Kekosongan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 October 2018

Derap langkah kaki itu semakin jelas, aku tahu siapa pemilik langkah itu. Benar saja, dalam beberapa detik pemilik langkah kaki itu sudah berdiri tepat di depanku. Mata elangnya itu menatapku tajam, rahangnya terlihat mengeras, dia seperti sosok yang tidak kukenali.

“Kenapa masih di sini?”
Aku tersenyum padanya, “Aku menunggumu.”
“Pulang. Nggak baik cewek malem-malem di luar,” ucapnya datar.
Aku meraih punggung tangannya dan mengusapnya pelan, “Hei, ada apa?”
Dia menghela napas lelah, “Nad, aku nggak tau harus bilang apa lagi. Akan lebih baik kalau kita… putus,” dia menarik pelan genggaman tanganku.

Mataku sudah memanas mendengar ucapannya, aku tahu apa yang membuatnya seperti ini. Masalah kehancuran rumah tangga orangtuanya, membuat Sakha berubah menjadi pribadi asing yang nyaris tidak aku kenali lagi. Tapi apakah dengan cara mengakhiri hubungan kami, masalahnya akan selesai?
Aku rasa tidak, aku ingin tetap berada di sampingnya, aku ingin mendampinginya pada masa sulitnya, seperti sekarang ini.

“Aku nggak mau, Kha,” ucapku sambil menunduk, tidak ingin dia melihat air mataku nantinya.
“Terserah. Kamu mau atau enggak, yang terpenting mulai sekarang kita putus.”

Menjadi Mahasiswa hukum memang tidak mudah, setiap hari aku harus mengikuti mata kuliah yang sebenarnya tidak kuminati itu. Namun apa daya, orangtuaku terus memaksaku masuk jurusan itu. Lebih baik aku jalani saja, daripada menganggur dan tidak kuliah.
Namun lambat laun aku mulai nyaman dengan kehidupan Mahasiswa hukum, aku punya banyak teman yang membuatku sedikit melupakan masa lalu itu. Sakha, satu nama yang bahkan sampai saat ini masih di hatiku.

“Nadia!”
Gadis berambut sebahu itu tiba-tiba duduk di sampingku, dia adalah Mayka. Sahabat yang kutemukan di Kampus ini.
“Lagi mikir jorok, ya?” ledeknya seperti biasa.
“Enggak. Emang lo apa? Sukannya mikir yang abnormal,” balasku agak cuek.
“Hahaha… Eh, Nad. Temenin aku yuk.”
“Ke mana?”
“Ketemu pacarku,” ucapnya enteng.
“Ogah!” jawabku asal. Mentang-mentang aku jomblo, si Mayka ini se-enaknya saja menjadikanku obat nyamuk.
“Ihh… ayolah, Nad. Nanti di sana banyak cowok keren loh, siapa tau ada yang nyangkut di kamu,” rayunya.
“Enggak, May. Aku-“
“Please, ya… ya… aku mohon…,” rengek Mayka persis seperti anak kecil. Melihatnya seperti itu membuatku tidak tega.

Akhirnya siang itu aku benar-benar menemani Mayka untuk bertemu pacarnya. Aku tidak tahu ke mana Mayka membawaku, tapi saat sampai di sana baru aku sadar kalau Mayka membawaku ke sebuah Mall di salah satu Kota kami.

Tak butuh waktu lama, aku melihat dua orang laki-laki berperawakan tinggi dan tegap. Dua laki-laki itu mengenakan celana cokelat kaki dan bagian atasnya kemeja super ketat dengan warna yang senada. Mayka sudah menjerit kegirangan, dia mengabaikanku dan menghampiri salah satu dari dua lelaki tadi.

Tapi…
Ini kebetulan atau memang takdir? Karena aku tidak percaya dengan kebetulan, bolehkah aku menganggapnya takdir?
Sakha. Laki-laki itu hanya bejarak beberapa meter dariku, setelah dia berbincang dengan pacar Mayka, pandangannya beralih padaku. Spontan aku langsung menunduk, perasaan gugup langsung menjalar ke seluruh tubuhku, gelenyar aneh yang sudah lama tidak kurasakan itu muncul kembali. Aku merasakan jantungku berdebar hebat, bersamaan dengan rasa sesak di dada serta mataku pun mulai memanas.

“Hai. Apa kabar, Nadia?” Pertanyaan singkat itu membuat kepalaku mendongak, dia masih mengenaliku? Tidak ada nada sesal, sedih, atau bersalah dari tatapan maupun cara bicaranya. Apakah selama ini dia baik-baik saja? Apa dia tidak merasa sedih dengan perpisahan kami dulu? Kurasa iya, dia terlihat baik. Tidak sepertiku, yang sempat hancur karenanya.
“Ba-baik,” jawabku singkat. Aku berusaha untuk menghindari tatapan matanya.
“Eng… ternyata kamu temennya Mayka, ya?”
“Iya,” aku tidak peduli dia akan tersinggung dengan sikap tidak sopanku ini.

“Nad, bisa enggak kamu lihat aku sebentar? Orang yang ngajak bicara kamu ada di sini,” ucapnya lembut. Akhirnya mau tak mau aku menghadapnya, mendapati mata elang itu masih sama teduhnya seperti dulu.
Dia tersenyum lembut padaku, oh… apa yang laki-laki ini inginkan sekarang?

“Maaf, aku menyesali keputusanku dulu.”
Dadaku terasak mendengarnya, tidak ada gunanya dia mengakui penyesalannya sekarang.
“Tidak apa jika kamu membenciku. Aku memang egois, Nad. Aku terpuruk saat itu, ayah dan ibuku bercerai, sekolahku terbengkalai. Dan kamu… kupikir dengan mengakhiri hubungan kita, setidaknya akan melepas satu masalahku. Aku tidak ingin kamu ikut menderita karena aku.”
Aku terpaku diam mendengar penuturannya, justru dengan dia meninggalkanku, itu yang membuatku menderita.

“Maaf, Nad. Aku sudah banyak menyakiti kamu, tapi aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu. Hari ini aku tidak menyangka bisa bertemu kamu, aku rasa ini waktu yang tepat… Nad, sampai saat ini aku masih mencintai kamu.”
Aku terkejut mendengar pernyataannya, aku menatap dalam mata elang itu, mencari kebenaran di dalam sana.
“Aku tidak memaksamu untuk kembali padaku, Nad,” dia tersenyum kecil, “Bahkan dengan bodohnya aku tidak berpikir kamu sudah punya pacar atau belum. Aku masih saja egois, aku hanya ingin kita kembali bersama-sama seperti dulu.”
Aku menyusut air mataku, aku tidak mau membohongi perasaanku ini, “Aku juga, Sakha.”

Cerpen Karangan: Diah Leni
Blog / Facebook: Diah Leni
Penulis amatiran dari Kota keci

Cerpen Kekosongan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sempat Bicara

Oleh:
Hallo, Bandung hujan lagi, siang-siang. Macet dimana-mana, pengemis di jalanan makin banyak, air got membludak, sampahnya keluar kemana-mana. Entah kenapa saya suka memperhatikan semuanya dari dalam mobil. Di luar,

Aku Mencintaimu

Oleh:
Apa yang kau harapkan dariku? Aku menyebalkan. Tapi, kenapa kau masih saja mengejarku? Merayuku? Baik hati padaku? Tak cukupkah semua usaha yang aku lakukan agar kau sangat membenciku? Agar

Cinta Sosial Media

Oleh:
Dia.. dia yang selalu membuatku tertawa. Dia yang selalu membuatku menangis bahagia. Dan dia yang selalu menemaniku dari fajar menampakkan dirinya sampai senja berlalu dan pergi. Kejadian ini bermulai

Cinta itu Logika

Oleh:
Akhirnya kini aku belajar mencintai Nandha. Wanita yang tak kuhiraukan cintanya. Mungkin dia yang bisa menerimaku apa adanya. Dulu aku percaya cinta itu tak ada logika. Kebodohan memang jika

Sekarang & Selamanya

Oleh:
Fadjar mulai menjelang, mentari kian menari dari ufuk timur. Tak terasa hari telah berganti sedangkan diriku masih terbaring di atas tempat tidur, menyambut datangnya sinar yang menelusup dari balik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *