Kenangan Yang Tertinggal (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 November 2016

Suasana kelas tampak ramai. Seorang anak laki-laki yang duduk di pojok belakang hanya bisa menyaksikan keributan itu. Ini hari pertamanya masuk SMA, dan belum ada seorang guru pun masuk ke kelasnya. Tentu itu adalah hal wajar jika suasana kelas masih ribut. Dan dia belum punya seorangpun teman. Ya dia hanya seorang anak laki-laki biasa yang pendiam. Dia tak tau harus berbuat apa. Kemudian dia melihat seorang anak perempuan yang lumayan manis, rambutnya yang panjang hitam lebat itu dikuncir kuda, yang sedang serius membaca sebuah novel tebal. Wajahnya tampak tak asing, dia tak tau kapan pernah melihat gadis itu, yang pasti dia tak menyadari bahwa dia sudah terpesona pada gadis itu pada pandangan pertama. Lalu dia pun mengalihkan perhatiannya pada buku tulisnya yang masih baru. Tentu saja dia akan menuliskan namanya di buku itu: Ferdi Nugroho.

Tak terasa dia sudah satu semester dia menjadi siswa SMA. Semakin lama ia semakin mengagumi gadis itu, yang dilihatnya pada hari pertama sekolah, yang selalu punya dunia sendiri dengan buku-bukunya. Ternyata gadis itu sangat cerdas, begitu yang diketahuinya saat sudah setengah tahun sekelas dengan gadis itu. Dia sendiri mungkin tidak terlalu bodoh. Setidaknya dia tidak pernah remedial pada pelajaran matematika dan fisika. Hanya saja dia lemah akan pelajaran hafalan sehingga nilainya pas-pasan di mata pelajaran yang lain. Dia juga sangat lemah dalam pelajaran bahasa inggris, sedangkan gadis itu terlalu sempurna. Sangat cantik dan nilainya hampir sempurna pada mata pelajaran. Akan tetapi gadis itu seperti dirinya, tidak punya banyak teman. Gadis itu selalu tenggelam pada buku-bukunya dan tidak mempedulikan sekitarnya, seperti dirinya yang tidak mempedulikan sekitarnya dan hanya mempedulikan selembar kertas sambil dia membuat sketsa pada kertas itu.
“woy Ferdi, jangan bengong lo!” Kata Adi teman sebangku Ferdi.
“enggak kok” jawab Ferdi tegas.
“lo lagi gambar apa sih?” Tanya Adi sambil merebut kertas itu dari tangan Ferdi tanpa izin.
Adi berpikir sejenak, mengamati gambar itu. Seorang gadis yang yang sedang membaca buku. Di kelasnya kalau bukan Nata -anak terpintar di kelasnya- ya siapa lagi yang suka baca buku, tapi tak sampai 2 detik Ferdi sudah merebut kertas itu.
“lo ngegambar Nata ya? Jangan-jangan lo suka ama Nata? Gak nyangka orang sependiem lo.. Manusia es kaya lo bisa suka sama orang..”
Belum sempat Ferdi membela diri, Adi pun menyebarkan berita mengejutkan itu yang menurutnya teman-teman sekelasnya layak untuk mengetahuinya. Yaa ini dikarenakan tentunya sifat dasar Adi yang suka iseng.
“woooy Ferdi suka sama Nata..”
“cieeee” sahut teman-teman mereka secara serempak.
Wajah Nata pun memerah seperti kepiting rebus. Tetapi dia tak menghiraukannya, tetap fokus membaca. Sepertinya waktu istirahat kali ini akan berjalan lebih lama baginya… Apa lagi teman-temannya masih meributkan apa yang diteriakkan Adi tadi bahwa Ferdi, si manusia es menyukainya…

Natasha Camilla, biasa dipanggil Caca. Akan tetapi teman sekelasnya entah mengapa lebih suka memangilnya Nata sejak pertama masuk sekolah. Beberapa teman sekelasnya berusaha mendekatinya, untuk mejadi teman akrabnya. Tetapi Nata selalu punya dunia sendiri bersama buku-bukunya, tak heran dia sering duduk sendirian tanpa ada yang menemaninya. Mereka pun akhirnya memaklumi sikapnya dan satu per satu menjauh, dan hanya ada percakapan-percakapan singkat di antara mereka dan Nata. Ya semua teman sekelasnya berusaha mendekatinya kecuali satu orang, Ferdi Nugroho. Si manusia es itu tak pernah berbicara kepadanya, satu patah kata pun. Sebenarnya sejak hari pertama masuk sekolah ia sedikit memperhatikan Ferdi, yang mengingatkan dia dengan seseorang yang ada di masa lalunya, yaitu sahabat kecilnya yang entah dimana keberadaannya dia sekarang. Dan kabar bahwa Ferdi menyukainya sempat membuat dia bingung.
“bukankah Ferdi membencinya?” Gumamnya dalam hati.

Sebulan kemudian gosip itu mereda dengan sendirinya. Teman-teman mereka pun tak pernah membahas kabar itu, kabar bahwa Ferdi menyukai Nata. Tetapi tanpa mereka ketahui Ferdi semakin menyukai Nata. Kenyataan bahwa Nata orang yang sulit didekati membuatnya memendam perasaanya. Entah mengapa suasana hatinya sedang tidak baik. Dia bosan menggambar. Lalu dia pun berniat ke perpustakaan, tempat yang sangat jarang dia kunjungi. Yaa dia hanya kesana jika mencari buku untuk tugas sekolahnya. Mungkin dia akan berkeliling lebih lama disana untuk mencari buku yang menarik, dan hal itu tidak pernah dilakukannya. Sebenarnya perpustakaan itu tempat yang cukup nyaman baginya. Ruangan yang bercat kuning cerah itu sangat sepi dan damai, dingin tentunya karena ber-ac. Sesampainya di perpustakaan dia pun sedikit berkeliling. Dia belum menemukan buku yang menarik perhatiannya.
Nanti sekalian ke toko buku ah pas pulang sekolah, beli komik sekalian. Gumamnya dalam hati.
Dan perhatiannya pun tertuju pada novel misteri. Lalu tiba-tiba ada yang menegurnya. Tanpa melihat pun dia tau bahwa yang memanggilnya itu adalah Nata. Dia pun berusaha bersikap biasa dan tidak gugup.
“hei tumben kesini” ujar Nata. Gadis di depannya ini tersenyum manis. Sangat manis. Mendadak jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya dan dia serasa lupa bagaimana cara bernafas dengan baik. Tapi yang keluar dari dirinya malah tatapan dingin, tanpa senyuman dan tanpa ekspresi apapun.
“ya bukan urusan lo kan?” Jawabnya datar. Belum sempat Nata mau angkat bicara Ferdi pun pergi begitu saja. Nata pun mematung saat ditinggal Ferdi seperti itu.
Hhhh sial. Kenapa gue jawabnya kayak gitu sih? Mudah-mudahan Nata gak tersinggung. Sial.. Gue terlalu gugup… Saking gugupnya gue malah ninggalin Nata. Gumam Ferdi dalam hati.
“sampe kapan sih dia dingin kayak gitu. Sampe kapan sih. Sampe kapan harus nunggu dia bisa ramah, sampe kapan..” Gumam Nata. Mendadak Nata merasa sesak yang amat sangat. Sampai kapan dia bisa menaklukkan hati dinginnya Ferdi. Mungkin dia yang terlalu bodoh bisa menyukai seseorang seperti Ferdi…

Tak terasa mereka sudah naik kelas. Kini mereka sudah kelas sebelas. Ferdi dan Nata pun sekelas lagi. Dan mereka kedatangan murid baru yang bernama Dion Deraputra. Dion itu sangat jenius, dialah satu-satunya yang bisa mengalahkan Nata. Tapi kabarnya Dion itu terlalu awal saat masuk SD, jadi sebenarnya Dion satu tahun lebih muda dari teman-teman di kelasnya. Dion sangat tampan dan ramah. Dia menguasai semua mata pelajaran dan berbagai macam permainan olahraga. Bahkan dia bisa beladiri juga. Tak heran dia menjadi idola pada waktu yang singkat.
Seperti yang lainnya sebelumnya, dia pun berusaha mendekati Nata. Awalnya Nata tak menghiraukannya, tetapi lama-kelamaan dia luluh juga. Memang sejak Dion pindah, tempat di samping Nata yang kosong kini diisi oleh Dion. Jadilah mereka teman sebangku. Mereka bersahabat. Tetapi teman-teman mereka menganggap mereka sangat cocok kalau mereka menjadi sepasang kekasih, begitu juga yang diharapkan Dion.
“hei Nata.” Sapa Dion menghampiri Nata. Dia pun duduk di samping Nata.
“oh.. Dion. Udah dateng?”
“iya.. Eh gue mau lanjutin cerita yang kemaren ah.. mungkin suatu saat nanti telah ditemukan PR yang bisa mengerjakan dirinya sendiri, kalo penemuan itu ada mungkin itu sangat bermanfaat.” Ujar Dion dengan raut wajah yang serius.
“ya gak bakal ada lah. Haduuuh Dion setress” gumam Nata dengan penuh tawa
“lah itu tau.. Hehe”
“Nata kalau ketawa manis deh. Gak kayak gue baru kenal sama lu.. Susah dideketin.” Sahut Dion serius sambil menatap Nata lekat..
“haa gombal” jawab Nata yang tak begitu memperdulikan omongan Dion.
“ih beneran”
Ferdi pun cemburu melihat mereka berdua. Mereka kelihatan akrab dan serasi, itulah fakta yang menyakitkan hati Ferdi. Mereka memang sering terlihat bersama. Dari obrolan ringan seperti tadi sampai belajar bersama. Ya Ferdi memang bukan Dion yang pintar dalam segala hal sampai pintar bicara dan asyik diajak ngobrol. Ferdi tidak bisa seperti Dion. Dan selamanya dia bukan Dion, yang sudah membuat Nata membuka diri, yang tidak sependiam dulu. Dia hanyalah Ferdi yang tak pandai bicara yang dijuluki manusia es oleh teman-temannya. Dan dia sadar betul akan hal itu, dan mungkin selamanya memang begitu. Sudah pasti menurutnya dia tak pantas mendapatkan Nata, seorang Nata yang sulit diraih. Nata terlalu sempurna, dan dia memang serasi saat bersama Dion, ya hanya Dion. Tetapi mengapa saat dia berusaha melepas Nata hatinya malah semakin sakit?

Waktunya pulang. Wanda, adik sepupu Ferdi langsung menghampiri Ferdi yang kini baru saja ke luar dari kelasnya. Ya, Wanda bersekolah di tempat yang sama dengan Ferdi, dan tentunya dia kelas 10. Ferdi tidak punya adik, maka dari itu Ferdi sangat menyayangi Wanda seperti adik kandungnya sendiri. Tetapi teman-teman mereka tidak tau bahwa Wanda adalah adik sepupu Ferdi, termasuk Nata. Ketika melihat Ferdi, Wanda pun langsung menghampirinya dan bergelayut manja di tangan Ferdi. Nata yang menyaksikan adegan tak mengenakkan baginya itu langsung menghindar dan memilih jalan memutar agar tidak bertemu mereka berdua. Dadanya sesak, entah mengapa rasanya sakit sekali. Mungkin dia belum sepenuhnya melupakan Ferdi. Apalagi di dekat Wanda, Ferdi tidak dingin lagi. Dia tersenyum saat melihat Wanda, bahkan tertawa bersama saat mereka bercanda. Kenyataannya, hanya kepada Wanda Ferdi tidak dingin lagi. Hanya kepada Wanda lah Ferdi memberi seyumannya, senyuman yang hampir tak pernah bisa dilihat Nata. Kenyataan itu membuat hati Nata sakit. Memang kemunculan Wanda baru satu semester terakhir ini tapi dia bisa mengubah segalanya. Ya, dia bukan Wanda, gadis manis yang periang. Dia bukan Wanda yang selalu tak kehabisan bahan obrolan. Dia hanya seorang Nata yang kutu buku, hanya itu, tidak lebih. Dan tentunya dengan begitu Nata berpikir mustakhil baginya untuk mendapatkan hati Ferdi. Walau sakit, dia senang bisa melihat Ferdi tersenyum, walaupun bukan untuknya.

Nata sudah tak tahan lagi. Dia tak tau harus bagaimana lagi, dia tak tau cara menghilangkan rasa sakit ini. Dan dia pun menulis sesuatu di buku hariannya.
Aku tak mengerti mengapa aku bisa menyukaimu
Orang sepertimu
Yang memiliki tatapan beku
Aku tak mengerti mengapa kau begitu
Apa ada yang salah denganku?
Mengapa kau tak mau melihatku?
Mengapa kau tak mau menyapaku?
Mengapa kau tak mau tersenyum padaku?
Apakah tak ada sedikitpun celah di hatimu untukku?
Kau tau?
Walau ku tau kau sangat beku
Tapi kau sudah menjadi matahariku
Yang menyinari hariku
Tapi aku pun tau
Aku tak bisa menggapaimu
Aku tak bisa melelehkan hatimu
Sampai kapanpun…
Lalu air mata Nata pun jatuh satu per satu. Dia tak sanggup lagi. Dia pun menghapus air matanya, menutup buku hariannya, dan mengambil novel kesayangannya untuk menghibur diri. Mungkin hanya ini yang bisa dilakukannya. Hanya memendamnya. Dan mungkin dia harus bahagia melihat Ferdi bahagia bersama Wanda. Karena hanya Wanda yang membuat Ferdi tersenyum, dan tentunya dia tak bisa melakukannya.
“Nata, ngapain sendirian di kelas? Yang laen kan udah pulang?” Tanya Dion cemas.
“Ah.. Hmmm gak ngapa-ngapain kok. Udah gak usah khawatir. Bentar lagi pulang kok. Lo aja yang pulang sekarang!” Perintah Nata setengah bercanda.
“oh ya udah. Sekalian deh ada yang mau gue omongin, mumpung sepi..”
“apaan sih? Kayaknya serius banget. Gak nyangka Dion bisa serius juga.. Hehe”
“ih gue gak bercanda Nata.. Hmm gimana ya?”
Dion pun menghela nafas, dan mereka pun terdiam untuk beberapa saat. Nata pun menunggu kata-kata yang akan diucapkan Dion.
“sepertinya ini sangat serius.” Pikirnya
“Ya udah percaya gak percaya gue suka sama lu. Gue punya perasaan lebih dari temen.” Kata Dion tulus.
Deg
Nata terdiam. Nata butuh waktu lebih lama lagi untuk bisa mencerna kata-kata Dion. Dia seperti kehilangan kecerdasannya sekarang.
Tadi Dion bilang apa? Dia menyukaiku? Eh? Gumam Nata dalam hati
“woy jangan bengong Nat” kata Dion untuk menyadarkan Nata
“eh.. I.. Iya… Maaf Dion. Gue cuma nganggep lo temen kok, gak lebih. Kalu pun gue punya perasaan yang lebih gue gak bisa jadi pacar lo, gue mau fokus sekolah dulu”
“hhhh… Gue udah nyangka kayak gitu kok. Sekarang gue lega bisa ngungkapin semuanya. Lo gak usah minta maaf Nat..”
“Oh.. Ya udah makasih udah ngertiin gue. Lo ga sakit hati kan?”
“hmmm sedikit sih. Tapi gak papa kok. Lo mau jadi temen gue, gue pun udah bersyukur banget. Lu orangnya susah dideketin. Lo bisa ketawa bareng gue kayak biasa itu juga cukup kok bikin gue seneng.” Kata Dion menjelaskan. Walaupun dia memang sakit hati. Kenyataan bahwa Nata yang tak menyukainya. Seharusnya dia tak beharap sejak awal.
Awalnya dia memang penasaran pada Nata. Anak itu terlalu pendiam, terlalu sibuk bersama buku-bukunya. Kata teman-temannya memang Nata dari dulu begitu. Namun seiring berjalannya waktu dan usahanya tentunya, Nata pun bisa akrab padanya. Dan ia pikir Nata memang menyukainya. Mengingat memang banyak perubahan yang drastis pada Nata. Nata yang mau bicara panjang lebar padanya. Nata yang dengan mudahnya tertawa bersamanya. Ternyata dia salah mengartikan sikap Nata. Kini dia pun harus melupakan perasaannya kepada Nata dan memang seharusnya begitu. Karena Nata hanya menerimanya sebagai teman biasa, tidak lebih.

Cerpen Karangan: Nisa Nurul Asror
Facebook: Nisa Asror

Cerpen Kenangan Yang Tertinggal (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tuan Berkacamata

Oleh:
Jam menunjukkan pukul 14.30 wib. Tapi tak ada jawaban bahwa adanya tanda-tanda sms masuk dalam ponselku. Dari pagi hingga kini kutunggui. Namun tiada kabar kudapati dari dia yang kurindui.

Kejutan Terakhir

Oleh:
Namaku Veronika Shyla, panggil saja Shyla. Aku kini duduk di bangku SMA, kelas 11. Aku adalah seorang remaja putri biasa, bukan siapa-siapa. Aku memiliki seorang sahabat, Priscilla Viona, panggil

Sepeda dan Cinta Pertamaku

Oleh:
Namaku Tiara, aku sangat suka sekali bersepeda. Dari kecil aku sangat menyukainya. Aku masih ingat dulu saat pertama kali ibu dan ayah mengajariku menggunakan sepeda. Jatuh bangun ku rasakan,

Bidadari Sabtu

Oleh:
Aku merasa sudah lama duduk di sini, menunggu seseorang yang belum juga tampak tanda-tanda kedatangannya. Biasanya tak pernah telat begini, dia selalu datang 5 menit setelah aku memesan minuman.

Cinta Tanpa Bertemu

Oleh:
Apa kalian percaya dengan cinta? Cinta yang datang tiba-tiba berawal dari chat dunia maya tanpa bertemu langsung dengan orang tersebut? Mungkin kedengarannya sungguh tidak masuk akal. Tapi itulah kenyataannya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *