Kerikil Kerikil Tajam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 12 January 2014

Dunia facebook yang sering kita kenal sebagai jejaring sosial, memang dunia maya yang banyak menyatukan kenangan-kenangan masa lampau, atau ajang untuk bertemu sahabat sahabat lama, meski kadang setelah saya amati dalam dunia facebook cenderung digunakan untuk ajang berkeluh kesah atau ajang membuka aib seseorang…

Malam datang berkunjung padaku membawa detik-detik gelisah, ketika aku terduduk sambil kucoba membuka buka facebook ku, dari beranda facebook kutemukan update status yang menyeret jari-jariku untuk mengomentarinya… Ternyata Hanum Raisha Kanina yang membuat status…

“Mengapa ada orang-orang menabur benci, jika Dia yang maha pengasih menurunkan keagungan cinta…!”
Ada komentar dari seseorang bernama bagas maung
“Ada apa he.. Dek Hanum, baru sakit hati pow…?”
Hanum menjawab lagi dalam komentar..
“Gak kok mas… Pengin nulis gitu aja…”
Tanganku mulai gatal, ingin masuk facebook dan membuat komentar buat status Hanum…
“Hanum adeku.. Memang cinta dan benci adalah dua hal yang saling beriringan, berjalan bagai teman karib…”
“Wah mosok ngono mass…”
Kulanjutkan lagi dengan komentar…
“Dan siapa yang ingin menggapai cinta maka persiapkan hati untuk tertimpa benci. Kecuali cinta pada Alloh dan Rosul-Nya…”
Datang lagi komentar dari bagas maung..
“Wah.. Wah… Asek… Aseeek.. iniii…”
Dan komentar berikutnya dari Erinain x..
“Wah… wah ada reunian…”
dan komentar terakhir dari X-tra dian..
“Apeek kie judule… Hehhehhehhehhe…”

Namun aku segera menutup facebooku, aku takut semakin dalam larut akan ingatan tentang Hanum Raisha Kanina, yang sudah mulai luntur dari ingatan dan hari-hariku bagai kain wenter murahan pudar karena bilasan air saat dicuci…

Getar sayap-sayap waktu terus berjalan menembus masa dan suasana melintasi ganasnya raja siang serta dinginnya gelap berteman dengan gugusan bintang-gemintang cerminan kaidah anggun wajah sang putri malam, tak begitu terasa laju bahtera rumah tangga kami telah masuk tahun ke-6, Lala bidadari mungilku kini telah menyentuh usia 3 tahun, laju bahtera keluargaku berjalan cukup landai, setiap ada badai, ombak dan gemuruh riak-riak air pasang, kami hadapi dengan kebersamaan, akan tetapi ibarat pohon semakin tinggi menjulang maka angin yang datang menghempas pasti semakin kuat…
Begitu juga dari keimanan setiap insan pasti akan mengalami berbagai macam ujian, tak luput dari itu pendar cahaya iman yang meredup menyirami ruas-ruas hatiku ini. Sebenarnya hubunganku dengan Ania memang terbilang harmonis, namun saat ini kenangan masa lampau mengusik diriku, kala gelap datang menggilas kesendirian terutama saat tak berada disisi Ania Revita, juga dengan adanya facebook aku terseret arus kenanagan masa silam…

Dengan sedikit mengedipkan sebelah mata atas bakti taat dan patuhnya Ania padaku… Mungkin bening cinta dan kasih sayang Ania padaku mengalir jernih menembus pandang, dari aliran lereng-lereng mata air sungai dipegunungan dari musim penghujan hutan tropis negeri indah yang membentang dari katulistiwa ini… Dan aku tak bisa membalas sejernih embun pagi yang menetes dari ujung-ujung ilalang, dipagi segar sambil melirik kuning bias sinar sang surya menebar cahaya kasih seindah mutiara…

“Memang dari zaman ke zaman, kaum lelaki selalu ingin menang sendiri begitu juga dengan diri dan kenyataanku…”
“Sungguh wahai istriku Ania… Semoga Alloh selalu ridho padamu, dan maafkan kobaran api yang menyulut nafsuku, atau air cuka yang menebar bau tak sedap menggelitik tegapnya imanku. Berdoalah atas Robb padaku. Agar suamimu yang lemah seperti seekor semut berjalan di tanah panas dan tandus ini, tetap bisa bertahan dalam menulusuri garis-garis pertolongan-Nya… Meski badai pasti menghadang dan debu-debu bertaburan menimpa lemahnya diriku…”

Kala itu dari tengah malam aku belum bisa tertidur, untuk menutupkan kedua kelopak mataku, kusentuh dengan kedua tangan perkasaku, kutulis sebuah sms kepada Reina Tsalasani Anniha, sahabat lama yang dahulu aku pernah mencintainya jauh hari sebelum aku melabuhkan benih-benih cinta kepada Hanum raisha kanina, aku peroleh namanya dari pertemanan facebook dan aku memperoleh nomer HP dari data pribadi dalam facebooknya, berawal dari iseng menanyakan keadaan serta kabar anak dan keluarganya aku jadi sering smsan dan berbagi cerita dengannya.

Rere nama panggilan akrab Reina ditinggal suaminya bekerja diluar pulau, jadi entah aku yang salah atau Rere juga ingin berbagi kisah, seperti sinar matahari panas menaburi hamparan keluasan bumi dan bumi menyambut sinar sinar lembutnya, aku jadi sering sms diluar pengetahuan Ania revita istriku…

Saat angin malam mengelus kulitku, dingin menelusup menembus tulang sum-sum, menuju kalbuku, kutulis sebuah sms dalam kesunyian dingin malam kepeda Rere..
“Orang memandang diriku kuat bagaikan sebongkah gunung.. Namun ternyata aku begitu lemah…!”
Kalimat singkat itu kukirim dua kali kepada Rere dan sebelum mata ini menari berteman bunga-bunga mimpi, ada seberkas bayang-bayang kenangan masa silam Rere menjajah alam kantuk, menyiksa jiwaku hingga meski sulit akhirnya aku pun terlelap menyentuhkan mimpi dalam istirahat malamku…

Pagi menggugahku melalui senandung merdu adzan subuh, gelap masih menyelimuti dingin fajar, serombongan kabut awan putih tipis merayap ke sela-sela ruang kosong dari arah rimbun yang masih tampak menghitam, gunung Tidar Magelang…
Kuambil langkah menuju masjid untuk menunaikan sholat subuh berjamaah, secukupnya aku berdoa dan pulang, sesampai di kamar aku melirik Hpku yang bergetar dengan deringan kulihat dan kubuka ternyata sebuah sms dari Rere…
“What you mean… Mas Zulfi…?”
Tak berapa saat kemudian kubalas sms Rere..
“Orang memandangku begitu kuat bagaikan sebongkah gunung. Namun ternyata aku begitu lemah…!”
“Than. What you want from me, just knowling that, You are weak or more…?”
Kucoba pahami meski sebenarnya aku tak begitu bisa berbahasa inggris dengan baik, segara kubalas dengan balasan singkat
“I… Hope…!”
Rere pun membalas dengan suatu kalimat…
“Berharap apa mas Zulfi…?”
Dan sms kami pun berlanjut..
“Aku pengin ngomong sesuatu ke kamu tapi kamu harus janji padaku, kau gak marah dan menjaga apa yang tak sampaikan padamu… apakah kau siap untuk itu Re…?”
“Ukey… Kucoba mas Zulfi…!!”
“Tapi sebenarnya aku penginnya ngomong langsung aja, aku takut terjadi kesalah fahaman di antara kita… Tidak lewat sms ataupun HP…!”
“Yow dah lah… La memange mau ngomong apa tow mas…?”
Kujawab lagi melalui sms berikutnya
“Yow sudah lah… kapan-kapan saja’ i’m sorry, nak sudah ganggu kamu, lain kali pasti ku sampaikan padamu… OK thanks Re…!”
“Loh… Memangnya mau ngomong opo tow mas. Yow sudah lah. U’re wellcome…!”
Aku termenung beberapa saat seperti lilin yang meleleh karena panasnya api. Dan kulanjutkan menulis sms lagi ke Rere…
“Jika kau ada waktu lebih baik kita ketemu saja… Eeeeem. bisa gak Re…?”
“Wah kayaknya gak bisa mas, ntar malah menimbulkan fitnah, memang gak lewat telfon atau sms saja…!”
“Makasiiih Re… Atas waktunya, ya dah kapan-kapan tak telefon atau sms saja…!”
“Tapi aku juga gak janji lho mas, mau ngangkat telfon, jangan marah yaaa…!”
“Siap… Dan sekali lagi makasih Rere atas semuanya…!”

Pagi pun datang bernyanyi menghibur redup sinar matahari, kenangan masa laluku bersama Rere seakan kembali datang mengusik ingatanku yang terbang dengan sayap-sayap perkasa, mengembara menembus ketinggian langit dan melintasi keluasan dunia…

Beberapa hari dari sms itu kurancang sebuah sms panjang buat Rere dan kembali kukirimkan…
“Assalamu’alaikum wr wb…”
“Rere…!”
“Sebelum aku menyampaikan setetes tulisan, kuhimpun setangkai maaf dan kusemai ucapan terima kasih atas seikat waktu yang kau hamparkan untuku…”
“Satu kali lagi kuharap kau tak marah dan menjaga tetesan-tetesan kalimat yang kusampaikan padamu…”
“Rere. Kuakui dahulu aku sempat melukismu bertinta emas dalam lubuk hatiku, kukagumi senyum sapa dan wajah cantikmu, yang selalau merusak desah nafas-nafasku dalam setiap bergulirnya roda-roda waktu. Aku tulis engkau dengan airmata perih dalam hamparan lembar-lembar buku harianku…”
“Rere…! dan waktu pun terus berlalu dari kita berputar menggerus kenyataan serta takdir yang harus tertoreh, aku tahu kau tak menggapai uluran tangan-tangan kasih dariku, aku sadar akan posisi dan siapa diriku, dari satu sisi aku menemukan banyak perbedaan prinsip dan pandangan antara aku dan kamu, seperti tercampurnya minyak yang tak mungkin menyatu dengan air…”
“Rere…!”
“Adakalanya bayang-bayangmu datang menemui mimpi-mimpiku, layaknya sekumpulan hantu-hantu jahat dengan cakar yang sombong mencabik dan mengoyak seluruh hatiku. Dan aku pun takkan pernah menyalahkan siapa, karena inilah kenyataan serta garis ketentuan dariNya untuku, inilah realita takdir yang dipoles dengan tinta mimpi-mimpi. Sempat juga aku berhayal menyentuh anggun kasih sayangmu dalam lukisan angan fatamorgana,”
“Meski aku begitu yakin indahnya kamuflase hanya tampak pada pandangan mata, dan aku pun kembali tersadar bahwa aku juga insan yang lemah…”
“Rere…!”
“Sedikit banyak aku juga berjuang menjauhkan indah serta kejaran kejam bayang-bayangmu, dari bergantinya hari-hari hingga berapa waktu kemudian aku mendekat ke Hanum namun hal yang sama kudapat dari Hanum Raisha Kanina, sungguh peristiwa dan kenyataan pahit kehidupan yang menyiksa setiap sepi dan gelap malam-malamku…
Dan ketika aku sudah merasa cukup usia untuk menempuh laju bahtera kehidupan berumah tangga, aku mengenal Ania Revita, Ada daya magnet dan gravitasi menarik diriku padanya waktu itu, meski ku akui aku juga belum bisa sempurna menghapusmu ataupun bayang-bayang Hanum dari relung-relung hatiku..”
“Namun Re..”
“Ada secercah cahaya bening membias dari diri Ania sehingga kugapai sinar itu, kumohon padaNya inilah wujud dari doaku padaNya akan pilihan takdir kehidupanku, sehingga dengan tanganku kugapai sinar itu, kuputuskan untuk menikah dengan Ania, sekarang dia Ania seperti setangkai bunga mekar yang harus kujaga dengan segala keringat, darah, dan pertanggug jawaban dari suatu amant dariNya untuku, kujaga meski harus dengan terlepasnya nyawa dari jiwaku ataupun berpisahnya leher dari tubuhku…”
“Rere…!”
“Kusimpan rapat semuanya dalam almari besi brangkas hatiku, sampai saat ini ketika aku sms padamu malam itu..”
“Orang memandangku kuat bagaikan sebongkah gunung… Namun ternyata aku begitu lemah…!”
“Aku sempat menitikan airmata, teringat kutancapkan duri menggores perih akan kesetiaan serta pengabdian bakti taat Ania padaku…”
“Tapi Re… Ternyata aku tak mampu berbohong pada kenyataan serta teriakan keras nafsu dari dalam hatiku…”
“Rere…!”
“Dari saat ini aku sampaikan padamu, aku buka pintu-pintu almari brangkas besi hatiku ini, aku tunjukan rahasia itu untukmu, dan sekarang kamu melihat dan mengetahui semuanya… Aku kembalikan semua padamu serta kuucapkan setumpuk terimakasih atas lembaran-lembaran pelajaran yang telah kudapat darimu… aku pun yakin sayap-sayap waktu takkan berhenti mengepak melintasi berbagai peristiwa, dan kukatakan padamu kebahagiaan adalah hak setiap insan,
“Kumohon padaNya perjalanan ini bisa menjadikan yang terbaik bagiku dan juga untukmu, semoga Dia senantiasa memberikan ampunan pada kisah perjalanan ini, dan kebahagiaan adalah hak setiap insan… Oleh-Nya dimudahkan semua urusanmu, one again thanks for all… Semoga tetap kita jaga semuanya dan yakinlah air pun pasti akan mengalir mengikuti deras alurnya menuju muara…!”
“Zulfikar Ali…”

SMS panjang itu kukirim pada Rere layaknya surat para raja kepada bawahannya, aku termenung menelusuri kata-kata dalam sms panjang itu, aku pun tak tahu apa yang di baca dan dirasakan olah Rere atas mengalirnya kata-kataku… beberapa menit kemudian antara setengah jam, datang sms menggugah kebisuan Hpku ternyata ada sms balasan dari Rere…
“Wa’alikum salam wr wb…!”
“Baik Mas Zulfi… Dan aku sampaikan setangkai maaf juga, aku takkan menjawab atau mengatakan apa jua… Kusertakan seikat ucapan terimakasih balik atas semuanya, Rere gak marah kok mas tenang aja… Lagian itu torehan tinta-tinta dari masa lalu, biarkanlah mengalir mewarnai kertas kehidupan kita, kuharap jangan sampai dinodai dengan tinta-tinta nista..”
“Aku menghormatimu dan kuharap ikutilah aliran kehidupanmu, jangan pernah kau berhenti sebelum kalian sampai tujuan mulia, meski pasti akan kita temui kelokan, benturan, bahkan tebing yang curam, karena kita akan kembali ke muara yang sama dan aku yakin Mas Zulfi lebih memahami apa yang kusampaikan ini…”
“Maafkan aku juga ya mas, aku sok menasehati… Dan sekali lagi Rere mngucapkan terimakasih atas semuanya mas Zulfi… Wassalam…!”
“Reina Tsalasani Anniha…!”

Kubaca beberapa kali sambil kuresapi kata-kata Rere, aku merenung pada diriku dan setiap kejadian di wajah hari-hari… Ada perih, ada resah, namun aku pun kembali pada aktifitasku kujalani kehidupan sebagaimana air sungai mengalir menuju muara, aku terus bekerja di Magelang.. Kucoba rengkuh hari-hari bersama datangnya kerikil-kerikil tajam dalam setiap pijakan telapak kakiku, dalam menapak melangkahi jalan-jalan kehidupan, tegapnya iman memendar cahaya remang menyinari sanubari melahirkan banyak ujian dan cobaan…”
“Wahai Rooobku… Aku salah pada diri serta kenyataanku, tetapi apakah aku harus berlari meninggalkan takdirku…? Sungguh tidak dan takkan pernah kulakukan, akan kutempuh semua garis keputusanMu… Dan kumohon mampukan aku atas segala keputusan-Mu..”
“Ania Revita istriku… Maafkan aku suamimu.. Tak ada niatku berkhianat padamu, aku mencintaimu karena aku mencintaiNya, dan menerimamu sebagai amanat yang harus kujaga dengan segala kekuatanku, kupelajari cintamu dalam kasihNya, dan aku pun menemukan cecer butiran-butiran cinta itu darimu, aku kumpulkan dalam kotak-kotak hatiku ini. Akan aku lawan teriakan-teriakan hawa nafsu yang keras melebihi dahsyatnya letusan gunung Merapi, kulawan dengan gumpalan tekad baja meski semakin kulawan guncangan semakin dahsyat menghempas imanku terjungkal ke titik nadir…”
“Dan ingin rasa aku meninggalkan takdirMu lagi”
Namun kukatakan kepada jiwaku…
“Aku bukan pengecut yang ingin mati di atas permadani, berbantal empuk nafsu berselimut angkara dan keinginan dunia…”
“Wahaiii…Yaa Aziiz yang maha perkasa, bimbing dan buktikan aku kesatria yang menang di medan laga ataupun gugur berselimut kafan keberanian, darahku mengalir sebagai mujahid meruntuhkan setan di ujung kilatan pedang serta ujung tajamnya panah taatku padaMu,…”
“Oooh takkan ku lari dari keputusanMu wahai kekasih abadiku…!!”
Aku termenung merenungi nafas dan detak jantungku sambil mencoba menghapus bayang-bayang akan langkah kesalahanku, dan kubisikan lembut kepada hati, jiwa dan ruhku…
“Dunia adalah penjara bagi pendar cahaya iman, dari kedalaman lubuk hati umatMu… Ampuni hambaMU yang lemah ini!!”

Cerpen Karangan: Zulfikar Ali Swr
Facebook: Zzulfikar Ali
LAHIR DI kLATEN ISLAM 33 tahun yang lalu…

Cerpen Kerikil Kerikil Tajam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Lain Kali (Part 1)

Oleh:
Ku pencet LED watch warna biru tua yang melingkar di tangan kiriku, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 06.45, artinya hanya ada waktu 15 menit untuk pergi ke sekolah. Bagaimana

Akhirnya Jadi Nikah

Oleh:
Perkenalkan namaku Mike, akhirnya hari minggu telah tiba dimana hari-hari lain penuh dengan tugas sekolah. Aku bangun pagi pukul 05:30, aku mandi lalu siap-siap bergegas pergi ke Alun-alun kota

Novelis Online

Oleh:
Sore itu, Andi sedang mengetik di komputernya dengan tekun dan terlihat serius. Buku pelajaran yang menumpuk ia biarkan untuk sementara begitu, padahal sekarang sudah bulan september. Ia ambil sebotol

Pesona Keabadian Rindu (Part 2)

Oleh:
Handphoneku berdering, Kudapati sebuah pesan dari Difan, ternyata dia berencana ingin melamar Nanda, sahabatku. Dan menanyakan kabarku, juga keluargaku. Nanda memang sangat cocok dengan Difan. Nanda adalah anak yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *