Kejar Aku Ke Negeri Jiran

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 23 October 2017

Jadi seorang traveller adalah pilihan hidupku. Setelah lulus wisuda aku bertekad pergi ke negeri Jepang untuk menjadi traveller ternama di sana. Takkan mungkin aku pergi tanpa restu dari orangtuaku. Walau sudah berapa kali orangtuaku melarang, aku tetap pada pendirianku. Akhirnya mau tidak mau, demi kesuksesan anaknya. Mereka pun mengizinkanku pergi. Janggal rasanya jikalau aku pergi sendiri tanpa ada teman di sampingku.

Namaku adalah Zahira Kurnia Dewi, Hira adalah panggilanku. Aku pergi bersama ketiga sahabat karibku yaitu Renan, Vera dan Pasha. Renan adalah pacar setiaku. Dia memang sangat menyukaiku sejak kami masih SMP dulu, kebetulan kami berempat satu SMP. Aku dan keempat temanku bersikeras untuk mengembangkan bakat kami menjadi treveller ke negara yang belum sama sekali kami pijak sebelumnya.

Sebulan sudah perjalanan kami meniti karir di negeri itu. Untunglah kami mendapat partner kerja yang ramah. Yirama Takashi, namanya. Kami biasa memanggilnya dengan sebutan Mister. Terkadang sih memang kami tidak paham bahasa yang dikatakannya. “Ya jelas, bahasa Inggris aja belum fasih apalagi bahasa Jepang.” pikirku sambil menggaruk kepala. Tapi untunglah dia juga bisa berbahasa Indonesia, walau nggak lancar.

Pagi itu aku bersama keempat temanku pergi ke sebuah bukit bernama Bukit Hiragawa. Di situ kami sangat menikmati pemandangan yang belum pernah kami lihat yaitu Gunung Fujiyama. Dengan puncak yang menjulang dipadu terpaan awan yang mengelilingi di puncak pegunungan. Sangat memanjakan mata. Ketika pemandangan sedang kulihat, tiba tiba tangan Renan merangkul bahuku dan aku pun terlihat biasa layaknya seorang pacar. Kulihat di raut wajah Pasha terlihat sinis menatap kekasihku, Renan. Memang aku sudah tau dari dulu kalau Pasha juga punya rasa padaku, tapi dia kalah bersaing dengan Renan untuk mendapatkan aku. Tapi aku hanya menganggapnya sahabat. Melihat kecemburuannya pada Renan sontak dia pergi entah ke mana. Aku hanya diam terpaku, ingin kupanggil dia tapi apa daya Renan di sampingku. Hanya Vera yang mengejarnya seorang diri. “Maafkan aku Sya” maafku dalam hati yang tak enak pada Pasha.

Pada suatu ketika, aku sendiri ingin menenangkan pikiranku di taman Chigoka. Aku sangat jenuh dan bosan. Aku menulis sebuah puisi cinta yang tentunya untuk kekasihku, Renan.

Aku memang suka
Tapi aku takut
Aku memang rindu
Tapi aku tak khawatir
Aku memang sayang
Tapi aku sunyi
Hanya ada satu kata,
Cinta namanya
Yang dapat melenyapkan
Semua kata “tapi” itu…

Secarik puisi yang kutulis untuknya. Karena tiupan angin kencang, membuat kertas di tanganku melayang ke udara dan kukejar serta kutangkapnya, tapi tak bisa. Lalu kertas itu jatuh di pinggir tebing yang curam. Aku sungguh terkejut, karena kertas itu hampir masuk ke dalam tebing. Aku memberanikan nyaliku untuk mengambilnya. Ketika tanganku mengulur ingin sampai meraihnya. Tiba tiba bongkahan batu yang kupijak, tergelincir. Sontak aku terjatuh, aku mencoba memegang pinggir tebing. “Tolong… tolong.. tolong aku!” hanya itu kata yang saat itu mampu aku ucapkan.

Tiba tiba aku mendapati ada seseorang yang lewat. Dan ternyata itu adalah Pasha. “Pasha… tolong aku Pasha… Aku ada di pinggir tebing!” jeritku. Pasha tertegun melihatku dan segera meraih tanganku yang gemetaran. “Astaga Hira!!! Cepat ulurkan tanganmu padaku.” Akhirnya tanganku berhasil ditariknya hingga aku menindih tubuh Pasha dan tak sengaja menciumnya.

Saat kejadian itu, tiba tiba Renan datang dan melihatku bersama Pasha. “Hira!!! Pasha!!!” teriaknya kencang. “Renan… Hey ini hanya salah paham. Aku dan Pasha tidak….” ketika aku ingin menjelaskannya Renan memotong pembicaraanku. “Hira.. Kamu tega sekali menyakitiku. Ternyata kamu telah mengkhianatiku. Dan kamu Pasha… Sahabat macam apa kamu ini, kalian bedebah” amarah Renan yang menjadi jadi. “Dengarkan kami dulu Ren, ini tidak seperti kamu pikirkan.” jelas Pasha. Tanpa basi basi Renan meninggalkan kami berdua di tempat.

“Makasih atas bantuanmu tadi Sya, tapi aku harus mengejar Renan. Sampai jumpa Sya!” ucapan trimakasihku pada Pasha. “Sama sama Ra.” jawabnya. Kutinggalkan Pasha sendiri di pinggir tebing. Di pinggir tebing Pasha menemukan kertas yang kucari tadi dan Pasha membacanya. “Jadi kamu memang tak ada rasa sedikitpun padaku Ra!!!” ujarnya sedih setelah membacanya.

Sudah tiga bulan kami bekerja di Jepang. Minggu itu Mister Yirama memanggilku untuk menemuinya di kantor. Hal yang dikatakannya menyangkut penugasanku untuk berpindah alih ke Malaysia. Demi pekerjaanku aku pun menyetujuinya.

Pagi ini aku akan terbang ke Malaysia. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan sahabat sahabatku di sini terutama Renan, tapi apa boleh buat. Aku berpamitan pada Vera dan Pasha. Tapi tidak dengan Renan, karena dia entah ke mana sekarang. “Teman teman aku pergi dulu, sampaikan salamku untuk Renan juga. Sampai jumpa!!!” kataku sambil menangis. Aku segera terbang ke Malaysia.

Pasha telah mengikhlaskan kepergianku, orang yang dia cintai. Di pikirannya, tiba tiba dia ingat tentang kertas yang ditulis Hira kemarin untuk Renan. Pasha datang ke suatu tempat yang dia tahu ke mana Renan pergi. Pasha mencoba menjelaskan tentang kesalahpahaman itu, Renan tetap tidak percaya. Tapi setelah Pasha menunjukkan kertas itu padanya, Renan merasa bersalah pada Hira dan Pasha sahabatnya.

“Ren, dari dulu memang aku mencintai Hira. Tapi setelah aku tau kalau dia hanya mencintaimu. Aku rela memberikannya padamu, sahabatku sendiri.” ungkapnya haru. “Maafkan aku Sya, aku tidak bermaksud membuat cintamu bertepuk sebelah tangan” maaf Renan. “Cepat kejar Hira ke Malaysia Ren. Dia sekarang sudah beralih kerja ke sana. Mister Yirama yang menyuruhnya. Cepat Ren… Cepat!!!” perintah Pasha padanya. Lalu Renan segera bersiap siap dan paginya dia langsung terbang ke Malaysia. Di sana dia segera menemuiku.

“Hira…!!!” panggilnya dari jauh.
“Renan! Kenapa kau ada di sini?” tanyaku
“Maafkan aku Ra atas keegoisanku, aku sampai melupakanmu.” katanya sambil memelukku.
“Jadi kamu sudah tau. Iya Ren aku sudah maafkan semua kesalahanmu waktu itu.”
“Terimakasih Ra!” katanya meneteskan air mata.

Satu tahun kemudian…
Di Jepang, akhirnya Pasha pun membuka hatinya untuk Vera, gadis asal Palembang yang sebelumnya belum pernah ada rasa padanya. Tapi setelah satu tahun mulai timbul perasaan suka pada Pasha, laki laki asal Manado itu. Sekarang kedua sahabatku, Vera dan Pasha sudah menjadi pasangan suami istri dan mempunyai satu anak laki laki bernama Dimas Septian. Dan… Aku sekarang telah hidup bahagia bersama Renan di sini, di negeri Jiran.

Tamat

Cerpen Karangan: Nanda Dwi Irawan
Facebook: Nanda Dwi Irawan

Cerpen Kejar Aku Ke Negeri Jiran merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hari Hukuman

Oleh:
Di suatu pagi, ada 4 orang sahabat yang bernama Wina, Bunga, Naufal, dan Azidan. Mereka adalah sahabat sejak kecil. Sekarang mereka duduk di bangku SMA kelas XI. Mereka bersekolah

Sesuatu Di Balik Penyesalan

Oleh:
Desember 2012, Siang yang indah dengan deburan ombak menjadi instrumen merdu dan mengahantarkan gue menuju kedamaian, seakan tak kenal lelah mereka menabrakan dirinya ke karang hanya untuk membuat gue

Diary Book (Part 1)

Oleh:
Seorang gadis tampak sedang duduk di bawah sebuah pohon beringin di tepi lapangan. Di pangkuannya terdapat sebuah buku. Gadis itu membaca buku tersebut dengan berurai air mata. Natasha Ayunda

Perpisahan Tanda Pertemuan

Oleh:
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. aku pun tak tahu, mengapa harus ada perpisahan dikehidupan ini. sampai akhirnya aku tahu. disetiap perpisahan juga ada pertemuan. tetapi ada juga perpisahan yang

No Others (Part 1)

Oleh:
Hai,ini cerpen perdana! Memang ada sentuhan korea nya sedikit ^^ mungkin ada typo(kesalahan pengetikan) dan adegan-adegan yang kurang greget, mianhae(maaf).. Masih percobaan. Yang udah mampir, baca ya? Nah kalo

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *