Kesah Awalnya Kaitu (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 1 January 2016

“Dahulu kala ada seorang siswa di sekolah ini, dia itu jomblo ngenes.”
“Eh bentar-bentar. Apa hubungannya jomblo sama hantu? Kamu ngatain aku ya Gek?”
“Dengerin dulu makannya. Emang kamu aja yang jomblo..”
“Oia ya.. hahaha.”

“Oke aku lanjutin ya. Jadi dulu siswa itu adalah cowok yang punya rekor ditolak lebih banyak daripada kamu Bay.”
“Wih.. Masa? berapa emangnya?”
“30 Bay. Maka dari itu dia jadi super galau, tiap ditolak dia suka mandi di sini sambil bilang kenapaaa? kenapaaa? Saat dia ditolak yang ke-30, dia akhirnya mati di toilet ini.”
“Loh kok tiba-tiba mati? Dia digantung diri? Dia minum obat terus overdosis?”
“Bukan.”

“Jadi?”
“Saat dia selesai BAB dia terpeleset, terus jatoh, terus mati deh.”
“Ha? Jelek banget matinya.”
“Konon katanya, kalau kita denger orang mandi terus orang itu berkata kenapa berulang-ulang berarti dia hantunya. Dan dia akan membunuhmu.” Perkataan Geky membuatku menjadi takut.
“Oh gitu.. Jadi kalau..” Suara seperti orang menggaruk tembok memotong pembicaraanku

“Itu.. Itu.. Siapa?” Kataku yang ketakutan.
“Oh, intip aja.” Ku buka sedikit pintu kamar mandi, dan yang ku lihat hantu berambut panjang sedang menggaruk tembok wastafel. Secepat kilat aku menutup pintu kamar mandi.
“Itu.. Itu..”
“Ya, Itu hantu galau, dia mati gara-gara ditolak sama guru honor di sekolah ini. Dia syok terus dia jedotin kepalanya di dinding sampe KO.”

“Kok kamu tahu semua Gek?”
“Ya iyalah, aku kan punya absennya. Nih..” Geky memperlihatkan absen para hantu yang ada di sini beserta cara kematiannya.
“Haha.. Ada ya yang kayak gini.” Kataku sambil tertawa kecil karena agak aneh mendengar kalau ada hal yang seperti itu.

“Jangan salah coba deh kamu intip di kamar mandi sebelah.”
Aku pun mengintip kamar mandi di sebelah, dan ternyata para hantu sedang berkumpul. Membagikan kertas sambil menulis sesuatu.
“Mereka ngapain Gek?” Kataku penasaran.
“Itu para hantu baru, mereka harus isi biodata dulu buat ikut komunitas hantu jomblo ngenes.”
“Hah? jomblo ngenes. Hahaha.” Aku pun tertawa setelah berpikir keanehan yang ku lihat.

Di sela aku tertawa, seseorang mengetok pintu WC. Karena udut kami yang belum habis, kami gak hiraukan siapa yang ada di balik pintu itu. Orang itu masih saja mengetuk pintu.
“Ini pasti hantu juga.” Kataku dengan santainya.
“Rasanya gak ada deh hantu yang ngetuk pintu di sini.” Kata Geky sambil melihat absen.
Geky yang penasaran pun mengintip ke lubang pintu, dan ternyata yang dari tadi mengetuk pintu adalah seorang guru, yang namanya Pak Hasan.
“Siapa di dalam?” Kata Pak Hasan. Kami tak menghiraukan pertanyaan dari Pak Hasan, aku menempel di tembok WC, dan Gerry naik ke atas bak agar saat Pak Hasan mengintip lewat lubang pintu dia akan mengira kalau di WC gak ada orang.

“Yang di dalam merok*k ya?” Tanya Pak Hasan lagi. 15 menit waktu berjalan, suara Pak Hasan tak lagi terdengar. Mungkin keadaaan sudah aman, aku pun membuka pintu WC. Pintu WC pun terbuka, Asap yang dari dalam pun ke luar seperti foging, sampai-sampai aku gak bisa ngelihat apa yang ada di sekitarku. Lama-kelamaan asap itu hilang, terlihat Pak Hasan sedang duduk sambil minum kopi di depan WC.

“Bagaimana Ngasapnya? Udah Selesai?”
Kami pun gak bisa berbuat banyak.Kami digiring oleh Pak Hasan ke ruang guru. Pak Hasan memarahi kami di depan guru-guru yang ada di sana. Kami seakan penjahat yang baru masuk kantor polisi, betul-betul mencekam dan membuat kegugupan mendominasi perasaan kami. “Besok orangtua kalian suruh menghadap saya ya.” Kata Pak Hasan yang sukses membuatku pusing setengah mati dengan kata-katanya.

Aku memang termasuk dalam kategori nakal di sekolah. Dan wajahku paling dihapal sama guru-guru di sekolah akibat kenakalanku. Aku berpikir sekuat tenaga bagaimana cara agar orangtuaku gak tahu kalau aku buat masalah lagi di sekolah. Maklum orangtuaku sudah sering kali bolak-balik sekolah. Dan akhirannya pasti kuping serasa mau pecah dengerin omelan emak sama abah. Setelah dari ruang guru aku langsung ke kelas dan duduk di tempatku yang bersebelahan dengan bangku Andri. Nah loh hampir lupa, perkenalkan teman sebangku yang bernama Andri. Orangnya tinggi kayak tiang listrik, agak item, terus dia gak pernah lepas yang namanya hp, itu semenjak dia pacaran sih.

“Hadoooh.. Pusing aku.” Keluhku sambil merebahkan kepalaku di atas meja.
“Kenapa lagi pusing, jim?” Kata Andri yang sedang asyik sms-an.
“aku dapat jackpot hari ini.” Andri memasukkan hp-nya ke kantong baju dan langsung fokus kepadaku.
“Bukan bego.”
“Jadi? Dapat undian gitu ya? Wah asyiknya.. Traktiran dong?”
“Bosku disuruh ke sekolah sama Pak Hasan.”
“Oh.” Andri kembali mengotak-atik hp-nya.
Aku mengangkat kepala dari atas meja.

“Cuma oh? Teman macam apa kamu? Hibur aku dikit kek.”
“Kan udah biasa terjadi, jadi aku santai aja. Lagian kalau dihibur paling-paling gak tembus.”
“Iya juga ya..” Kembali menaruh kepala di atas meja.
“Kenapa gak alasan kalau bosmu itu ke luar kota.”
“Itu alasan bulan lalu.”
“kalau sakit?”
“Itu yang minggu lalu.”
“Oh gitu.. Udah, dibawa santai aja lagi.”

“Mana bisa aku santai, kalau ketahuan bosku bisa-bisa aku dijadikan martabak telor.”
“Enak dong martabak telor. Ketahuan aja biar nanti aku makan kamu.”
“Hadeh, dasar idiot. Gimana caranya biar gak ketahuan bosku?”
“Kenapa gak kamu nyewa tukang ojek aja buat jadi orangtua palsumu.”
Aku langsung mengangkat kepalaku dari atas meja, sambil tersenyum kegirangan seakan mendapatkan ide.
“Aha! aku dapat ide.” Lampu yang berada di atas kepalaku menyala.

“Apaan itu?”
“Ternyata kamu gak idiot ndri. Kamu cerdas. Aku bakal nyewa tukang ojek buat pura-pura jadi abahku.. habis pulang sekolah temanin aku ya ndri.”
“Oke dah. Tapi sebelumnya bantuin orang yang di belakangmu. Kasihan dia kesetrum gara-gara nyalakan lampu yang ada di atas kepalamu.”

Ku lihat orang di belakangku gosong karena terkena listrik, aku hanya terheran-heran kenapa bisa ada orang di belakangku. Setelah pulang sekolah aku dan Andri pun mencari tukang ojek yang mau jadi orangtua sewaan. Sudah kami cari ke seluruh penjuru kota tapi belum ada yang ketemu.

“Ah, sial banget sih. Udah 2 jam nih kita nyari tapi gak dapat-dapat.” Kataku sambil mengacak pinggang karena kecapean.
“Kenapa kamu gak nyewa Omku aja jadi abah pura-puraanmu, dia lagi butuh uang tuh.”
“Ha.. 2 jam.. ha.. akhirnya. Bego aku ya.. ha..” aku pun menjadi stres kenapa aku punya teman yang super idiot kayak dia.
Akhirnya semua berjalan dengan lancar, besoknya omnya Andri menjadi abah palsuku untuk bertemu dengan Pak Hasan, yah walaupun dengan negosiasi yang panjang.
“100 ribu Om, gimana?”
“Aduh jangan segitu lah dek, saya butuh banget nih uangnya.”

“150 ribu.”
“Gak bisa dek.”
“Ayolah Om.”
“Gak bisa.”
“200 deh.”
“Gak.”
“210?”
5 jam negosiasi dengan kelipatan yang beragam pun berakhir di angka 500.

“500 Om, cuma segitu aja yang saya punya Om.” Kataku sambil memperlihatkan uang yang ada di dompetku.
“Tetap gak bisa dek.” Kata om andri menolak.
“50 ribu aja deh Om, kalau Om gak mau, nanti aku kasih tahu ke Tante kalau Om tadi malem ke tempat panti pi.” Belum sempat Andri menyelesaikan omongannya, omnya Andri menutup mulut Andri dan langsung mengangguk layaknya anjing yang penurut.

Pak Hasan yang melihat omnya andri pun curiga, karena omnya Andri itu item dan mirip orang india, sedangkan aku putih dan sedikit mirip orang cina. Tapi kecurigaannya hilang saat omnya Andri melakukan hal-hal yang dilakukan orangtua yang lainnya kalau anaknya berbuat salah. Ya dicubit, dijewer, dibentak, dan lainnya. Setelah selesai, aku diperingatkan Pak Hasan supaya tidak berbuat nakal lagi, bila tidak aku bakal dikeluarkan dari sekolah.

Begitulah aku kalau di sekolah. Emm, saatnya bercerita tentang kisah asmaraku. Sampai kelas 2 SMA aku udah pacaran 3 kali. Dan semuanya berakhir dengan pahit. Yang pertama, saat aku masih kelas 3 SMP. Pacarku itu bernama Riri, anaknya hitam manis, rambutnya panjang terurai, dan dia gak pernah ngelepas kacamatanya kapan pun dan dimana pun. Riri adalah teman sekelasku dan dia sebangku sama aku.

Saat itu cara berpacaran kami masih agak jadul. Surat-suratan, naek taksi bareng, dan teleponan tapi teleponannya bukan pake handphone tapi Wartel. Ya biasalah waktu itu jarang banget yang punya handphone. Kami putus karena saat kami lulus, kami sama sekali gak pernah komunikasi dari aku maupun Riri. Kalau aku sih gak terlalu sedih dengan hal itu, masalahnya aku dan Riri itu cuma cinta monyet doang, jadi ya gak terlalu galau gitu.

Yang kedua, aku berkenalan dengan cewek cantik yang bernama Merlyana, panggilannya Merlin. Aku kenal dengan cewek itu saat aku menyebarkan nomorku ke radio. Namun hubungan kami hanya berjalan 1 bulan, karena aku melihat Merlin berada di sebuah mall sambil begandengan dengan seorang pria, padahal sebelum itu aku ingin mengajak jalan, namun dia berkata sakit. Yang ketiga, ini hubunganku yang paling tersingkat seumur hidupku. Hanya 3 hari berpacaran. Cewek itu bernama Ida. cewek muslimah yang cantik. Mungkin saat itu dia menerimaku karena kasihan sama aku.

Setelah aku menyatakan cinta dengan dia, aku pun ditolak Ida. Waktu itu maagku kambuh, jadi pas ditolak aku berbalik ke belakang dan meminum obatku yang udah ku siapkan di kantong. Ida yang melihatku meminum obat yang sebenarnya obat maag itu pun mengira aku ingin bunuh diri. Ida jadi berubah pikiran dan menerima cintaku. Aku diputusin lewat sms, begitu hancurnya hatiku saat itu, sampai-sampai aku gak niat lagi ke sekolah. Hampir 2 bulan aku gak sekolah. Akhirnya aku dikeluarkan dari sekolah dan pindah ke sekolahnya Andri. Sebelum aku pindah Ida menuliskan surat untukku. Pokoknya intinya dari surat itu aku harus move on, dan lebih semangat lagi menjalani hidup.

Di sekolah yang baru aku kembali mencari cinta yang baru. Pernah sekali aku bertemu dengan cewek cantik bernama Okta. Dia mengikuti ekskul mading di sekolah, untuk mendapatkan cintanya aku pun pura-pura ikut ekskul mading. Namun sayang setelah PDKT, aku ditolak karena dia udah ditembak sama cowok lain beberapa menit yang lalu sebelum aku nembak dia. Gak mau berlama-lama ngejomblo, aku mendekati cewek berhijab bernama Diyah. Tapi ternyata sama saja, dan malah lebih parah, aku nembak Diyah 8 kali dan semuanya ditolak.

Ini benar-benar rekor yang luar biasa buatku, 8 kali ditolak dengan 1 cewek. Prestasi yang membanggakan bukan? Harusnya aku masuk rekor muri. Hahaha. Dan dari kesekian perjalanan cintaku, mungkin dengan UU lah yang paling berkesan. Pertama kali aku bertemu dengannya saat Andri mengajakku ke pementasan pacarnya. Pacarnya Andri menjadi penata musik di pementasan itu. Aku lagi melakukan ritualku di tempat andalan, di mana lagi kalau bukan di toilet laki-laki. Andri mengetuk pintu kamar mandi yang biasa ku tempati.

“Bay.. Bay..” Kata Andri sambil mengetuk pintu.
“Paswordnya apa?” Kataku dari dalam.
“Buka monyet!”
“Oke.. Betul. Silahkan masuk..” aku pun membukakan pintu untuk Andri. Andri langsung terkejut, dan ketakutan melihat aku duduk berhadapan dengan hantu galau yang kebetulan lagi curhat dengan aku.

“Itu.. Itu.. Han.. Han..” Sangking takutnya membuat kata-kata dari Andri jadi patah-patah.
“Oke tunggu bentar ya.” Kataku kepada hantu, ke luar dari kamar mandi lalu menutup pintu. Andri kelihatan masih syok dengan apa yang dia lihat. Napasnya gak teratur, aku pun menenangkannya dengan memegang kedua pundaknya.
“Santai ndri.. Santai ndri. Tarik napas, keluarkan dari mulut, tarik lagi, keluarkan lagi.” Andri pun mulai agak tenang.

“Jadi mau ngomong apa ndri?” tanyaku
“Oia.. Malam minggu ada acara gak?”
“Gila.. aku masih normal lagi, biar aku jomblo tapi aku masih suka cewek.” Kataku sambil menjaga jarak dengan Andri karena kata-katanya yang menurutku menjijikkan.
“Kamu yang gila, kalau aku suka cowok, pastinya bukan kamu, aku punya standar tinggi tahu.”
“hahaha.. becanda. Gak ada acara aku. Emang kenapa?”
“Entar malem ada pementasannya pacarku, nonton yuk. Aku beli dua tiket nih.”
“Oke deh, entar malem ya.”

Malam pun tiba, tepat jam 19.00 Andri datang ke rumahku untuk menjemputku. Tidak sampai 30 menit kami sudah sampai di tempat tujuan, di depan gedung pementasan sudah banyak orang yang mengantre tiket dan menunggu pintu gedung terbuka. Pintu gedung terbuka jam 20.00. Sambil menunggu kami pun mencari tempat duduk yang tidak jauh dari gedung pementasan.

“Nih tiketmu jim.” Andri memberikan selembar tiket dan sebuah booklet.

Ku buka booklet yang diberikan oleh Andri. Ku lihat satu per satu para pemain dan crew di pementasan nanti. Namun ada salah satu nama pemain yang membuatku tak ingin membuka halaman berikutnya. Yaitu Novia Kumala dan di dalam pementasan itu dia memerankan sebagai UU. Anak bungsu dari keluarganya. Ku lihat fotonya yang lucu, dan ku baca juga profil cewek yang lahir 22 mei 1992 itu. Belum habis ku membaca profilnya, pintu gedung pun terbuka. Aku dan Andri pun masuk ke dalam gedung.

“Ndri.. Ndri.. Mala itu siapa ndri?” Kataku yang penasaran.
“Ssssttttt.. Pementasannya udah mulai tuh.” Tegur Andri.

Aku pun diam dan mulai fokus dengan pementasan yang baru saja dimulai. Lampu di atas panggung menyala, dan ku lihat seorang cewek cantik bagaikan bidadari yang memainkan peran sebagai anak kecil di pementasaan itu. Begitu terpesonanya aku sampai-sampai aku serasa menjadi batu. Tak terasa pementasan pun selesai. Lampu gedung menyala, aku berdiri dari tempat dudukku dan dengan sedikit membusungkan dada, aku menatapnya yang sedang bersenda gurau dengan para pemain lainnya. Mungkin dia merasa aku menatapnya dari tadi. Dia pun menatapku dan mata kami bertemu. Gedung rasanya menjadi dunia kami berdua. Aku perlahan mendekatinya yang berada di atas panggung.

“Hai boleh kenalan?” Kataku dengan suara yang laki banget seraya mengajaknya berjabat tangan.
Mala tersipu malu. Mungkin dia belum siap berkenalan denganku yang super tampan ini. Dia tak menjawabnya dia masih malu-malu gitu.
“Namaku Ubay. Namamu Mala kan?” Tanyaku.
“Iya.” Kata Mala sambil mengulik-ngulik jarinya sangking malunya denganku.
“Kamu jomblo?”
“Iya.”
“Kamu mau jadi pacarku?”

Mala menutup mukanya, mungkin dia malu stadium 4. Dia agak kegirangan gitu dengar aku nembak dia. Aku berniat memegang tangannya yang kecil itu. Dan dia membuka tangannya dari wajahnya. Wajahnya berubah jadi Andri. “Heh bay, Pementasan udah selesai. Kamu ngapain kayak orang idiot gitu. Ayo salaman sama pemainnya.” Kata Andri yang menyadarkanku dari khayalanku.

Aku bergegas berdiri dan ikut bersama Andri menyalami para pemain. Satu per satu para pemain ku salami, dan aku berhenti saat ingin menyalami Mala. Aku menatap matanya yang indah itu. Jantungku serasa terpompa semakin cepat. Aku benar-benar gugup. Gugupku semakin memuncak, aku pun bersalaman dengan Mala dengan cepat lalu kabur menghilangkan kegugupan yang begitu menyiksa.

“Itu kisahnya aku ketemu sama UU za.” Kataku.
“Emm.. aku mencium bau kebohongan di dalam ceritamu tadi.” kata Reza berpikir.
“Yap betul.. Agak ku lebay-lebaykan biar keren gitu ceritanya..” Kataku cengengesan.
“Hadeh, oke dah. Lanjut lagi ceritanya, anggap aja itu bagian dari cerpen yang kamu mau buat nanti.” Reza mengelus-ngelus dadanya.
“Emm.. Entar dulu ya ceritanya. Sampe di sini bersambung dulu.. oke.”
“HAH!!!!”

Tamat. Tapi mungkin ada lanjutannya. Mungkin.

Cerpen Karangan: Nur Ubay
Facebook: Hokage Ubay Varuna
Penulis: Nur Ubay
Facebook: Hokage Ubay Varuna

Cerpen Kesah Awalnya Kaitu (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Punguk Yang Merindukan Rembulan

Oleh:
Satu tahun sudah berlalu, tapi Ipung masih begini saja. Masih memandanginya dari jauh tanpa kata. Mendekat pun Ipung tak berani. Dia terlalu tinggi untuk digapai, begitu pikir Ipung murung.

Cinta di Kelas Ujung

Oleh:
Aku berlari menuju kelas yang terletak di ujung belakang. Rasanya masih terlalu pagi. Ya tapi peraturan baru harus di taati. Masih terasa embun yang mengenai tangan ku. Wangi pagi

Kancil dan Mangkok Ajib

Oleh:
Malam itu malam pertama kancil memulai hidup baru, ia bertaubat tak lagi melakukan perbuatan mencuri timun pak tani ia juga menyesali perbuatannya tersebut, sebagai bentuk penyesalan atas perbuatannya kancil

Kejadian Mistis Di Rumah Tua

Oleh:
Cerita ini berawal saat saya sedang berlibur dengan teman-teman saya di suatu tempat yang ada di Cilacap. cilacap adalah kota kecil yang banyak tempat wisata salah satunya adalah pantai

Aku, Kamu, Kita

Oleh:
Aku gadis berusia 15 tahun. Sebut saja namaku YASMIN. Bahagia, senang dan gembira. Tiga kata itulah yang menggambarkan perasaanku saat ini. Aku sangat bersyukur atas nikmat yang telah Allah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *