Kepergian Karin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 8 March 2016

Jawaban itu semakin mengerucut. Aku semakin bisa membaca polanya. Tidak ku sangka, akan berakhir seperti ini. Ya, pahit. Sangat. Seperti kopi yang tidak diberi gula. Mungkin jawaban itu seolah pertanda jelas untukku melangkah mundur. Menjauh dan kemudian menghilang. Selesai begitu saja. Memang berat bagiku, namun ini harus ku lakukan. Aku tidak ingin menyakiti banyak perasaan walaupun itu lebih pantas ditunjukkan padaku.

Bunga yang selama ini ku tanam dalam relung, mekar sudah. Ada banyak pertanyaan mengapa perasaan itu bisa muncul. Perasaan yang mendorong rasa perhatianku. Dari mana munculnya? Seperti apa rasanya? Siapa dia? Karin, namanya. Gadis bermata biru itu awalnya tampak biasa bagiku. Tiada perasaan lain ku rasakan ketika pertama mengenal dirinya. Namun, waktu memang bisa mengubah segalanya, termasuk perasaan. Seiring seringnya aku berbicara dengan gadis penyuka warna biru itu, hanya kekaguman yang tersisa untukku dari bayangan dirinya. Keengganannya untuk menjaga dirinya pada perbuatan yang baik, kesediaan dirinya membantu sesamanya membuatku terpana, begitu kemuliaan melingkupi dirinya.

Namun, aku baru menyadari perasaanku berubah lima bulan lalu. Pada suatu malam, entah kenapa aku memimpikan dirinya bermain di sebuah taman. Sendirian. Belum pernah aku memimpikan seseorang secara khusus seperti ini. Aku hanya berpikir mungkin setan hinggap dalam tidurku untuk membuatku terlena dalam sebuah mimpi. Sejak saat itu, aku memandang dia lain dari biasanya. Kekagumanku padanya sudah berkembang menjadi perasaan yang berbeda. Perasaan hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.

Aku tidak sendirian. Ah, siapa sih yang tidak buta? Melihat Bidadari seperti dia? Aku tahu aku ini berbeda. Jika ada orang mengatakan tentang percaya diri atau hebat dalam berbicara, jelas itu bukan tentangku. Aku hanya hobi menulis dalam kelas kosong. Atau selasar taman. Menorehkan tinta dalam kertas-kertas lecek -aku tidak suka menyimpannya rapi dalam tas- dan kemudian pulang seorang diri. Hanya aku yang mengenakan jubah ketidakpercayaan diri ini. Bulan demi bulan saling menguntai, perasaan ini semakin menguat. Di ambang rasa sakit atau tanpa harapan. Sakit untuk semakin menyadari bahwa aku tak pernah pantas baginya. Gadis itu memang tidak pernah meminta dirinya disukai, tidak pula menebarkan pesonanya agar orang-orang terpana melihatnya.

Karin tidak pernah melakukan apa pun untuk menjadi seperti itu. Akan tetapi, semua itu ada dalam dirinya. Aku hanya bisa memberinya kesederhanaan. Sesuatu yang tidak ditawarkan oleh seseorang lainnya. Masa bodoh dengan kepantasan, pikirku kemudian. Aku tahu, harapan tak pernah benar-benar terbit bersama matahari di ufuk timur. Mengetahui hal itu saja sudah cukup untukku mengeluarkan kata ‘menyerah’. Pergi mungkin sebuah pilihan.

Semesta tetap bergerak seperti semestinya. Hanya saja ia tak menyadari ada sebuah roda yang menggerakkannya terlepas daripadanya. Roda itu berputar cepat tanpa arah, menjauh dari poros utamanya. Roda itu tahu tak ada harapan untuknya bisa kembali sehingga dia memilih menjauh dan menghilang. Mencari jalannya sendiri hingga mungkin ia menemukan poros yang baru. Atau mungkin, membusuk hingga Semesta hancur berkeping-keping karena salah satu rodanya hilang dan itu membuatnya rapuh tak beralasan. Aku merasa hari-hari kemudian terasa datar. Perasaanku mengambang. Aku harus mencari tahu jawaban Karin, batinku. Farhanah, teman baiknya adalah teman baikku semasa sekolah menengah pertama dulu. Ah, kenapa aku baru menyadarinya? Satu-satunya hal tak bodoh yang ku lakukan adalah aku masih menyimpan nomor telepon genggamnya.

“Dinan? Ada apa telepon selarut ini?” tanya Farhanah di seberang sana. Aku, Farhanah, dan Karin memang menempuh pendidikan di tempat yang sama. Hanya berbeda jurusan saja.
“Aku mau tanya sesuatu tentang, Karin,” jawabku pelan. Aku pun pelan-pelan menjelaskan perasaanku tentang Karin kepada Farhanah. “Oh, kalau itu, aku tahu maksudmu.” Farhanah bersuara sedikit lantang, seolah menegaskan.

Perempuan berkacamata itu menceritakan semuanya. Tentang masa lalunya, tentang siapa saja yang mencoba peruntungan untuk mendapatkannya, sampai perihal suatu nama yang sebenarnya sudah ada di dalam jawabannya untuk sebuah pilihan. Namun, masih disimpannya dalam-dalam. Aku memutuskan percakapan itu. Tak sanggup mendengar lebih jauh lagi. Rasanya semakin terombang-ambing oleh banyak keraguan. Juga, keputusasaan.

Sampai pada akhirnya, aku memutuskan untuk mengatakannya pada Karin. Jika hari ini adalah hari terakhirku menatap langit senja, maka biarkan aku menikmatinya sepuasnya. Kamis ketiga di bulan itu, aku meminta Karin untuk bertemu di selasar taman samping kampus, tempat biasa penaku menggurat kertas kosong. Aku katakan semuanya. Semua yang menohok di tenggorokan, hingga kemudian tak lagi ada rasa bungkam yang menahanku selama ini. Karin memberitahukan jawabannya. Bukan aku.

Aku terdiam. Butuh waktu cukup lama untukku sadar bahwa ini adalah dunia nyata. Aku serasa seperti berada dalam kekosongan yang amat dalam ketika mendengar jawabannya. Seolah-olah di dunia hanya ada aku seorang. Pahit memang. Seperti kopi yang tak diberi gula. Aku benar selama ini. Aku tak pernah pantas untuk bersama dengan dia. Menghilang dari ruang lingkup kehidupan Karin mungkin menjadi sesuatu yang adil bagiku dan juga dia. Andai saja… Tetapi aku tidak tahu mau berandai apa. Ya, aku pikir sudah cukup untuk ikhlas menerima takdir, bahwa… Ah, ya akan ku ceritakan jawaban Karin.

“Nan, aku minta maaf. Aku pikir kamu bukan orang yang pantas untukku.”
“Mungkin, sekarang aku juga belum siap. Walaupun, sebenarnya aku sudah punya sebuah nama. Yang akan ku buka pada saat waktunya tiba.”
“Kamu tak seperti yang lain. Dan itulah kenapa kamu bukan orang yang pantas untukku.”

Aku pun berjalan perlahan hingga kemudian Karin mengirimiku sebuah pesan. Satu yang harus kamu tahu, yang ku cari hanyalah kesederhanaan. Kamu tidak pantas untukku, karena sebenarnya aku yang merasa tak pantas bagimu. Aku ingin kamu mendapat yang lebih baik. Namun, jika ini memang Takdir tuliskan untukku, kembalilah ke sini lima tahun lagi. Aku ingin tahu apakah kamu masih menginginkan jawaban yang sama atau tidak.

Cerpen Karangan: Ariqy Raihan
Blog: ceritadibaliksenja.wordpress.com
Pecinta hujan dan senja. Silahkan bermain kata-kata di dalam imajinasi.

Cerpen Kepergian Karin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Karena Buku Diary

Oleh:
Matahari sudah membumbung tinggi. Langkah seorang siswi yang semula gemulai tiba-tiba berubah sangat cepat. Namanya Dian Anggraini, Sekbid kesehatan OSIS. Ia harus menemui ketua osis di ruang UKS yang

Delapan Belas Hari Berujung Sendu

Oleh:
Teet, bel tanda pulang sekolah berbunyi. Aku langsung keluar kelas dan menuju ke kelas Cintia. Seperti biasa, kami selalu pulang bersama. “Putri, tunggu!” teriak Cintia dari dalam kelasnya. Kawanku

5 Tahun Yang Silam

Oleh:
Aku wanita yang mudah mencintai tapi sulit untuk melupakan, walaupun telah banyak ku temukan tapi tetap saja aku masih mengingatnya. Telah ku coba berbagai cara untuk melupakannya namun tak

Tentang Anda

Oleh:
Seorang gadis dengan rambut hitam lurus terurai rapi mendatangi kelas kami. Ia anak kelas sebelah. “Ditunggu Bu Rina di lab. Biologi!” Lalu ia melenggang pergi. Meninggalkan decak kagum teman-teman

Kau Terindah

Oleh:
Di pagi yang cerah ini, tiba-tiba hp ku bergetar “selamat pagi kiting, kamu ngasi kado apa besok buat ku?” ya Ismail nama seseorang yang saat ini dekat dengan ku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *