Kesah Awalnya Kaitu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 1 January 2016

Di bawah pohon beringin, aku duduk bersembunyi dari sinar matahari yang nampaknya sedang on fire hari ini. Sebatang rok*k ku hisap pelan-pelan sambil menikmati suasana di bawah daun-daun yang rapat melindungiku. Ku sandarkan punggungku di batang pohon yang besar itu, “Aaaaaahhh, capeknya.” Sambil menghela napas panjang tanda sudah lelah akan sesuatu yang tidak mungkin tercapai.

Ku ambil selembar daun yang sudah layu terbungkus rapi di dalam plastik kecil. Itu adalah pemberian dari seorang wanita yang ku sukai. Masih teringat di kepalaku, bagaimana dia memberikan daun itu kepadaku. Mungkin di kepalanya, itu hanya sebuah lelucon kecil yang mampu merubah suasana yang hening menjadi meriah. Tapi bagiku itu adalah sebuah pemberian yang luar biasa dalam hidupku, pemberian pertama dan sekali seumur hidup.

Ku simpan daun itu di dalam tasku bersamaan dengan bahagiaku akan momen yang begitu indah ini. Namun semua sekejap buyar, pecah bagaikan kaca yang dihempaskan ke lantai, saat teman wanitaku menanyakan siapa orang disukainya dan ternyata orang yang disukai bukanlah aku. Aku mendengar semuanya, dan begitu jelas mendengarnya karena aku berada tepat di belakangnya dan menguping pembicaraan mereka.

Sungguh sakit rasanya, seharusnya aku tahu dari awal, kalau perjalanan cintaku tidak mungkin berakhir dengan baik. Sampai saat ini aku sudah 46 kali ditolak perempuan, dan 3 kali tanpa jawaban. Jadi totalnya adalah 49. Dan aku juga sudah puas yang namanya patah hati. Ditikung teman sendiri. Masuk di area friend zone, lebih parahnya lagi dibilang jelek di tempat ramai sekaligus membuyarkan harapanku yang sudah setinggi langit.

Aku paham bahwa mimpi tidak akan selamanya bisa terwujud di dunia nyata, kita ambil contoh kecil kalau kita bermimpi menjadi power ranger. Apakah bisa power ranger di dunia nyata? Menghabisi monster setinggi patung liberty dengan menggunakan robot yang berkekuatan super dan hanya sekali tebasan di bagian akhir, monster itu pun meledak bak nuklir yang sudah menyentuh tanah. Itu kan konyol.

Memimpikan sesuatu yang tidak pasti tercapai namun kita selalu memaksakan diri untuk menggapainya. Kita ambil sisi lain yang menurutku pas dengan keadaanku sekarang. Ini adalah tentang seorang pria selalu memimpikan seorang wanita idamannya, di dalam mimpi semua mengalir dengan lancar. Namun saat di dunia nyata, hambatan demi hambatan membuat air yang harusnya mengalir lebih deras menjadi mengecil karena masalah demi masalah yang timbul dan tanpa solusi yang jelas.

Sekarang aku mulai mempertanyakan, apakah cinta itu benar-benar ada? Kalau memang ada, apakah itu hanya bualan para penyair yang selalu mengagungkan kata-kata cinta di setiap syair yang mereka buat? Bodoh, kenapa aku baru mempertanyakannya sekarang, padahal aku sudah mengalami pahit-pahitnya percintaan. Oh, mungkinkah itu yang disebut cinta? Cinta adalah sumber dari kesakitan dari setiap manusia yang menyerang bagian dalam hati. Eh, tapi mungkin saja tidak, aku sudah melihat banyak sekali indahnya kebersamaan dengan berlandaskan cinta. Arrgghh, aku bingung yang mana yang benar.

“Terhenti.. Ideku terhenti.. aku buntu..” Kataku menggaruk kepalaku karena berhenti mengetik cerpen yang rencananya ingin ku selesaikan hari ini.

Malam ini lagi-lagi aku tidak mampu menyelesaikan cerpenku, aku selalu terhenti di awal cerita dan gak pernah bergerak ke inti cerita dan ending. Dan mungkin ini adalah mirror dari kehidupan nyataku yang sekarang. Aku selalu tidak mampu melangkah ke depan, aku selalu berada di lingkaran dan berputar dan berhenti di tempat yang sama ketika aku mencoba mengikuti keinginanku untuk berjalan ke depan.

Sebenarnya aku masih belum bisa move on dengan mantanku yang pernah ku pacari 7 tahun yang lalu. Aku tidak tahu apakah itu penyebab dari setiap kegagalan cintaku setelah putus dengan dia. Tapi itu adalah alasan yang terlalu dibuat-buat untuk orang yang enggan menatap ke depan dan bangkit dari keterpurukannya. Setelah putus dengan mantanku. Aku selalu mencoba untuk menjalin cinta dengan yang lain. Namun hasilnya selalu sama. Kegagalan. Hah.. Memikirkannya saja membuat aku gila.

Sebenarnya malam ini aku ingin membuat cerpen tentang kisah nyataku, tapi ya mau gimana lagi. Aku buntu banget malam ini. Ide-ide yang ku kumpulkan menumpuk terlalu banyak dan meledak menjadi abu. Hilang tuh konsep cerita yang harusnya menjadi cerpen yang kayak keren banget. Itu baru kayaknya sih. Sangking pusingnya untuk menulis. Akhirnya aku mendatangi rumah sahabatku untuk mendapatkan pencerahan.

Nah loh sampe lupa, aku belum memperkenalkan diri. Namaku adalah Nur Ubay. Umur 24 tahun dan saat ini aku masih kuliah di Untag Samarinda Jurusan Teknik Sipil. Mau kenal banyak dengan aku? Ping me yaw. Hahahaha. Akhirnya dengan kepala yang penuh dengan asap, aku pergi menuju rumah sahabatku yang bernama Muhammad Reza. Ya biasa dipanggil Reza. Aku selalu pergi ke tempat jika aku mengalami Stuck saat aku menulis.

“Reza.. Reza.. Reza..” Teriakku memanggilnya dari luar rumah.

Reza pun membuka pintunya dan melihatku yang mengeluarkan aura hitam dengan rambut acak-acakan dan penuh lalat.
“Maaf mas, Lewat aja. Gak terima sumbangan.” Kata Reza dan langsung menutup pintu.
“Woi.. Woi.. Emangnya aku kelihatan kayak pengemis.”
“Kelihatan banget. Perfect banget malah. Hahaha.. ayo dah masuk..” Kata Reza membuka pagarnya dan mengantarkan aku masuk ke dalam rumahnya.
Setelah aku masuk kamarnya, aku merasa berada di dunia lain. Kamar yang seperti kapal titanic yang bangkit dari dalam laut. Super berantakan. Seluruh ruangan dipenuhi dengan pakaian kotor, dan sampah-sampah berserakan di mana-mana.

“Silahkan duduk.” Kata Reza dengan senyum manis.
“DUDUK DIMANA!!” Kataku dengan kekesalan. “Bersihkan kamarmu dulu baru kita nongkrongan.” Lanjutku.

Akhirnya sebelum aku curhat dengan dia, aku dan Reza pun membersihkan kamar. Keadaan kamarnya Reza itu sungguh memprihatinkan. Sampai-sampai aku tidak bisa menjelaskan bagaimana kotor dan mengerikannya kamar Reza. Dan satu jam kemudian, kamar dari Reza benar-benar bersih mengkilap. Dan yang ku herankan, sampah yang ada di kamarnya yang kecil itu bisa menyimpan sampah sampai satu karung beras. Ini kamar atau penampungan sampah. Hahaha.

“Nah jadi maksud kedatanganmu ke sini apa? Jangan bilang kamu mau ngutang lagi? Ah, gak. Malas ah..” Kata Reza.
“Gak, aku mau curhat nah.. masalah cerpen nah. Pusing kepalaku..”
“Oh.. kalau itu boleh deh.”
“Tapi habis itu aku minjem 100 ribu ya.”
Reza langsung membuka pintu kamarnya, dan mengusirku seperti mengusir kucing.

“Bercanda.. Bercanda.. Hahahaha.. aku bingung nih dengan cerpenku selanjutnya gimana? aku sudah sering mencoba untuk buat cerpen. Tapi pasti mentok di awalnya. Gak pernah sampe habis. Pening eh..”
“Emang kamu mau buat cerita yang bagaimana sih?”
“aku sih pengen yang seperti biasa, romantis sama komedi gitu tapi kok jadi agak susah ya?”
“Hadeh, kenapa kamu gak ceritakan kisah masa lalumu aja sama si UU.”
“Heehh.. Entar kalau dia baca gimana? Ih malu aku.”
“Ya gak apa-apa. Kamu ingat gak tujuan awal kamu buat cerpen itu untuk apa?”

Kalau dipikir-pikir benar juga kata Reza, kenapa aku tidak menulis tentang masa lalu dengan mantanku itu. Aku hampir-hampir kehabisan bahan cerpen, kenapa gak itu aja yang dibikin cerita ya, begitu pikirku. Sebenarnya tujuanku membuat cerpen itu adalah membuat mantanku itu kembali melihatku. Hanya itu. Aku jadi menggalau. Langsung meneteskan air mata.

“Huaaahh.. UU.” Kataku sambil menangis di kaki Reza yang sedang duduk di kursi. Reza yang merasa terusik dan mencoba melepaskan pelukanku dari kakinya.
“Hadeh.. Kenapa sih kamu sama dia itu, kamu loh gak pernah cerita.. Cerita dulu..” Kata Reza.
“Hiks.. Hiks. Kan udah ku ceritakan di khayalan si bungul 1 awal pertemuan aku sama dia.”
“Ya tapi dari awal sampai akhir dong.” aku pun menenangkan diriku, aku pun menceritakan kisahku dengan UU. Mantanku yang belum bisa ku lupakan sampai sekarang.

Sore hari di hari minggu, aku duduk dengan headset di telingaku sambil mendengarkan lagu. Segelas Jus Alpukat menemaniku yang duduk sendiri di pojok kanan cafe tersebut. Aku sudah terbiasa berada di sini sendiri. Menikmati suasana yang ada di cafe ini yang begitu menenangkan hati, wajar saja, karena cafe ini berada di puncak gunung, begitu memalingkan kepala ke samping, pemandangannya membuat hati serasa lega. Ku ambil barang dari tas gandengku, barang itu sebatang cokelat. Ku lihat cokelat itu lalu memainkannya sambil tersenyum. Tepat jam 5 sore, alarm di handphone-ku berbunyi, bergegas aku pergi meninggalkan tempat dudukku. Tak lupa ku masukan lagi cokelat itu ke tasku.

“Oh.. Kerennya kamu bay.. pengen lihat kamu yang begitu.. cool banget gitu loh kalau aku bayanginnya.” Kata Reza memotong ceritaku.
“Iya itu cerita pas aku nungguin kamu di cafe, aku nunggu 3 jam yang katanya pengen nongkrong bareng tapi gak datang-datang.”
“Masih dendamkah sama yang itu? maaf.. maaf.. itu aku ada urusan mendadak.. jadi gak bisa datang. Maaf ya.. Maaf..” Kata Reza memohon ampun.
“Hahahaha… Jilat kakiku dan mengeduslah. Baru aku maafkan.” Kataku yang berubah menjadi setan.
“Lanjutin ceritamu monyet.” Reza memukulku dengan tongkat baseball, lalu aku melanjutkan ceritanya.

Untuk masalah cinta aku memang bukan pakarnya, tapi kalau masalah galau dan sebangsanya, aku jagoanya. Aku adalah manusia yang selalu gagal di setiap cerita cinta. Aku sudah sering mengalami pahit asin asemnya cinta. Dari putus cinta, ditolak, di-PHP-in, digantungin, diselingkuhin, dan sebagainya udah ku makan habis di langkahku untuk menemukan cinta sejati. Sungguh ironis memang, tapi mau diapa. Wajah, finansial, bakat, dan segala kekurangan yang ku miliki gak memungkinkan aku untuk memuluskan jalan yang selalu diimpikan para galauers. Mendapatkan cinta yang diinginkan.

Aku menemukan cinta pertamaku di saat aku duduk di SMP kelas 1. Saat itu aku berada satu sekolah dengan seorang siswi yang bernama Hani. Cewek yang feminim di usianya yang masih jagung. Pertama kali bertemu dengannya saat pulang sekolah. Cerianyalahyang membuatku jatuh cinta. Sesampainya di rumah aku selau memikirkannya. Aku jatuh hati pada pandangan pertama di usiaku yang sudah mengenal cinta di layar televisi mempercepat pergerakanku untuk memikirkan taktik apa yang harus ku lakukan. Ketika hari berganti, aku bergegas ke sekolah, siapa tahu aja bertemu dia itu pikirku.

Ku tunggu dia di kantin yang biasa ku sambangi selagi menunggu pelajaran dimulai. Terkejutnya aku saat dia datang dengan gengnya alias teman-temannya. Auranya yang terpancar membuatku silau bagaikan cahaya halogen berada 5 cm di depan mataku. Mataku mengeluarkan asap tebal karenanya. Segera ku memadamkan api cinta yang ada di mataku dengan es teh yang ku minum. Keyakinanku semakin kuat untuk berkenalan dengannya.

Setelah bel pulang berbunyi segera ku tancap gas menuju gerbang sekolah. Ku tunggu dia di sana sambil memakan cemilan. Awan hitam mulai menyelimuti langit. Dia tak kunjung datang, karena aku takut nanti basah kuyup makanya aku mengurungkan niat untuk berkenalan padanya. Dan aku pulang dengan kepala tertunduk lesu. Berkata ku dalam hati, “mungkin belum jodoh kali ya.” Nama cewek itu bernama Siska Riani, aku suka dengan dia sejak pertama kali melihatnya. Tapi cinta monyetku itu berakhir ketika aku mendengar bahwa Siska meninggal dunia. Sedih memang, tapi hidup dan matinya sudah ada yang ngatur, hanya bisa pasrah dan membiarkan rasa sukaku terbang bersama angin yang kan membawa pergi.

Nah yang tadi baru cerita pemanasan. Dan yang ini, aku akan mulai cerita intinya. Aku adalah murid kelas dua di SMA Bakti Jaya. Dan masuk di kelas 2 IPS 1. Di dalam kelas itu banyak banget keanekaragaman yang tercipta. Aku akan memperkenalkan sebagian orang-orang yang ada di kelasku. Yang duduk tepat di depanku adalah Noor dan Wahyu. Wahyu itu mirip banget orang cina, tapi apa dia benar-benar orang cina? Itu yang masih ku bingungkan sampai sekarang. Hahaha. Kalau lagi istirahat pasti dia yang memulai film layar kecil untuk para lelaki, yah. You know it lah. Para peminatnya banyak. Kayak nonton berjamaah gitu. Hahaha. Dan statusnya berpacaran dengan Ningsih, ceweknya itu berada di sekolah yang berbeda.

Lalu yang satunya Noor. Orang yang terlihat dewasa tapi sebenarnya idiotnya gak ketulungan. Apalagi kalau dia lagi ketawa. Sumpah irit banget, mungkin ketawanya itu kisaran 3 detik. Statusnya udah berpacaran dengan Linda, cewek yang duduk paling depan di baris pertama. Dan ini dia my best friend yang duduk sebangku denganku. Dia adalah Andri. Andri itu orangnya tinggi, mungkin kalau naik angkot kepalanya pasti nyangkut. Dia itu adalah saksi hidup perjalanan cintaku. Statusnya berpacaran. Kalau tentang Andri itu banyak banget yang dibahas. Entar cerita ini cuma ngebahas dia aja. Hehe.

Belum genap setahun aku berada di SMA Bakti Jaya, aku sudah dicap nakal dengan teman-teman sekelasku. Karena aku membawa satu kotak rok*k. Padahal penampilanku yang culun gak memungkinkan kalau aku adalah seorang perok*k. Dan pada suatu hari aku diajak seorang teman sekelasku yang bernama Geky ke dalam toilet laki-laki sambil menghisap sesuatu yang tidak boleh disebutkan namanya, pokoknya awalannya R belakangnya K. sebut saja namanya udut. Eh, udah kesebut rok*k ya di awal. Hahaha. Aku lupa.

Geky itu lumayan nakal di sekolah. Yah biasalah, siswa laki-laki, gak ada tempat ngasap, WC pun jadi walaupun kotoran-kotaran pada nempel di seluruh tembok. Hahaha. Kami berdua berada di WC yang sama. Sambil bergantian menghisap satu batang rok*k yang ku bawa. Keadaan WC gelap, Geky pun menyalakan senter di hp-nya.

“Coba di kepala sekolah itu peka ya sama siswa.” Kata temanku yang bernama Geky sambil memainkan lampu senter hp-nya.
“Maksudmu apa Gek?” Kataku seraya membuang asap dari mulut.
“Coba di WC ada asbak, jadi kan kita WC kita banyak pengunjungnya.”
“Dasar gelo kamu Gek. Kamu kira WC ini kamar sendiri apa? Hahaha..”
“Oia, kamu tahu gak kalau di toilet ini berhantu?” Bisik Geky.
“Wieh.. masa Gek?”
“Mau tahu gak ceritanya?”
“Mau.. Mau.”
Tiba-tiba Geky mengarahkan lampu senternya ke wajahnya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Nur Ubay
Facebook: Hokage Ubay Varuna
Penulis: Nur Ubay
Facebook: Hokage Ubay Varuna

Cerpen Kesah Awalnya Kaitu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sajak Senja (Part 2)

Oleh:
Pagi ini kuawali dengan semangat baru, hari ini aku akan ke pesta pernikahan Ima, aku bersiap memakai kemeja batik dan celana jinsku kurapikan ramputku, hari ini aku harus terlihat

Tempat Camping

Oleh:
“Kaylaaa…” teriak pacarnya Naufal, dan langsung duduk di sebelah Kayla dan menoyor kepala Kayla. “ishh, kebiasaan banget. kepala gue udah difitrah.” “biarin aja hahaha.. lo beli apa Kay?” tanya

Ketika Rasa Dipertemukan

Oleh:
Waktu… seperti sungai, selalu mengalir, meskipun kita menyentuh air sungai tersebut, tak akan sama dengan air sungai yang pernah kita sentuh sebelumnya. Air sungai itu akan terus berlalu dan

Cinta Tulusku

Oleh:
Hembusan angin yang semilir pagi ini membuat tubuhku merasa sedikit kedinginan. “Dingin…” ujarku dalam hati sambil kupeluk tubuhku sendiri. Aku yang saat ini sedang duduk di bawah pohon depan

Cintaku Juga Darahku

Oleh:
Sejak kejadian beberapa tahun silam, seiring berjalannya waktu yang aku lewati dengan rasa trauma yang sangat mendalam. Sejak kejadian bencana alam itu tejadi, masih ku ingat betapa isi bumi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *