kantin aku memesan semangkuk bakso yang pedas dan segelas es jeruk, dari tadi pagi perut ini belum terisi, rasanya sudah melilit, bahkan kalau aku bisa mendengar suaranya mungkin perutku ini sudah nangis-nangis sambil teriak. Sedangkan Hayu memesan sepiring mie goreng dan sebotol soft drink. Dengan lahap kami memakan makanan kami. Hmmmm, yummmmy, legaaa banget nih perut, setelah keroncongan dari pagi tadi.

Bel berbunyi panjang tanda bel pulang. Aku dan Hayu saling beradu pandang.
“Aku nggak salah denger kan Nin? Tadi itu bel pulang kan?” tanya Hayu coba memastikan.
“Heem Hay, berarti ini kita pulang donk.”
“Iya Nin, tuh anak-anak pada barlari-lari sambil bawa tas mereka”
“Ya udah cepetan kita makannya, biar cepet pulang.”
Setelah aku dan Hayu membayar makanan pesanan kami di mbak kantin, kami menuju kelas dengan tergesa-gesa. Niatnya sih, sepulang dari sekolah ini Hayu mau main ke rumah, tapi ternyata Hayu lupa kalau dia sudah ada janji. Akhirnya terpaksa aku pulang sendirian.

Di Rumah, pukul 11.00 WIB.
“Assalammualaikum”
“Kok sepi ya,” batinku dalam hati
“Eh, Nina udah pulang Nin?” tanya ibuk padaku
“Ya bu, nggak tahu kenapa, mungkin guru-gurunya rapat, makannya pulang pagi, kok sepi ya buk, mana ayah sama adik?”
“Mereka keluar”

Ku langkahkan kaki menuju kamarku, kurebahkan badanku di atas kasurku yang empuk ini. Nggak kerasa aku ketiduran sampai jam 14.00 WIB. “Masyaallah aku kan belum sholat dhuhur, kenapa aku bisa ketiduran begini?”, aku bergegas mengambil air wudhu, dan segera sholat. Terdenger suara berisik di kamar tamu, setelah sholat aku menuju ke kamar tamu, ternyata wajah ibuku menunjukkan kebingungan, ada sesuatu yang disembunyikan dariku.
“Buk ada apa?”
“Kamu yang sabar ya Nin.”
“Memangnya ada apa buk?”
“Wico Nin, Wico.”
“Wico? Ada apa dengan Wico buk?”
“Wico meninggal Nin.”
“Innalillahi wa inna lillahi rojiun, mungkinkah mimpiku semalam itu adalah pertanda? Dia berpamitan kepadaku,” Batinku dalam hati.

Aku hanya diam, teringat semua kebersamaanku bersamanya.
“Jenazahnya akan datang besok Nin, hari ini baru dikirim dari Kalimantan.”
“Ya allah terimalah amal ibadahnya, tempatkan dia di tempat terindah-Mu ya rabb”

Sabtu, pukul 16.00 WIB.
Jenazah Wico tiba di rumahnya, aku hanya diam di rumah, aku nggak tahu apakah aku harus ke rumahnya, ataukah aku hanya berdiam diri di rumah meratapi kesedihan karena kehilangan dia. Entahlah.
“Nin kamu nggak ke rumah Wico?” tanya ibu.
“Entahlah buk, aku sedih, aku bingung.”
“Kamu harus tetap ke sana Nin, paling tidak kamu menghormati keluarganya, bukankah dulu ibunya sangat baik kepadamu?”
“Baiklah buk, nanti setelah sholat maghrib aku kesana.”
“Ya sudah ibuk ke sana dulu sekarang, kamu nggak papa kan di tinggal ibuk sendirian?”
“Ya buk nggak papa”

Sabtu, setelah Sholat Maghrib, tepatnya pukul 18.30 WIB.
Aku pergi ke rumah Wico, berjalan sendiri dengan kehampaan, dengan kesedihan, dan dengan bayang-bayang Wico. Ketika sampai, suasana duka menyelimuti rumah Wico.
“Eh, mbak Nina, masuk mbak,” kata Selvi, adik Wico.
“Iya Sel, maaf ya mbak Nina baru kesini.”
“Nggak papa mbak, oh ya mbak, mbak ditunggu ibuk di kamarnya kak Wico.”
Tanpa berkata apapun, aku menuju ke kamar Wico, ternyata di dalam sudah ada ibunya Wico yang menungguku.
“Nina.”
“Iya buk, maafkan Nina baru kesini.”
“Hemmmbb”
Kulihat raut muka ibunya Wico yang diselimuti dengan kesedihan.
“Ibuk.”
“Nina, ini untukmu nak, ini dari Wico, ibuk nggak tau apa isinya, yang ibuk tahu, kado ini hanya boleh dibuka oleh kamu.”

Tanpa berkata apapun, aku langsung membuka isinya, aku nggak menyangka ternyata isinya adalah cincin, foto saat kita bersama, dan sepucuk surat. Melihat isi kado itu air mataku mengalir tanpa bisa ku tahan. Ku baca isinya:

Untuk Nina,
Nina maafkan aku ya, kalau selama ini aku sering sakitin kamu, aku sering buat kamu marah, sering buat kamu kecewa, dan yang lebih parah lagi adalah ketika aku bilang ke kamu kalau aku akan nikah dengan wanita lain. Aku nggak bermaksud buat nyakitin kamu. Aku terpaksa melakukan itu. Sebenarnya aku nggak pernah ada niatan untuk nikah dengan wanita lain karena satu-satunya wanita yang kucintai adalah kamu. Foto itu adalah foto kita saat main-main di pantai dulu, kamu ingat kan? aku tetap menyimpannya, meskipun kita sudah tidak ada hubungan lagi.
Cincin ini juga aku berikan buat kamu, kamu simpan baik-baik yah, meskipun aku nggak bisa langsung ngasih ke kamu, tapi aku yakin kamu senang. Meskipun aku harus pergi lebih dulu, tapi aku akan tetap cinta sama kamu. Cintaku nggak akan pernah berubah. I LOVE YOU. Semoga kamu bahagia tanpa aku di sisimu.

Wico

Semua air mataku mengalir keluar begitu saja setelah aku selesai membaca surat itu. Semua kenangan-kenangan saat bersama terputar kembali tanpa kusadari. Maafkan aku juga Wico, aku telah berburuk sangka padamu, aku sempat benci padamu, dan aku sempat nggak mau kenal lagi sama kamu, maafkan aku Wico, maaf. Kali ini aku hanya bisa menangis, menyesal dengan apa yang telah terjadi. Menyesal karena hubunganaku dengan dia harus berakhir dengan kehilangan dia untuk selamanya. Mulai saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk menyimpan cincin itu, dengan baik. Menyimpan rasa ini yang akan menjadi kenangan yang terindah.

Cerpen Karangan: Evolet D’lah
Facebook: Evolet D’lah Caroline
Cerpen ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama, tokoh, tempat, waktu, atau yang lain harap dimaklumi, dan dalam cerpen ini tidak ada unsur kesengajaan sama sekali.

Cerpen Kehilanganmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ini Ceritaku

Oleh:
Di sini, aku akan menjemput pangeranku. Orang paling spesial di hidupku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi. Aku tidak ingin kehilangan dan terlambat lagi. Aku sudah berada di bandara sekarang.

Tiada Yang Sempurna

Oleh:
Aku sangat bersyukur dengan letak rumahku yang amat dekat dengan perpustakaan kota. Tapi bukan hanya itu saja, perpustakaan ini juga amat lengkap bukunya, selalu diupdate. Aku rasa siapapun yang

Selalu Di Hati

Oleh:
“Yes. Diizinin lagi pergi pramuka tahun ini” tanpa kusadari ternyata di depanku sudah ada seorang wanita yang memperhatikan tingkahku yang aneh sedari tadi. Dia sosok yang amat kukenal, ya

Benci Menjadi Cinta

Oleh:
Namaku Aries, ini adalah kisahku dan ketlas(ketua kelas)ku. Dulu sebelum aku dan dia menjalin hubungan, aku sangat benci padanya karena dia itu yang paling berisik di antara temannya. Dulu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *