Kembali, lagi…

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 22 December 2017

Aku sedang tak enak badan kala memaksakan jemariku untuk mengetik cerita ini. Harap-harap tak lupa setiap detilnya kenangan itu, saat ketika aku bertemu untuk pertama kalinya dengan kedua sosok malaikat penjaga gadis pujaanku. ELSA. Ah! Kepalaku mumet, sesekali aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi menengadah ke atas berharap rasa nyeri ini cepat hilang, agar dapat segera menyelesaikan kisah ini.

Berawal pada satu pagi, di masjid sekolah. Aku baru selesai sholat dhuha hendak memasang sepatu untuk kembali ke kelas. Saat, seorang temanku memanggil. Aku mendekat menghampiri.

“Ada apa?.” Tanyaku.
“Bisa bicara sebentar?.” Kata Thoriq –teman satu angkatan, yang kebetulan sekelas dengan mendiang gadis pujaanku–. Begitu aku mengangguk mengiyakan, dia langsung menarikku mengingat tempat kami berdiri ini masih ramai siswa siswi yang bergantian sholat. Tampak ia tak ingin pembicaraan ini didengar orang lain, aku hanya mengikut saja.
“Do, kamu ingat cerita yang kamu tulis tentang mendiang Elsa?.” Tanyanya. Aku mendengar pertanyaan itu sontak bingung. Apa yang terjadi? tanyaku dalam hati.
“Iya, emang kenapa?.” Tanyaku balik.
“Sebenarnya, cerita yang kamu tulis di blog itu sudah dibaca sama orangtuanya Elsa.” Jelasnya.
Betapa terkejutnya aku. Perasaan senang, bangga, tapi juga takut. Pasalnya, aku menulis karangan itu tanpa sepengetahuan dan izin dari orangtuanya. Gawat! Apa aku bakal dituntut?!. Segitunya khawatir aku akan apa yang bisa saja menimpaku. Namun, keterperangahan itu tak sampai di situ saja. Lebih tekejut aku mendengar kata-kata Thoriq berikutnya.
“Do, ibunya Elsa, suka cerita kamu. Dan katanya dia sangat ingin bertemu langsung dengan si penulis. Emang sih, di blog kamu ada foto. Cuma, kamu tau kan, itu foto yang keliatan cuma mata doang. Lagian itu foto sok cool Do. Makanya ibunya pengen ketemu sama kamu.” Lanjutnya.

Mendengar itu, serasa terbang aku ke langit biru. Pasalnya, senang teramat aku mendengar ada orang yang sebegitunya menyukai karyaku samai-sampai ingin bertemu. Perasaan bahagia ini baru pertama kalinya aku rasakan. Akhirnya karyaku disukai orang lain!. Teriakku dalam hati.
“Terus, kapan kita ke sana?.” Tanyaku. Aku menyebut kita karena tak mungkin bagiku untuk pergi sendirian. Aku tak sepercaya diri itu.
“Iya, tidak sekarang pastinya. Mungkin lain hari, nanti aku kabari lagi.” Katanya. Aku hanya tersenyum mengiyakan perkataannya. Kemudian berlalu kembali ke kelas.

Masuk ke kelas aku berlagak tak terjadi apa-apa. Sebab, tak ada yang tahu aku sering menulis di berbagai media dan blog selain aku. Aku bukan tipe orang yang senang mengumbar kepandaian. Aku juga bukan tipe orang yang kurang bersosialisasi. Aku adalah introvert, tapi aku belajar cara untuk mengendalikannya. Aku memanfaatkan kelebihan introvertku untuk menciptakan karya dengan mediaku. Pun, seorang yang introvert bukan tak bisa bersosialisasi hanya tak pandai. Aku selalu berusaha untuk tak ketinggalan laju perkembangan teknologi ataupun berita terbaru. Dengan begitu mudah bagiku untuk mencampur bersama teman-teman yang lain, dan juga dengan orang yang baru kutemui.

Hari ini Jum’at, 13 Januari. Aku mendapat sms dari Thoriq, dia bilang hari ini semua teman kelasnya akan berkunjung ke rumah orangtua Elsa. Selepas sholat Jum’at nanti siang. Aku tak sabar menunggu jam demi jam lewat. Dia juga bilang selepas sholat langsung berkumpul di depan gerbang sekolah supaya bisa berangkat berbarengan. Aku hanya mengikut saja, toh aku tak tahu arah rumahnya. Kemudian..

Ah! Kepalaku mumet lagi. Bayangan hari itu ikut menghilang. Aku tak bisa melanjutkan cerita, kali ini kepalaku benar-benar pusing dan kurasa aku butuh istirahat. Aku membaringkan badanku ke tempat tidur berharap tidur akan memburamkan rasa nyeri ini. Kutatap laptopku di atas meja, cerita yang masih menggantung belum terselesaikan. Mau dikatakan apa, aku memang butuh istirahat bak beberapa jam. Kukosongkan pikiran, kutatap langit-langit kamarku, pikiranku melayang membawa serta jiwaku ke alam bawah sadarku lebih cepat dari aliran sungai manapun. Aku terlelap dalam tidur sampai kemudian aku terhenyak dan terbangun. “Astaga! Sudah jam 4 sore, aku bahkan belum sholat ashar.” Kataku sambil memegang pelipisku. Segeralah aku mengambil wudhu dan sholat. Diakhir do’aku tak lupa kuhantarkan al-fatiha untuknya. Selesai itu semua, aku kembali merebahkan tubuh, dan menutup mataku.

“Eh, ternyata kamu di sini. Kami udah siap berangkat nih!.” Kata Thoriq.
Aku yang masih setengah sadar mencoba mengenali tempatku berada sekarang. “Ini, perpustakaan. Aku di sekolah?.” Tanyaku dalam hati.
“Lah, dia malah bengong. Jadi ikut gak nih!.” Kata Thoriq kemudian menyadarkan lamunanku.
“Eh, i.. iya. Ikut.” Balasku tergagap. Pasalnya aku tak ingat kenapa aku bisa berada di sini.

Sebenarnya aku sedikit gugup, sebab hanya aku orang asing di sini. Aku bukan siapa-siapa sedang mereka teman sekelasnya. Aku takut kehadiranku akan mengganggu saja. Tapi, keinginanku untuk bertemu orangtuanya lebih besar dibandingkan ketakutan itu. “Haah.. sudahlah. Tak perlu dipikirkan, kalau memang mereka tak suka, ya pergi saja.” Kataku pura-pura memotivasi diri sendiri.

Tak kurang sepuluh menit kami sekarang berada di depan sebuah rumah bercat kuning selaras dengan rumah di sebelahnya. Kami masuk satu persatu, menyalami kedua insan berhati mulia yang menyambut dengan penuh ramah dan tawa. Kedua orangtuanya sangat baik, tak heran anaknya juga demikian baiknya. Kami dipersilahkan masuk dan duduk di kursi tamu di dalam rumah. Ada beberapa temanku yang di luar, tampaknya mereka lebih suka menikmati angin di luar sana. Aku duduk di sebuah soffa panjang di ruang tamu bersama dua temanku lainnya. Ibunya duduk di kursi lain sisi kananku. Kehangatan begitu terasa memadati ruangan ini. Keramahan ibunya yang dengan baik hati menyediakan air bagi kami semua. Aku jadi mengerti betapa kehilangannya mereka.

“Oh, jadi ini nak Redho ya?.” Kata ibunya dengan senyum terbentang penuh keikhlasan padaku. Semakin guguplah aku. Tak lantang bicaraku dibuatnya. Jadi dengan tergagap aku jawab iya.
“Kamu sepertinya anak baik, Elsa pasti sangat senang punya teman seperti kamu. Seperti kalian maksud ibu.” Lanjutnya. Aku hanya dapat tersenyum mendengar semua pujian yang dilontarkan sosok pemurah hati di depanku itu.

Sejak awal, perhatianku tertuju pada salah satu foto yang terpajang di tembok tepat di atas tempat ibunya duduk. Tak berpaling aku, memandangi penuh kerinduan pada gadis di foto itu. Bahkan setelah tahun berlalu, aku tak pernah lupa dengan lengkungan manis lukisan Tuhan yang tercipta di senyum seorang gadis nan cantik di foto itu.

“Eh, ayo nak, diminum.” Kata ibunya membuyarkan lamunanku.
“Eh, iya bu.” Aku membalas dengan senyum pula.

Untuk beberapa saat kami hanya diam, sampai ibunya kembali bercerita. Kami mendengarkan dengan sesekali tertawa, penuh emosi dalam setiap bait cerita ibunya. Temanku serius sekali memperhatikan cerita, aku juga mendengarkan namun perhatianku lebih tertuju pada foto-foto di sekitar ruangan ini. Terutama yang itu. Foto anak perempuan dengan baju merah di sana. Begitu manis, begitu cantik. Saat aku baru saja akan hanyut kembali dalam lamunanku, ibunya yang sepertinya sedari tadi melihatku melihat foto itu berdeham.

“Ya, itu adalah fotonya ketika masih kecil. Kalau tidak salah ibu itu saat umurnya 10 tahun. Waktu itu, dia masih kelas 3 SD.” Kulihat ibunya tersenyum sejenak mengingat masa itu sepertinya. Kemudian kembali menyambung cerita,
“Dia anak yang periang, mudah bergaul. Dia juga tidak pilih-pilih kawan tapi senantiasa menjaga diri.” Lanjut ibunya. Tiba-tiba.. deg! Aku mati rasa. Kenapa aku seperti melihat sesuatu di belakang sana.

“Kenapa do?.” Tanya ibunya tatkala melihatku terpelongo.
“Uh, eh, nggak kok tante. Cuma tadi ngeliat ada yang lewat.” Kataku apa adanya.
“Oh, mungkin itu si Willy, adeknya.” Jawab ibunya menenangkanku.
“Hehe.. iya.” Kataku kikuk.
Andai yang kulihat tadi memang benar dia, kuharap dapat melihatnya lagi.

Tak terasa hari sudah petang, kami mohon izin pamit untuk pulang ke rumah masing-masing. Sungguh pertemuan yang luar biasa dengan kedua malaikat penjaga gadis pujaanku itu. Aku harap ini bukan yang terakhir kalinya aku akan berkunjung ke sini. Aku akan merindukan kehangatan keluarga ini.

“Jangan bosan kemari ya, dan hati-hati di jalan.” Pesan ibunya ketika kami sudah siap berangkat pulang.
Di perjalanan, aku masih terpikirkan kejadian aneh saat di rumah ibunya tadi. “Apa benar yang kulihat itu dia, atau itu haya halusinasiku saja? Mungkin karena aku terlalu berlebihan memikirkannya. Haah.. sudahlah.” Aku kembali memacu sepeda motorku, sesekali kumenatap langit dan tersenyum. “Aku tahu kamu di sana sedang melihatku. I miss you.” Kataku dalam hati.

Aku berhenti di sebuah persimpangan lampu merah. Sepertinya ini sudah jam pulang kantor, sesak kendaraan memadati jalan.
“Tunggu dulu, itu.. itu..” Aku tergugup tatkala melihat sosok gadis yang berada di seberang jalan sana yang sekejap hilang saat aku mulai menyebut namanya.
Aku mengedipkan mataku berulang kali. Tak percaya apa yang kulihat.
“Elsaa..!!.” Teriakku berulang kali, namun yang kupanggil tak nyaut bak sekalipun.

“Elsa.. Elsa.. Woi bangun woi..!!.” Teriak Rio, kakak sepupuku yang baru tiba dari Palembang.
Aku mengernyitkan dahiku. Mimpi? Hanya mimpi??
“Lah, kok kakak di sini??. Lah, aku?. Kok disini.” Kataku kelabakan kebingungan sendiri.
Kulihat kak Rio menggelengkan kepalanya.
“Mimpi kau ya?. Haha.. mangkanya jangan tidur siang bolong.” Ledeknya.

Aku yang sekarang sudah sadar sepenuhnya hanya tertunduk masih tak percaya dengan semua yang kualami. “Apa benar itu semua hanya mimpi? Tapi kok nyata sekali?” kataku dalam hati. “Tapi kalau benar itu semua mimpi, berarti aku belum pergi dong ke rumah orangtuanya Elsa?.” Masih dengan wajah kebingungan, kakakku duduk di kursi belajar tempat laptopku yang notabenenya masih menyala karena tadi hanya ku sleep-kan. Kulihat dia menyalakannya. Aku tak menggubris, aku sibuk dengan pikiranku sendiri.

“Ooh, jadi ini nama yang kamu teriakkan tadi?.” Katanya dengan senyum usil ke arahku.
Aku menengadah sedikit, sekedar untuk merespon perkataannya.
“Lah, tapi kok gak selesai?.” Dia kembali bertanya.
“Tadi kepalaku pusing kak, jadi gak tau mau nulis apa.” Kataku sekenanya.
Kulihat dia mengernyitkan dahinya, mikirin apa dia? Terkaku dalam hati.
“Tulis aja, mimpi kamu barusan.” Katanya sambil nyengir kambing.
Aku terkejut, bagaimana dia bisa tahu kalau aku tadi bermimpi tentang semua itu?. Haah.. sudahlah. Tapi, ada benar juga.
“Ciee.. yang sampe kebawa mimpi??.” Katanya mengesalkan.
“Apa si Lo..!!.” Teriakku dan melempar bantal yang ada disampingku spontan.

Segera setelah dia keluar, aku duduk di depan laptop-ku dan mencoba melanjutkan ceritaku. Kutulis semua mimpiku barusan, apa adanya.
Terkadang, hal yang terberat dari melupakan adalah ketidak mampuan untuk menghilangkan bayangan yang indah dari masa lalu yang secara detil terukir di pikiran. Ketidak mampuan itulah yang membuat kita tidak bisa melupakan kenangan masa lalu dan seolah semuanya kembali, lagi..

Cerpen Karangan: Ahmad Redho
Blog: ahmad-redho-illahi.blogspot.com
FB: OfficialEdho
Twitter: OfficialEdho
IG: edho_four
Line: @edho.amd

Cerpen Kembali, lagi… merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintaku Salah

Oleh:
Mataku sembab dan kepalaku terasa berat . Masih membekas sisa tangisku tadi malam. “ srek…srek… “ kupaksakan kakiku tuk melangkah . Aku harus segera mandi . Hari ini ada

Call From The Past

Oleh:
Untuk kesekian kalinya, aku merenggangkan badan dan menguap. Hari ini, pekerjaanku banyak sekali. Gara-gara sekretarisku cuti, aku harus mengerjakan semuanya sendirian. “Miss, sudah larut, lebih baik Miss selesaikan pekerjaan

Lukaku Adalah Pelajaran Berharga

Oleh:
Pagi ini diguyur hujan yang membawa rasa malas untuk beraktivitas, sesekali terdengar sambutan si ayam jago. Aku adalah gadis berumur 22 tahun aku bekerja di salah satu perusahaan swasta

Cinta Terpendam

Oleh:
Di malam yang dingin dan gelap sepi benakku melayang pada kisah cintaku, kisah cinta yang tak pernah ku tahu akhirnya. Ku sampaikan semua kegalauan hatiku lagu-lagu yang ku rasa

Je T’aime (Part 1)

Oleh:
“Dek, kakak hari ini gak bisa jemput kamu. Tapi kakak udah minta tolong kok sama temen kakak untuk jemput kamu. Kamu tunggu aja ya” Chika menghela nafas mengingat ucapan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *