Kenapa Dia Bukan Milikku?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 18 July 2013

Jangan sampai galau berlebihan cuma karena cinta, tidak baik buat diri kita juga.

Pagi ini awal aku Ujian Tengah Semester di sekolah SMAN 2. Aku baru saja lulus dari SMP dan melanjutkan ke SMAN 2 ini. Hari ini aku bingung karena mencari-cari ruangan untuk UTS hari pertama. Di kartu ujian ruanganku ruang 22, aku mencari-cari dimana ruangan itu sampai aku bertemu teman sekelasku bernama Rara. Rara ternyata ruang 22 sama sepertiku, akhirnya kita mencari ruangan tersebut. Tak lama mencari “huh akhirnya ketemu juga ini ruang 22” Ucap Rara yang sedari tadi kelelahan mencari-cari bersamaku.

Bell berbunyi menandakan UTS pertama di mulai, semua murid-murid masuk keruangannya termasuk aku. Seusai selesai mengerjakkan soal-soal akupun keluar ruangan dan duduk di depan ruangan tersebut menunggu teman-teman yang masih di dalam ruangan. Karena aku bosan, aku pun mengambil handphone yang berada di dalam tasku. Banyak BBM yang isinya hanya broadcast. Tetapi ada satu BBM entah dari anak kelas berapa yang pasti dia juga satu sekolah di SMAN ini “widara, bagi jawaban nya sih essay. Anak SMAN 2 juga kan?” pesan BBM dari seorang cowok bernama Imam.
“Maaf tadi handphone gue di tas. Gue udah keluar” Balasku pada BM dia
“ya elah.. ya sudah kalau gitu. Lo kelas X berapa?”
“sorry ya, hehe. Kelas X-8. Kalau lo?”
“ooh gue kelas X-12. Hehe”
“oh gitu, yau dah salam kenal aja ya?”
“oke deh. Lagi dimana?” seterusnya kita sampai di rumah pun BBM-an

Pagi ini aku di bangunkan oleh BM Imam “Morning” dengan emotion menjulurkan lidah
“morning juga” balasku singkat.
“eh hari ini gue mau lihat lo langsung dong”
“emang ciri-ciri lo apa?”
“pakai jam tangan silver, sepatu league, tas hitam”
“oh itu iri-cirinya?” balasku dengan emotion menjulurkan lidah
“bukan! ya iya lah hahahaa” balas dia dengan emotion smiling

Sesampainya di sekolah, akupun bertemu Rara. “Ra, ke kantin yuk? Aku belum sarapan, hehe.” Ajakku pada Rara dan menarik tangan Rara menuju kantin.
Selesai sarapan akupun menuju ruangan 22 hari ke-2 UTS, hehe. “Eh Ra, kata Imam yang kemarin aku ceritain itu dia tuh ciri-cirinya pakai jam warna silver, sepatu league, tas hitam” Ucapku sambil menunjuk ciri-ciri itu terhadap cowok yang membelakangiku.
“Loh? Ini bukan, ini deh kayanya” ucap Rara meyakinkanku.
“Ah masa iya ini? Beda sama yang di foto.” Aku masih menatap seorang cowok itu yang membelakangiku
“itu tau wid, ituuu” ucap Rara keras sampai cowok di depanku melihat ke belakang dan membuat aku tersentak.
“hahh? Hayu Raaaa!!” tarikku pada Rara dan langsung lari ke ruangan 22.
“benerkan itu orangnya” ucap Rara yang merebut handphone di tanganku”
“mirip sih.. tapi Ra…” Aku tidak melanjutkan kata-kataku.

Karena aku tetap tidak percaya, Rara pun mengajakku ke ruangan yang ditempati kelas X-12. Rara menanyakan Imam kepada teman sekelasnya. “Mau nanya doong yang namanya Imam yang mana ya?”
“lagi gak ada, ke kantin kayak nya” Ucap Ayu teman sekelas Imam
“Raaa? Bener yang tadi?”
“iya wid, ituuu”
“itu yang namanya Imam yang megang botol minuman” ucap Ayu
“tuh kan beneeer!!” Ucap Rara membentakku.
“ya udah yuk pergi dari sini” Tarikku pada Rara.
“Ayu makasih yaa” ucapkku lagi pada Ayu.
Aku berlari menutupi setengah wajahku dengan tangan, Imam pun melihat mungkin dia heran.

Di rumah, aku langsung masuk ke dalam dan beristirahat. Handphone aku simpan di meja komputer. Aku tertidur dan terbangun jam 5 sore langsung mandi. Setelah mandi aku menonton televisi dan tidak mengecek handphone sama sekali. Setelah aku shalat maghrib aku langsung belajar. Selesai belajar jam 9 malam, aku pun langsung mengecek hp ternyata ada 20 BM yang isinya Broadcast dan dari Imam.
“widara?”
“hey widaraaa”
“widaraaa”
“PING!!! PING!!! PING!!!”
“Read dong”
Pesan BBM dari Imam
“iya ada apa? Maaf baru balas” balasku tanpa emotion apa-apa.
“kemana aja gitu? Kok baru balas?” bales Imam kaya orang gak suka gitu.
“loh emang kenapa? Masalah?” jawabku kesal karena dia pacar saja yang tingkahnya seperti itu.
“masalah! karena gue nunggu balasan dari lo” dia menyentak seenaknya saja.
Akupun tak balas lagi, aku paling gak suka di sentak gitu. Menyebalkan!

“Pagiii” BM dari Imam yang aku rasa dia tidak punya malu apa kemarin saja tidak aku balas.
Aku Cuma Read BM dia tanpa membalas. “read doang? ini bbm woy bukan Koran!” BM Imam yang buat aku semakin tidak peduli.
Entah kenapa dia tiap hari perhatian sekali dan tidak seperti itu lagi. Membuat aku jadi penasaran dan aku berharap ini bukan perasaan yang serius.

Akhirnya kita sering BBM-an dan mungkin karena sering cerita-cerita sambil bercanda kita mulai saling mengenal. Tak lama rasanya sudah 1 Bulan kita berteman dekat, malamnya kita main bersama teman-temanku yang lain dan di situ ada Imam. Kita mengobrol di depan rumah temanku yang tak jauh dari rumahku, akupun mulai mengobrol dengan Imam sambil tertawa-tawa seru. Sekitar jam 9 malam aku di telfon papah dan menyuruhku pulang. “Mam gue pulang duluan gak apa-apa?” ucapku menatap Imam
“oh iya gak apa-apa wid, lagian sudah malam aku juga mau pulang” jawab dia menatapku dengan senyuman.
Begitu aku pulang, aku di kecengin dengan kakak sepupu yang lagi main dirumahku “ciee main sama siapa di depan?” sambil tertawa-tawa dan papah pun ikut tersenyum.
“apaan sih aa nih, orang banyakan kok gak berdua” ucapku yang sambil senyum-senyum
“ah bohong tuh pah bohong” ledek A Yoga kaka sepupuku.
“ih beneran seriuuss deh ga bohong” ucapku meyakinkan
“pacarnya ya kamu aihh aihh” ledek A Yoga yang tidak puas meledekku
“ih single tauuu” aku menjawab dengan menjulurkan lidah
“ya udah ya udah tidur sana udah malam” ucap papah yang selalu mengelus-ngelus kepalaku.

Malam-malam Imam jujur padaku tentang perasaan nya, akupun bingung mesti jawab apa sedangkan aku aja tak mengerti dengan perasaan apa yang sedang aku rasakan.
Aku meminta waktu besok karena aku masih ingin berfikir dan belum yakin apa aku juga mempunyai perasaan yang sama dengan dia. Ternyata memang aku juga mempunyai perasaan yang sama.
Setelah aku mau menjawab, dia BM aku “aku masih trauma dengan mantanku”
“ya terus mengapa semalam kamu bilang gitu ke aku?” jawabku bingung
“maaf, tapi aku udah jujur sama kamu” jawab dia
“yaa jangan gini caranya, kalau emang kayak gini jangan pake nanya “wid lo mau kan jadi pacar gue?” seharusnya kalau emang mau nyatain gak pakai kata ini” jawabku sedikit kecewa
“maaf mungkin ini memang salah, maaf wid” jawab dia dengan emotion sedih
“iya gak apa-apa kok” jawab ku singkat, padahal hatiku saat itu kesal, kecewa, sakit.

Dari situ aku sama Imam jadi jarang BBM-an seperti dulu. Dia datang di saat aku patah hati dan aku patah hati yang ke-2 kalinya sama dia. Sungguh sakit, tapi aku gak mau menangisi dia.

Di sekolah, aku selalu bertemu dia saat ingin ke kantin. Dia menatapku dari kejauhan, akupun pura-pura tidak melihat dia walau sebenarnya aku tau ada dia disana. Aku saling bertatap muka sehabis dari kantin, dia menatapku dan aku refleks menatap dia balik. Aku tersadar dan aku langsung menunduk dan lari ke kelas. Rasanya tuh Waw banget. Yaa mungkin butuh waktu lama buat aku melupakan dia apalagi dia dan aku satu sekolah. Tapi sekian 2 Bulan aku bisa melupakan dia perlahan dengan caraku sendiri.

Cerpen Karangan: Syafa Putri Ratmala
Facebook: Syafa P Ratmalla
Blog: syafasandjadirdja.blogspot.com

Cerpen Kenapa Dia Bukan Milikku? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sayonara

Oleh:
Aku capek memendam rasa yang nggak terbalas ini. Aku capek dengan sikap Azraq itu. Dia cuek, dia sadis, dia nggak peduli, dia nggak pernah senyum sama aku. Dia pikir

Maafkan Aku

Oleh:
Ku buka jendela melihat sang rembulan dan bintang yang menyinari malam ini, mengingat sesosok lelaki yang selalu menemani ku dan mencintai ku dengan sepenuh hatinya. dia nafasku dia lah

Cinta Terpendam

Oleh:
Cinta tak harus memiliki karena dia memang bukan jodoh kita. Tak apa meski ini sangat menyakiti, dan begitu melukai. Namun itulah garis terbaiknya untuk kita sebagai hamba-Nya yang harus

Hanya Untuk Lili

Oleh:
“Halo..?” Desisku menanggapi orang yang menelphone ku tengah malam seperti ini, sekitar jam 00.30. “Halo Callista Gabriel atau Lili adek sayang, apa kabar malam ini?” sahutnya. “Oh kak Ray,

My Bestfriend, My True Love

Oleh:
Sebelumnya, aku tidak pernah tahu makna cinta, karena menurutku yang lebih indah dari semua itu adalah persahabatan. Persahabatan lebih dari apapun, karena mencari sahabat sejati begitu susahnya, seperti mencari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *