Kerinduan Azriel

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian, Cerpen Rindu
Lolos moderasi pada: 18 September 2021

Katanya jika kau terus berharap dan bersabar, apa yang kau inginkan akan kau dapat. Katanya jika terus berusaha pasti akan mendapat hasil yang memuaskan. Katanya jika memberikan maaf pada seorang yang dibenci tali pengekang yang terus melilit diri akan perlahan terputus. Katanya, jika membenci kau akan terus tersakiti. Katanya … banyak sekali katanya.
Tak sekalipun hal yang pasti diucapkan. Hanya katanya,

Aku muak,
Aku benci.
Kenapa harus katanya?!
Tidak bisakah memberikan kepastian secara tegas?!

Aku terlalu letih mengingat setiap hari yang kulalui. Setiap menit penuh penantian, setiap detik penuh kesesakan. Tiada hari tanpa membenci, tak ada bulan untuk tidak terus menyesali.
Kerinduan kini telah menumpuk dalam dada tanpa ada yang bisa mengerti. Sehari berlalu namun kebebasan tak pernah kurasa. Sehari membenci namun tak ada sedikitpun perasaan lega.

Sebenarnya kenapa?
Apa yang salah denganku, kuyakini tak mudah bagiku untuk marah, namun kali ini aku malah memaki diri yang hanya bisa membenci.

Tersadar akan peristiwa yang dulu kulalui, tak terasa panas kembali membakar pipi. Air mata kembali mengalir menggenang di wajah. Setiap tetesan mengingatkan pada masa indah yang paling kubenci.

Rindu?
Tentang itu pun aku tak paham lagi seberapa besar kerinduan yang selalu kusimpan seorang diri. Setiap melihat jari, setiap memori terselip bagai kenangan yang baru saja dilukiskan kemarin hari.

Hah …
Jika saja waktu bisa terulang, dapatkah aku saja yang menghilang? Mengapa harus dirimu.

Kau berkata kita akan kembali bertemu, kau berkata aku harus sabar menunggu, kau mengingatkan untuk terus berusaha melupakan dan kau juga mengingatkan untuk tidak membenci.
Tapi apalah aku, aku hanya seorang yang keras kepala. Membencimu dan dengan bodohnya jatuh cinta.

Kali ini pun tidak terfikir olehku untuk berhenti berusaha.
Seperti katamu, aku harus terus berusaha hingga penantianku terjawab.

Tapi tak mengapa jika harus kembali tersiksa, asalkan ucapanmu benar adanya. Hingga pada akhirnya kau datang kepadaku, aku akan setia menunggumu.
Menunggu sang pujaan hati yang tidak berhenti meneror diri dengan banyaknya kenangan manis yang terlukis.

Mengisahkan dua insan remaja yang tidak pernah diterpa badai masalah. Kisah manis kala SMA, selalu teringat jelas hingga saat kita duduk bersama di bawah cahaya rembulan sambil memetikkan senar gitar. Bernyanyi lagu roman yang membuat gelora hati semakin membara.

Kau berjanji padaku yang baru saja mengenal cinta untuk terus bersama hingga hari tua. Kau mengatakan padaku kalimat manis yang sama sekali tak pernah baca dari buku sains manapun.

Tiada penyesalan kala itu saat aku terjerumus dalam pesonamu, karena saat itu aku masih belum tau tentang dunia yang baru kau kenalkan kepadaku.
Hingga akhirnya, kau malah pergi tanpa sepatah peringatan. Meninggalkan hati yang diselimuti kesedihan.

Aku menyesal kala itu tidak mengetahui kesusahan yang selama ini kau rasakan. Aku terlalu egois karena hanya mementingkan cinta tanpa bisa memperhatikan hal lain disekitar.

“Azriel?”
Bahkan kini suaramu terdengar jelas di telingaku. Seperti kau memang berada di sampingku.

“Hei, apa aku salah orang?”
Aku menoleh disampingnya kursi taman tempat aku duduk.
Ah, kini bahkan sepertinya aku telah berhalusinasi karena kerinduan yang mendalam. Gadis itu mirip sekali dengannya. Aku menggeleng kecil.
Dan kelakuanku malah mengundang tawa untuk gadis itu.

“Oh ternyata benar Azriel.” Gadis itu memeluk erat tubuhku yang kini telah terserang kaku. Apa maksudnya?
Aku masih belum paham dengan gadis ini. Kuberanikan untuk bertanya meski kuyakini suaraku terdengar mulai serak tak bertenaga.
“Siapa …?”
“Segitu marahnyakah kau hingga lupa denganku?” Gadis itu melepaskan pelukan sepihak yang dilakukannya.

Aku menatap lekat tubuh mungil yang sebatas dada ini dengan perasaan campur aduk. Jika ini mimpi maka jangan pernah sekalipun memanggungkan aku karena aku terlalu bahagia hingga tidak sanggup lagi mengeluarkan kata. Mataku kembali panas, sudah berapa kali hari ini aku menangis. Dan lucunya aku menangis hanya karena perempuan ini.

“Yena …” ucapku lirih.
“Ya, kau tidak merindukanku?”

“Bodoh!” ucapku segera memeluknya. Tangisan tak lagi terhindar, kerinduan yang telah memuncak menjadikan emosiku meningkat. Yena, sudah berapa lama ya kau menghilang dari hidupku …

“Maaf aku terlalu emosional,” ucapku segera menyeka air mata agar Yena tidak melihatnya. Kali ini, tiada kebencian dalam diriku. Yang ada hanya kerinduan mendalam yang kurasa. Betapa leganya hati saat semua penantian terbalaskan.

“Kau ternyata menungguku ya Azriel, terima kasih.”
“Gadis bodoh, jangan pergi lagi lagi jika sedang memiliki masalah. Tidak tahukah kau betapa aku merindukanmu,”
“Mau mati saja rasanya,” ucapku pelan.

Aku membawa Yena untuk duduk kembali di kursi dan menggenggam erat tangannya. Kali ini tak akan kubiarkan dia pergi lagi.

“Maaf Aze, aku sedang berpikir pendek kala itu. Aku tidak ingin menyusahkanmu.”
“Kau tidak pernah menyusahkanku Yena, bicaralah jika sedang ada masalah. Mengeluhlah jika kau tak mampu menahan kesal, menangislah jika kau bersedih dan berceritalah jika kau mengalami tekanan. Aku siap menjadi sandaranmu untuk berpulang.”
“Ya, kali ini akan kulakukan.”
“…”

“Sudah lama ya … ternyata sudah sangat lama kita tidak berjumpa. Entah mengapa aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan air mata untuk menunjukkan betapa aku bahagia berjumpa kembali denganmu Aze.”
Aku mengulas senyum mendengar nada Yena yang sangat bersemangat. Tanganku pun pada akhirnya terulur untuk menepuk kecil kepalanya. “Ya, selama ini aku hanya berdiri dengan segala kerinduan menanti dirimu datang …”

“Aze … maaf.”
“Maafkan aku Aze, aku meninggalkanmu, maafkan aku mengingkari janji, maafkan aku Aze …” Dan kini Yena pun menangis bukan karena bahagia. Dia terus mengumamkan maaf dan memelukku dari samping.
“Ya, kau bersalah atas ini. Memberi maaf itu sangat sulit Yena.”
“Maaf Aze.”
“Mm …”

Cerpen Karangan: Aen
Hi …
Kembali lagi diriku menuliskan sepenggal kisah untuk menghibur para pembaca. Semoga suka
Salam dariku,
Aen

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 18 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Kerinduan Azriel merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Always Love You

Oleh:
Seorang wanita sedang terduduk di pasir putih pantai losari. Dari postur badannya bisa dibilang wanita itu cukup ideal dengan kulit putih mengkilat karena tersapu matahari, dan rambut hitam panjangnya.

Dari Balik Jendela

Oleh:
Aku ingin kembali pada masa dimana aku selalu melihat senyumanmu. Memang cukup menyedihkan merangkai detik, menit, jam yang menyusun dirinya membentuk hari-hari yang melelahkan untuk menunggu sahabat impian, yang

Night Changed (Part 2)

Oleh:
Sebuah bingkisan terbungkus rapi. Bingkisannya terlihat lucu dan menarik ada kesan tersendiri dari bungkusnya mungkin Djuwita menyukai Gambar dari bingkisan ini. “Ini apa Ta?” tanya Arsya kali ini saat

The Secret Admirer

Oleh:
Pagi yang cerah, cukup cerah untukku yang terburu-buru di kejar waktu. Huh seperti biasa, aku bangun kesiangan lagi. Padahal di depan gerbang dua temanku, Beby dan Widy sedang menungguku

Meskipun Itu

Oleh:
Bagiku cinta adalah salah satu kekuatan yang menguatkan. Masa jatuh cinta, cinta diam-diam, cinta dijatuhkan bahkan cinta kembali bangkit setelah dicampakkan. Cinta memang ada, tetapi tidak mudah untuk mendapatkannya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *