Kenangan Tentang Dinda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 25 September 2017

Ini adalah sebuah cerita dari masa lalu, cerita menyakitkan dari seorang yang baru patah hati. Konon, sebuah cerita cinta tak selalu berakhir indah. Akan ada yang menangis, akan ada yang terluka. Itu pasti. Tragisnya, aku yang berperan sebagai orang yang terluka dalam sandiwara ini. Melihat kebahagiaan dia bersama orang lain.

Tak terhitung sudah berapa malam kulalui sendiri, dengan kepingan hati yang berserakan. Meratap menatap langit, tersayat dan tertatih. Tak terhitung berapa kali aku mengingat dia yang tak mau pergi dari pikiranku. Tak terhitung berapa banyak air mata yang menetes dari mata pria yang hancur ini. Semua berlalu begitu cepat, aku terlambat. Kalah telak.
Gadis itu bernama Dinda…

Perkenalanku dengan Dinda terbilang singkat. Kami hanya bertutur kata dalam sebuah forum tak resmi. Namun dari sanalah semua cerita ini berawal.
Sore itu sepulang sekolah, aku berada di aula sekolah. Ada sebuah rapat dari ekskul yang kuikuti. Rapat itu terbagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan bidang masing-masing. Aku tak percaya dengan kata kebetulan, merupakan sebuah takdir aku dipertemukan dengan Dinda dalam satu kelompok. Jalan cerita antara aku dan dia juga merupakan guratan takdir.
Suasana dalam rapat itu tak terlalu serius, kebanyakan hanya bercanda antara satu dengan yang lain. Aku pun demikian, tak satupun yang kubicarakan berbau serius.

“Meggy, dicari mbak Tiara.” Nada halus terdengar di telingaku, itu suara Dinda.
Kata-kata itu adalah kata-kata pertama yang keluar dari bibir Dinda. Kalimat yang membuka jalan untuk perbincangan ke depan. Aku memang pernah mengenal Dinda di masa lalu, dia adalah teman dari Tiara, orang yang pernah dekat denganku. Hanya dekat, tak lebih.
Wajah polos Dinda terlihat jelas, malu-malu dia berbicara seperti itu. Tak ada satu pun perasaan yang hadir saat itu, aku menganggap itu gurauan. Aku tahu dia juga telah memiliki seorang pacar, adik kelasku. Aku kenal baik dengan orang itu.
“Eh Dinda, itu hanya masa lalu, tak perlu dibahas lagi.” Suaraku renyah, sedikit bercanda mencairkan suasana.
Jujur saja waktu itu aku malah tertarik dengan salah satu teman sekelasnya. Tapi itu hanya sebentar, sebelum akhirnya teman sekelasnya Dinda tadi berpacaran dengan salah seorang temanku. Untung aku tak terlalu mengambil hati waktu itu.

Hari-hari terus berlanjut, aku menjalani hariku biasa. Tak terikat janji, tak ada yang spesial, semua berjalan normal. Aku mencoba mengenal dia lebih lanjut lewat salah satu sosial media, bertanya apapun kecuali perasaan. Aku menganggapnya sebatas teman.
Aneh, lama kelamaan rasa nyaman itu mulai muncul. Tanpa kusadari, aku tak tahu apakah dia juga merasa demikian. Merasakan apa yang kurasakan. Sepanjang malam aku menghabiskan waktuku untuk chatting-an sama dia.
Hingga suatu ketika. Salah seorang temanku yang bernama Iren bergurau kepadaku di kantin sekolah.

“Eh Meg, elo dicari sama Dinda.” Dengan santainya dia bergurau seperti itu. Iren adalah temanku sejak kecil, dia juga merupakan teman sekelasnya Dinda.
Dinda yang kebetulan berada di dekat Iren, tersipu malu. Mencoba mengelak, mengklarifikasi semua, pipi tembemnya memerah. Lantas, mereka berdua pergi meninggalkanku. Aku masih mematung berdiri di depan ibu-ibu kantin. Ah, sudah lama aku tak merasa bergetar seperti ini.

Di lain kesempatan aku bertanya memastikan kepada Iren.
“Eh Ren, apa yang elo bilang tadi pagi bener nggak?” Aku bertanya memastikan.
“Hemmm, lupakan sajalah. Gue hanya bercanda.” Tanpa dosa, tanpa merasa bersalah ia berkata seperti itu kepadaku. Melupakan. Hanya itu.
Sesaat aku sedikit melayang, benih perasaan mulai muncul. Namun semua itu kuhentikan dalam sekejap, kubunuh pelan. Aku tak ingin perasaan itu nanti menjadi candu.

Hubunganku dengan Dinda masih berjalan normal seperti biasa. Tak ada kesan menghindar, namun tak juga dekat lebih dari teman. Semua berlalu begitu saja.

Sebulan berlalu, aku baik-baik saja sejak kejadian itu. Semua sudah kulupakan, kukubur diam-diam. Aku sekarang jarang menghubungi Dinda, aku juga tak tahu mengapa demikian.
Februari, bulan yang menurutku spesial. Sekolahku mengadakan acara Study Tour ke daerah Bandung. Mengunjungi berbagai tempat menarik, tempat yang cukup memberikan kesan dalam hidupku.
Dinda ikut serta juga dalam acara ini.
Salah satu tempat yang cukup mengesankan adalah Tangkuban Perahu. Sebelum ke sana, kami semua melewati hutan pinus yang berjejer rapi, hijau nan asri. Kebetulan waktu itu hujan turun tak terlalu deras, tertesan air hujan merambat pelan dikaca jendela. Aku menatap bulir-bulir air tersebut, menenangkan hati.
Sayang, saat itu kondisi kurang mendukung. Kami semua harus memakai masker karena saat itu bau belerang menyeruak di mana-mana. Namun semua itu terbayar oleh pemandangan yang sangat elok, seperti inilah wujud Tangkuban Perahu yang dulu hanya kudengar lewat cerita-cerita legenda di televisi.
Berkeliling melihat keadaan sekitar, menuju toko-toko kecil tempat souvenir.

Tiba-tiba Iren datang mendekat kepadaku.
“Eh Megg, gue mau bicara sama elo sebentar?” Iren mengajakku ketempat yang lebih sepi, ada hal serius yang ingin dia sampaikan.
“Emang ada apa sampai elo ngajak gue ke tempat sepi kayak gini?” Aku bertanya heran, penuh tanda tanya.
“Ngomong-ngomong, elo masih inget nggak dengan gurauan gue beberapa waktu yang lalu?” Gurat mukanya berubah, dia seperti ingin menegaskan sesuatu.
Aku hening sejenak.
“Waktu itu di kantin sekolah, pas elo bilang kalau Dinda suka sama gue. Yah Ren, gue udah ngelupain semua itu. Nggak perlu deh ngungkit hal itu lagi.” Aku tertawa kecil, tak tahu apa sebenarnya maksud Iren.
“Dinda beneran suka sama elo.” Iren menegaskan, kali ini tanpa gurauan.
Aku terhenyak tak tahu harus bilang apa lagi. Perasaan yang kukubur itu perlahan bangkit lagi seperti zombie, aku setengah takut dengan diriku sendiri. Tak tahu apa yang kutakutkan.
“Dia beberapa waktu lalu cerita ke gue. Dia kangen masa-masa elo suka chatting-an sama dia. Suka tersenyum saat kalian bertemu. Dia jelas-jelas suka sama elo.” Tanpa jeda waktu ia menjelaskan semua itu begitu cepat.
Kemudian ia pergi begitu saja meninggalkanku. Aku masih setengah tak percaya dengan perkataanya barusan. Semua begitu tiba-tiba.

Sore itu semua bergegas meninggalkan Tangkuban Perahu. Sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal. Kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Kami semua beristirahat sejenak di salah satu restoran di Jawa Barat untuk makan malam. Aku masih mengingat-ingat kejadian tadi. Aku tak ingin terjebak lagi, cukup dengan semua ini. Makananku seperti hambar, perasaanku tak karuan. Setengah bahagia, setengah takut dengan apa yang terjadi nantinya.
Dari tempatku berada, kulihat Dinda berada di balkon restoran. Dia sedang asik berbicara dengan temannya. Kutatap wajahnya, seperti ada gurat kesedihan yang tersembunyi, aku tak tahu apa itu. Mungkin saja itu adalah ekspresi wajah dari seorang gadis yang masih terjebak dengan masa lalunya.

Suasana malam itu terasa berbeda, aku merasa hening. Waktu seakan berhenti, aku jatuh cinta. Sekali lagi aku jatuh cinta. Suara-suara dari orang di sekitarku perlahan menghilang, aku terhanyut dalam keheningan. Tuhan, kenapa aku harus jatuh cinta dengan Dinda. Aku tak menghendaki semua ini, aku tak tahu apa yang akan Engkau gariskan untukku.

Hari masih berlanjut, hari-hari yang indah. Aku semakin dekat dengan dia, tak kusadari aku terlena dengan semua ini. Perasaan yang harusnya tak pernah terjadi, namun aku membiarkannya sesuka hati memperbudakku. Mengaburkan segala keyakinanku.

Beberapa hari berlalu. Di bangku kantin sekolah aku duduk bersama dia, membicarakan beragam hal.
“Eh din, besok minggu kita jalan yuk?” Aku membuka pembicaraan, kutatap wajah polosnya itu.
“Boleh, aku juga nggak ada kerjaan hari Minggu nanti.” Dia menyetujuinya.
“Baik nanti aku jemput kamu ya jam delapan pagi.” Aku mengatur jadwal, sambil mencubit pipinya. Dia tersipu malus setengah mengelak.

Entah aku tak tahu, sampai sekarang aku belum pernah bilang sekalipun kata cinta kepada dia. Aku tak tahu akan kunamakan apakah hubungan kami berdua ini. Terkadang aku berpikir apakah status itu perlu, apakah semua itu harus.
Jujur dalam hatiku, aku ingin sekali menjalin hubungan yang serius dengan seseorang, termasuk dengan dia. Aku lelah dengan sebuah hubungan yang usianya hanya tinggal menghitung jari. Aku menginginkan sebuah hubungan dengan kepastian, dengan arah yang jelas. Aku bertanya, apakah itu mungkin untukku sekarang, yang masih terbilang labil. Belum kutemukan jawaban atas pertanyaanku itu.

Satu hal yang aku yakini sejak awal hubungan ini dimulai, aku tak akan pernah bersatu dengan Dinda karena suatu alasan. Sehebat apapun aku akan mempertahankan dia nanti, sekuat apapun aku berjuang, aku akan kalah dengan sesuatu yang disebut takdir.
Meskipun belum terjadi, tapi aku yakin hubungan kita akan berpisah di tengah jalan. Akan ada sepucuk rindu yang tertinggal di persimpangan, dia yang berubah haluan, dan aku yang masih terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Hari Minggu sesuai janji, aku menjemput Dinda ke rumahnya. Aku berpamitan dengan ibunya, kemudian dengan sepeda motorku aku membonceng dia. Melewati jalanan yang cukup ramai kala itu.
Aku mengelilingi bagian tertentu dari keseluruhan kota Tulungagung. Tertawa, bercanda banyak hal. Kemudian kami mampir di salah satu warung makan di pinggir jalan.
“Bu, pesan bakso dua ya. Sama es jeruknya dua juga!” Aku memesan dua porsi bakso untukku dan Dinda.
Aku menatap wajah polosnya, tak tahu apa yang akan terjadi nantinya jika aku membiarkan dia terluka. Cepat atau lambat aku harus memutuskan akan ke manakah arah hubungan ini. Sudah hampir sebulan sejak Iren memberitahuku perasaan Dinda kepadaku.

“Kok diem aja Din. Mikirin apa?” Suaraku memecah keheningan antara aku dan dia. Kulihat dari tadi dia diam saja, seperti memikirkan sesuatu.
“Ah enggak kok Megg.” Dia tersadar dari lamunannya yang hanya sesaat itu.

Beberapa menit berlalu, pesanan kami berdua datang. Tanganku meraih saos tomat lalu kugerak-gerakkan naik turun ke arah mangkuk baksoku. Disusul kemudian kecap hitam manis.
“Masih bengong aja Din. Dimakan gih, mumpung masih hangat.” Perlahan perhatiannya teralihkan ke arah mangkuk bakso.
Kami berdua menikmati bakso tersebut. Ada yang ganjil saat itu, tak seperti hari-hari sebelumnya. Kulihat Dinda kebanyakan diam setelah memasuki warung ini.

Setelah dua mangkuk bakso tadi habis. Kini giliranku yang diam, memikirkan kata-kata yang musti kukatakan untuk Dinda. Aku ingin mengucapkan apa yang selama ini ingin kuucapkan, aku tak perlu takut dengan kegagalanku di masa lalu, harus kali ini.

“Ehm Din.” Aku sedikit berdehem.
“Iya.” Jawaban singkat, tak ada satupun tatapan berarti seperti kemarin-kemarin.
Aku mengurungkan niatku, keadaannya kurang tepat.
“Kamu kelihatannya sakit, kita pulang saja yuk.” Aku berkata tenang, meski hatiku sedikit kecewa.
Langkah kaki kami perlahan berjalan ke luar warung bakso itu. Kuhidupkan motorku, dia duduk tenang di belakangku. Di jalan bagiku suasananya hening, meski kendaraan yang melintas cukup bising.

Di tengah jalan aku teringat satu hal. Jujur saja aku tak ingin berpikiran seperti itu, tapi itu tiba-tiba terlintas di pikiranku. Mungkin saja alasan Dinda bengong dari tadi adalah karena dia masih teringat dengan mantan kekasihnya. Aku bisa menduga itu karena aku dulu juga pernah berada di posisinya.
Hatiku mendadak mendung, waktu seperti berhenti, hatiku menangis. Aku sungguh kecewa kali ini. Luka lamaku terbuka, inilah yang aku benci dari mencintai seseorang. Kenapa baru kusadari sekarang bahwa hatinya Dinda masih untuk orang lain. Ya Tuhan. Aku sungguh bodoh tak menyadari lebih awal.

Sesampainya di rumah Dinda, kondisinya tak jauh berbeda dengan di perjalanan tadi. Sunyi senyap. Aku berpamitan merekahkan senyum kepahitan, dia membalas senyum itu. Dengan senyum palsu.

Sejak kejadian itu, aku mulai menghindari Dinda. Awalnya dia bingung dengan sikapku ini. Tak sepatah kata pun kusampaikan kepada dia bahwa aku ingin pergi dari dia. Pergi untuk menenangkan diri. Kata cinta itu masih tersendat, belum mampu terucap.
Sulit sekali menerima semua ini. Melihat setiap hari Dinda masih menulis status tentang mantannya di facebook. Tak pernah sekalipun menyinggungku. Aku tak tahu apakah dia tahu yang sesungguhnya alasanku pergi.

Tak kuasa aku menahan perasaanku ini yang lama-kelamaan kian menyiksa. Seperti membunuh diriku pelan dalam kesunyian. Semua gara-gara Iren, andai saja kalimat dia di Tangkuban Perahu tidak pernah terucap semua tak akan jadi seperti ini. Aku mengumpat-umpat. Sungguh sakit. Mencintai orang yang tidak mencintaiku.

Hari demi hari aku makin terpuruk, setiap malam kulalui dengan melamun.
Semakin lama kutahan, semakin menyesakkan. Kuputuskan untuk menelepon dia, aku ingin mengucap kata yang sempat tersendat itu.
Kutekan satu persatu nomor di tombol handphoneku. Tepat dua belas digit nomornya, aku menekan tombol panggilan.
Telepon berdering. Ayolah cepat angkat.

“Halo” Suara halus itu terdengar kembali.
“Dinda, ini aku Meggy.” Aku membuka obrolan.
Disana hening tanpa suara. Tanpa sempat ia berbicara, aku langsung mengutarakan langsung.
“Dinda, aku mencintaimu selama ini. Sejak gurauan di kantin sekolah itu, aku mulai mencintaimu. Tapi aku tak tahu dengan semua ini, aku bingung.” Suaraku bergetar, tak kuasa menahan kata-kata itu.
“Sorry, aku nggak bisa. Aku belum bisa Megg, sorry banget.” Nada halus itu mengakhiri perbincangan kami yang tak lebih dari tiga menit itu.
Lengkap sudah sekarang, luka itu akan bersemayam entah berapa lama. Aku hanya butuh waktu dengan semua ini. Melupakan, itu pilihanku.

Hari-hari berlalu, tak ada satupun yang berubah. Semua masih sama, perasaan itu masih terkunci dalam hatiku. Duniaku kelabu, tanpa warna. Melamun, memikirkan segala hal tentang Dinda.
Cerita ini belum usai, takdir masih punya beberapa skenario untukku. Bukan rencana yang baik.
Aku dan Dinda dipertemukan kembali dalam satu stand bazar sekolah. Kali ini sangat berbeda dibandingkan dengan perkenalan kami pertama di aula sekolah beberapa bulan yang lalu. Aku menatapnya diam, sesekali mengajak bicara hal-hal ringan. Seperti tak terjadi apa-apa.

Hal yang mengejutkan pun terjadi. Seorang pria menghampirinya. Di bangku dekat ruang guru, kulihat mereka berdua asik berbicara. Aku tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Kupikir itu hanya perbincangan biasa, tapi melihat ekspresi mereka berdua, ada sesuatu yang terjadi di antara mereka yang aku tak tahu. Kakiku segera melangkah pergi. Aku tak ingin berpikir lebih jauh lagi tentang mereka.

Lama-kelamaan, aku terusik. Hampir setiap saat pria itu menghampiri Dinda di stand kami. Aku melihatnya sekilas, memendam kekesalan. Mereka tertawa, tanpa memedulikan keberadaanku. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran Dinda, hubungan kita memang usai, tapi apa dia tak memikirkan bagaimana perasaanku yang masih berharap kepada dia.

Aku pergi meninggalkan bazar itu, mengajak Eru yang baru datang ke sekolahku keluar mencari tempat nongkrong. Warung kopi di dekat sekolahku.
“Ada apa Megg, elo tiba-tiba ngajak gue ke sini?” Eru bertanya heran.
“Gue sakit hati Er. Nggak kuat gue lihat Dinda dekat-dekat dengan pria itu.” Aku sedikit menahan kekesalanku menjawab pertanyaan Eru.
Eru mencoba menenangkan pikiranku. Dua kopi hijau yang ia pesan tadi sudah berada di meja kami, diantar oleh mas-mas pemilik warung.
“Nih rok*k. Buat menenangkan pikiran lo.” Ia melemparkan sebungkus rok*k ke arahku. Aku menerimanya, kuambil satu batang, kuhisap pelan. Kunikmati setiap hisapan rok*kku, seiring dengan rasa sakitku.

“Gue heran, apa dia nggak punya hati? Tega banget dia ngelakuin itu di depan gue. Oke fine, kalau dia memilih orang lain. Tapi ini terlalu cepat, gue seperti pelampiasan sesaat baginya.” Aku berkata kasar, sedikit mengumpat.
“Gini sob, dunia itu luas. Masih ada cewek yang mau sama elo, di luar sana masih banyak selain Dinda. Udahlah santai saja.” Eru menasihatiku. Kata-kata itu tak mempan bagiku.
“Dinda beda Er, gue tulus sama dia. Gua pengen setia sama dia, tapi kenapa harus seperti ini.” Aku meluapkan segala kekesalanku yang bercampur aduk dengan perasaanku yang sesungguhnya. Kuhisap rokokku pelan, dan kunikmati kopi hijau itu yang saat itu terasa hambar menurutku.

“Ngomong-ngomong elo gimana sama Dewi?” Aku mencoba mengganti topi, persetan dengan Dinda dan pria tak jelas itu. Persetan dengan hubungan mereka.
“Ah elo kayak nggak tau aja, gue sama Dewi nggak ada hubungan apa-apa. Toh, dia juga udah nganggep gue sahabat sendiri.” Dia menjawab pertanyaanku dengan gurauan. Aku tertawa.
“Aneh lo, harusnya elo kalau suka bilang saja. Dia nganggep lo sahabat kan cuman di luar, sebatas formalitas. Lo nggak tau kan apa sesungguhnya yang ia rasakan.” Aku mencoba mengambil sudut pandang lain, berbeda dengan apa yang diutarakan Eru tadi.
Hubungan mereka itu aneh. Hampir lima tahun aku kenal baik dengan Eru dan Dewi. Mereka cukup dekat, tapi
Sebungkus rok*k yang terletak di atas meja, tanpa terasa telah kami habiskan.

“Eh bro, gue penasaran siapa sih cowok yang elo maksud tadi?” Dengan ekspresi penuh tanya Eru bertanya kepadaku.
“Namanya Riki. Anak paskibraka.” Jawabku ketus, aku benci menyebut namanya.
“Astaga, anak itu. Gue kenal bro. Jujur gue nggak pengen cerita ini ke elo. Tapi pas elo dulu deket sama Dinda, gue lihat Riki juga seringkali menghampiri Dinda di kantin sekolah.” Aku terkejut dengan penjelasan Eru. Aku tak pernah menduga semua ini.
“Anj*ng, sialan tuh anak.” Kali ini aku benar-benar marah.
Eru melihatku yang sedang naik pitam mencoba menenangkaknku. Aku mencoba mengendalikan diriku.
“Balik aja yuk Megg, kopi dan rok*k udah habis.” Eru merapikan tasnya kemudian beranjak pergi meninggalkan warung kopi ini. Aku menyusulnya.

Hari mulai sore, aku tak melihat ada tanda-tanda keberadaan mereka berdua di sekitar stand. Entahlah, mungkin mereka sedang asik berduaan distand lain atau nonton penampilan di depan panggung.

Keadaan perlahan berubah menjadi tenang. Ramai orang berlalu lalang di antara jejeran stand-stand dengan beragam makanan dan minuman. Bagi sebagian orang mungkin ini adalah moment yang sangat menyenangkan, namun bagiku tidak. Bazar tahun ini berbeda dengan bazar tahun lalu. Meski dalam tanda kutip aku punya cerita sendiri di bazar tahun lalu. Tentang seseorang. Namun tak semenyakitkan ini.

Langit mulai berubah. Semburat merah tampak memenuhi langit-langit yang semula berwarna biru muda kekuningan. Matahari mulai tenggelam, malam menjemput. Aktifitas tertunda sejenak karena adzan maghrib mulai dikumandangkan.
Adalah setengah jam, keadaan bazar malam itu mulai ramai kembali. Penampilan dimulai lagi, suara speaker terdengar keras. Alunan gitar dan lagu dari para band undangan memenuhi seluruh sudut area sekolah.

Di salah satu kursi stand, aku duduk menatap handphoneku yang sepi. Membuka menu, menutup menu, itu-itu saja yang kulakukan. Tanpa kusadari mataku tertuju pada Dinda yang duduk sendiri di dekat pintu masuk stand.
Dia menoleh ke arahku, dengan tatapan sayu. Kulihat gurat wajahnya menunjukkan rasa bersalah. Aku menatapnya lamat-lamat dari jarak yang hanya beberapa meter dari tempatku berada. Sepersekian detik dia memalingkan wajah dariku, menunduk.

Tak kusangka, bedebah itu muncul lagi di tengah-tengah kami berdua. Mendekat kepada Dinda, sesekali mencoba bercanda. Ah, aku sudah sangat bosan dengan pemandangan itu. Pemandangan yang sangat menyakitkan dan menyesakkan.
Kakiku melangkah pergi meninggalkan mereka, menyendiri di bangku yang sunyi dari keramaian.

Mataku berkaca-kaca hendak meneteskan air mata. Aku menahannya, belum saatnya air mata itu jatuh. Ini belum seberapa, aku pernah merasakan yang lebih sakit dimasa lalu, ketika aku hubunganku dengan mantan terindahku berakhir. Dinda hanyalah cerita baru, tak perlulah air mataku harus jatuh karena dia.

Di kursi itu aku masih tetap merenung. Diam tak bersuara. Tak peduli dengan banyaknya orang yang melintas. Suara-suara dari speaker panggung tak mampu memecah kesunyianku. Ingin rasanya aku segera pulang ke rumah menenangkan diri. Tapi ada keperluan yang harus kuselesaikan malam itu.

Sekitar satu jam aku duduk diam merenung, aku kembali ke standku.
Bukannya membaik keadaanku malah tambah parah. Riki masih tetap berada di tempat tadi, duduk di dekat Dinda yang diam mematung. Aku menatap Dinda, gurat wajahku menyimpan kecemburuan yang begitu hebat. Perasaanku kacau balau.
Dinda menatapku balik. Matanya berkaca-kaca, ia sepertinya ingin meneteskan air mata. Tak kuasa melihat kondisiku yang begitu buruk malam itu. Semua perkataan Riki ia jawab sekenanya saja, tatapannya masih tertuju ke arahku. Sepertinya dia tak berdaya, dia terjebak dalam dua kondisi.
Pertama, ada orang yang mencintainya terluka. Kedua, orang yang dicintainya untuk saat ini berada persis di dekatnya.

Akhirnya, tiba juga pada puncak acara malam itu. Semua berkerumun di depan panggung, merapat dan berdesak-desakkan. Begitu cepat, tangan Riki menggenggam tangan Dinda, lalu mengajaknya merapat ke dalam kerumunan tersebut.
Hatiku terbakar hangus bertepatan dengan beberapa kembang api dibakar satu persatu. Dengan cepat mereka terbakar lantas melesat cepat di langit malam. Beratraksi dengan sangat indah hanya dalam kurun waktu beberapa detik. Hanya itu, indah namun singkat.

Lengkap sudah rasa sakitku malam itu, aku tak punya alasan lagi di sini. Aku harus pergi, semua urusan malam itu kuabaikan. Meminta maaf kepada Fatih selaku penanggung jawab stand itu.
Berjalan dengan membawa luka, tak tahu kapan luka ini bisa sembuh. Melewati kerumunan orang yang tersenyum gembira dengan beragam alasan.

Dengan cepat aku melangkah menuju parkiran sekolah. Di tengah jalan, aku melihat Dinda bersama Iren. Mereka berdiri. Iren menenangkan Dinda yang menangis tersedak-sedak. Kesedihan memenuhi seluruh wajahnya.
Aku diam sejenak melihatnya. Air mataku perlahan menetes, kuusap pelan. Kemudian meneruskan langkahku, melewati mereka berdua tanpa sepatah kata terucap. Seperti angin, berlalu begitu saja.

Malam itu, aku merasakan kehilangan. Kehilangan banyak hal, kehilangan harapan. Semua pupus hanya dalam hitungan jam. Cinta memang terkadang berubah menyakitkan. Tak berpihak, tak berperasaan. Itulah yang paling kubenci dari mencintai seseorang.

Dimasa lalu aku berkali-kali merasakan kehilangan. Berkali-kali patah hati. Berkali-kali bangkit dan jatuh lagi. Semua itu mampu kulewati dalam hitungan hari. Namun sekarang, semua berbeda. Mungkin karena aku yang terlalu mencintai Dinda, sehingga cinta itulah yang menyiksaku berpuluh-puluh malam.

Tak terhitung berapa banyak malam yang kulalui, dengan kepingan hati yang hancur berserakan. Tak terhitung berapa banyak waktu yang kubutuhkan untuk bangkit. Tak tahu seberapa banyak air mata ini jatuh menetes mengenang malam itu. Dan tak terukur seberapa sulit dan seberapa besar usahaku melupakan semuanya namun tak kunjung membuahkan hasil.
Namun, patah hati pasti punya tenggang waktu. Punya batas. Akan ada obat yang mampu menyembuhkan. Setelah terlalu lama terpuruk, akhirnya aku bisa bangkit. Menjalani kehidupanku yang sekarang. Bertemu dengan seseorang baru.

“Sometimes it lasts in love but sometimes it hurt instead”
Adele – Someone Like You

Cerpen Karangan: Ogy Sandria
Blog: mogimogy.blogspot.com

Cerpen Kenangan Tentang Dinda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Dan Air Mata

Oleh:
“Aku mengenal luka lebih dulu sejak mengenalmu, dan kau pun merasa sakit setelah aku tak ingin mengenalmu,” Hari ini adalah hari dimana aku dengan Erwin tepatnya 3 tahun berpacaran

Sahabat Masa Kecil

Oleh:
Siang itu, selesai kuliah Putri dikejutkan oleh telepon dari teman lamanya. Dani. “Woy Put, aku di depan kampus nih, ke sini ya cepet. Jamuran nih,” ujar Dani di ujung

Masa Yang Panjang

Oleh:
Pertama aku melihatnya di teras halaman depan rumahnya, mataku seperti terkunci hanya untuk melihat wajahnya. Maklum aku baru datang di kota ini karena aku baru pindah sore ini ke

Perjalanan Andre Dalam Mencari Cinta

Oleh:
Ada seorang pria yang bernama andre, dia seorang yang hobinya berburu di hutan tetapi dia punya masalah dengan keluarganya karena sang ayah sudah meninggal dan dia juga dibenci oleh

Cara Mencintai Seseorang

Oleh:
Inilah caraku mencintai seseorang yaitu dengan cara diam-diam dan pada akhirnya orang yang ku sukai itu tidak pernah jadi pacarku. Cara ini memang konyol bagi remaja zaman sekarang tapi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *