Kenapa Harus Gue?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 November 2013

Lamunan Rahma buyar ketika terdengar derit pintu kamarnya terbuka. Di lihatnya sahabatnya telah berdiri di depan pintu.
“Ngelamunin apa sih non?”
“Menurut lo?”
“Oh ya gue tau si cowok kaca mata ya?”
“Lagian nggak mungkin kan gue ngelamunin si Lulu walapun dia pake kaca mata juga”
“Sialan lo, emang menurut lo apa sih bagus nya si Putra itu?”
“Menurut gue apa pun yang ada di tubuh dia mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki bagus semua.”
“Termasuk kaca matanya?”
“Ya iya lah, justru kaca matanya itu yang buat gue makin suka sama dia.”
“Tapi gue lihat Putra lebih keren kalau nggak pake kaca mata.”
“Setiap orang kan punya penialaian sediri-sendiri, itu sih menurut lo?”
“Ya deh gue ngalah, gue tau lo kan cinta mati sama dia.”
“Terserah deh lo mau bilang apa cinta mati, cinta monyet, cinta lingkungan & cinta-cinta yang lainnya.”
“By the way, lo mau cerita apa sih nyuruh gue kesini?”
“Tentang si kaca mata?”
“Emang ada apa lagi dengan si kaca mata?”
“Bukan si kaca mata yang ada apa, tapi gue.”
“Lo kenapa, bukan nya lo baik-baik aja?”
“Perasan gue yang nggak baik, bom di hati gue rasanya sudah mau meledak. Gue bingung banget Vir, kalau gue nggak ungkapin perasaan gue ke dia gue nggak bakal pernah tau dia suka atau nggak sama gue. Tapi kalau gue ungkapin…”

“Kok diam, kenapa nggak loe lanjutin?”
“Lo tau lah Vir, pasti banyak resikonya. Menurut lo gimana baiknya?”
“Lo ungkapin aja dari pada ntar lo nyesel. Lagian kalau cinta kan harus diperjuangkan?”
“Maksud lo?”
“Siapa tau dia sudah nembak cewek lain duluan.”
“Bener juga, tapi gimana carranya? Lo tau gue kan, gue nggak bakal berani kalau ngomong langsung ke dia.”
“Sekarang jaman sudah canggih non, lewat telfon bisa, sms juga bisa”
“Kalau telfon sih sama aja ngomong langsung, sms banyak kalimat yang mau di ketik.”
“Ya udah pake surat aja!”
“Tapi…”
“Tapi kenapa lagi?”
“Gue takut Vir, pasti itu beresiko banget.”
“Ya udah terserah lo gimana baiknya. Apapun keputusan lo gue sebagai sahabat lo cuma bisa ngedukung lo dari belakang, gue harap itu terbaik buat lo. Udah sore ni, gue pulang ya?”
“Thank’s ya Vir”
“Kayak sama siapa aja pake bilang makasih.”
“ya nggak papa kan?”
“Iya sih, oh ya pikirin tu gimana baiknya biar nggak galau terus.”
“Sialan lo”

Pagi ini Rahma datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Sesuai dengan rencananya kemarin dan setelah semalaman suntuk dia menyelesaikan surat untuk Putra.

Rahma berlari kecil menuju kelas XI Ipa, sesampainya di depan pintu kelas di lihat teryata belum ada satu pun yang datang, kecuali dia. “Bagus lah sesuai dengan yang gue rencanakan” ujarnya. Rahma melangkah masuk ke dalam kelas, menuju ke sebuah meja no 2 di sudut sebelah kiri yang teryata itu meja si Putra.

Setelah meletakkan surat di laci meja Putra. Dua orang teman sekelasnya datang. Rahma benar-benar terkejut, ia takut kalau teman-temannya tau apa yang ia lakukan di kelas sepagi ini.
“Eh elo Rahma, tumben banget lo pagi-pagi udah ada di sekolah.”
“Iya ni, padahalkan si Rahma ratunya telat” timpal teman nya satu lagi.
Dengan senyum di paksa kan Rahma menjawab sekenanya saja.
“Eh iya ni. Gue juga lupa semalem gue mimpi apa ya kok bisa pergi sekolah sepagi ini.”
“Meyebalkan! kalau bukan karena cinta nggak mungkin gue pergi sepagi ini dan ketemu dua cewek nyebelin kayak mereka” gerutu Rahma dalam hati sambil melangkah meninggalkan kelas.
“Mending gue nongkrong di kantin sambil sarapan. Tapi ntar kalau Putra datang gue nggak tau. Oke gini aja gue cari sarapan sebentar ke kantin, terus langsung lari ke kelas lagi. Hem, emang pintar lo Rahma. Tapi kok gue kayak orang bego ya dari tadi ngomong sediri. Ah biarin, peduli amat” ujar nya sambil ngeloyor ke kantin.

Saat Rahma ke kantin, teryata Putra baru saja tiba. Sambil membawa sepotong roti Rahma kembali ke kelas, baru saja sampai di depan pintu kelas Rahma menghentikan lankah nya. Jantungnya berdetak kencang teryata dia melihat Putra memasukkan suratnya ke dalam tas. Rahma ingin melompat dan berteriak “yes… yes”, tapi seketika dia sadar nanti teman-temannya mengira dia gila dan Putra bisa tau. Mau di taruh di mana mukanya.

Siang itu di kantin.
“Vir, gue seneng banget Putra sudah nerima surat gue.”
“Yakin lo?”
“Iya dong, orang gue lihat sendiri waktu dia masukin surat gue ke dalam tas nya.”
“Bagus dong kalau gitu?”
“Iya sih, tapi gue nggak sabar nunggu balasan surat dari dia.”
“Lo sih di suruh nyatain langsung nggak mau.”
“Gengsi tau, Vir!”
“Tapi loe kan bisa langsung tau hasilnya”
“Lo fikir gue lagi ngerjain soal matematika gitu, yang kalau di cari langsung bisa ketemu hasilnya”

Teng.. teng… teng, bel telah berbunyi tanda waktu istirahat telah usai.
“Bel dah bunyi tu, lo masuk nggak?”
“Iya, gue juga denger. Bakso lo, udah lo bayar?”
“Belum, bayarin dulu ya?”
“Sialan lo, Vir”

Seminggu sudah berlalu Rahma sudah mal mengingat-ibgat kejadian tentang surat yang di berikan ke Putra. Setelah kena omel guru piket gara-gara terlambat, Rahma berlari menuju kelasnya, untung saja ibu Neli guru matematika yang super disiplin itu belum masuk jadi dia nggak kena omel dua kali.

Di kelas sudah ramai tapi Rahma tak melihat Vira sahabatnya. “Kemana sih si Vira, tumben banget tu anak telat. Tapi kok gue ngerasa ada yang aneh dari si Vira. Akhir-akhir ini dia kayak nyembunyiin sesuatu dari gue, tapi ya udah lah nggak penting juga.”

“Pagi semua!!” sapa bu Neli
“Pagi bu”
Rahma tak menjawab sapaan Gurunya dia gelisah mikirin Vira yang tak juga muncul menampakkan batang hidung nya.
“Ya ampun tu anak kemana sih, nggak nongol-nongol juga dari tadi. Apa dia lupa ya pelajaran pertama matematika?”

“Permisi bu”
Terdengar suara dari arah pintu. Saat itu juga semua mata mengarah ke sumber suara, termasuk juga Rahma.
“Vira!? Kok bisa sama Putra” ujar Rahma dalam hati.
“Kalian berdua dari mana?” tanya bu Neli
“Tadi…” belum sempat Vira menjawab Putra langsung memotong pembicaraannya.
“Begini bu tadi Vira sakit perut terus saya antar ke UKS, ini obat nya bu” ujar Putra sambil menunjukkan obat yang di bawa nya.
“Ya sudah cepat duduk ibu sudah mau mulai pelajaran.”
“Keluar kan buku kalian” seru bu Neli pada siswa-siswinya.

Rahma menarik tasnya dari dalam laci, tapi tak di sangka ada yang jatuh.
“Secarik kertas! Dari siapa?” guma Rahma
Jantung Rahma berdetak kecang, ketika tau bahwa kertas itu dari Putra. Ada senyum tipis menyinggung di bibir Rahma. Tapi seketika senyum itu berubah menjadi muram.” Pupus semuanya” ketika tau isi kertas itu.

“SORRY SEKARANG INI GUE BELUM MAU PACARAN DULU. GUE MAU FOKUS KESEKOLAH GUE DULU.”

“nggak mungkin cowok kayak dia nggak mau pacaran. Kenapa dia nggak jujur aja kalau emang dia nggak suka sama gue. Dia fikir dengan begitu gue nggak sakit hati. Cowok emang nggak bisa ngertiin perasaan cewek.”
“Rahma…” teriak bu Neli
“Eh.. Ada apa bu?” jawab Rahma gelagapan
“Kamu ngelamunin apa?”
“Saya nggak nglamun kok bu?”
“Kata siapa kamu nggak nglamun? Dari tadi ibu perhatiin kamu. Awas ya kalau sekali lagi ibu lihat kamu ngelamun ibu suruh keluar kamu,”
Rahma tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Rahma… kamu dengar tidak?”
“Dengar bu” jawabnya.

“Kenapa gue harus nangis cuma gara-gara cowok, padahal nggak ada istilah di kamus gue patah hati harus nangis. Meyebalkan!” gerutu Rahma sambil mengusap air matanya.

Siang itu sepulang sekolah Rahma tak langsung pulang ke rumah dia lebih memilih pergi ke toko buku langganannya. Siapa tau disana ada buku “Tips Menghilangkan Patah Hati”.

“Bukan nya itu Vira, ngapain tu anak di taman siang-siang bolong gini” ujar Rahma saat melintas di sebuah taman menuju ke toko buku.
“Tapi cowok yang duduk dengan Vira siapa ya? Kayaknya gue kenal.”

Saat itu rasanya darah Rahma tak lagi mengalir, jantung nya tak lagi berdetak. Ketika dia sadar bahwa cowok yang duduk dengan Vira adalah Putra.
Tanpa fikir panjang lagi Rahma melangkah kan kakinya menuju tempat duduk Vira dan Putra.
Betapa terkejutnya Vira dan Putra saat itu.
“Rahma… Nga…pain di sini” ujar Putra terbata-bata
“Plak…”
Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Putra.
“itu buat cowok munafik kayak loe” ujar Rahma
“Dan ini, plak…”
Untuk ke dua kalinya sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Putra.
“Itu buat cowok yang udah merusak persahabatan gue.”

Setelah puas melampiaskan kemarahan nya ke Putra, Rahma mengalihkan pandangan nya ke Vira.
“Kenapa lo nangis Vir, ini bukan salah lo Vir tapi ini semua salah gue. Bener semua ucapan lo “kalau cinta emang harus di perjuang kan”. Sekali lagi gue ucapin selamat buat lo Vir, dan thank’s banget selama ini lo sudah menjadi sahabat terbaik gue.”

Vira hanya bisa diam membisu, jangankan menjawab ucapan Rahma, hanya sekedar menata wajah Rahma pun dia tak sanggup lagi. Wajar saja…
Rahma pulang denga hati hancur, perasaannya benar-benar kacau “Kenapa Harus Gue” ujarnya lirih..

Cerpen Karangan: Eki Widiyawati
Facebook: Eki widiyawati BE

Cerpen Kenapa Harus Gue? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sang Pujangga

Oleh:
Penghuni SMA Galaxy gempar di siang hari bolong. Bagaimana tidak, si Beni yang cakep dan orangtuanya yang tajir dikabarkan sudah jadian sama Nania anak kelas sepuluh dua. Emang oke

Impian Si Bocah Polos

Oleh:
Setiap orang pastinya memiliki sebuah impian, entah itu impian yang besar maupun kecil. Seperti halnya impian yang dimiliki oleh seorang bocah kecil yang bernama Ringgo. Dia memiliki banyak sekali

Tak Secerah Bulan

Oleh:
Malam ini bulan bersinar dengan sangat cerah, tapi itu tak secerah hatiku saat ini. Rembulan, itulah namaku. Aku tengah menantikan sang bintang yang bisa menerangi hari-hariku. Sayangnya takdir berkata

Tarian Hujan

Oleh:
Sempurna. Perasaan ini sempurna mengungkungku. Sejak kepergiannya, aku selalu menyendiri, menjauh dari orang-orang yang mencoba simpati padaku. Aku ingin sendiri. Mencoba berdamai dengan masa lalu yang kelam menyakitkan itu.

Cinta Ditolak Emang Gak Enak

Oleh:
Kelas 9 sekarang, banyak hal yang terjadi padaku, mulai dari tidak mengerjakan PR, menyontek saat ulangan, dan mengerjakan PR di sekolah. Tapi itu semua itu sudah menjadi tradisi. Yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *