Kekhawatiranku Saja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 17 May 2017

Beberapa hari ini Gandi menunjukkan sikap yang berbeda kepadaku. Ia nampak lebih perhatian dibandingkan hari-hari sebelumnya. Mirip orang lagi berupaya untuk melakukan pendekatan. Entah hanya perasaanku saja, atau memang benar adanya, Gandi seolah tengah mencoba mendekatiku.
Dia jadi lebih sering mengirimiku pesan lewat handphone. Mengucapkan hal-hal yang menurutku tidak begitu penting. Bahkan ia juga kerap melemparkan senyum kepadaku, ketika berpapasan di kampus. Lantaran sikapnya yang aneh itulah, aku jadi heran dan bingung. Sebab tidak biasanya ia bersikap manis kepadaku.
Tapi tak bisa kupungkiri, perhatian-perhatian kecil darinya sempat menyita pikiranku. Aku jadi lebih sering memikirkannya. Awalnya karena penasaran, namun lama-kelamaan rasa itu berubah. Aku jadi ingin bertemu dengannya, melihat senyumannya, menatap wajahnya, dan mendengarnya mengucapkan sesuatu padaku.

Ternyata aku tak perlu menunggu lama untuk memperoleh jawaban dari rasa penasaran, atas sikapnya yang aneh. Sore ini mendadak Gandi mengajakku keluar. Ia membawaku ke sebuah cafe roti bakar yang terkenal lezat.
Di sanalah aku mendapatkan jawabannya. “Lin, aku mau bilang sesuatu padamu,” ucapnya tiba-tiba.
Aku masih tidak mengerti apa yang ingin ia bicarakan. Kenapa seolah ada yang menahannya. Sedangkan di dalam benakku cuma ada satu keinginan, yaitu supaya hari ini cepat selesai. “Iya katakan saja!” sahutku cepat.
“Aku mau bilang… kalau aku…” Gandi mulai terbata-bata.
“Kamu kenapa sih Gan? Kok jadi gagap gitu?!” aku sedikit kesal padanya. “Cepat katakan! Kau mau bilang apa?” sentakku sudah tak sabar.
“Lin, aku ingin kamu jadi pacarku,” tukasnya.
“Duar… duar… duar…!” bak mendapati kembang api. Letusannya mengenai jantung hatiku. Kaget bukan kepalang, mendengar ucapan Gandi barusan. Aku jadi tak bisa berkata apa-apa. Bibirku seolah terbungkam, meski jantungku berlarian.

“Jadi gimana? Apa kamu mau jadi pacarku?” tanyanya menatap mataku tajam.
Terang saja, perasaanku makin tidak karuan. Butuh waktu beberapa menit untukku berpikir, dan menemukan jawaban yang tepat. Hatiku rasanya berkecamuk tidak jelas. Beberapa hari belakangan, aku memang merasakan sesuatu yang berbeda padanya. Lantaran sikapnya yang menyentuh hatiku. Namun di sisi lain, bagiku semua ini terasa mendadak. Aku benar-bemar dilema.

“Lina, kok kamu malah diam saja? Jadi gimana?” terlihat sorot mata Gandi nampak cemas.
Aku tetap diam, belum memberikan jawaban apapun. Benakku masih dipenuhi dengan keraguan. Rasanya aku tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Sebab ini terlalu tiba-tiba. Beragam pertanyaan muncul dalam otakku, benarkah dia menginginkan aku sebagai pacarnya. Benarkah dia mencintaiku, atau justru ini hanya permainannya.

“Lin, jangan diam saja. Jawab aku!” seru Gandi kemudian menggoyangkan tubuhku.
“Bentar, berikan aku waktu untuk berpikir,” sahutku menepis tangannya.
“Apa lagi yang kamu pikirkan?” Gandi seakan tak sabar mendengar jawabanku.
“Tentu saja aku perlu memikirkannya. Ini terlalu cepat buatku. Kau datang padaku dalam hitungan hari, lalu bilang ingin aku jadi pacarmu. Bukankah itu hal yang secara tiba-tiba?!” sentakku.
“Iya aku tau. Ini pasti mengagetkanmu. Tapi aku benar-benar mau menjadikanmu sebagai pacarku!”
“Berikan aku waktu lima menit lagi,” sanggahku dan kembali berpikir. Setelah dipikir ulang, ternyata aku tetap belum menemukan jawabannya.
Aku masih dilema, haruskah menerima cintanya atau menolak saja. Jika aku terima cintanya, rasa keraguan tak bisa kupungkiri. Namun kalau menolak, aku takut akan kehilangan semua perhatian darinya.

“Lin…” panggilnya lirih meraih jari-jariku.
“Ehmmt… maaf Gan…” sergahku menarik tanganku ke belakang. “Aku tidak bisa memberikan jawaban sekarang. Beri aku waktu,” pintaku kemudian.
“Ohh… begitu ya? Baiklah kalau itu maumu…” sahutnya terlihat sedikit kecewa.

Usai kejadian itu, hubunganku dengan Gandi sedikit merenggang. Dia tak lagi mengirimiku pesan singkat, seperti biasa yang sering dilakukannya. Sikapnya juga mulai berubah. Bukannya menegur, Gandi justru berpura-pura tidak melihatku, ketika kami berpapasan. Kemudian waktu aku coba menegur, dia malah melengos lalu pergi melewatiku.
Entah mengapa rasanya, dia seakan menghindariku. Sebab sudah beberapa hari sikapnya selalu begitu, semenjak waktu itu. Dimana ia mengungkapkan perasaannya padaku. Namun kini, ia justru menunjukkan sikap yang lain. Aku benar-benar bingung. Karena hal yang aku takutin telah terjadi.

“Lin, kamu kenapa? Aku perhatiin dari tadi murung terus?” tanya Bela duduk menyebelahiku.
“Aku nggak apa-apa kok.”
“Jangan bohong deh, nggak biasanya kamu seperti ini. Pasti ada sesuatu kan?” Bela menatapku khawatir, sementara bibirku tetap bungkam.
Ingin rasanya aku menceritakan semua kegelisahan hatiku. Sebab hanya padanya aku mampu membagi kesedihanku. Bela adalah sahabat baikku. Tak ada hal apapun yang kurahasiakan darinya, termasuk kedekatanku dengan Gandi. Namun kali ini, aku tak memiliki keberanian untuk mengatakan kecemasan yang kurasakan sekarang ini.

“Lin…” panggilnya lirih menyenggol bahuku.
“Maaf Bel, jadi melamun.”
“Kamu lagi mikirin apa sih? Sini cerita sama aku,” ujarnya.
Hatiku terus berkecamuk tak karuan. Tapi bibirku tetap saja tertahan. “Andai saja aku bisa mengatakan perasaanku saat ini Bel…” gumamku memandangnya.
“Lin, kenapa diam aja sih? Katakan ada apa? Jangan-jangan ada hubungannya sama Gandi ya?” celetuknya kemudian, membuatku tersentak.
Aku bingung harus jawab apa. Sebab tidak mungkin menjelaskan mengenai keresahanku, lantaran perubahan sikap Gandi. Aku takut kalau nantinya Bela ikut kepikiran. “Maaf Bel, aku mau ke toilet dulu!” sahutku buru-buru lari keluar kelas.
“Ini tidak benar!” seruku kesal memandangi wajahku di depan cermin. Usai membasuh muka dengan air. “Kenapa Gan, kamu berubah secepat itu? Apa cintamu sebatas ini saja padaku?” ujarku masih menatap wajahku sendiri.

“Udah selesai?” mendadak Bela berdiri di depanku, ketika aku keluar dari kamar mandi.
“Bela! Ngapain ke sini? Kamu ngikutin aku ya?” selidikku menatapnya curiga.
“Emang kenapa kalau ngikutin? Masalah?” balasnya sedikit sinis.
“Tau ahhh…” kesalku, menepis tubuhnya lalu beranjak melewatinya.
“Hey… tunggu…!” serunya berlari mengejarku. “Kamu kenapa? jujur aja. Aku tau ada sesuatu yang sedang kamu sembunyiin dariku.”
“Apaan sih! Udah dibilang nggak ada apa-apa juga, masih aja ngeyel!” ketusku terus melanjutkan langkah kaki menyusuri koridor. Bela masih berjalan mengikutiku.
“Ok! Kalau begitu! Terus gimana kabar kedekatanmu sama Gandi?”
Aku jadi lupa, kalau Bela belum mengetahui soal Gandi yang mengutarakan cintanya dan memintaku untuk jadi pacarnya. Aku baru ingat, terakhir kali dia hanya tau tentang kedekatan kami berdua. Setelah itu aku tidak pernah lagi menceritakan perkembangan hubungan kami. Termasuk sikap Gandi akhir-akhir ini.

“Woii…! Melamun lagi!” gertaknya
“Ahh… iya. Aku sama Gandi ya? Ehmmt…” aku kembali memutar otak. “Biasa aja!” tukasku acuh.
“Maksud kamu?”
“Ya begitulah…”
“Begitu gimana?”
“Glek…” mendadak sesuatu seakan menghentikan obrolan kami. Begitu pula dengan langkah kami yang ikut terhenti. Kulihat seorang laki-laki berjalan ke arah kami.
“Deg… deg… deg…” jantungku berdetak cepat. Langkahnya semakin dekat, wajahnya memancarkan keindahan yang nampak dari senyuman di bibirnya. Meskipun bukan untukku, melainkan beberapa kawan yang ia temui sepanjang jalannya menyusuri koridor. Namun aku masih tetap memperhatikannya dari kejauhan. Tempat dimana aku berdiri, dan memfokuskan pandanganku padanya.
Sudah lama rasanya, aku tak melihat senyum itu lagi. Aku sangat merindukannya. Rindu ia melemparkan senyum ke arahku. Mengucapkan kata-kata sederhana, yang bisa membuatku tertawa.
“Tap… tap… tap…” ia berjalan melewatiku begitu saja, tanpa berucap apapun. Mendapati hal itu, rasanya hatiku semakin sakit. Bagaimana bisa dia seakan tidak melihatku, sedangkan aku berdiri di hadapannya.

“Loh… Lin… itu Gandi kan? Kenapa dia tidak menyapamu? Bukankah kalian dekat?” tanya Bela bingung.
“Ehmmt… biarkan saja!” ketusku kesal beranjak pergi. Aku tidak menyangka kalau Gandi akan berubah secepat ini padaku. Padahal aku hanya meminta waktu untuk berpikir, bukan malah dijauhi olehnya.
“Lina! Tunggu!” teriak Bela menarik tanganku. Langkah kami berdua terhenti. Hatiku semakin tidak karuan. Rasanya ingin meluapkan kemarahan yang sudah mendidih hingga di kepalaku.
“Apa sih?!” bentakku penuh amarah.
“Lina… kamu kenapa kesal begitu?”
“Tidak apa-apa!”
“Pasti ini ada hubungannya sama kejadian barusan kan?” aku cuma diam tak menyahut pertanyaan Bela. “Ayo duduklah dulu,” ajaknya menarik tubuhku duduk di salah satu bangku tak jauh dari lokasi kami berdiri.

“Sekarang ceritakan ada apa?”
“Apa yang bisa aku ceritakan ke kamu? Kamu lihat sendiri kan, sikap Gandi gimana…?” ucapku lirih menahan sakit hati yang kurasakan.
“Tunggu dulu, aku benar-benar nggak paham. Bukankah kemarin kamu bilang, kalau kalian lagi dekat. Kamu juga bilang, dia itu perhatian. Terus sekarang apa? Jangankan ngobrol, negur aja nggak?!” bingung Bela.
“Maaf Bel, aku memang belum cerita sama kamu…”
“Kenapa kamu sedih begitu Lin? Ada apa? Jelaskan pelan-pelan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?” ujar Bela memegang lenganku terlihat khawatir.
“Jadi sebetulnya seminggu yang lalu, Gandi nembak aku. Tapi aku bingung, harus jawab apa. Semuanya terasa serba mendadak buatku…? Disisi lain aku masih ragu, apakah dia benar sayang sama aku, atau cuma perasaan sesaat.”
“Terus kamu bilang apa sama dia?”
“Ya, aku bilang minta waktu untuk berpikir.”
“Apalagi yang kamu pikirkan? Bukankah kamu juga suka sama dia?”
“Iya emang aku menyukai Gandi. Tapi aku masih ragu. Aku takut kalau dia tidak serius mencintaiku. Gimana kalau ujung-ujungnya dia bakal mutusin aku?” balik tanyaku ke Bela.
“Lah… kenapa kamu mikir gitu sih? Belum dicoba, udah mikir yang buruk-buruk,” sahut Bela heran.
“Gimana aku nggak mikirin? Ini terjadi secara tiba-tiba. Kamu tau sendiri kan? Baru beberapa minggu ini Gandi mendekatiku. Sedangkan dulu-dulu nggak. Terus minggu kemarin dia bilang cinta. Bagaimana aku tidak curiga?!”
“Ehhmmt… iyalah. Emang agak mencurigakan. Tapi kalau menyangkut soal cinta, kita kan nggak tau. Ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ada pula yang baru sadar saling suka, saat mereka sudah terbiasa bersama. Bahkan ketika keduanya saling berjauhan,” ungkap Bela.
“Hemmt… memang ada benarnya juga sih,” pikirku menggumam. “Tapi kali ini yang aku takutin terjadi Bel… Gandi malah menjauhiku. Bahkan kamu tau sendiri kan, gimana sikapnya? Dia pura-pura tidak melihatku? Gimana aku tidak meragukan dia?!” tukasku kemudian merasa kesal.
“Iya juga sih. Ehmmt… Tapi tunggu dulu! Mungkin dia merasa kecewa. Atau bisa jadi, dia sengaja melakukannya karena ingin memberimu kelonggaran untuk berpikir?” pikir Bela.
“Sudahlah… aku tidak peduli!”
“Kamu yakin tidak peduli? Tapi aku lihat, matamu berkata yang lain?” goda Bela menatap mataku.
“Apaan sih? Jangan menggodaku…” sergahku menepis tubuhnya.
“Kamu suka kan sama Gandi?”

Mendengar tebakan Bela, hatiku terasa bergejolak. Aku tak bisa memungkiri perasaanku, bahwa cinta memang telah tumbuh di hatiku. Cinta yang tercipta untuk Gandi. Aku baru sadar, saat kami berdua saling berjauhan.
Aku jadi merindukannya, menginginkan kehadirannya lagi. Tak mau ia jauh dariku, jangankan untuk waktu yang lama. Barang sehari saja, aku tak mampu tanpanya. Namun di sisi lain, keraguanku menahanku untuk dapat menerima cintanya, walaupun aku merasakan hal yang sama padanya.
Ditambah dengan perubahan Gandi, sekarang. Tentu kekhawatiranku semakin meningkat. Aku takut jika perasaannya padaku hanya sementara, dan bisa berubah kapan saja. Lalu bagaimana dengan hatiku nanti. Aku bahkan tidak sanggup membayangkannya.

“Udahlah Lin… kamu jangan pikirkan yang aneh-aneh! Akui saja perasaanmu padanya. Soal kedepan bagaimana, biarlah waktu dan takdir yang menentukan. Tapi setidaknya, kamu jujur dengan dirimu sendiri!” tandas Bela memegang lenganku.
“Tapi Bel, akhir-akhir ini dia menghindariku…”
“Tidak ada tapi-tapian! Kalian harus bicara sekarang! Jangan ditunda-tunda lagi!” suruh Bela melotot. Baru kali ini aku melihat sahabatku, nampak seserius itu.

Siang itu usai pulang sekolah, aku sudah berdiri di depan gerbang. Aku telah memantapkan keyakinanku. Aku akan jujur mengakui perasaanku padanya. Sepuluh menit berlalu, para siswa maupun siswi keluar satu persatu. Akan tetapi aku masih belum menemui sosok yang kutunggu. “Dimana dia? Kenapa belum keluar? Apa dia ada pelajaran tambahan?” pikirku cemas.
Aku terus menengok jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Tak terasa dua puluh menit berlalu, semenjak aku keluar dari kelas untuk menunggunya. “Kok dia tidak kelihatan? Apa jangan-jangan sudah pulang duluan?” gumamku sembari celingukan.
Kecemasan semakin menguasai hatiku. Tapi tak lama kemudian, akhirnya ia muncul juga. Aku sudah siap menghadangnya, dan mengakui perasaanku padanya. Dengan perasaan sedikit gugup, dan kaki gemetar, aku masih berdiri menantikannya melintas di depanku.

“Tap… tap… tap…” langkahnya semakin dekat. Jantungku berdetak makin cepat, perasaanku ikut tidak karuan.
“Gandi…” panggilku lirih, sebelum ia berjalan melewatiku. Kulihat ia menghentikan langkahnya, lantas menatapku. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu…” ucapku sedikit canggung.
“Iya, katakan saja,” sahutnya.
“Ehmmt… mengenai ucapanmu tempo hari… aku…” bibirku seakan tertahan. Aku tak mampu mengatakannya dengan lancar.
“Iya… kamu kenapa?” Gandi menatapku penasaran.
“Ehmmt… aku… aku…”
“Apa Lin?”
Aku makin bingung, gimana menjelaskan tentang perasaanku padanya. Tanganku terus saja gemetaran, bibirku mendadak kelu, ucapanku pun jadi gagap.
“Lina…” panggilnya kemudian, menyentuh lenganku.
“Ehmmt… jadi setelah berpikir beberapa hari ini… aku… ehmmmtt… aku…”
“Gandi! Ayo pulang!” belum sempat melanjutkan ucapanku, tiba-tiba muncul seorang cewek meraih lengan Gandi. Membuat tangannya lepas dari lenganku. Cewek itu melingkarkan tangannya, ke lengan Gandi.

“Apa ini? Kenapa hatiku mendadak jadi terasa sesak begini?” gumamku melihat pemandangan tersebut.
“Kamu ngapain sih di sini? Ayo! Aku kan udah nungguin kamu dari tadi!” ujar cewek itu nampak manja.
“Iya, sebentar,” sahut Gandi padanya.
“Emang siapa sih dia? Ayolah! Kita nggak bisa lama-lama. Udah ditungguin orangtuaku!” serunya menarik tangan Gandi tepat di depan mataku.
“Orangtua?” ucapku lirih cemas memikirkannya, sembari menatap tajam mata Gandi penuh tanya.
“Iya, kami harus segera pulang. Jadi cepat katakan, apa yang ingin kamu sampaikan padaku Lin?” mendengar ucapannya, dadaku terasa makin sesak. Jantungku berdetak hebat, hatiku terasa sakit. Aku tak tahan lagi, melihat mereka berdua. Air mata rasanya menggenangi pelupuk mataku.
“Lupakan!” teriakku lantas berlari meninggalkan mereka.

“Apa ini? Orangtua? Apakah hubungan mereka sudah sangat serius?” gumamku terus berlari. Harapanku seakan hancur. Baru kemarin rasanya dia mengatakan cinta padaku. Belum sampai dua minggu, ia telah menggandeng wanita lain. Langkahku semakin pelan. Aku tak kuat berlari lagi.
“Apakah ini jawaban dari keraguanku? Ternyata yang aku takutin terjadi juga. Dia tidak benar-benar mencintaiku. Lihat saja, belum lama ingin aku jadi pacarnya. Ehh… dia malah udah punya cewek lain!” gerutuku kesal. Tanpa kusadari, air mata menetes membasahi pipiku.

“Lin…” panggil seseorang dari belakang.
“Kamu?” kagetku waktu menoleh, Gandi berdiri di sana.
“Kamu kenapa lari? Katanya ingin bicara denganku?” tanya Gandi, sambil melangkahkan kakinya, menghampiriku. Ia mendekatkan tubuhnya, jarak kami sangat dekat.
Aku bahkan bisa menatap bola matanya dengan sangat jelas. Rasa sakit yang kurasakan, membuatku tak kuasa menahan tangis. “Hiks… hiks… hiks…” isak tangisku terdengar jelas.
“Apa ini? Kamu menangis?” aku tetap diam tak menyahut pertanyaannya. Bibirku rasanya terbungkam menahan kesakitan yang tengah kurasakan. “Lin… katakan sesuatu? Jangan diam saja, membuatku khawatir.”
“Ngapain kamu khawatir? Emang apa pedulimu! Bukankah justru kamu senang?!”
“Kamu ngomong apa sih Lin? Tentu aku khawatir padamu…”
“Jangan pura-pura lagi deh! Aku tau kamu tidak serius sayang sama aku kan?! Baru seminggu kemarin kamu bilang sayang ke aku. Aku cuma minta waktu buat berpikir! Aku butuh waktu untuk ngeyakinin kalau perasaanku tidak salah. Tapi apa?! Belum lama, kamu justru sudah gandeng cewek lain. Bahkan sampai ketemu orangtua segala?!” kemarahanku seraya makin meluap. Aku tak tahan lagi.
“Kamu salah paham…”
“Salah paham apanya?”
“Sudah jelas kok. Buktinya beberapa hari ini kamu mendiamkan aku. Pura-pura tidak melihatku. Jangankan bisa ngobrol, menegur saja tidak. Tiap ketemu malah melengos!”
“Aku punya alasan melakukan itu…” serunya memegang pundakku.
“Lepasin! Nggak usah ngeles! Kamu cuma pura-pura kan mencintaiku? Bilang sayang, tapi nyatanya malah pergi. Tau-tau udah punya cewek baru! Aku tau sekarang, kalau cintamu cuma sebatas itu saja. Jadi tidak ada…”
“Srekk…” belum selesai ucapanku, ia menarik tubuhku jatuh ke pelukannya.
“Lepasin!” seruku meronta.
“Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu!” balasnya berseru, memelukku makin erat.
“Diamlah… cukup dengarkan aku!” gertaknya membuatku menyerah. Aku tetap kukuh melepas pelukan, tapi ia justru makin kencang memeluk tubuhku.

“Aku tidak pernah berpura-pura mencintaimu. Beberapa hari ini, aku mendiamkanmu karena ada alasannya. Bukankah kamu minta waktu untuk berpikir? Jadi aku sengaja melakukannya, supaya kamu sadar akan perasaanmu sendiri terhadapku.”
“Maksud kamu?”
“Aku tau, tidak mudah buatmu menerimaku. Sebab semua memang terasa tiba-tiba. Begitu pula denganku, yang baru menyadari perasaanku padamu belakangan ini. Karena itu aku mengutarakan perasaanku. Bukannya langsung dapat jawaban, kau malah meminta waktu berpikir dulu,” jelasnya.
Aku melepaskan pelukannya, sembari menatapnya heran. Ia pun memandangiku penuh keseriusan. Dapat kulihat dari sorot matanya yang tajam.
“Tapi aku sadar, ini tidak mudah buatmu. Bahkan mungkin kau meragukanku. Mendengar ucapanmu saat itu, membuatku paham kalau kau butuh waktu. Aku coba memahami perasaanmu. Karena itu aku menjauh darimu, meskipun sebetulnya sulit buatku. Apalagi melihatmu bersama cowok lain, membuatku geram. Aku pikir dengan menghindarimu akan membuatmu sadar,” terangnya.
“Sadar?” celetukku bingung.
“Sadar akan perasaanmu sendiri.”
“Maksud kamu?”
“Iya, aku ingin kamu menyadari perasaanmu terhadapku!” tandasnya membuat jantungku berdetak hebat. Aku masih memandangi wajahnya. “Aku pikir cuma itu caranya,” lanjutnya.

“Lalu cewek tadi?”
“Mengenai cewek tadi. Kamu tidak perlu marah, ataupun salah paham padanya. Dia itu sepupuku, yang tinggal di rumahku untuk menempuh studinya di sini. Kebetulan hari ini orangtuanya dari kampung, datang untuk menjenguknya. Jadi kami harus bergegas pulang.”
“Ohh…”
“Tapi karena kamu lari, sebelum mengatakan sesuatu padaku. Aku jadi khawatir, makanya langsung ngejar kamu sampai ke sini.”
“Maaf… aku tidak tau. Maaf juga udah salah paham padamu…” ujarku lirih lantaran malu.
“Iya nggak apa-apa. O ya, jadi apa yang ingin kami katakan padaku?” celetuk Gandi.
“Ehmmt… maaf… karena membuatmu menunggu. Sejujurnya aku juga mencintaimu. Tapi aku merasa ragu, apakah kamu benar mencintaku, atau tidak. Aku takut kalau perasaanmu padaku, cuma sesaat, dan bisa menghilang kapan saja. Aku butuh waktu untuk memikirkannya.”
“Lalu?”
“Semakin aku memikirkannya, justru membuatku makin gelisah. Aku terus merindukanmu. Aku bahkan takut kehilanganmu…”
“Tenanglah… aku tidak akan meninggalkanmu. Aku mencintaimu, cuma kamu, dan hanya kamu. Jadi jangan pikirkan hal yang lainnya,” celoteh Gandi menenangkanku, sembari memegang lenganku dan menatap tajam mataku.

Ternyata semua hanya kekhawatiranku sendiri. Aku terlalu takut untuk mengakui kebenaran akan cintanya. Aku juga takut akan apai yang terjadi di kemudian hari, meskipun hal itu belum tentu kejadian.

Cerpen Karangan: Putri Andriyas
Blog / Facebook: putriandriyas.wordpress.com / Putri Andriyas
Masih terus aktif membuat cerpen dan mengisi artikel di blog. Untuk melihat hasil tulisan saya, silahkan kunjungi blog pribadi saya.
Hubungi saya di
Facebook/Twitter : @PutriAndriyas
Email : putriandriyas[-at-]gmail.com
Silahkan, jika ingin share ^_^

Cerpen Kekhawatiranku Saja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Taruhan

Oleh:
Hari ini, atau lebih tepatnya pagi ini, adalah hari yang menyenangkan dalam hidupku. Karena hari ini adalah saat dimana aku akan mengikuti tahun ajaran baru dalam sekolah yang baru

Mungkinkah Dia?

Oleh:
Namaku Weinsly lengkapnya Weinsly Widyagirta Sabrina. Aku biasa dipanggil Winny karena nama panggilanku yang terlalu rumit jadinya aku dipanggil Winy. Aku saat ini sekolah di sebuah Sekolah Menengah Atas

Gadis Berpayung Senja (Part 2)

Oleh:
Aku mulai tersadar, dan telah terbangun dari perjalanan indah mimpi semuku bersama gadis berpayung mendung senja. Aku telah membuka mata setelah sekian lama terpejam menikmati malam indahku, berkelana menanti

Semua Akan Indah Pada Waktunya

Oleh:
Hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan bagiku. Setelah aku selesai wisuda di kampusku sebagai lulusan terbaik, semua keluargaku berkumpul untuk merayakannya. Sudah lama sekali aku tidak merasakan indahnya

FLS2N

Oleh:
“Felly! Hari ini, lo bakalan latihan, kan?,” tanya Riska. “Lihat nati aja deh!,” ucap Felly santai. “Jangan gitu lah, Fel! Lomba udah deket. Ayolah!” “Iya-iya,” kata Felly dengan mengacuhkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *