Kelebihan (Dan) Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 November 2017

Cuaca pada pagi ini sangat terik, angin pun tak tampak hilir mudik sejak tadi, daun-daun kering yang berguguran mengotori seluruh halaman rumah. Aku duduk di kursi bambu di depan rumah sambil menikmati secangkir kopi hangat dan terus memandang piala emas yang berkilau hasil perjuangan dan pengorbananku selama ini.

Oi.. oi.. oi.. hai namaku peter aku duduk di bangku SMA tepatnya kelas 10 jurusan IPA, sehari-hari aku suka menggambar, menggambar adalah kehidupanku sekarang. Setiap hari, setiap detik, setiap aku duduk di bawah pohon beringin aku selalu menggambar, karena setidaknya itu skill yang aku punya dan dapat aku andalkan sekarang.

Aku tinggal di sebuah Kota kecil bernama Kraksaan tepatnya di sebelah Timur dari Surabaya, aku tinggal bersama Ibu dan Ayahku, ohh iya tak lupa kucing kesayangaku bernama Simmy dan Grinny. Pagi ini aku pun bersiap untuk berangkat ke sekolah, jam tangan di pergelangan tangan kiriku, gelang karet (KW) menghiasi pergelangan tangan kananku dan rambut yang cukup tebal yang telah aku poles dengan rapi (menggunakan pomade) selalu menghiasi hariku setiap hari.

Sesampainya di sekolah seperti biasa aku selalu duduk di bawah pohon beringin dekat kantin Bu.Inem, sambil menunggu bel masuk aku selalu menyempatkan menggambar dengan kertas dan pensil yang selalu aku bawak ke manapun aku pergi.

“hei Petel…” sapa beberapa gadis alay yang lewat didepan mataku.
“hei”. Balasku.
“Peter”. Sapa Karin mengejutkanku.
“Karin, hei dari mana? kok kemarin, enggak keliatan?”. balasku.
“biasa urusan keluarga, ya kamu tau kan orangtuaku selalu mendadak gitu kalau ada acara, jadi enggak sempat ijin sekolah deh, hehe”. Saut Karin sambil memukul pundaku keras. Aku dan Karin adalah sahabat, baik dari MOS sampai sekarang aku dan Karin sering banget nongkrong dan menghabiskan waktu bersama.
“kamu masih tetep ya diledekin sama anak-anak alay itu”. Tanya Karin.
“ahh biarlah namanya juga mereka, iya kamu taukan kerjaan mereka suka negeledek dan gospipin orang”. Jawabku.

Aku dari lahir ditakdirkan cadel alias tidak bisa ngomong r/er, padahal setiap hari aku sudah mencoba berlatih untuk mengembalikan kekuranganku itu, namun apa daya sepertinya itu takdir yang harus aku terima. Pertama memang sempat tak percaya atas apa yang aku derita ini, namun lambat laun aku akhirnya mengerti dan mencoba mengambil hikmah dari kekuranganku ini.

Namun tetap saja di luar sana aku masih selalu menjadi bahan guyonan yang paling empuk bagi teman-temanku mulai dari TK, SD, SMP, bahkan SMA saat ini aku selalu menjadi objek hinaan yang tiada hentinya. Namun aku tidak pernah melawan atau membalas ejekan dari teman-temanku entahlah, sepertinya aku tidak mempunyai energi untuk melawan mereka, dan aku berfikir bahwa akan lebih baik tidak membalas agar urusan tidak semakin panjang.

“jreng..jreng.. lomba melukis se-kabupaten Probolinggo, kamu ikut iya!!”. pinta Karin sambil menunjukan selembar brosur kepadaku.
“ahh.. enggakah malu aku”. Balasku.
“malu apaan sih pet, kamu jangan sia-siain kemampuanmu ini, kamu harus kembangkan apa yang menjadi kelebihanmu sekarang”. Ucap Karin sedikit mencubit pipi kananku.
“denger semua orang, semua temen-temen yang ada di kelas mereka menganggapmu tidak ada, mereka meremehkanmu pet, kamu ingat ketika Doni menyiramimu dengan tepung saat ultahmu yang ke 16, apa kamu membalas tidak kan, tapi sebaiknya jangan dibalas juga sih, but ini.. ini.. yang dapat membalas semua yang telah meremehkanmu, kamu enggak perlu bales mereka dengan fisik atau ngeledekin balik, namun dengan prestasi dan itu adalah kesempatan buat kamu”. Ucap Karin berapi-api.
Kata-kata Karin sedikit memberi motivasi buatku, setelah aku berfikir sepersekian detik dan akhirnya aku memutuskan untuk mencoba apa yang ditawarkan Karin itu.
“oke aku coba”. Jawabku.

Aku pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti lomba yang disarankan Karin itu, pada saat itu lomba diadakan di halaman kantor Bupati Probolinggo di Kota Kraksaan, lomba berjalan diiringi angin yang begitu kencang, namun aku mencoba berkonsentrasi agar apa yang aku gambar dapat memuaskan para juri. Singkat cerita lomba gambar telah usai dan pada saat itu memang menjadi hariku dengan menyabet juara 1 Lomba Melukis tinggkat Kabupaten Probolinggo, tidak lupa aku pun berterima kasih kepada Karin dan kedua orangtuaku yang hadir untuk menyaksikan lomba melukis itu.

“kan.. apa aku bilang kamu pasti bisa”. Ucap Karin sambil memandang hasil lukisanku tadi.
“hehe itu semua kan juga karna kamu rin, kalau kamu enggak ngerekomendasikan lomba ini, aku mungkin enggak akan bisa juara satu seperti saat ini”.
“hehe sama-sama peter”

Aku akhirnya terus mengikuti setiap lomba menggambar atau melukis setiap ada event tersebut, baik di tingkat kabuaten sampai ditingkat provinsi, Karin selalu menemaniku pada setiap lomba yang aku ikuti sampai pada suatu hari aku terpilih menjadi perwakilan Provinsi Jawa Timur untuk mengikuti lomba melukis se Indonesia. Pada saat itu aku dan Karin sangat senang karena ini adalah sebuah pencapaian yang sangat berharga dalam kehidupanku.

“besok ketemu di sekolah iya”. Ucap Karin menuju ke mobil.
“oke”. Jawabku tersenyum.

Pagi ini di sekolah aku menunggu Karin di bawah Pohon Beringin sambil menggambar seperti biasanya, namun sampai bel masuk aku tidak menjumpai Karin, aku pikir dia telat sehingga aku memutuskan untuk menemuinya saat jam istirahat nanti. Tapi lagi-lagi aku tidak menjumpai Karin saat itu. 2 minggu sudah Karin tidak masuk dan tiada kabar, aku pun sedikit kesal karena 3 hari lagi seharusnya aku dan Karin akan berangkat ke Jakarta untuk mengikuti lomba tersebut. Aku mencoba bertanya kepada teman-teman kelasnya namun banyak dari mereka yang juga tidak tahu sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk berhenti mencari dan memikirkan Karin lagi.

Malam hari yang sunyi, sepi dan hanya ada aku selembar kertas dan pensil yang tergenggam erat di kepalan tanganku, aku mencoba berlatih pada malam itu ingin kutuangkan seni dalam diriku ke dalam selembar kertas itu, namun aku tidak bisa. Angin mencoba menahan tanganku. Sesuatu yang masih menggantung di pikiranku.

“Karin”. Gumamku.
“aku sudah bosan mendengar namanya, apa dia memang temanku atau hanya orang yang kasihan padaku karena aku adalah bahan bully-an di sekolah, teganya dia meninggalkanku pada saat aku membutuhkannya sekarang, jika memang dia peduli denganku pastinya tidak susah untuk menghubunginya jika ia memang pindah sekolah”. Lanjutuku sambil melempaar selembar kertas gambar yang sudah aku remas sebelumnya.

Pagi ini aku mulai berangkat menuju Jakarta dengan diantar kedua orangtuaku menuju terminal untuk selanjutnya menuju bandara Juanda Surabaya, aku berangkat seorang diri meskipun aku sudah meyiapkan 2 tiket untuk aku dan Karin.

Sesampainya di Jakarta aku pun bergegas memanggil taksi untuk segera menuju ke tempat lomba, kebetulah lomba diadakan di daerah sekitar Monas. Macet, panas, dan kacau iya itu kesan pertamaku saat sampai di Jakarta Ibu Kota Indonesia tercinta. Pas pukul 12:00 aku akhirnya sampai di tempat perlombaan.

“huhh.. untung enggak telat”. Gumamku dalam hati.

“silahkan mas mengisi formulir di sini”. Pinta panitia perlombaan.

Pelombaan melukis tingkat Nasionalpun dimulai akupun berkonsentrasi penuh untuk menggambar sesuai dengan tema yang sudah ditentukan, kebetulan waktu itu temanya tentang kebudayaan yang ada di Indonesia. Lomba akirnya selesai tepat pukul 14:00 dan aku menunggu hasil pengumuman dari panitia perlombaan. Aku melihat kanan dan kiri berharap ada keajaiban datang, ya Karin aku harap dia datang sekarang memberikan semangat yang biasa dia lakukan padaku. Juara tiga dan dua sudah diumumkan, aku khawatir dan sedikit pasrah jika memang aku tidak memenagkan lomba ini.

“dan untuk juara pertama diraih oleh, Peter Purnama dari Jawa Timur”.

Aku tidak bisa berkata apa-apa, seketika jantungku berdebar dengan sangat kencang serta keringat yang mengucur deras membasahi tubuhku. Ini adalah momen yang sangat penting dan moment itu terjadi padaku seorang anak kampung yang sekarang berasil memenangkan penghargaan tertinggi lomba melukis tingkat Nasional. Tanpa berfikir panjang aku maju dan naik keatas podium unutk menerima piala dan hadiah dari perlombaan tersebut.

Jam menunjukan pukul 17:00 lomba telah usai aku memutuskan untuk langsung pulang dengan pergi ke bandara Soekarno-Hatta untuk sesegera memesan tiket.

“ciee.. yang menang lomba”. Sapa perempuan dari arah belakang.
“sapa sih.. Karin?”. tanyaku kaget.
“hai.. Peter”. ucap Karin melambaikan tangan.
“hei… udah lama enggak ada kabar?”.
“iya hehe maaf iya, tapi aku enggak akan lupa kalau kamu ada lomba hari ini, jadi aku sempetin untuk nyusul kamu sampai bandara ini deh”.
“kamu ke mana aja?”. tanyaku sedikit mendekat.
“aku pindah sekolah pet, aku sekarang tinggal di Jakarta dan itu pun mendadak jadi aku enggak sempat untuk ngasih tau sekolah dan kamu”.

Yap akhirnya keajaiban itu datang, akhirnya aku bertemu Karin yang hampir 2 minggu tidak kutemui, rasanya seperti ingin meledak, ingin berteriak sekencang-kencanganya. Aku memutuskan untuk mengobrol dengannya di salah satu kafe di sekitar bandara. Aku dan Karin bercerita panjang lebar di sana, membahas apa yang biasanya kita bahas dulu dengan percakapan yang ringan, santai, dan penuh tawa tentunya.

“kenapa kamu enggak ngasih kabar rin, kamu kan bisa kasih kabar padaku lewat email, facebook”. Tanyaku sambil meminum kopi hangat di kafe tersebut.
“hm.. hp aku hilang, jadi ototmatis kontak kamu dan temen-temen pas SMA jadi hilang deh”. Jawab Karin dengan senyum bercanda.
“seharusnya kamu kabarin aku saat kamu mau pindahan rin, jadi aku biar enggak khawatir”. Balasku dengan tangan yang mengusap rambut halusnya.
“ciee.. ciee yang khawatirin aku”.
“apaan sih.. kan sebagai teman sudah wajar dong kalau aku ngawatirin sahabatku yang satu ini”.

Hampir 45 menit aku mengobrol denganya melepas rasa rindu yang yang sudah kutahan selama 2 minggu lamanya, berat rasanya saat tau kalau sebentar lagi aku akan pulang dan meninggalknya disini.

“PENUMPANG PENERBANGAN JAKARTA-SURABAYA SILAHKAN MEMASUKI TERMINAL 3”.
“Itu pesawatku, udah mau berangkat”. Akupun bergegas untuk sesegera menuju ke terminal 3 bandara.
“Pet… maaf selama ini udah buat kamu kecewa, tapi aku yakin kamu pasti bisa dan yap.. akhirnya kamu berhasil”. Ucap Karin dengan mata berkaca-kaca.
Seketika langkah kakiku terasa terhenti, kata-kata itu, kalimat penyemangat itu ingin selalu kudengar setiap harinya, mataku mulai berkaca-kaca, seketika juga aku membalikan badan dan berjalan menuju tempat Karin berdiri.

“love you,.. bakal kangen banget sama kamu”. Ucapku memeluk Karin erat.
“kamu hati-hati iya”.
“selalu,. Kamu juga jaga diri baik-baik ya”.

Aku akhirnya berangkat meninggalkan Karin pulang, berharap aku dan Karin dapat bertemu lagi nanti. Dengan penuh bahagia aku memasuki pesawat yang membawaku pulang, dengan menggenggam piala yang aku bawa atas apa yang telah aku perjuangkan, dan aku berfikir bahwa dibalik kekurangan terdapat kelebihan yang terpendam. dan cinta? cinta hadir dalam bentuk apapun dalam kondisi apapun dan sekarang aku merasakanya, cinta dari seorang sahabat dan motivator handal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya bahwa perasaan ini, kehilangan ini adalah rasa cinta yang selama ini kupendam dan berharap suatu hari dapat mengungkapkanya.

Cerpen Karangan: Purnama Putra
Facebook: purnama putra

Cerpen Kelebihan (Dan) Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Your Fault

Oleh:
Aku punya cerita. Ini cerita kenyataan, salah satu bagian dalam hidupku. Namaku Rania Larasati, panggil saja Ran. Aku akan menceritakan salah satu bagian hidupku dimana aku ditembak salah satu

Mawar Putih

Oleh:
Aku mawar, aku adalah seorang gadis yang tinggal di sebuah rumah sewaan yang terletak tidak jauh dari tempatku bekerja, aku bekerja di salah satu toko roti dan pergi bekerja

Cinta Terpendam

Oleh:
Cinta tak harus memiliki karena dia memang bukan jodoh kita. Tak apa meski ini sangat menyakiti, dan begitu melukai. Namun itulah garis terbaiknya untuk kita sebagai hamba-Nya yang harus

Dingin

Oleh:
Pagi yang cerah, pagi yang akan membawa Dinza, murid baru pindahan dari Bali akan memulai sekolahnya di SMA Gajah Jantan. SMA Gajah Jantan merupakan salah satu sekolah unggulan di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *