Keong Sensitif Dan Semut Merah (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 December 2015

MELIHATNYA
Riuh suara di kelas memecah lamunanku pada saat pelajaran produktif, aku masih tak menyangka apa yang aku alami kemarin. Kejadian kemarin tepat pukul 14.25 WIB, pada saat bel pulang sekolah berbunyi, “yes akhirnya pulang.” ujar teman yang di sebelahku. Seperti biasanya Aku dan kawan-kawan menunggu angkutan umum, tempat biasa kami nongkrong. Tak biasanya aku melihat temanku Fahmi tersenyum sendiri sambil memegang handphone.
“eh.. kenapa kamu ketawa sendiri, Mi?” kataku sambil tertawa.
“biasa Jer, saya lagi kasmaran nih.” Fahmi pun menjawab sambil terselip senyum di bibirnya.
“gila! jatuh cinta sama siapa tuh? Putria?” jawabku dengan nada meledeknya.

Tanpa disadari sebuah angkutan umum pun berhenti di hadapan kami, “dek mau naek gak!?” ujar sopir angkutan umum.
“iya, bang.” jawab kami serentak. Pada saat aku melewati SMP 1 BUKIT KEMUNING, tidak disengaja aku melihat sesosok bidadari yang sedang duduk di kantin sambil bersenda gurau bersama teman-temannya termasuk Alen yaitu temanku juga sehingga membuat aku terhipnotis akan kecantikannya. Setelah melewati SMP 1 aku pun masih saja teringat raut wajahnya dan kami Fahmi berhenti duluan, “saya, duluan Jer.” kata Fahmi seraya turun dari angkot, aku hanya menjawab dengan mengacungkan jempolku.

Aku kembali teringat dengan bidadari yang memecah tujuanku. Sesampainya aku di rumah, bayangan bidadari tadi tidak mau imigrasi dari benakku. Aku pun berpikir bagaimana agar bisa mengenalnya. Sekilas ide pun merasuki pikiranku, bahwa ada sahabatku yang 1 sekolahan dengan bidadari khayalanku. Lalu aku pun beranjak dari tempat tidurku dan bergegas ke rumah Alen yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku namun kami berbeda sekolah. Sesampainya di sana kami pun berbincang-bincang.

“Len, aku tadi ngelihat cewek yang lagi ngobrol sama kamu, pas di kantin depan sekolah.” tanyaku sambil tergesa-gesa.
“emang siapa yang kamu, lihat?” Alen pun bertanya sambil penasaran.
“Aku gak tahu namanya, tapi aku inget banget facenya.” jawabku sambil meyakinkannya.
“emang ciri-cirinya gimana?” Tanya Alen.
“pokoknya perfect deh, putih, cantik, pake jilbab ya pokoknya kriteria aku banget.” jawabku melepaskan senyum bahagia.
“kayaknya, Widya deh.” Alen menerka-nerka.

Keesokkan harinya aku pun melihatnya lagi, senyuman manis pun tampak di wajahnya, sambil aku pun berpikir apakah aku dapat mengenalnya namun. sesampainya aku di rumah, Alen pun datang tanpaku undang, aku yang sedang duduk depan rumah, “gimana?” kataku penasaran.
“kayaknya Widya cewek yang kata kamu kemaren.” Alen menjawab dengan nada sombong.
“serius Len, entar malah salah orang?” jawabku.
“iya seriuslah, buat apa juga saya bohong dan ini nomor hp-nya tinggal kamu sms aja biar pasti oke?” jawab Alen dengan yakin.
“makasih Len, baru nih sahabat namanya.” jawabku dengan tawa yang terlepas.
“kayaknya sih, itu si Widya.. emang cakep orangnya malah bukan lagi kembang desa, tapi kembang di sekolah.” perjelas Alen.
Aku hanya berpikir, “apakah aku bisa mengenalnya?”

PERKENALAN
Pada saat senja menjelang malam dan angin yang berderu-deru yang sangat dingin sampai menusuk hingga ke tulang. Dan pada saat itu pula aku berkenalan dengannya lewat telepon genggam (walaupun kurang gentleman) dan terdengarlah suara indah yang terucap di bibirnya walaupun hanya ku dengar lewat telepon.
“halo? Maaf ini siapa?” Tanya Widya, sontak aku pun terkejut beserta berdebar-debarnya hati ini (lebay).
“iya halo, ini aku Jerry, ini Widya bukan?” Tanyaku.
“iya, emang dapet nomor aku dari siapa?” Tanya Widya dengan bingung.
“Aku dapet nomor kamu dari Alen.” jawabku.
“Dasar Alen.” keluh Widya.
“emang aku gak boleh kenalan sama kamu?” Tanyaku heran.
“boleh aja sih.” jawabnya singkat.

Singkat cerita, akhirnya masa perkenalan selesai malam itu di telepon genggam, memang sih dia orangnya cuek tetapi walaupun dia cuek aku tidak akan pernah berhenti berjuang untuk dia walaupun aku harus berkorban tenaga, waktu dan uang (walaupun gak banyak-banyak amat). Besoknya di sekolah kami yang sedang praktek di lab komputer, tapi aku bukannya belajar malah asyik chat sama dia di sosial media (sosmed). Ya waktu itu masih zaman-zamannya facebook, gak lama.

“Jerry, facebooknya keluarin dulu.” tegur Ibu Guru.
“oh.. iya, Bu.” jawabku tersipu malu, tanpa rasa takut aku gak kelurain tuh facebook, demi chat sama dia dan tak terasa pelajaran demi pelajaranku hadapi tibalah momen pulang. Pada saat berjalan menuju tempat nongkrong kami, sudah lebih 100 kali aku meneleponnya namun hasilnya nihil, entah mengapa Widya tidak mengangkat teleponku.

Malam pun datang menjemput kesendirianku, sambil terdiam di pojok kamar dan menunggu kabar darinya. Tak lama kemudian handphone-ku pun berbunyi kring-kring, dengan terkejut aku melihat handphone-ku, ternyata adalah orang yang ku tunggu-tunggu meneleponku, tanpa basa-basi, ku terima telepon darinya.
“halo, Wid.” tanyaku bahagia.
“iya Jer, maaf tadi siang aku lagi ada urusan jadi gak sempat angkat telepon kamu.” kata Widya.
“iya gak apa-apa kok. Cuma sedikit khawatir aja.” jawabku cemas.
“iya iya maaf, Jer.” jawabnya dengan lemah lembut.

Tak ku sangka ribuan detik pun terlewati dengan percakapan kami dan tanpa disadari malam pun telah larut, “Widya, udah malem nih udah jam 11.45, tidurlah.” suruhku.
“iya ya Jer, gak kerasa udah jam 11 lewat, iya aku tidur ya dan kamu juga tidur ya?” jawab Widya.
“iya Wid, selamat tidur.” jawabku dengan perasaan yang tercampur aduk kebahagiaan.
“iya, jer.” jawab Widya singkat.

30 MENIT BERLALU
Senja pagi yang melepaskan cahayanya tepat mengenai wajah dan dering alarm pun yang menyadarkan raga ini dari tempat tidur. Secangkir kopi hangat pun terpapar di atas meja, sambil menikmati secangkir kopi hangat di hari libur. Setelah itu aku pun menelepon Widya dan dia pun mengangkat teleponku.
“halo? Kenapa, Jer?” Tanya Widya.
“halo juga, hmm.. Hari ini kamu ada acara gak?” tanyaku.
“gak ada Jer, kenapa emang?” jawabnya.
“Aku boleh gak hari ini maen ke rumah kamu?” tanyaku tidak sabar.
“boleh aja kok Jer, jam berapa mau ke rumah aku?” Tanya balik Widya.
“jam 1 gimana?” jawabku.
“iya udah aku tunggu iya, Jer.” jawab Widya seperti dengan nada senang.

“iya iya, aku mandi dulu ya.” jawabku sambil tersenyum bahagia.
“iya udah mandilah dulu sana udah siang juga ini.” jawab Widya.
“oh.. iya, kamu tahu gak rumah aku?” tanya Widya.
“gak tahu.” jawabku datar.
“kamu tahu Dwikora kan? Entar kamu lihat di sebelah kanan ada masjid, nah depannya rumah aku.” perjelas.
“iya tahu kok, oke tenang aja, hafal aku mah tempat sana.” kataku.

Aku pun bergegas segera mandi dengan semangat 45 hehehe. Setelah selesai mandi dengan semangat yang tak kunjung reda aku pun berdandan layaknya seorang lelaki sejati yang sedang jatuh cinta, dan semuanya telah fix sekitar jam 12.30 Aku pun langsung beranjak otw ke rumahnya dalam perjalanan selalu terbayang wajahnya. Cukup lama aku mencari-cari rumahnya dan akhirnya aku sampai di tujuan, dia pun berdiri di dekat pintu rumahnya sambil tersenyum. Aku pun langsung menghampirinya lumayan bergetar kaki ini ingin mendekatinya karena ini adalah pertemuan pertama kami berdua.

“assalammualaikum.” salamku.
“waalaikumssalam, masuk ke dalem Jer.” jawabnya.
“iya, Wid.” jawabku dengan senang hati.

Betapa terkejutnya aku melihat kedua orangtuanya yang berada tepat di hadapanku, dengan keberanian yang telah aku persiapkan, tanpa ragu aku pun bersalaman dan menyapa orangtuanya. Lalu aku pun duduk di samping Widya dan dia pun berkata, “hebat kamu, Jer, berani ngehadepin orangtuaku.” puji Widya sambil menyanjung dan meledekku.
“ah.. biasa aja, Wid.” jawabku dengan tenang.
“muka kamu, jadi kemerahan gitu? grogi ya?” ledek Widya sambil menatapku.
“enggak ah. Biasa aja kok, Wid, demi anaknya aku hadepin orangtuanya.” sombongku di hadapannya.
“iya, iya.” jawab Widya tersipu malu.

“oh iya Wid, kamu sekelas sama Alen?” tanyaku.
“iya, Jer sekelas di 92.”
“hebat dong, 92 kan ana-anak yang pinter.” pujiku.
“gak juga sih, kalau kamu gimana?” tanya Widya.
“Aku kelas 10 TKJ 1 jurusan komputer, di SMK YP 96 BUKIT KEMUNING.” jawabku.
“banyak tuh peluang kerjanya.” jawabnya.
“ya gitu deh.” jawabku senyum.

“oh iya. sampe lupa akunya, kamu mau minum apa?” tanya Widya.
“gak usah Wid, aku juga buru-buru nih, soalnya motor aku mau dipake sama Bapak.” jawabku.
“yah, Jer baru aja 30 menit kamu di sini.” keluh Widya.
“ya, sometimes aku ke sini lagi oke?” jawabku sambil menenangkannya.
“iya deh Jer, entar kalau udah sampe rumah kabarin aku ya?” jawab Widya merespon.
“iya, Widya.” jawabku dan aku pun langsung berpamitan dengan kedua orangtuanya, dengan tersenyum Widya menemaniku ke depan rumahnya, sebelum aku beranjak pergi dia memanggilku dan berkata, “Jerry? hati-hati ya.” pesan Widya, “iya, Widya.” ujarku.

Sesampai di rumah ayahku langsung memakai motor, dan aku pun pergi ke kamar. Terbayang akan kejadian hari ini yang membuatku seakan tidak mau melupakan pertemuan singkat tadi.
“Wid, aku udah sampe rumah.” kataku di telepon.
“syukurlah kalau gitu, mandi terus ganti baju sana, bau apek entar.” jawab Widya penuh perhatian.
“oke deh, byee.” jawabku bahagia.

PERASAAN YANG TERTUNDA
Setelah pertemuan kemarin telah terjadi sungguh sangat susah melupakan kejadian kemarin yang membuat hati ini berbunga-bunga. Namun semenjak pertemuan itu, aku pun mulai merasa sangat nyaman bersamanya, tapi memang benar pepatah mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang. Terkadang ada benarnya juga pendapat banyak orang bahwa seseorang yang sedang merasakan kasmaran dapat mengesampingkan hal-hal besar, seperti fokusnya terhadap sekolah, ya mungkin itulah yang sedang aku rasakan saat ini.

Kedekatan kami yang sudah mencapai 1 bulan ini dan aku juga mulai akrab dengan orangtuanya, tapi jujur saja bahwa rasa sayangku terhadapnya semakin mendalam. Tetapi aku belum bisa menerka-nerka perasaan dia terhadap semua kedekatan ini, tapi setidaknya aku harus cepat mengutarakan isi hatiku kepadanya. Dan pada waktu yang tepat, kami pun bertemu kembali pada saat itu aku sedang bersantai di bawah pohon besar di dekat sekolahan dia sehabis pulang sekolah. Tidak lama kemudian dia berjalan tidak jauh dariku, sontak aku pun langsung memanggilnya.

“Widya?” panggilku, dia pun menoleh dan melambaikan tangan ke arahku.
Lalu aku pun menghampirinya dan berkata, “baru pulang, Wid?” tanyaku ke Widya.
“iya nih Jer, ngapain kamu di sini?” Tanya balik Widya.
“emm.. gak ada sih, kita ngobrol di bawah pohon itu yuk? Deket motor aku.” ajakku dengan tertawa kecil.
“boleh.” jawabnya.

Kami berdua pun berjalan ke arah pohon tersebut, kami pun duduk di sana lalu aku pun bertanya, “Widya? kamu udah punya pacar belum?” tanyaku dengan grogi.
“belum Jer? Emang kenapa?” jawab Widya.
“enggak apa-apa kok cuman nanya aja.” jawabku, Widya pun hanya memberikan senyum saja.
“oh iya, nanti malem dinner bisa gak?” ajakku.
“bisa Jer, jam berapa?” jawabnya.
“jam 8, nanti aku susul kamu di rumah, gimana?” pintaku penuh harap.
“ya udah, bisa kok.” jawabnya.

Entah mengapa bibir dan hati ini belum sanggup untuk mengutarakan isi hatiku, mungkin aku harus menunggu waktu yang sangat-sangat tepat untuk mengutarakan semua isi di benak hati ini. Jujur pada saat dia di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu. Tatapan yang begitu hangat dan penuh harap untukku. Dengan penuh semangat aku menggenggam tangan Widya dan mengantarnya pulang ke rumah, saat ini biarlah perasaanku tersimpan rapi di dalam hati ini.

HARMONIS
Di malam yang indah ini dan bulan yang menyinari hati kecilku. Aku dan Widya akan dinner di sebuah rumah makan taruko II.
“Widya, udah siap belum?” teleponku.
“belum Jer, sebentar lagi.” jawab Widya.
“ya udah dandan yang cakep buatku.” rayuku terhadapnya.
“siap bos.” jawab Widya sambil tertawa.
“hehehe.. kalau udah tunggu depan rumah ya?” suruhku.
“iya, aku bentar lagi nih, kamu ke rumah aja sekarang.” jawab Widya.
“iya iya, Wid.” jawabku tergesa-gesa. Sesampainya aku di rumahnya. Widya pun ke luar dari rumah balutan kain cokelat yang menutupi rambutnya. Wajahnya bak bunga mawar yang mulai mekar, dengan aroma wangi khasnya yang begitu menggodaku.

“Hai, Jerry.” tegur Widya sambil melambaikan tangan dan tersenyum kepadaku.
“hai juga, ayo berangkat?” ajakku.
Saat di motor Widya pun berkata, “kesambet apaan kamu ngajak Aku dinner?” ujar Widya tertawa.
“apaan sih Wid, ya daripada kita suntuk di rumah mending aku ajak kamu dinner.” jawabku dengan nada rendah.
“cieee.. tapi kamu yang bayar kan?” jawabnya tertawa.
“iya Wid, takut bener kamu tapi kalau aku lupa bawa dompet bayarin ya? hahaha.” jawabku bercanda.
“enak aja.” jawabnya sambil mencubit pipiku di motor.

Sesampai di Rumah Makan, “Mas, jus strawberry 2, pake susu, susunya yang bubuk ya.” pesananku.

Sungguh menawan saat aku memandang raut wajahnya yang begitu cantik malam ini, senyumnya yang begitu menarik bagaikan besi yang tertarik magnet. Kepolosan terpancar di wajah manisnya, sungguh cantik dirimu Wid, kecantikanmu itu mampu membuatku mengalami getaran cinta yang tak dapat terhitung dengan skala ritcher. Aku hanya dapat menghela napas.Tidak lama pesanan kami pun datang. Malam ini benar-benar dinner yang membuatku kaku. Setelah itu kami pun memesan makanan, dengan pembicaraan kami yang ditemani makanan di malam ini dan cahaya bulan yang menyinari hati ini, betapa bahagia diri ini bisa makan malam bersamanya.

“Wid, kenapa kamu belum punya pacar?” Tanyaku dengan lancang.
“belum pengen punya pacar Jer, pengen fokus sekolah aja dulu.” jawabnya dengan santai.
“oh gitu Wid, ya baguslah fokus aja dulu sekolah pacar mah urusan belakang apalagi nanti kamu, mau UN.” jawabku dengan terpaksa.
“iya bener itu Jer, kamu gimana?” jawabnya sembari bertanya.
“kalau aku masih jomblo, Wid.” jawabku sambil terselip tawa.
“entar juga dapet kok, Jer.” jawabnya memberi semangat.
“iya, Wid.” ujarku.

Padahal hati ini selalu berbisik bahwa kaulah wanita idamanku yang sulitku gapai. Bila di dekatmu entah mengapa detak jantung ini bertambah 1000%, terasa tubuh ini tersungkur dalam pelukanmu yang begitu hangat dan membuat hati ini nyaman. Tapi sayang kau tidak pernah tahu perasaan ini seandainya kau tahu hati ini telah luluh dalam buaian cintamu. Sesudah dinner selesai, aku pun mengantarnya pulang. Di sepanjang perjalanan hanya suasana sepi yang kami temui, suara sahut-sahutan jangrik yang terdengar.

Sesampai di rumahnya ia pun berkata, “makasih ya Jer, buat malem ini.” ucapnya dengan senyum.
“iya Wid, aku juga seneng banget bisa dinner sama kamu.” jawabku menatap matanya. Bagaikan kaki ini terkena rematik hingga kakiku tak sanggup melangkah untuk jauh meninggalkan indah bola matanya yang menatapku bagikan sinar rembulan yang menerangi ruangan hati ini.
“Jerry, hati-hati di jalan.” tegur Widya dengan risau.
“iya Widya, aku pamit pulang ya, langsung istirahat sana.” jawabku.
“iyaa, bawel.” jawab ia sambil tersenyum.
Dengan mengendarai roda dua bermesinku, aku pun meluncur kembali ke rumah.

LUKA YANG TERSIMPAN
Walaupun malam pada saat dinner bersamanya, Aku sangat merasa bahagia namun ada sebuah luka yang tersimpan di hati ini, karena mengapa? Perasaan ini tak kunjung sampai ke hatinya, tapi perjuangan ini belum kan berakhir untukmu. Keesokannya di sekolah.

“gila! Jerry, dinner sama Widya malem minggu pula.” seru Fahmi.
“kamu, tahu dari mana?” Tanyaku dengan bingung.
“Aku ngelihat kamu malem itu, aku juga lagi nongkrong bareng rombongan Alen di trotoar deket bundaran pahlawan.” jawab Fahmi.
“ngapain kamu nongkrong di trotoar? ngondek?” jawabku dengan tertawa lepas.
“enak aja, yang ngomong kali ngondek beratus-ratus malam minggu masih aja jomblo, gini-gini aku ada pacar, lah kamu jomblo terus diformalin kali jomblonya.” jawab Fahmi dengan terbahak-bahak.

“Aku masih bingung sob. Aku belum berani nembak Widya.” keluhku.
“ya elah, cemen amat… gaya udah kayak superman tapi hati hello kitty.” sindir Fahmi.
“yaa, kamu.. mah bukan ngasih masukan malah ngasih cemilan.” jawabku dengan tertunduk.
“santai bro, sewot amat just kidding Jer mending kamu ajak kencan sekali lagi, nah udah itu kamu tembak.” semangat Fahmi.
“emang enak kalau cuma ngomong, kamu gak ngerasain di posisiku.” keluhku.
“emang posisi kamu di mana? gelandang? penyerang?” jawab Fahmi dengan bercanda.
“Aku serius nih.” jawabku dengan resah.
“yaa.. kamu itu laki-laki Jer, kamu sendiri yang ngambil keputusan.” bijak Fahmi. Aku pun terdiam sambil memikirkan perkataan Fahmi bahwa ada benarnya juga yang Fahmi bilang.

Cinta memang sebuah ilusi, cinta bisa datang kapan pun, dimana pun, dan untuk siapa pun. Begitu pula cintaku telah berlabuh padanya, tapi cintaku tak berpengharapan, hanya sekedar mengasihi tanpa dikasihi, inilah cintaku tak lebih dari ilustrasi mata. Sesampainya di rumah aku pun menelepon Widya.
“halo? Widya hari ini ada acara gak?” tanyaku.
“iya Jer, maaf Jer hari ini aku sama temen-temen pengen ngerjain bareng tugas presentasi, kenapa emang, Jer?” jawab Widya dengan bertanya.

“gak apa-apa kok Wid, kirain kamu gak ada acara.. Aku tadinya mau ngajak kamu maen ke taman, tapi ya udahlah, kamu selesain aja tugasnya.” jawabku dengan lemah gemulai.
“iya Jer, maaf ya lain kali aja kita ke tamannya.” ungkap Widya.
“iya Wid gak apa-apa, santai aja kali ya udah kalau gitu byee.” jawabku tak apa-apa.
“iya Jer, bye.” jawabnya. Mungkin hari ini aku hanya mengisi keceriaanku dengan sebuah alunan suara petikan gitar yang ku mainkan.

KEMBALINYA CAHAYA
2 Hari kemudian tanpa aku sadari ada telepon dari Widya pada saat istirahat di sekolah, “halo, Jer? nanti malem kamu ada acara gak?” Tanya Widya.
“iya halo, gak ada Wid kenapa emang?” jawabku tercengang.
“jam 7, orangtuaku ngajak kamu makan malem di rumah, gimana mau gak?” ajak Widya.
“gak ada kok, iya entar aku ke sana mana mungkin aku nolak ajakan makan malem calon mertua.” jawabku dengan tertawa.
“hahaha iya Jerry ditunggu ya.” jawab dia.
“iya, Wid, udah dulu ya udah bel masuk nih.” jawabku.
“iya Jer, aku juga udah mau masuk kelas.” jawab Widya.

Tidak ada sisa-sisa konsentrasi pada pelajaran di sekolah melainkan konsentrasi yang tertuju pada acara nanti malam, hanya melamun yang ku alami di kelas.
“woy, kenapa kamu Jer dari tadi bengong aja?” tegur Fahmi mendorong pundakku.
“Aku lagi kesambet cintanya Widya.” jawabku dengan terselip tawa.
“hahaha.. si jones akhirnya ngerasain juga kasmaran.” ledek Fahmi.
“eh.. Mi, orangtua Widya ngajak aku makan malem di rumahnya, gila bisa-bisa kena serangan jantung di sana entar.” jawabku dengan tawa, tidak lama kemudian.
“Jerry!! Fahmi!!” bentak Bu Guru dengan marah, hanya menundukkan kepala yang bisa kami lakukan.

Bersambung

Cerpen Karangan: Jerry Equardo
Facebook: Jerry Equardo
Nama: Jerry Equardo
Pendidikan: SMK YP 96 Bukit Kemuning, Lampung Utara (kelas 12)

Cerpen Keong Sensitif Dan Semut Merah (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arti Hadir Mu

Oleh:
Semua berawal rasa kagum kepadanya. Hingga menimbulkan perasaan aneh yang menjalar setiap kali menatapnya. Adrian Rendra Kurnia, siswa alumni di sekolahku yang sekarang melanjutkan kuliahnya di salah satu kampus

Rahman Hadiah dari Ibu

Oleh:
“Aminah, cepat kemari, dan bawakan Inak penyelut1 di dalam keranjang” teriak wanita di balik ruangan bersekat satu ruangan dari tempatnya. “Nggih Inak(2)… balas seorang gadis yang sedang termenung di

Deo: Pahlawan Terbesarku

Oleh:
“Teeeeeet, teeeeet, teeeet, teeeeeet…” alarm handphone milik Deo yang terdengar seperti alarm tanda bahaya seperti di film-film Hollywood menandakan sekarang sudah jam 6 pagi. Dengan mata yang masih belum

Cinta Yang Berawal Dari Pertemuan Pertama

Oleh:
Pagi yang cerah, saat aku jalan-jalan mencari udara yang segar. Sewaktu di jalan aku bertemu dengan cowok yang begitu tampan, hatiku deg-degan saat lewat di depannya. Aku berkata “oh..

Misteri Pencurian Permata

Oleh:
Rumah Pak Jupri semalam kemalingan. Pagi itu, hampir seluruh warga komplek berkumpul untuk menyaksikan rumah Pak Jupri. Sementara beberapa polisi sibuk memeriksa dan memasang garis polisi. Kejadian itu baru

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *