Kepercayaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 2 February 2020

“Bagaimana mungkin, aku bisa dengan sungguh-sungguh menjaga hatimu, jika hati itu sendiri tak benar-benar kau serahkan padaku?” Mata laki-laki berwajah sendu itu memelas.

Selama 3 bulan ini Angga tak henti-henti meyakinkan hati Kinara, bukan karena Angga tak mampu atau apa, melainkan ada bagian dari masa lalu Kinara yang membuat wanita manis dengan gigi gingsul walau tanpa lesung di pipinya ini enggan dekat dengan laki-laki.

“Maafkan aku Ga.” Wajah Kinara tertunduk, “Aku belum benar-benar bisa mempercayai laki-laki. Maaf,” lirihnya.
Mengambil napas, lalu menghelanya pelan.

“Baiklah …, aku salah memilihmu, aku menyerah.”

DEG!
Jantung Kinara berhenti sepersekian detik. Ia tak percaya mendengar kata-kata pasrah dari seorang Angga.

Tiga bulan terakhir ini, tak sekali pun dia absen mengucapkan selamat pagi padanya, tak lupa mengingatkan Kinara akan waktu shalat, juga waktu makan. Tak jarang laki-laki berwajah khas Sunda itu datang ke rumah membawa Seblak kegemaran Kinara.
Selain itu, Angga juga sudah akrab dengan bapak dan ibu Kinara, tapi kenapa ia menyerah? Kenapa?

Sementara Kinara tetap tertunduk, laki-laki yang tadi di depannya mulai melepaskan genggaman tangan, berbalik badan dan melangkahkan kaki pergi.

“Ga …?” Tangan Kinara menahan langkahnya, “Kamu menyerah padaku? Bahkan sebelum hubungan ini dimulai?”
“Ya! Aku menyerah.”
“Tapi kenapa? Apa semua yang kau lakukan selama 3 bulan terakhir ini hanya kepura-raan.” Kinara mencoba mengangkat kepala dan terlihatlah mata yang nanar akan air mata.
“Tidak Ra, aku tulus melakukan itu,” jawab Angga singkat.

Kinara melepaskan tangan Angga.

“Kamu tau kan Ra, aku bukan tipe orang yang mudah menyerah? Lalu kau pasti bertanya, kenapa aku semudah ini pasrah terhadapmu? Iya, ‘kan?”

Kinara hanya diam.

“Itu karena menurutku, ‘Sebuah hubungan tanpa kepercayaan di dalamnya, sebaiknya tak pernah ada.’ Aku sudah berusaha semampuku untuk membuatmu percaya padaku, tapi semua itu sia-sia. Maaf Ra, aku menyerah.”

“Angga …?” Tepat sebelum Angga melangkah lebih jauh, Kinara menghentikan laki-laki itu dengan sebuah pelukan dari belakang tubuhnya.

“Ga …, sama sepertimu yang mencoba membuatku percaya padamu. Sama sepertimu yang telah berjuang untukku dan sama seperti, maukah kau memberiku kesempatan untuk membuatmu percaya akan kepercayaanku?” Tangan Kinara terus mempererat pelukannya.

“Beri aku kesempatan untuk belajar arti sebuah kepercayaan Ga …, bersamamu.”

Angga memegang erat tangan Kinara di dadanya, masih dalam posisi membelakangi Kinara, mata Angga mendongak ke atas, melihat kosong bintang-bintang di langit. Bibirnya keluh.

“Kau tahu Ra?” bisik Angga pelan, “Kau tak harus melakukan ini. Di sini, sebenarnya akulah yang salah, aku salah karena telah memaksamu untuk memberikan kepercayaanmu padaku, yang seyogyanya tak boleh dipaksakan.” Melepas dekapan Kinara, lalu berbalik badan dan beralih memandang wajah manis gadis di belakangnya tadi.

“Maukah kau berjalan bersamaku untuk memahami arti sebuah kepercayaan lebih dalam lagi Ra?”

Bibir Kinara tak berucap, pun juga kepalanya tak mengangguk, Kinara menjawab permintaan Angga dengan setetes air mata yang mengalir di pipinya.

Cerpen Karangan: Shine
Blog / Facebook: Shine D. Hope
Penulis dengan inisial ‘D’

Cerpen Kepercayaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan Waktu Lalu

Oleh:
Suasana kelas yang sepi, di sekitar sekolah hanya ada beberapa murid saja yang terlihat. Memang tidak seperti biasanya, hari ini aku berangkat pagi sebab dimarahi guru salah satu mapel

Kukejar Mentari

Oleh:
Siang itu, di sebuah rumah tua dan usang. Di tengah ruangan berdirilah seorang lelaki berusia 20 Tahun. Memiliki mata yang sesikit besar, hidung mancung, kulit putih, tubuh tegap badan

Rangga (Part 2)

Oleh:
Entah mengapa setelah kejadian tadi sore, aku selalu terbayang wajahnya. Memang, sih… sudah lama aku menyukainya, tapi kali ini aku merasakan rasa yang lebih dari biasanya. “Ah, udahlah! Stop

Senja Di Palippis

Oleh:
Senja sore itu seperti biasanya Ikama telah selesai membenahi perahu sandeqnya -perahu Tradisional Mandar- semua kebutuhan yang diperlukan untuk berlayar pada malam itu sudah disiapkan. Ikama meninggalkan pantai yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *