Keong Sensitif Dan Semut Merah (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 December 2015

Lalu jam 7 pun telah sampai dengan berpakaian kemeja berwarna hitam dan celana jeans pada saat aku berkaca.
“wow betapa kerennya diriku dan betapa percaya dirinya berkata begitu depan kaca.” kataku dalam hati. Memang sungguh bahagia hati ini dapat makan malam bersama kedua orangtua Widya. Setelah aku ke luar dari kamar dan menuju ke pintu ke luar rumah.

“mau ke mana Jer, tempat pacarnya pasti?” tegur Ibuku.
“iya Bu, diajak makan malem sama orangtua Widya, Jerry pamit ya, Bu.” jawab dan pamitku sambil menyalimi tangan Ibu.
“iya hati-hati.” jawab Ibuku.
“iya, Bu.” jawabku sambil tersenyum dan meminta doa untuk kesuksesan malam ini.

Sampailah aku di rumah Widya dan mengetuk pintu rumahnya, tak lama Widya pun membuka pintu, “haii, masuk Jer.” ajak Widya.
“iya iya Wid, emm.. kamu cantik banget malem ini.” jawabku tersenyum.
“makasih Jer, ya udah masuk yuk.” jawabnya, dengan keberanian full aku langsung bersalaman dengan kedua orangtua Widya.
“Nak, Jerry, duduk Ibu udah siapin makanan buat malem ini.” suruh Ibu Widya.
“iya iya, Bu.” jawabku nada merendah.

Aku pun lalu duduk di samping bidadari manisku dan makan malam pun dimulai.
“pinter masak Ibu ini, enak masakannya.” pujiku.
“Nak, Jerry bisa aja, tapi sayang gadis Ibu ini gak bisa masak.” sindir Ibu ke Widya.
“apalah Ibu ini.” jawab Widya dengan raut wajahnya malu.
“Ibu ini bikin Widya malu aja depan pacarnya.” bela Bapak.

“Cuma temen kok, Pak.” jawab Widya dengan tenang.
“temen apa temen.” gurau Bapak.
“temen lah, Pak.” seru Widya.
“iya Pak, kami cuma temen kok.. tapi ya agak deket.” jawabku melirik Widya.
“pacaran juga Bapak gak marah selagi itu positif.” kata Bapak mulai serius.
“apa loh Bapak ini.” jawab Widya dengan sewot.
“Bapak ini bikin anaknya ngambek aja.” bela Ibu.

Setelah makan malam pun selesai, Widya mengajakku untuk duduk di depan rumahnya sambil menikmati desiran angin yang dingin ini.
“makasih ya Jer, malem ini udah mau dateng.” jawabnya tersenyum.
“iya, Wid, kocak juga ya orangtua kamu.” jawabku terselip tawa.
“iya emang gitu Jer, bikin malu aja tadi.” kata Widya masih sedikit kesa.
“iya kan bercanda Wid, unyu bener kamu pas lagi ngambek tadi.” gombalku.
“lebay Jerry ini.” jawab Widya dengan malu.

“hehehe.. gimana tugas presentasi kemarin, Wid?” Tanyaku.
“alhamdulilah lancar, Jer dapet nilai B+ jer.” jawabnya.
“bagus dong dapet B+.” jawabku.
“aduh pengen cokelat yang daily milk aja, siapa yah yang mau ngasih.” sindir Widya dengan tawa.
“iya besok aku beliin anggep-anggep hadiah B+ kamu.” jawabku senangkan hatinya.
“emm.. beneran, makasih ya besok ditunggu.” jawab Widya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.

“Wid, udah malem nih, aku pulang ya.” pamitku aku pun melangkahkan kaki ke dalam rumah Widya untuk berpamitan dengan orangtuanya.
“Ibu? Bapak? Jerry pamit ya?” pamitku.
“iya Nak Jerry, hati-hati.” jawab Ibu.
“iya, Bu.” jawabku. Aku beranjak ke luar dan memegang tangan Widya.
“Wid, aku pulang ya.” responku.
“iyaa jer, hati-hati ya.” kata Widya.

TERANGI JALAN INI
Keesokkan harinya terdengar kabar buruk dari Ibunya bahwa Widya sedang sakit, sungguh sangat membuatku ingin meneteskan butiran mutiara bening, tapi aku harus kuat jangan sampai Widya mengetahui kesedihanku. Waktu terus berjalan seiring tanpa senyum dan canda tawanya. Sudah 3 hari Widya terbaring lemas di tempat tidur rumah sakit, aku menunggu kabarnya di rumah, karena memang aku tak bisa menungguinya setiap hari. Malam ini begitu sepi ini, selayaknya rembulan yang ada di atas sana tanpa ditemani cahaya bintang, tak lengkap rasanya. Kekhawatiran ini membuat semua hal yang ku lakukan tidak ada rasa semangat sedikit pun, terdiam sendiri duduk di depan rumah sambil memikirkan keadaan Widya di rumah sakit, Ibu pun datang menghampiriku.

“gimana kabar Widya, Jer?” Tanya Ibu.
“belum tahu Bu, Jerry belum jenguk dia.” jawabku dengan perasaan lelah.
“ya dijenguk lah, Jer.” suruh Ibu.
“gak bisa Bu, Widya juga pas kemaren-kemaren belum siuman.” keluhku.
Padahal cokelat ini menunggu pemiliknya, tanpa ku sadari terasa hampa tanpa tawanya, dengan gitar kesayanganku menuangkan kesedihanku lewat lagunya ari lasso-hampa, tinggal di dalam hatiku. Belum selesai aku bersyair handphone-ku berbunyi.

“halo Jerry, ini Ibunya Widya, dia sudah sadar dan menanyakan kamu, kalau ada waktu tolong datang ke rumah sakit.” Ibu Widya memberi kabar.
“iya Bu, saya langsung ke sana.” jawabku tergesa-gesa. Tanpa berpikir panjang aku langsung meluncur ke rumah sakit di ruang delima Widya dirawat inap, aku melihat dirinya begitu lemah tak berdaya, terlihat senyum berat saat aku datang. Sekuat mungkin aku menahan tangis, berusaha tetap ceria di depannya.

“Hai.. gimana keadaan kamu?” tanyaku duduk di dekatnya yang berbaring.
“baik, kamu sendiri gimana?” jawab Widya.
“aku juga baik, Wid.” jawabku dengan senyum.
“Bu, Widya pengen ngobrol berdua sama Jerry.” ucapnya lirih ke Ibunya.
“iya sayang Ibu ke luar ya.” jawab Ibu Widya meninggalkan kami berdua. Aku tak tahu apa yang akan dikatakan Widya, napasnya begitu berat, matanya sayup, wajahnya pucat.
“oh iya, ini cokelat B+ yang kamu minta.” memberikan cokelat sambil senyum tertempel di bibirku.
“makasih ya Jer, aku kira kamu bakal lupa.” jawabnya tersenyum kecil.
“ya enggak akan lupa lah, Wid.” jawabku.

“Jer.. kamu baik banget, kenapa kamu mau nemenin aku?” Tanya Widya.
“mending kamu istirahat jangan banyak ngomong yaa?” rayuku.
“aku serius, Jer.” tegas Widya.
“iya deh, terus apa yang kamu pengen tahu dari aku?” Tanyaku.
“aku cuma pengen kamu jangan tinggalin aku?” sedih Widya.
“aku gak bakalan tinggalin kamu, Wid, aku janji.” janjiku ke Widya sambil memegang kedua tangannnya. Widya pun tersenyum mendengar kata-kataku tadi.

“ya udah pokoknya obatnya rajin-rajin diminum biar cepet sembuh.” bujukku.
“iya bawel bener, mungkin 2 hari lagi udah bisa pulang.” jawab Widya.
“iya udah, aku pulang dulu udah sore, obatnya jangan lupa diminum.” ucapanku.
“iya hati-hati makasih udah mau jenguk.” jawab Widya tersenyum.
“iya,Widya.” kataku sembari mengelus kepalanya.

Pada saat aku ke luar dari ruang rawat Widya, Ibunya pun memanggilku, “nak, Jerry?” panggil ibu.
“iya kenapa, Bu?” Tanyaku.
“udah mau pulang?” Tanya ibu.
“iya, Bu, udah sore juga, Bu kalau kata dokter Widya sakit apa?” Tanyaku dengan bingung.
“kalau kata dokter sih leukemia.” cemas Ibu.
“saya cuma bisa berdoa aja Bu, supaya sakit Widya cepet sembuh.” jawabku mencoba menenangkan Ibunya.
“amin.” jawab Ibu.
“iya udah, Jerry pamit dulu ya, Bu.” pamitku dengan mengecup tangan kanan, Ibu Widya.
“iya Nak, hati-hati ya.” pesan Ibu. Dan seusai pulang sekolah aku selalu ke rumah sakit untuk menjaga bidadariku.

SEMUA BELUM TERJADI
2 hari pun telah berlalu seiring kesehatan Widya yang mulai membaik dan juga Widya sudah bisa beristirahat di rumah. Seandainya Widya tahu perasaan sayang ini, pastinya batinku tak akan tersiksa dan entah mengapa keberanian ini belum juga datang menjemput perihal hati ini. Seharian aku habiskan dengan bertemankan notebook ini, malam pun datang menjelma, handphone-ku berdering telepon dari Widya aku pun tergesa-gesa mengangkat telepon darinya.

“Jer, besok susul aku, kita berangkat bareng ya?” Tanya Widya.
“bisa, tapi naik apa?” jawabku berkata dengan bimbang.
“naik motor kamu, besok bawa motor kan?” balas Widya.
“emang kamu udah bisa sekolah apa? entar sakitnya kambuh lagi, kamu kan belum sehat bener.” jawabku dan bertanya.
“udah Jerry, telalu lama aku izin, lebay juga kamu ini.. udah sembuh kok.” jawab Widya.
“oke deh, besok aku jemput kamunya.” jawabku. Bulan menerangi malam dengan indahnya seindah perasaanku ketika mendengar Widya sudah sembuh dan memintaku untuk menjemputnya esok.

Esok saat pagi datang, aku terlihat rapi dan bahagia bergegas sarapan. “wah.. rapi banget anak Ibu satu ini.” canda Ibuku.
“biasa Bu, anak muda.” balas Ayahku yang tersenyum menatapku.
“ah.. biasa aja, Bu.” jawabku yang tergesa-gesa menghabiskan makanan.
“Bu, Yah… Jerry berangkat dulu.” jawabku yang berpamitan.
“kok buru-buru sih.” sindir Ibuku.
“mau jemput Widya, Bu.” jawabku.
“emang dia udah sembuh?” Tanya Ibu.
“alhamdulilah udah, Bu.” jawabku dengan senyum dan langsung pamit kepada kedua orangtuaku.

Ketika aku telah sampai tujuan, terlihat bidadari khayalanku telah menunggu dengan senyum yang begitu menawan, “aku gak telat kan, Wid?” Tanyaku.
“gak kok.. ayo berangkat!” jawab Widya. Aku sangat terkejut sekaligus bahagia ketika tangan halus Widya memeluk tubuhku saat di motor, kami pun berbincang dengan begitu girangnya ketika itu.

“udah.. nyampe nih, Jer.” kata Widya, aku pun terus menatap wajahnya yang begitu sempurna bagiku.
“eh.. Jer entar bareng lagi ya pulangnya.” aku pun tersenyum manis pertanda menerima ajakan Widya, tapi aku tak mampu mengungkapkannya lewat kata-kata, hanya senyum yang terukir di wajahku dan sedikit suara hati yang hanya dimengerti oleh diriku sendiri.
“kenapa, kamu gak dari waktu itu ngajak berangkat bareng.” candaku.
“lupa akunya, kalau sekolahan kita 1 jalur.” tawa Widya.
“ya udah masuk lah sana, jaga kesehatannya.” jawabku.

Saat mentari semakin terik, panas yang menguras dahaga sangat terasa saat itu. Mungkin semua orang sedang berteduh menyejukkan hatinya, tapi tidak denganku yang sedang menanti bidadariku yang sudah sembuh sakit. Aku menunggu Widya di samping motorku sambil bersantai di sana, langkah kaki terdengar perlahan dan suara lembut Widya menyapa dengan hangatnya kepadaku. “haii, Jer.. kamu nunggu di sini? Kan panas.” tegur Widya.
“eh.. Widya, gak apa-apa kok biar kamu gak terlalu jauh jalan.” jawabku.
“ah.. kamu mah, Jer.” kata Widya sambil tersenyum padaku.
“yuk ah.. laper nih.” lanjut Widya.

Aku pun mengantarkan Widya ke rumahnya, aku pun terlihat begitu senang bahkan bisa dikatakan sangat senang. Apalagi saat tiba di rumahnya, Widya mengajakku mampir di rumahnya sambil menggengam tanganku. “mampir dulu yuk?” ajak Widya.
“emm.. kapan-kapan aja, Wid, kamu minum obatnya jangan lupa ya.” jawabku.

Langit gelap, tanpa cahaya bintang, hanya redup sinaran rembulan, Namun merdunya nyanyian jangkrik yang perlahan terdengar merubah sunyi malam itu, itu juga yang aku rasakan, kesunyian yang biasa ku rasakan. Pecah bagaikan derai kaca yang jatuh ke alas bumi yang dikelilingi indahnya mawar yang bewarna merah. Saat aku sedang berbincang dengan Widya melalui handphone, begitu bahagia hati ini setelah kemarin-kemarin kesepian dan kesedihan yang melandaku saat Widya terbaring sakit. Namun semua perasaan ini belum bisa terjadi untuk menjalin cerita cinta kami berdua.

Bersambung

Cerpen Karangan: Jerry Equardo
Facebook: Jerry Equardo
Nama: Jerry Equardo
Pendidikan: SMK YP 96 Bukit Kemuning, Lampung Utara (kelas 12)

Cerpen Keong Sensitif Dan Semut Merah (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Hanya Malu Itu Saja

Oleh:
Gadis itu masih tetap fokus pada buku pelajaran yang dipegangnya, belasan rumus matematika ia pelajari dan pahami sambil sesekali tersenyum dan membayangkan bagaimana bisa mencari jawaban atas soal matematika

Long Live (Part 2)

Oleh:
Semester telah selesai waktunya pengambilan raport dan pengumuman juara kelas. Aku berdoa waktu itu agar aku tidak menjadi juara kelas lagi. Aku baru saja mendapatkan teman dan aku tidak

Cantikmu, Hatimu

Oleh:
Pelan. Selangkah demi selangkah kakiku berjalan. Ku kontrol sekali agar kedatanganku tidak diketahuinya. Tangan kiriku membawa kue kecil. Sedangkan tangan kananku siaga menghalau angin agar tidak membunuh api lilin

Ohh Ternyata Kamu

Oleh:
“Woy.. Lagi mikirin apa sih kamu?” tanya sahabatku Riana. saat melihatku hanya terdiam seribu bahasa sendiri pula. “Seseorang” Tak kusadari kata ini terlontar begitu saja dari bibirku, yang akan

Your Dream Will be Come True

Oleh:
Pagi hari menyapa Nadila, seorang gadis yang pintar, kreatif, berjiwa seni, tapi dalam hal pekerjaan rumah sangat pemalas. Ia sekolah di SMP N 12 Suka Bangsa. Nadila adalah remaja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *